Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 - Mereka Datang Bersama
Ratna baru selesai mengantar Bu Laras jalan pelan di koridor rumah sakit ketika melihat tiga orang berdiri di depan kamar VIP.
Hendra.
Raka.
Mama Sulastri.
Maya tidak ikut. Bima juga tidak.
Ratna langsung tahu, ini bukan kunjungan keluarga. Ini pengepungan.
Mama Sulastri memakai kerudung terbaiknya, wajah dibuat pucat, satu tangan memegang dada. Raka berdiri dengan rahang keras. Hendra menatap Ratna seperti suami yang sedang menjemput istri membangkang.
Bu Laras berhenti.
"Tamu?"
Ratna menarik napas.
"Keluarga saya."
Bu Laras mengamati mereka cepat.
"Mantan keluarga, kalau prosesmu lancar."
Mama Sulastri mendengar itu.
Wajahnya langsung berubah.
"Jadi ini perempuan yang mengompori menantu saya?"
Ratna menegang.
Bu Laras justru tersenyum.
"Saya pasien yang dirawat Ratna. Kalau merasa perlu marah, silakan antre setelah jadwal obat saya."
Hendra mencoba menahan emosi.
"Bu, kami ingin bicara dengan Ratna sebagai keluarga."
"Bicara boleh. Menekan tidak."
Raka menyela, "Kami cuma mau Mama pulang."
Ratna menatap anaknya.
"Untuk apa?"
Raka terkejut.
"Ma?"
"Untuk apa aku pulang? Masak? Urus obat Nenekmu? Jemput Bima? Atau supaya Papa kamu terlihat masih punya istri baik-baik?"
Raka kehilangan kata-kata.
Mama Sulastri mulai menangis.
"Dengar sendiri, Hendra. Istrimu sudah tidak punya adab. Dia mempermalukan Mama di depan orang asing."
Bu Laras mengangkat alis.
"Saya orang asing yang kamarnya kalian datangi tanpa izin."
Hendra memejamkan mata sebentar.
"Ratna, tolong. Jangan begini. Kita bicara di rumah."
"Aku sudah bilang lewat pengacara."
"Pengacara tidak bisa menyelesaikan perasaan."
Ratna menatapnya.
"Kamu baru ingat perasaan setelah ketahuan."
Raka maju selangkah.
"Ma, aku tahu Papa salah. Tapi perceraian bukan hal kecil. Bima masih kecil. Aku juga..."
"Kamu juga apa?"
"Aku butuh Mama."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Untuk sesaat, Ratna melihat Raka kecil. Anak yang dulu demam dan memanggilnya sepanjang malam. Anak yang ia gendong saat Hendra sibuk menjaga toko. Anak yang membuatnya rela berhenti mengejar semua keinginannya.
Dadanya sakit.
Hendra melihat keraguan itu.
"Ratna, lihat Raka. Dia anak kita. Kamu mau anak kita malu? Orang-orang sudah mulai bicara. Grup keluarga besar penuh pertanyaan. Apa kamu tega?"
Mama Sulastri menimpali, "Perempuan kalau minta cerai di usia tua itu jadi bahan tertawaan. Apa kata tetangga? Apa kata jamaah pengajian? Kamu mau kami semua menanggung malu?"
Ratna diam.
Rasa bersalah datang seperti kebiasaan lama. Cepat. Licin. Hampir membuatnya menunduk.
Lalu Bu Laras menyentuh siku Ratna.
Tidak menarik. Tidak bicara. Hanya mengingatkan bahwa ia tidak sendirian.
Ratna mengangkat wajah.
"Ma, selama Mas Hendra punya Clara dan Alif, apa Mama memikirkan malu?"
Mama Sulastri tersentak.
"Itu urusan laki-laki."
"Saat uang rumah dipakai membayar apartemen Clara, apa Mama memikirkan Bima?"
"Jangan kurang ajar."
"Saat aku kerja dua tempat, apa Raka memikirkan aku?"
Raka menunduk.
Ratna menatap Hendra.
"Saat kamu memeluk perempuan itu di rumah sakit, apa kamu memikirkan perasaanku?"
Hendra diam.
Ratna mengangguk pelan.
"Jadi jangan datang membawa malu setelah kalian sendiri yang membuang rasa malu."
Mama Sulastri mencengkeram dada.
"Aduh, Hendra... dada Mama sakit."
Raka panik.
"Nenek!"
Hendra langsung memegang ibunya.
Ratna refleks hendak maju. Hampir.
Namun ia berhenti.
Berapa kali Mama Sulastri memakai dadanya untuk menghentikan percakapan?
Bu Laras memanggil perawat dengan tombol.
"Ada orang mengaku sakit dada di depan kamar saya. Tolong periksa."
Mama Sulastri membeku.
Ia mungkin tidak menyangka ada orang langsung memanggil tenaga medis.
Perawat datang cepat dengan kursi roda.
"Ibu sesak? Mari kami periksa tekanan darah dan EKG."
Mama Sulastri gelagapan.
"Tidak perlu. Mama cuma..."
Bu Laras tersenyum manis.
"Jangan begitu. Sakit dada tidak boleh disepelekan."
Raka tampak bingung.
Hendra malu.
Ratna hampir tertawa, tapi menahan.
Mama Sulastri akhirnya duduk di kursi roda dengan wajah kesal. Perawat membawanya ke ruang pemeriksaan kecil di ujung koridor. Raka ikut. Tinggal Hendra berdiri di depan Ratna.
Wajahnya berubah. Tidak lagi keras. Lebih lelah.
"Ratna, aku memang salah. Tapi jangan hancurkan semua. Aku bisa mengakhiri hubungan dengan Clara."
