Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
Rani Maharani Harahap masuk ke area dapur dengan ring light di satu tangan dan ponsel di tangan lain, seolah kabar kematianku harus diverifikasi memakai pencahayaan yang baik.
Rambutnya dipotong sebahu. Jaket kremnya bersih, sepatunya tidak memiliki satu noda debu pun, dan senyumnya masih sama seperti dulu: ramah untuk kamera, sulit ditebak setelah kamera mati.
“Aku dengar ada kafe baru,” katanya. “Tak kusangka bonusnya ketemu Bang Jepot.”
Ia mengarahkan ponsel ke wajahku sebelum aku sempat berdiri tegak.
“Kelen, tengok siapa yang sedang menyelamatkan pembukaan malam ini. Legenda kabel darurat, Bang—”
Liza menutup lensa dengan map kuitansi.
“Minta izin dulu,” katanya.
Rani menurunkan ponsel. Matanya bergerak dari Liza ke aku, lalu kembali lagi. “Oh. Tim baru?”
“Rekan usaha,” jawab Liza.
“Bagus. Jefri memang perlu orang yang bisa menghentikan tangannya.”
“Kadang dua orang,” sahut Binsar dari bawah meja.
Aku menendang ringan ujung sepatunya. “Kerja.”
Rani tertawa. Dulu aku menyukai cara ia membuat semua ruangan terasa seperti panggung. Malam itu, dengan kabel terbuka dan uang sewa di kepala, caranya mengangkat kamera terasa seperti lampu yang terlalu terang tepat di depan mata.
“Aku sudah berbeda,” kataku sambil membersihkan debu pada tangan ke celana. Gerakan itu justru meninggalkan garis putih di paha.
Rani memandang noda tersebut. “Kelihatan.”
Liza menyerahkan daftar material kepadaku. “Terminal tambahan sudah datang. Jalur mesin kopi selesai?”
“Sudah.”
“Sudah diuji?”
“Aku sudah ikut prosedur.”
“Baru satu kali. Jangan minta piagam.”
Rani mengangkat alis. “Aku suka dia.”
“Tidak perlu,” jawabku.
“Tenang. Aku tidak minta izinmu.”
Arman datang membawa daftar kebutuhan pembukaan. Ia mengenalkan Rani sebagai pembuat konten kuliner yang akan menyiarkan cuplikan malam persiapan. Rani mempunyai cukup pengikut untuk membuat kafe ramai pada hari pertama. Karena itu, Arman memberinya kebebasan bergerak yang bahkan tidak diberikan kepada kru dekorasi.
Liza langsung menunjukkan batas area aman dan meminta semua rekaman teknis disetujui lebih dahulu. Rani tampak terkejut, tetapi mengangguk. “Kalian serius juga rupanya.”
“Kami selalu serius,” kataku.
Dari belakang, Binsar menjatuhkan obeng.
Rani melihat ke arah suara. “Sangat meyakinkan.”
Ia merekam ruang utama, bar, dan meja-meja yang masih dibungkus plastik. Saat sampai pada lampu dekorasi di dinding timur, ia berhenti.
“Ini gelap,” katanya kepada Arman. “Di kamera, sisi ini mati.”
Arman menjelaskan lampu dekorasi tambahan ditunda karena jalur belum aman. Rani memiringkan ring light dan menatap susunan bohlam kecil yang belum terhubung.
“Kalau lampu ini menyala, videonya jauh lebih bagus. Aku bisa sebut nama usaha kalian juga.”
Aku mendengar kata nama usaha dan langsung membayangkan papan Konslet Medan muncul di layar ribuan orang. Lima pelanggan dari video Tia saja sudah cukup membuat bengkel hidup beberapa hari. Promosi Rani bisa mengisi jadwal seminggu.
“Jalurnya bisa kita sambungkan setelah yang utama selesai,” kataku.
Liza menoleh. “Tidak masuk prioritas.”
“Cuma lampu kecil.”
“Kau belum tahu jalurnya.”
Rani tersenyum kepadaku. “Dulu kau tak pernah takut lampu kecil.”
