NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Hari Pertama Kembar

Tugas dimulai dengan kurir yang datang terlalu pagi.

Pukul tujuh lewat lima, Keira membuka pintu dengan rambut berantakan dan mata setengah tertutup. Kurir menyerahkan dua paket, lalu pergi sebelum Keira sempat memutuskan apakah hari ini ia siap menjadi versi diskon Xavier Sia.

Ia membawa paket ke kamar, menggunting plastiknya, dan mengeluarkan satu polo putih, celana gelap yang sudah ia setrika semalam, serta sneakers putih yang bentuknya cukup mirip dengan milik Xavier. Outer hitam-putih yang ia beli ternyata sedikit terlalu tebal untuk cuaca Bandung siang ini, jadi ia menyimpannya sebagai cadangan.

Nokia tua di meja menyala.

`Misi 2 Hari 1/7.`

`Target outfit terdeteksi: polo putih, celana gelap, sepatu kanvas putih.`

Keira menatap layar itu, lalu menatap baju di kasur.

"Lo mata-mata atau stylist pribadi?"

Tidak ada jawaban.

Ia berganti pakaian sambil mengutuk pelan. Di cermin, hasilnya tidak buruk. Polo putih membuat kulitnya terlihat makin pucat, tapi celana gelap dan sepatu putih cukup aman untuk kampus. Masalahnya bukan outfit itu jelek.

Masalahnya, kalau Xavier benar-benar memakai hal yang sama, ia tidak bisa pura-pura ini kebetulan.

Keira mengikat rambut setengah naik, memakai lip tint tipis agar tidak terlihat seperti baru keluar dari ruang rawat, lalu mengambil tas gambar.

Sebelum keluar, ia membuka pintu sedikit dan mengintip ke koridor.

Kosong.

Pintu unit seberang tertutup.

Keira menghela napas lega.

"Bagus. Target belum keluar. Semesta masih punya sopan santun."

Semesta hanya sopan selama enam menit.

Saat lift terbuka di lantai dasar, Keira melihat Xavier berdiri dekat lobi, sedang menerima paper bag kopi dari ojek online. Polo putih. Celana gelap. Sepatu kanvas putih.

Persis.

Keira mundur setengah langkah, tetapi pintu lift sudah terbuka penuh. Seorang bapak di belakangnya berdeham karena ia menghalangi jalan. Keira terpaksa keluar.

Xavier menoleh.

Pandangan mereka bertemu.

Lalu turun, hampir bersamaan, ke pakaian masing-masing.

Keira bisa melihat alis Xavier berkerut sedikit. Tidak banyak. Cuma cukup untuk membuat wajahnya seperti bertanya, `lagi?`

Keira tersenyum kaku.

"Pagi."

Xavier menatapnya dua detik. "Pagi."

Tidak ada komentar lain. Tidak ada tuduhan. Tidak ada ancaman satpam.

Justru itu yang lebih mengerikan.

Mereka berjalan keluar lobi dengan jarak aman. Xavier ke arah mobilnya, Keira ke titik jemput Gojek. Tapi dua satpam di meja depan sudah saling melirik. Salah satu bahkan tersenyum kecil.

Keira ingin menghilang ke dalam pot tanaman.

Di kampus, keadaan tidak membaik.

Pagi itu area Fakultas DKV penuh mahasiswa yang membawa papan gambar dan laptop. Keira berusaha berjalan biasa, padahal setiap kali melihat putih di sudut mata, jantungnya meloncat. Ia belum bertemu Xavier lagi sejak lobi. Ia berharap mereka akan berada di gedung berbeda seharian.

Harapan itu mati di depan kantin.

Xavier berjalan dari arah gedung Hukum bersama seorang cowok yang lebih ekspresif daripada seluruh wajah Xavier digabungkan. Cowok itu tinggi, memakai jaket denim, dan sedang bicara dengan tangan bergerak-gerak seperti presenter acara gosip.

Keira baru saja membeli air mineral bersama Celine ketika Celine menyikut lengannya.

"Kei."

"Apa?"

"Jangan noleh terlalu cepat."

Tentu saja Keira langsung menoleh.

Xavier berhenti tiga meter di depannya.

Sekali lagi, tatapannya turun ke pakaian Keira. Kali ini mereka berada di tempat terlalu ramai untuk menganggap itu kebetulan pribadi. Beberapa mahasiswa di sekitar mulai melihat, lalu berbisik.

Celine melirik Keira dari atas sampai bawah, kemudian melirik Xavier.

"Oh," katanya pelan. "Ini maksud status WA misterius lo?"

"Bukan."

"Kalian janjian?"

"Tidak."

"Lebih parah kalau tidak."

