NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 : LUKA PERTAMA

Sore itu langit berwarna kelabu tebal. Angin berhembus kencang membawa awan hitam yang menandakan hujan akan segera turun. Bayu dan Karta menyusuri lereng curam berhutan lebat, berusaha menjauh dari jalur patroli yang kini dijaga jauh lebih ketat dari biasanya.

Karta berjalan di depan, tas bekal pemberian "tuan kompeni" tersampir di bahu kiri, senapan yang dirampas kemarin digenggam erat di tangan kanan. Wajahnya masih berseri-seri, namun langkah kakinya perlahan melambat.

"Bayu..." panggilnya pelan sambil menoleh ke belakang.

"Kita sudah jauh sekali. Mereka tak mungkin mengejar sampai ke sini. Mari istirahat sebentar. Hujan sebentar lagi turun."

Bayu berhenti melangkah. Matanya menatap ke arah jalan setapak yang baru saja mereka lalui. Hening. Namun nalurinya memberi peringatan tak enak.

"Belum aman," jawabnya pelan.

"Mereka tak akan membiarkan tas bekal mereka hilang begitu saja. Mereka pasti mencari jejak kita."

"Di tanah becek penuh dedaunan begini?" Karta menggeleng tak yakin.

"Tak mudah melacak jejak langkah kita, Bayu."

Bayu menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah gua kecil tersembunyi di balik rimbunan semak berduri tak jauh dari sana.

"Baiklah. Istirahat di sana. Jangan tampakkan tubuh di mulut gua. Tetap di dalam."

Mereka baru saja melangkah masuk ke dalam gua yang gelap dan sejuk itu, ketika dari arah belakang terdengar suara langkah kaki banyak orang berjalan cepat di atas dedaunan kering.

Bayu memberi isyarat tangan. Diam. Jangan bernyaring.

Dari balik rimbunan pohon di tepi tebing, muncul delapan prajurit Belanda. Berjalan berbaris rapi, senapan terangkat siap ke segala arah. Di depan mereka berjalan seorang sersan berwajah keras, matanya menyapu tanah dengan teliti seolah mencari sesuatu.

Karta menahan napas. Tangannya mencengkeram erat senapan yang dirampas kemarin. Ia hendak melangkah keluar dari persembunyian, namun Bayu menahannya dengan tangan di bahu sahabatnya itu. Jangan.

Sersan itu berhenti tepat di atas tempat mereka bersembunyi. Matanya menatap tanah becek di tepi jurang, lalu menunjuk ke arah tanah yang sedikit tergeser.

"Hier! De voetsporen gaan deze kant op!" (Di sini! Jejak kaki mengarah ke sini!) suaranya berat dan penuh amarah.

Dua prajurit segera berlutut memeriksa jejak itu. Wajah mereka tampak gugup.

"Ja, Sersant! Twee paar voetsporen! Eén zwaar, één licht!" (Benar Sersan! Dua pasang jejak kaki! Satu berat, satu ringan!) lapor prajurit itu sambil menunjuk ke arah tepi jurang tepat di atas mulut gua tempat Bayu dan Karta bersembunyi.

"Ze zijn niet ver! Verspreid! Zoek ze levend of dood!" (Mereka belum jauh! Sebar! Cari mereka hidup atau mati!) perintah Sersan itu tegas.

Keenam prajurit lainnya segera menyebar ke segala arah. Dua orang berjalan perlahan mendekati tepi jurang tepat di atas gua. Senapan mereka siap menembak kapan saja.

Karta menatap Bayu dengan mata melotot penuh tanda tanya. Kita serang sekarang? Atau diam saja?

Bayu menggeleng pelan. Terlalu banyak. Terlalu dekat. Kalau terlihat sekarang... mereka tak akan sempat melarikan diri.

Dua prajurit itu kini berdiri tepat di atas mulut gua. Satu di antaranya melangkah sembarangan, kakinya menginjak tanah yang rapuh. Tanah itu longsor perlahan, sebutir demi sebutir jatuh ke dalam gua.

Prajurit itu menunduk menatap ke bawah. Matanya membelalak seketika. Ia melihat celah mulut gua yang tertutup semak. Dan di balik celah itu... samar terlihat bayangan tubuh seseorang.

"Ik zie ze! Ze zijn daaronder! In de grot!" (Saya melihat mereka! Mereka di bawah sana! Di dalam gua!) teriaknya sekuat tenaga sambil mengangkat senapan hendak menembak ke bawah.

Waktu seakan berhenti berputar.

Karta berada tepat di bawah ujung senapan itu. Peluru akan melesat seketika tepat ke arah dadanya.

Tanpa berpikir dua kali, Bayu melompat mendahului. Ia mendorong tubuh Karta ke samping sekuat tenaga.

