Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Bukan Wanita Biasa
DUG
Eleanor langsung jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin.
Nicholas langsung memeluk istrinya. "Ma..."
"Dia benar, Nicholas," isak Eleanor. "Selama ini aku yang membunuh anakku sendiri. Aku paksa dia untuk menuruti semua apa yang aku inginkan. Aku paksa dia putus dengan wanita yang dia cintai. Aku paksa dia menikah dengan Vivian."
Nicholas menutup mata sejenak. "Sudah, Ma... jangan seperti ini. Mama cukup terima apa yang menjadi keputusan Erivo. Itu sudah lebih dari cukup."
"Ayo ke kamar, dan istirahat," ucap Nicholas sambil membantu istrinya untuk berdiri.
---
Sedangkan di dalam kamar.
Chloe duduk di pinggir ranjang saat ini ia sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Rambutnya masih setengah basah. Handuk tergeletak di pangkuannya.
Ia mengambil earpiece yang ia selipkan tadi di balik gaun pengantinnya, lalu memasang earpiece itu di telinganya.
KLIK
"Kak, di mana kau sekarang?" suara Elsa terdengar di seberang sana dengan nada yang sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja," ucap Chloe. Wajahnya terlihat sangat tenang.
"Dan bagaimana dengan wanita itu?"
"Dia masih belum sadar, Kak," ucap Elsa.
"Hmm... Tetap pantau dia. Dan jika dia tidak mau tenang, maka suntikkan saja cairan yang aku berikan kepadamu," kata Chloe, suaranya datar. Dingin.
"Baik, Kak..."
"Bagus."
"Kak, apa aku boleh tahu siapa pria yang kakak nikahi itu?" tanya Elsa.
Chloe terdiam. Matanya menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Erivo Reinhard," jawab Chloe pelan.
Elsa yang mendengar itu terdiam cukup lama. "Kak..."
"Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini, Elsa," kata Chloe.
"Dan aku baru mengetahui jika pria itu adalah dia saat pernikahannya sudah dilakukan. Meskipun pernikahan ini tidak sepenuhnya sah, tapi ini awal untuk menghancurkan Alexander dan Serena."
"Besok pagi jam sembilan, jemput aku di mansion keluarga Reinhard. Jangan masuk, tunggu aku di depan pagar."
Setelah mengatakan itu, Chloe kembali menekan earpiece yang ada di telinganya. Melepaskan benda kecil itu dan menyelipkannya di bawah bantal.
Chloe menghela napasnya cukup panjang. Ini baru awal balas dendamnya sebagai jiwa Queen Daisy yang berada di dalam raga Chloe Weiss.
Chloe perlahan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Matanya menatap langit-langit kamar. Gelap.
"Chloe..." bisiknya kepada dirinya sendiri. "Kau lihat kan... Apa yang aku lakukan kepada mereka. Dan ini baru awal."
Setelah mengatakan itu, Chloe memejamkan matanya. Ia tertidur.
Tak lama pintu kamar terbuka. Erivo melangkah masuk dengan langkahnya yang pelan.
KREK
Erivo menutup pintu pelan. Matanya langsung tertuju ke ranjang.
Chloe sudah tidur. Erivo mendekat dan duduk di sofa. Tidak menyalakan lampu.
Erivo memperhatikan Chloe lama. Rambut panjang setengah basah. Piyama tidur berwarna merah muda.
Wajah itu terlihat tirus, dan asing baginya. Tapi tatapan dan nada bicaranya sama persis seperti kekasihnya yang satu minggu lalu dibunuh oleh klan mafia Kalajengking Merah dengan cara yang tragis.
Erivo mengepalkan kedua tangannya.
"Aku berjanji akan membalas kematianmu, Sayang..." bisik Erivo.
"Dan maafkan aku, jika sekarang aku membawa wanita asing ke dalam hidupku... Wanita itu sama persis dengan keberanian yang kau miliki. Tatapan mata dan nada suaranya pun sama seperti mu."
Hening.
Chloe mengerut, mengigau pelan. "Cepat lari... selamatkan diri..."
DUG
Erivo langsung berdiri, mendekat.
"Kau kenapa?" tanya Erivo pelan.
Chloe menggeleng di atas bantal, dengan mata tertutup. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Tidak... Jangan tembak..."
Erivo duduk di tepi ranjang. Mengerutkan alisnya, menatap wanita itu.
Erivo mengusap pelipis Chloe dengan jempolnya, menghapus keringat itu.
"Ssst... Sudah," bisik Erivo. "Kau aman. Aku di sini."
Chloe langsung membuka matanya. Napasnya tersengal.
Ia langsung duduk dan belum menyadari keberadaan Erivo di sampingnya. Napasnya naik turun.
Chloe memegang dadanya. "Aku... aku..."
Erivo menahan bahu Chloe. "Tenang. Tarik napas."
Chloe menoleh kaget, melihat Erivo. "Kau... sejak kapan kau ada di sini?"