Cowok di samping Xavier melihat Keira, melihat Xavier, lalu matanya membesar seperti baru menemukan hiburan gratis.

"Xav," katanya lantang, "kamu punya kembaran ya?"

Beberapa kepala langsung menoleh.

Keira menahan botol air mineral begitu kuat sampai plastiknya penyok.

Xavier tidak mengubah ekspresi. "Kevin."

"Apa? Gue cuma tanya. Ini konsepnya apa? Couple outfit? Twin day? Konten soft launching?"

"Diam."

Kevin tidak diam. Ia malah tersenyum lebar pada Keira. "Hai. Gue Kevin. Sahabat korban fashion sinkronisasi ini."

Keira, yang masih ingin hidup dan tidak ingin menjadi musuh semua orang, memaksakan senyum.

"Keira."

"Oh, Keira." Kevin menjentikkan jari. "Yang tetangga seberang?"

Xavier menoleh ke Kevin.

Kevin langsung mengangkat kedua tangan. "Oke, oke. Rahasia negara."

Celine, di samping Keira, berbisik, "Kei, lo punya lore baru setiap minggu ya?"

"Cel, nanti."

Xavier akhirnya bicara pada Keira, suaranya datar seperti biasa. "Lo kuliah jam berapa?"

Pertanyaan biasa. Sangat biasa. Tapi karena semua orang masih melihat pakaian mereka, pertanyaan itu terdengar seperti dialog dua orang yang memang punya urusan.

"Sepuluh," jawab Keira.

"Jangan berdiri di tengah jalan. Nanti ketabrak orang."

Ia berjalan duluan bersama Kevin, meninggalkan Keira yang masih memegang botol penyok.

Kevin sempat menoleh ke belakang dan memberi dua jempol.

Keira menatap punggung mereka, campuran malu, kesal, dan sedikit bingung. Xavier tidak membentaknya. Ia juga tidak mengejeknya. Ia hanya menyuruhnya minggir dari tengah jalan, seolah itu hal paling natural untuk dikatakan.

Celine menyedot es kopinya dengan wajah datar.

"Lo yakin nggak suka?"

"Aku sedang menjalani krisis hidup."

"Bisa sambil suka."

"Cel."

"Apa? Multitasking."

Keira ingin membantah, tapi Nokia di dalam tasnya bergetar pelan. Ia cepat-cepat menarik Celine menjauh ke koridor yang lebih sepi, pura-pura mencari toilet.

Di layar kecil itu muncul:

`Kesamaan outfit terverifikasi.`

`Nilai Replika +2%.`

Dua persen.

Keira menekan bibir. Untuk satu hari penuh panik, malu, dan hampir menjadi bahan tertawaan kantin, ia hanya mendapatkan dua persen.

Tapi dua persen tetap lebih besar daripada nol.

Ia memasukkan Nokia kembali sebelum Celine melihat.

"HP apa itu?" tanya Celine curiga.

"Properti tugas."

"DKV makin aneh."

"Setuju."

Hari itu Keira menjalani kelas dengan pikiran terbagi. Setiap kali ada mahasiswa Hukum lewat jendela studio, ia reflek menunduk. Setiap kali notifikasi masuk, ia takut itu dari Xavier. Setiap kali Celine memandang pakaiannya, ia pura-pura sibuk menggambar.

Menjelang malam, saat Keira sudah kembali ke The Springs dan baru selesai mandi, HP utamanya bergetar tanpa henti.

Celine mengirim screenshot.

`KEI. BUKA UNPARFESS. SEKARANG.`

Jantung Keira langsung turun.

Ia membuka Instagram, masuk ke @unparfess, dan menemukan postingan terbaru yang sudah mendapat ratusan likes.

Foto itu diambil dari jauh, di depan kantin. Keira dan Xavier berdiri saling berhadapan, sama-sama memakai polo putih, celana gelap, dan sepatu putih.

Caption-nya pendek.

`Siapa cewek yang selalu berpakaian sama dengan Xavier Sia? Ini lucu atau creepy?`

Keira menahan napas.

Komentar terus bertambah.

`Kayaknya cute deh, couple style wkwk.`

`Stalker vibes nggak sih?`

`Xavier-nya ganteng banget, fokus gue rusak.`

`Ceweknya siapa? Anak DKV ya?`

`Kalau nggak janjian, kok bisa sama persis?`

Keira menggigit bibir sampai terasa perih. Ia ingin meletakkan HP, ingin menutup mata, ingin berhenti. Tapi di atas meja, Nokia tua itu menyala lagi, menampilkan angka yang tidak peduli pada rasa malunya.

`Nilai Replika: 2%.`

Ia tidak bisa berhenti.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!