NovelToon NovelToon
Jerat Tiga Sisi

Jerat Tiga Sisi

Status: tamat
Genre:Action / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

✦ JERAT TIGA SISI ✦

"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"

Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.

Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.

Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.

Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.

Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Terakhir dan Pengintaian Malam

Suara Farhan mendadak naik satu oktav, dipenuhi oleh rasa syok dan tidak percaya yang teramat sangat hingga getarannya memantul keras di sepanjang dinding lorong ruangan.

Sambil terisak parah hingga kedua bahunya berguncang hebat, Azira melangkah masuk ke dalam apartemen dengan kaki yang nyaris lumpuh.

Kalimatnya keluar patah-patah di sela tangisannya, menceritakan bagaimana sang Papah telah melayangkan tamparan fisik yang begitu keras ke wajahnya setelah emosinya disulut oleh provokasi kejam Tante Shafira dan Sendy.

Mendengar pengakuan yang menyayat hati itu, seluruh kendali emosi dan kemarahan di dalam diri Farhan meledak seketika tanpa sisa. Dokter muda yang biasanya dikenal selalu berwajah teduh, berbicara lembut, dan dipenuhi oleh kesabaran tak terbatas itu mendadak mengamuk di dalam ruang tamunya sendiri.

Brak!

Farhan menendang sudut meja kayu di dekatnya hingga bergeser kasar beberapa meter dan menimbulkan suara derit memekakkan telinga yang memecah keheningan malam.

Rahangnya mengatup kaku hingga urat wajahnya menonjol, dan napasnya memburu cepat, menahan gelombang murka yang membakar dada hingga ke hulu hati.

"Pria bajingan gila pangkat dan harta!" umpat Farhan dengan suara berat yang bergetar hebat menahan amarah yang meluap-luap.

Sepasang mata hangatnya seketika berkilat merah, diselimuti oleh kabut murka yang destruktif karena tidak terima wanita yang paling ia jaga, hormati, dan cintai di dunia ini diperlakukan seperti binatang tak berharga oleh orangtua kandungnya sendiri.

"Dia sama sekali tidak pantas menyebut dirinya seorang Papah, Zira! Aku bersumpah, demi apa pun yang kupunya di dunia ini, aku tidak akan pernah membiarkan iblis-iblis di rumah beracun itu menyentuh atau melukaimu lagi seujung kuku pun!"

Farhan menarik napas panjang beberapa kali, memejamkan matanya sejenak demi menekan badai emosinya agar tidak semakin menakuti Azira yang saat ini sedang mengalami trauma fisik dan mental.

Dengan gerakan tangan yang sengaja dibuat selemas dan selembut mungkin, Farhan menuntun wanita itu untuk duduk di atas sofa kainnya.

Dia bergerak cepat mengambil kotak obat, lalu berlutut dengan kedua lututnya di hadapan Azira.

Setiap sentuhan kapas beralkohol dan salep redam lebam yang Farhan oleskan ke sudut bibir Azira dilakukan dengan tingkat ketelitian yang teramat sangat tinggi.

Farhan bergerak begitu hati-hati, seolah-olah Azira adalah sebuah porselen retak berharga tinggi yang bisa hancur berkeping-keping kapan saja jika jemarinya menekan terlalu kuat pada luka tersebut.

Sorot mata Farhan memancarkan kombinasi rasa bersalah yang teramat dalam karena merasa dirinya selalu terlambat bertindak untuk melindungi Azira, sekaligus memancarkan ketulusan mutlak yang perlahan membuat dada Azira yang semula dingin membeku kembali terasa hangat, tenang, dan aman.

Namun, kehangatan dan rasa aman di dalam apartemen lantai tiga itu berdiri di atas tanah yang sangat rawan.

Tepat di seberang jalan gedung apartemen Farhan, di bawah bayang-bayang pohon besar yang gelap gumpita, sebuah mobil SUV hitam terparkir diam tanpa menyalakan lampu sen maupun lampu utama.

Di dalam kabin mobil yang senyap, dua pengawal kepercayaan Baskara terus mengamati jendela kaca ruang tamu Farhan yang menyala terang menggunakan lensa binokular jarak jauh. Mereka merekam setiap interaksi intim, kedekatan fisik, dan pergerakan di dalam sana dengan saksama melalui kamera digital beresolusi tinggi.

