Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Alice terus berlari, berusaha melepaskan diri dari Rendra, sampai dia bertemu dengan Dika.
"Elisa, kamu kenapa?" tanya Andika melihat penampilan Alice yang berantakan.
"Pak, saya mohon tolong saya pak, tolong saya. Biarkan saya pergi pak, saya-"
"ALICE!!!" panggil Rendra melihat wanita itu memegang lengan seseorang disana.
Andika melihat sosok di ujung sana. Lalu beralih ke arah Elisa.
Melihat Rendra keluar membuat Alice langsung berlari meninggalkan tempat itu. Dia harus segera menyelamatkan diri. Jangan sampai dia tertangkap oleh Rendra lagi.
"Alice, jangan lari!!!" teriak Rendra melihat wanita itu kembali berlari.
Andika yang tidak tau apa yang terjadi saat ini berusaha menolong wanita yang dia tau bernama Elisa itu.
"Lepas!" sentak Rendra saat lengannya di tahan laki-laki tersebut.
"Kenapa saya harus melepaskan anda?" tanya Andika menatap Rendra yang juga menatapnya.
"Anda tau dengan siapa anda bicara saat ini?" tanya Rendra dengan tatapan sombongnya.
Merasa Elisa sudah jauh dan mungkin berada di posisi aman membuat Andika melepaskan tangan laki-laki ini.
"Saat ini anda berada di hotel saya, tuan. Dan wanita yang anda kejar itu adalah karyawan saya. Anda tau apa yang bisa saya lakukan untuk dia? Saya bisa melaporkan anda atas tuduhan pelecahan terhadap wanita." ucap Andika penuh ancaman.
Bukannya takut, Rendra malah semakin menatap penuh ancaman pada lawannya.
"Anda salah memilih lawan! Jadi silahkan saja lakukan apa yang ingin anda lakukan. Aku akan menunggu anda!" ucap Rendra penuh kesombongan membuat Andika semakin panasaran, siapa sebenarnya laki-laki ini.
Kenapa Elisa terlihat begitu sangat ketakutan padanya. Bahkan sampai menangis dengan tubuh yang bergetar.
"Satu hal lagi, tulis dengan benar Devano Garendra." ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun.
Dia berlalu begitu saja meninggalkan tempat kejadian perkara tadi.
"Periksa semua cctv tempat ini dan temukan dimana keberadaan wanita itu. Jika perlu katakan bahwa dia adalah istriku yang melarikan diri." titahnya pada anak buahnya.
Sementara Alice, dia langsung pergi ke sekolah anaknya. Dia benar-benar harus menyelamatkan Neil. Jangan sampai Rendra menemukan Neil dan membawanya pergi.
"Neil, tunggu mami sayang, tunggu mami, nak." suaranya bergetar hebat. Tapi dia harus tetap fokus untuk menyelamatkan Neil dari Rendra.
Dia benar-benar tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekati anaknya. Tidak akan.
"Mami mohon tunggu mami, nak. Tunggu mami sayang..." tangisnya pecah dalam mobil menuju sekolah anaknya.
Sesampainya di sekolah, Alice langsung menuju kelas sang putra dan membawanya pergi setelah meminta izin.
"Mami, kita mau kemana? Kita mau main ya?" tanya Neil saat maminya sudah menjemput padahal ini masih jam sekolah.
Neil berusia 6 tahun, dan sebentar lagi akan sekolah SD. Benar-benar sangat tampan sekali anaknya ini. Orang-orang memuji ketampanan-nya yang memang luar biasa.
"Sayang dengerin mami oke. Neil sekarang mami antar ke rumah Ona, ya. Tunggu mami disana dan jangan nakal sama Ona, oke?!"
Dengan petuh Neil mengangguk. Usianya memang masih 6 tahun, tapi dia begitu pintar.
"Ada orang jahat ya yang gangguin kita?" tanya Neil dengan begitu polosnya, membuat Alice menganggukkan kepalanya untuk itu.
"Maafin mami ya, nak. Mami gak bisa jagain kamu terus. Mami-"
"Neil sayang mami. Mami jangan nangis. Nanti kalau Neil udah besar Neil bakalan jagain mami dari orang jahat." ucap anak usia 6 tahun itu membuat Alice semakin menangis disana.
Pelukannya terasa begitu hangat, tapi menyesakkan di dada. Hidup mereka benar-benar tidak bisa tenang akhir-akhir ini semenjak pertemuannya dengan Rendra. Apalagi laki-laki itu mengahui dirinya yang menggugurkan kandungannya. rencananya berhasil menipu Rendra memang, tapi karena itu pula dia mengejarnya dan bahkan tidak membiarkannya hidup dengan tenang.
Sementara Rendra, dia menatap jalanan lurus itu dengan tatapan kosong. "Cari semua tempat di kota ini. Aku tidak ingin tau seberapa banyak orang yang harus kalian kerahkan untuk mencari wanitaku! Bawa dia kembali padaku tanpa goresan sedikitpun!" ucapnya penuh ancaman pada orang suruhannya untuk mencari Alice.
Panggilan telepon di putuskan ya begitu saja. Dia benar-benar tidak akan melepaskan Alice kali ini. Tidak akan.
****
Eits, jangan lupa tinggalkan like, komentar dan rate bintang 5 nya ya ⭐⭐⭐⭐⭐