Erivo menggeleng. "Sejak kau bicara dalam tidur."
Chloe mengubah tatapannya menjadi datar. Erivo meraih segelas air yang ada di atas nakas lalu memberikannya kepada Chloe.
"Minumlah dulu," ucapnya.
Chloe menerima gelas itu. Tangannya gemetar, airnya tumpah sedikit.
Erivo menahan tangan Chloe, membantunya minum.
"Pelan-pelan," bisik Erivo.
Setelah habis, Chloe meletakkan gelas itu.
"Minggir... Aku ingin tidur," ucap Chloe. Suaranya pelan.
Erivo mengangguk. Ia beranjak berdiri, dan menarik selimut hingga ke dada Chloe.
"Tidurlah... Aku ada di sini," kata Erivo.
Chloe menatap Erivo. Ragu. "Kau... tidak pergi?"
Erivo kembali duduk di sofa. Tidak menyalakan lampu.
"Tidak... Aku akan menjagamu."
Chloe tersenyum tipis. "Aku tidak butuh dijaga, Tuan... Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Erivo tertawa pelan. Suara rendah yang jarang keluar.
"Benar," kata Erivo. "Wanita pemberani sepertimu memang tidak butuh dijaga."
Chloe memalingkan wajah. "Lalu kenapa kau masih di sini?"
Erivo bersandar, menatap langit-langit. "Ini kamarku, Nona... Dan sepertinya aku yang butuh dijaga."
DUG
Chloe terdiam. Jantungnya berdetak aneh.
"Apa maksudmu?" tanya Chloe pelan.
Erivo menutup mata. "Satu minggu ini tidurku hanya dua jam sehari. Setiap aku memejamkan mata, aku selalu melihat dia. Yang bersimbah darah. Berteriak dan menjerit kesakitan."
Hening. Hanya suara jam dinding.
Erivo membuka mata, menatap Chloe.
"Aku merasa sangat bersalah kepadanya... Karena tidak memperjuangkannya. Akhirnya dia membenciku dan tidak ingin bertemu lagi denganku... Selama dua tahun ini aku berusaha melupakannya tapi tidak bisa."
Chloe menghela napasnya cukup panjang mendengar ucapan pria itu. "Jadi ceritanya kau gagal move on."
DUG
Erivo membelalakkan matanya. "Apa?"
Chloe duduk, menatap Erivo datar. "Iya, gagal move on. Dua tahun masih diingat... tapi sudah lah, namanya juga cinta mati. Lebih baik Tuan tidur. Karena memikirkan mantan yang sudah tiada itu hanya membuat sakit hati."
Erivo menyipitkan matanya. "Kau... berani sekali."
Chloe mengangkat bahu. "Fakta itu memang pahit, Tuan?"
Erivo berdiri. Mendekat ke ranjang. Bayangannya menutupi Chloe.
"Kau pikir semudah itu?" suara Erivo rendah. Berbahaya.
Chloe kembali membaringkan diri di atas tempat tidur. "Sudah lah, aku mau tidur... Lebih baik Tuan tidur juga. Ini kamar Tuan kan, jadi Tuan bisa tidur di sini. Malam ini kita berbagi tempat tidur... tapi ingat jangan macam-macam."
DUG
Erivo terdiam, menatap Chloe dari atas.
"Kau tidak takut?" tanya Erivo pelan.
Chloe menarik selimut sampai dagu. "Takut. Aku lebih takut kalau Tuan mati karena kurang tidur."
Erivo menghela napas. Panjang.
Lalu akhirnya ia beranjak naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Chloe. Dengan menjaga jarak, Chloe meletakkan bantal guling di tengah.
"Aku tidak akan macam-macam," kata Erivo.
Chloe memejamkan mata. "Bagus. Kalau kau sampai macam-macam, aku akan mematahkan satu tanganmu."
Erivo menoleh. "Kau serius?"
"Sangat... Diam lah. Aku mau tidur. Atau kupotong lidahmu itu."
Erivo diam, lalu menutup matanya. Tapi sudut bibirnya naik.
Dalam hati pria itu berkata: "Siapa sebenarnya wanita ini... Tidak mungkin jika dia hanya putri sulung keluarga Weiss yang dikurung di rumah sakit jiwa selama lima tahun. Dilihat dari keberanian, nada bicara bahkan tatapan matanya... dia bukan orang sembarangan."
Jam dua pagi.
Erivo masih belum tidur. Ia melirik Chloe dari sudut mata.
Napas Chloe teratur. Tapi tangannya... Tangannya menggenggam selimut terlalu erat. Seperti orang yang terbiasa waspada.
Erivo mengerutkan kening. "Tangan, leher, bahkan bekas luka di pergelangan tangannya. Cara dia tidur miring, menghadap pintu. Ini bukan kebiasaan putri manja yang lemah."
---
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 🙏 Like, komen dan Vote 🥰 🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,