Lapor, Tuan Baskara. Nona Azira saat ini sudah berada di dalam apartemen milik Dokter Farhan," kepala tim pengawal berbicara dengan suara berbisik lewat alat komunikasi enkripsi khusus, melaporkan situasi secara berkala langsung kepada sang CEO.

Jauh di jalanan protokol kota Jakarta, Baskara sedang memacu mobil sedan mewah hitamnya membelah malam dengan kecepatan gila, menyalip setiap kendaraan di depannya dengan rahang mengeras. Suara deru mesin mobilnya beradu dengan detak jantungnya yang dipenuhi amarah.

"Kondisi fisik Nona Azira saat ini sedang diobati oleh Dokter Farhan di ruang tamu," lanjut pengawal itu dari seberang telepon satelit Baskara. "Kami tetap siaga penuh di perimeter luar apartemen untuk memastikan tidak ada pergerakan mencurigakan dari pihak Gavin Manzies."

Tetap di posisi kalian. Jangan biarkan mereka berdua pergi ke mana pun sampai aku tiba di sana lima menit lagi," perintah Baskara dingin dengan suara baritonnya yang sarat akan ancaman maut, sebelum ia menginjak pedal gasnya semakin dalam hingga jarum spidometernya menyentuh batas maksimal.

Di seberang jaringan telepon pengawal, keheningan yang keluar dari sosok Baskara Yudhistira Prayoga terasa jauh lebih mengerikan daripada badai mana pun di dunia bisnis. Sang CEO tidak membalas laporan anak buahnya dengan kata-kata, melainkan hanya terdengar suara deru raungan mesin mobil yang kian melengking kencang membelah kesunyian malam Jakarta.

Suara itu menandakan bahwa pria dominan tersebut sudah semakin dekat untuk menjemput apa yang secara hukum telah menjadi wilayah kekuasaannya, sekaligus siap berbenturan ego dengan sang dokter malam ini juga.

Sementara itu, di dalam kehangatan unit apartemen, Farhan bergerak dengan sangat telaten. Sembari menepuk-nepuk pelan luka di sudut bibir Azira dengan kapas baru yang telah dibasahi cairan antiseptik, Farhan menatap lurus ke dalam sepasang mata sahabatnya.

Sorot matanya yang semula teduh mendadak berubah menjadi sangat serius, tajam, dan dingin.

"Zira, ada satu hal penting lagi yang harus aku katakan kepadamu. Tadi siang, aku sempat mencari tahu tentang latar belakang Gavin ke beberapa jaringan lamaku di kepolisian dan pihak imigrasi," ujar Farhan, merendahkan intonasi suaranya agar terdengar penuh penekanan yang mendalam.

"Data panti asuhan dan laporan kemiskinan yang dia miliki saat ini terasa terlalu rapi, Zira. Semuanya terlalu sempurna tanpa ada celah atau cacat sedikit pun, seolah-olah data itu sengaja dibersihkan oleh agensi profesional agar tidak meninggalkan jejak masa lalu yang asli".

"Instingmu mungkin tertutup karena rasa iba dan tertipu oleh air mata dan kemeja usangnya siang tadi, tapi insting dokterku mengatakan pria itu sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dan berbahaya. Kamu harus sangat hati-hati padanya."

Azira tertegun seketika, membuat gerakan tangan Farhan yang sedang memegang kapas terhenti di udara. Kata-kata Farhan barusan bagai petir yang menyambar telak di benaknya, memicu rasa pening yang luar biasa.

Kenapa Farhan dan Baskara bisa berpikiran sama persis? Dua pria dengan latar belakang yang sangat bertolak belakang—yang satu menggunakan hati nurani yang tulus, yang satu menggunakan logika transaksional saham yang dingin—bisa menarik kesimpulan yang identik dan menunjuk ke satu nama: Gavin adalah bahaya.

Apakah benar Gavin, teman masa kecil yang ia bela mati-matian dari tuduhan Baskara, sebenarnya adalah seorang pembohong besar dan manipulator ulung? Pikiran Azira mendadak bergelut hebat dalam kebingungan yang memusingkan, meruntuhkan sebagian besar keyakinan yang ia miliki.