Ratna menatapnya.
"Kalau aku tidak punya bukti, apa kamu akan mengakhiri?"
Hendra tidak menjawab.
"Kalau Clara tidak panik, apa kamu akan mengakui Alif?"
Masih diam.
"Kalau aku tidak dibantu orang lain, apa kamu akan mendengar?"
Hendra mengusap wajah.
"Aku tidak tahu."
"Aku tahu."
Ratna mundur setengah langkah.
"Kamu tidak akan mendengar."
Hendra mendekat.
"Aku masih suamimu."
"Di atas kertas. Tidak di hidupku."
Kalimat itu membuat wajah Hendra mengeras lagi.
"Kamu terlalu percaya pada Arga Wijaya."
Ratna menatapnya tajam.
"Jangan kotori keputusan saya dengan nama laki-laki lain. Saya bercerai karena kamu. Bukan karena Pak Arga."
Hendra seperti ditampar.
Pintu lift terbuka. Arga keluar bersama Hanif. Ia melihat situasi itu dan langsung berjalan mendekat, tapi tidak memotong pembicaraan.
Hendra melihatnya, lalu tertawa pahit.
"Kebetulan sekali."
Arga berhenti di samping Bu Laras, bukan Ratna.
"Ada masalah?"
Ratna menjawab sebelum Hendra.
"Sudah selesai."
Arga menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Ia tidak mengambil alih.
Hendra melihat itu. Mungkin ia berharap Arga akan bersikap seperti penantang, agar ia bisa menuduh Ratna berselingkuh. Tapi Arga hanya berdiri tenang.
Perawat kembali bersama Mama Sulastri dan Raka.
"Tekanan darah Ibu agak naik, tapi tidak ada tanda gawat. Sebaiknya istirahat dan jangan banyak emosi."
Bu Laras tersenyum.
"Nah. Jangan banyak emosi, Bu."
Mama Sulastri menatapnya seperti ingin menggigit.
Ratna berkata pada Hendra, "Pulanglah. Jangan datang lagi tanpa janji."
Raka menatapnya dengan mata merah.
"Ma..."
Ratna menahan napas.
"Raka, kalau kamu ingin bicara sebagai anak, datang sendiri. Kalau datang sebagai utusan Papa dan Nenekmu, jangan."
Raka terdiam.
Mereka akhirnya pergi.
Setelah lift tertutup, Ratna merasakan lututnya lemas.
Arga bergerak sedikit, tapi Bu Laras lebih dulu memegang tangannya.
"Kamu hampir maju waktu dia pura-pura sakit."
Ratna tersenyum lelah.
"Kebiasaan."
Bu Laras menepuk tangannya.
"Pelan-pelan. Kebiasaan puluhan tahun memang tidak putus sehari."
Ratna mengangguk.
Di depan lift yang sudah kosong, ia sadar satu hal.
Ia masih mencintai anak dan cucunya.
Tapi ia tidak harus menyerahkan dirinya lagi untuk membuktikan cinta itu.
Malamnya Raka mengirim pesan panjang. Isinya tidak semarah biasa.
"Ma, aku bingung. Aku marah sama Papa, tapi aku juga marah Mama pergi. Aku tahu ini egois. Tapi aku belum bisa menerima semuanya."
Ratna membaca pesan itu lama. Ia ingin langsung menenangkan. Ingin berkata tidak apa-apa, Mama tetap di sini, Mama akan mengurus semuanya.
Kebiasaan lama hampir menang.
Lalu ia mengetik pelan.
"Mama juga bingung, Raka. Tapi kali ini Mama tidak akan menyelesaikan kebingungan semua orang dengan mengorbankan diri Mama. Kalau kamu mau bicara, datang sebagai anak. Jangan membawa pesan Papa."
Balasan Raka tidak langsung datang.
Ratna meletakkan ponsel.
Mendidik anak dewasa ternyata lebih sakit daripada menggendong anak kecil.
Tapi mungkin ini juga bagian dari cinta: berhenti membuat hidup mereka mudah dengan cara menghancurkan dirinya.
Raka membalas hampir satu jam kemudian.
"Aku tidak tahu cara datang sebagai anak tanpa membahas Papa."
Ratna membaca kalimat itu dengan sedih.
Anaknya sudah dewasa, tapi selama ini selalu berdiri di antara kenyamanan ayahnya dan pengorbanan ibunya. Mungkin ia sendiri tidak pernah belajar melihat Ratna terpisah dari fungsi sebagai ibu.
Ratna mengetik.
"Mulai dari bertanya Mama makan atau belum. Bukan meminta Mama menyelesaikan sesuatu."
Tidak ada balasan lagi.
Namun malam itu, pukul sepuluh, pesan Raka masuk.
"Mama sudah makan?"
Ratna menatap layar sampai matanya basah.
Pertanyaan itu terlambat puluhan tahun.
Tapi tetap sebuah awal.
Ia membalas, "Sudah. Kamu juga makan."
Kali ini, ia tidak menambahkan nasihat panjang, tidak bertanya lauknya apa, tidak menawarkan mengirim makanan.
Ia belajar menjadi ibu tanpa kembali menjadi pelayan.
Bu Laras yang melihat Ratna tersenyum pada layar langsung bertanya, "Raka?"
Ratna mengangguk.
"Dia tanya saya sudah makan."
"Kemajuan kecil."
"Sangat kecil."
"Tetap kemajuan."
Ratna menyimpan ponsel.
Benar. Tidak semua perubahan datang seperti pintu didobrak. Ada yang datang seperti ketukan ragu-ragu dari anak yang baru belajar melihat ibunya sebagai manusia.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