Kalimat itu sederhana, tetapi tepat mengenai bagian diriku yang masih ingin membuktikan bahwa pemecatan, video viral, dan bengkel tua tidak mengubah kemampuanku. Aku tidak ingin terlihat sebagai teknisi yang hanya bekerja setelah mendapat izin dari buku catatan Liza.
“Bukan takut,” kataku. “Tinggal diperiksa.”
Liza mendekat dan merendahkan suara. “Jef, kita sudah sepakat. Selesaikan jalur aman dulu. Waktu tinggal sedikit.”
“Bisa paralel.”
“Dengan siapa? Binsar?”
Binsar menyahut dari belakang, “Aku siap kalau namaku disebut.”
“Diam,” jawab kami bersamaan.
Arman ragu. Rani menawarkan satu unggahan khusus untuk Konslet Medan apabila lampu dekorasi siap malam itu. Ia tidak memaksa, setidaknya tidak secara langsung. Ia hanya menyebut jumlah penonton, kemungkinan pelanggan, dan betapa lucunya cerita tentang mantan pacar yang kini menjadi teknisi penyelamat.
“Jangan bawa mantan,” kataku.
“Itu bagian terbaik.”
Liza menyilangkan tangan. “Pekerjaan dibayar dengan uang, bukan cerita.”
“Promosi juga punya nilai,” kata Rani.
“Nilainya tidak menutup kerusakan kalau dinding terbakar.”
Aku tahu Liza benar. Masalahnya, mengetahui seseorang benar tidak selalu membuatku ingin menurut, terutama ketika orang lain sedang melihat.
Aku memeriksa jalur lampu dekorasi dari kotak sambungan dekat bar. Kabelnya tampak baru pada bagian luar. Ujung-ujungnya diberi label. Aku mengukur tahanan dan memastikan tidak ada hubungan pendek pada rangkaian lampu. Hasil awal normal.
“Tengok,” kataku. “Bisa.”
Liza menunjuk dinding. “Kabel masuk ke mana setelah itu?”
“Ke jalur atas.”
“Sudah kau lihat seluruh sambungannya?”
Aku belum. Bagian kabel menghilang di dalam dinding sebelum naik ke plafon. Untuk memeriksa seluruhnya, kami harus membuka penutup dekorasi dan mungkin membongkar sebagian papan.
“Nilai ukurannya baik,” kataku.
“Itu bukan jawaban.”
Rani berdiri beberapa meter dari kami, tidak lagi merekam. Arman menunggu. Binsar memegang gulungan kabel seperti petugas cadangan yang terlalu ingin dipanggil.
Aku memutuskan menyambungkan lampu pada sirkuit penerangan sementara dengan pengaman terpisah. Secara teori, bebannya kecil. Aku memasang terminal baru, merapikan sambungan, lalu memberi tahu semua orang agar tidak menyalakan peralatan lain selama pengujian.
Liza tidak membantu. Ia berdiri dekat panel dengan wajah yang membuatku tahu setiap gerakanku sedang disimpan untuk pertengkaran nanti.
“Kalau ada masalah, matikan dari sini,” kataku.
“Aku tahu cara mematikan MCB.”
“Aku cuma memastikan.”
“Pastikan kabelmu.”
Rani memasang ring light di sudut ruangan. Arman memanggil dua kru dekorasi. Tia, yang sejak tadi mengambil foto dokumentasi, menurunkan kamera dan berdiri di belakang Liza. Tidak ada yang tertawa.
Aku menyalakan pengaman lampu dekorasi.
Satu per satu bohlam kecil menyala di dinding timur. Cahaya kuning membentuk garis hangat di atas meja. Rani mengangkat ponsel. Arman tersenyum lega. Selama tiga detik, aku merasa keputusan itu membuktikan bahwa instingku masih layak dipercaya.
Pada detik keempat, terdengar suara tipis dari dalam dinding.
Sssst.
Liza langsung memegang tuas MCB.
Suara itu muncul lagi, lebih panjang. Bau plastik panas menyusul dari celah panel dekorasi.
Dinding kafe mendesis seperti sesuatu yang baru terbangun di dalamnya.