Farhan tertegun melihat Azira terdiam pucat. Di balik rasa pening yang menghantam kepalanya, ingatan Azira tiba-tiba berputar kembali ke pertemuan awal mereka di kamar saat ia dikurung sang Papah.

Gavin bisa masuk dengan sangat mudah, bahkan langsung menawarkan ponsel rahasia. Saat itu, Gavin juga sempat meremehkan Farhan yang dianggap miskin dan takkan mampu membantunya, sementara ia memosisikan diri sebagai satu-satunya penolong.

Belum lagi di pesta pertunangan, setelan jas yang dikenakan Gavin tampak begitu mahal dan berkelas, meski siang tadi pria itu berdalih bahwa pakaian tersebut hanyalah barang imitasi.

Apakah semua penjelasan itu hanya kebohongan belaka? Apakah instingnya yang keliru selama ini, atau justru kewaspadaan Farhan dan Baskara yang memang benar?

Dengan suara bergetar dan tatapan kosong, Azira akhirnya membuka mulut, meruntuhkan keraguan yang sejak tadi ia simpan rapat- rapat.

Farhan... sebenarnya aku juga sempat curiga," ucap Azira lirih, memecah ketegangan di antara mereka. Ia menatap Farhan dengan mata yang menyiratkan kebingungan hebat.

"Waktu aku dikurung Papah di kamar atas... dia bisa masuk lewat jendela dengan begitu mudahnya, seolah itu hal sepele. Dia bahkan langsung memberiku ponsel rahasia. Waktu itu juga, dia sempat meremehkan kamu, Farhan. Dia bilang kamu miskin dan tidak bakal bisa diandalkan untuk membantuku, cuma dia yang bisa."

Azira menarik napas pendek, mencoba menata kembali serpihan ingatannya yang terasa janggal.

"Belum lagi waktu di pesta pertunangan... penampilannya terlihat sangat mahal dan rapi, jauh dari kesan orang susah. Walau siang tadi dia bilang itu cuma baju imitasi pinjaman, tapi cara dia membawakan diri rasanya tidak klop dengan cerita panti asuhan yang melarat."

Mendengar pengakuan Azira, rahang Farhan mengeras, memicu kembali ingatan pahit di malam pesta pertunangan itu. Farhan tahu persis seberapa manipulatifnya pria itu, karena di malam yang sama, Farhan sendiri yang menjadi korban permainan licik Gavin hingga posisinya tersudut.

Bayangan seringai mengerikan Gavin yang penuh kemenangan di bawah remang lampu malam itu mendadak melintas kembali di benak Farhan, menyisakan rasa dingin yang menjalar di punggungnya.

"Aku tahu, Zira. Aku melihatnya sendiri malam itu," sahut Farhan dengan suara yang ditekan dalam, tatapannya menajam penuh kewaspadaan. "Pakaian imitasi tidak akan pernah bisa menyembunyikan gestur tubuh seseorang yang terbiasa hidup di kelas atas.

Seringai dia malam itu... sangat mengerikan. Itu bukan seringai seorang teman lama yang tulus ingin menolongmu. Itu seringai seorang predator yang tahu korbannya sudah masuk perangkap."

Farhan menurunkan kapas di tangannya, lalu memegang kedua bahu Azira dengan lembut namun tegas, memaksa netra wanita itu untuk menatap lurus ke dalam matanya.

"Dengar aku, Azira. Tolong sadar," pinta Farhan, suaranya bergetar penuh kecemasan yang tulus.

"Pria yang kamu temui sekarang bukan lagi Gavin, teman masa kecilmu yang lugu di panti asuhan. Gavin yang sekarang adalah pria asing dengan topeng yang sangat tebal. Data imigrasi dan kepolisian yang kudapatkan tidak mungkin bohong—ada kekuatan besar yang sengaja menghapus jejak hitamnya. Dia punya rahasia besar yang sangat berbahaya, dan target utamanya saat ini adalah kamu. Jangan pernah biarkan rasa ibamu membutakan logikamu lagi. Jangan percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya!"

Azira terpaku, bibirnya bergetar hendak memberikan jawaban, mencoba mencerna seluruh kebenaran pahit yang menghantam dinding kesadarannya secara bertubi-tubi. Namun, belum sempat satu kata pun keluar dari kerongkongannya, sebuah dentuman keras menggema memekakkan telinga.

Brak!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!