DOR!!!

Suara tembakan memecah keheningan. Peluru melesat cepat, menembus udara, dan menghantam lengan kanan Bayu tepat di bagian atas siku.

Dentuman keras terdengar pelan di telinga Bayu. Rasa panas yang membakar seketika menjalar dari lengan ke seluruh tubuh. Kakinya lemas seketika. Tubuhnya terhuyung mundur hingga punggung membentur dinding batu gua yang dingin.

"Bayu!!!" teriak Karta histeris sambil menahan tubuh sahabatnya agar tak jatuh.

Darah segar seketika membasahi lengan Bayu, merembes cepat membasahi kain baju yang kusam. Rasa perih yang luar biasa menusuk hingga ke tulang, membuat napasnya tersendat-sendat. Namun ia tetap menggigit bibir menahan erangan, matanya masih menatap ke atas dengan tajam.

"Keluar... dari sini..." ucap Bayu parau, napasnya berat.

"Mereka... turun..."

Dari atas terdengar suara teriakan dan langkah kaki yang mulai turun perlahan menuju mulut gua.

"Kom naar beneden! Omring de ingang! Laat niemand ontsnappen!" (Turun ke bawah! Kepung pintu masuk! Jangan biarkan satu pun lolos!) suara Sersan itu terdengar semakin dekat.

Karta menatap lengan Bayu yang berdarah deras, lalu menatap ke arah mulut gua tempat suara langkah kaki semakin mendekat. Matanya berkaca-kaca penuh air mata dan kemarahan.

"Aku tak akan pergi tanpamu! Kalau begitu kita lawan sampai mati!" seru Karta sambil mengangkat senapan yang dirampas kemarin, tangannya gemetar namun matanya memancarkan tekad baja.

Bayu menggeleng lemah. Ia meremas lengan yang terluka itu dengan tangan kiri, menahan aliran darah yang terus mengalir.

"Kita tak bisa melawan delapan orang dari tempat sempit ini..." ucap Bayu pelan namun tegas.

"Di belakang gua ada lorong kecil... aku pernah melihatnya saat masuk tadi. Cukup untuk satu orang merangkak. Bawa aku lewat sana."

Karta melirik ke arah dinding belakang gua yang gelap pekat.

"Aku tak tahu ke mana lorong itu mengarah!"

"Tak peduli! Lebih baik daripada tertangkap di sini!" Bayu menekan tangannya ke luka semakin kuat, wajahnya pucat pasi menahan sakit yang luar biasa.

"Cepat... sebelum mereka masuk..."

Karta tak lagi berpikir. Ia segera menyandarkan tubuh Bayu di bahunya yang tegap, menahan beban sahabatnya itu dengan sekuat tenaga. Dengan tangan kiri menahan Bayu, tangan kanannya masih menggenggam senapan siap menembak siapa pun yang muncul lebih dulu.

Mereka bergerak perlahan menjauhi mulut gua. Di belakang mereka terdengar suara langkah kaki prajurit Belanda yang sudah masuk ke dalam gua. Cahaya obor mulai menyinari dinding batu yang lembap.

"Zoek ze! Ze kunnen niet ver zijn!" (Cari mereka! Mereka tak mungkin jauh!)

Karta menyandang Bayu semakin erat. Ia menemukan celah sempit di dinding belakang gua yang tertutup lumut tebal. Tanpa ragu, ia merangkak masuk duluan sambil menarik Bayu ikut masuk di belakangnya. Celah itu sempit dan berliku, namun terus menanjak perlahan ke atas.

Di belakang mereka, suara teriakan semakin dekat. Cahaya obor mulai menyinari bagian dalam gua tempat mereka tadi berdiri. Namun lorong itu tersembunyi begitu rapi di balik lumut tebal hingga tak terlihat dari arah mulut gua.

Karta terus merangkak membawa Bayu di belakangnya. Napasnya memburu, keringat bercampur air mata menetes membasahi pipinya. Di belakangnya, Bayu menahan rasa sakit yang luar biasa di setiap sentuhan dinding batu yang kasar ke lukanya. Giginya terkatup rapat, tak satu pun suara erangan keluar dari mulutnya.

Setelah merangkak cukup lama, lorong itu melebar perlahan dan muncul di balik rimbunan semak tebal di bukit seberang sungai. Jauh dari jangkauan pandangan siapa pun yang berada di mulut gua tadi.

Karta meletakkan tubuh Bayu perlahan di atas hamparan lumut tebal yang empuk. Di atas sana hujan mulai turun rintik-rintik, menyiram wajah Bayu yang pucat dan berkeringat dingin.

"Bayu... Bayu..." panggil Karta gemetar sambil berlutut di sampingnya. Ia melihat luka di lengan kanan sahabatnya itu. Darah terus mengalir deras, membasahi tanah berlumut di bawahnya. Wajah Bayu semakin pucat, bibirnya mulai tampak kebiruan.

"Jangan tutup matamu... Bayu, kumohon..." isak Karta tak lagi mampu menahan air matanya. Ia merobek ujung bajunya sendiri, lalu dengan tangan gemetar mulai membalut luka itu sekuat tenaga.

Bayu membuka matanya perlahan. Menatap sahabatnya yang menangis di sampingnya dengan senyum tipis yang berusaha terlihat tenang.

"Aku... masih hidup..." ucap Bayu pelan, suaranya lemah namun masih terdengar tegas.

"Peluru... menembus keluar... tak ada yang tertinggal di dalam."

Karta menekan kain balut itu erat agar darah berhenti mengalir. Tangannya penuh dengan darah merah segar sahabatnya.

"Kau mendorongku..." isak Karta di sela napasnya yang tersendat.

"Kau mengambil peluru itu untukku... Kau seharusnya membiarkanku saja..."

Bayu menggeleng pelan. Rasa sakit itu luar biasa, namun melihat Karta menangis seperti itu... hatinya terasa lebih perih daripada lukanya.

"Kita berjanji..." napas Bayu tersendat sejenak, "...kita berjanji sejak kecil... tak akan pernah membiarkan satu sama lain tertembak sendirian. Kau tak pernah lupa janji itu... kan?"

Karta tak mampu menjawab. Ia hanya menunduk membiarkan air matanya jatuh membasahi lengan Bayu yang terluka. Tangannya terus menekan balutan kain itu erat-erat, berdoa dalam hati agar darah itu segera berhenti mengalir.

Dari arah gua terdengar suara teriakan frustrasi para prajurit Belanda. Mereka menemukan gua itu kosong. Tak ada jejak mereka berdua. Lorong rahasia itu menyelamatkan nyawa mereka hari ini.

"Ze zijn verdwenen! Hoe is dat mogelijk?!" (Mereka hilang! Bagaimana mungkin?!) terdengar suara Sersan itu penuh amarah dan kebingungan.

"Zoek verder! Ze kunnen niet ver weg zijn! Ze zijn gewond!" (Cari terus! Mereka tak mungkin jauh! Mereka terluka!)

Suara itu perlahan menjauh seiring mereka menyebar mencari ke arah lain. Hujan pun turun semakin deras, membasahi tanah dan menghapus jejak apa pun yang tertinggal.

Karta mengangkat wajahnya, menatap ke arah hutan yang mulai gelap diguyur hujan deras. Lalu ia kembali menatap Bayu yang berbaring lemah di atas lumut.

"Mereka pergi..." bisik Karta pelan.

"Mereka tak menemukan kita."

Bayu mengangguk pelan. Rasa sakit di lengannya kini terasa berdenyut hebat seirama detak jantungnya. Namun ia tetap tersenyum tipis.

"Kita... selamat..." ucapnya pelan.

"Dan kau... selamat."

Karta menggenggam tangan kiri Bayu erat-erat. Matanya menatap luka yang sudah dibalut itu dengan tekad yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

"Mulai hari ini..." ucap Karta dengan suara bergetar namun penuh ketegasan, "...aku tak akan pernah membiarkan kau melindungiku sendirian. Mulai sekarang... giliran aku yang menjagamu. Kau paham, Bayu? Kau harus sembuh. Kau harus tetap berdiri tegak. Karena kalau kau jatuh... aku tak tahu harus ke mana lagi."

Bayu menatap mata sahabatnya itu lekat-lekat. Di balik air mata dan ketakutan yang tampak di sana... ia melihat sesuatu yang baru tumbuh. Sebuah keberanian yang lahir dari rasa cinta dan persahabatan yang tak bisa dipisahkan oleh apa pun.

"Aku paham..." bisik Bayu pelan sambil meremas lembut tangan Karta dengan tangan kirinya yang masih utuh.

"Aku tak akan jatuh... belum saatnya."

Hujan turun semakin deras, menyapu bersih jejak darah yang menetes di tanah. Di balik rimbunan semak yang tak terlihat siapa pun, dua sahabat itu saling merangkul dalam keheningan malam yang baru saja dimulai. Satu terluka demi menyelamatkan nyawa yang lain. Dan yang selamat... berjanji akan menjaga nyawa sahabatnya itu dengan segenap jiwa raganya.

Itu luka pertama yang mereka terima. Namun itu juga janji pertama yang tak akan pernah mereka ingkari sampai napas terakhir. Bahwa di tanah ini... mereka tak akan pernah berjuang sendirian.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!