Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034
Koko Rey
"Kalau begitu," katanya pelan, "besok aku tunggu."
Masalahnya, Seraphina belum tahu cara membuat Reynard Hartono berhenti cemberut.
Laki-laki itu tidak cemberut seperti orang biasa. Ia tidak mengeluh, tidak merajuk di depan umum, tidak mengirim pesan panjang yang penuh tanda tanya. Ia tetap datang ke rapat pukul sembilan, tetap menjawab email dengan kalimat dingin sempurna, tetap meminta tim legal Hartono Group mengirim revisi kontrak tepat waktu.
Ia hanya menjadi terlalu sopan.
Pagi itu, dalam rapat singkat bersama Astoria, Reynard memanggilnya "Bu Sera" tiga kali. Nada formalnya rapi, tidak salah, dan justru karena tidak salah, Seraphina ingin menaruh kepalanya di meja.
Pesan Natasha masuk saat rapat baru selesai.
Tasha:
Update status cuka berjalan?
Seraphina menatap layar dengan alis berkerut.
Aku tidak tahu cara menangani laki-laki cemburu yang tetap profesional.
Balasan Natasha muncul cepat.
Panggil dia Koko.
Seraphina hampir menjatuhkan ponsel.
Tidak.
Tasha:
Sera sayang, kau memanggil Vincent Ko Vincent dengan sangat lancar sampai pacarmu mau membekukan Jakarta. Beri dia versi khusus.
Seraphina menatap pesan itu lama.
Tasha:
Tambahkan nada manja. Jangan lupa laporan hasil.
Seraphina mengunci layar. Ia tidak akan melakukan itu. Benar-benar tidak.
Dua jam kemudian, ia masih memikirkannya.
Sore menjelang malam, Reynard datang menjemputnya dari Astoria. Tidak ada bunga, tidak ada drama, hanya mobil hitam yang berhenti di tempat biasa dan laki-laki yang turun untuk membukakan pintu.
"Terima kasih, Pak Rey," kata Seraphina sengaja.
Reynard menatapnya. "Sama-sama, Bu Sera."
Baik. Ia memulai perang.
Di dalam mobil, suasana terlalu tenang. Supir tidak ada. Reynard sendiri yang menyetir, seperti biasa ketika urusannya dengan Seraphina bukan urusan dunia. Lampu Jakarta mulai menyala, jalanan SCBD padat, dan radio memutar lagu lama yang terlalu manis untuk mendukung suasana kaku mereka.
Seraphina meliriknya. "Kau masih marah?"
"Tidak."
"Cemburu?"
"Ya."
Jawaban cepat itu membuatnya menoleh.
Reynard tetap melihat jalan. "Aku sudah berjanji akan jujur."
Seraphina menyandarkan bahu ke kursi. "Apa yang membuatmu paling cemburu?"
"Kau tertawa dengannya seperti kau tidak perlu waspada."
Itu menusuk lebih dalam daripada yang ia duga.
"Aku mengenalnya sejak lama."
"Aku tahu."
"Dan kau mengenalku sekarang."
"Aku juga tahu."
"Jadi masalahnya bukan logika."
"Tidak pernah."
Mobil berhenti di lampu merah. Reynard baru menoleh. Di bawah cahaya merah dari luar, wajahnya terlihat lebih muda sesaat, seperti laki-laki yang baru belajar bahwa mencintai seseorang berarti menerima ada bagian hidup orang itu yang tidak bisa ia miliki mundur ke belakang.
Seraphina melembut.
"Aku tidak bisa mengubah masa laluku," katanya.
"Aku tidak memintanya."
"Tapi aku bisa memilih bagaimana memanggilmu."
Reynard menatapnya.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson pelan. Reynard kembali menatap jalan, tetapi jelas seluruh perhatiannya sudah berpindah.
Seraphina menarik napas. Ia tiba-tiba merasa lebih gugup daripada saat presentasi Dinas.
"Rey."
"Hm."
"Kalau aku memanggil Vincent Ko Vincent, itu karena dia memang seperti kakak lama dari Surabaya."
Tangannya di setir mengencang sedikit.
"Tapi kalau aku memanggilmu..." Seraphina berhenti. Telinganya panas.
Reynard tidak membantu. Ia hanya menunggu.
Sial.
Seraphina menatap jendela, lalu berkata sangat pelan, "Koko Rey\~"
Mobil tidak oleng, tetapi hampir.
Reynard menginjak rem sedikit terlalu cepat sebelum garis zebra cross. Mobil berhenti dengan sentakan halus. Seraphina langsung memegang sisi kursi.
"Rey!"
Reynard menatap lurus ke depan, napasnya berubah. "Ulangi."
"Tidak."
"Sera."
"Kau hampir membuat kita ditabrak belakang."
"Lampu merah."
"Itu bukan alasan."
Ia menoleh perlahan. Semua formalitas "Pak Rey" hilang dari wajahnya. Yang tersisa adalah laki-laki yang tadi ia coba hibur, kini terlihat seperti seluruh sistem pertahanannya runtuh hanya karena dua kata.
"Ulangi," katanya lebih rendah.
Seraphina seharusnya malu. Ia memang malu. Namun melihat Reynard seperti itu, melihat cemburu yang kaku tadi meleleh menjadi sesuatu yang panas dan hampir tidak berdaya, keberaniannya naik sedikit.
"Koko Rey," katanya, kali ini tanpa tilde yang berlebihan, tetapi dengan suara lebih lembut. "Jangan cemberut lagi."
Reynard menutup mata sebentar.
"Kau tahu itu tidak adil."
"Apa?"
"Menggunakan panggilan seperti itu saat aku sedang menyetir."
Seraphina menggigit bibir agar tidak tertawa. "Kalau begitu menepi."
Reynard langsung menyalakan lampu sein.
"Aku bercanda."
"Aku tidak."
Mobil masuk ke area drop-off gedung komersial yang sudah sepi, berhenti di sisi yang tidak menghalangi jalan. Reynard mematikan mesin, lalu memandang Seraphina dengan intensitas yang membuat ruang mobil terasa lebih kecil daripada kemarin.
"Kau memanggilnya Ko Vincent karena masa lalu," katanya.
"Ya."
"Panggilan ini?"
Seraphina menatapnya. Ia tahu ini bukan sekadar kecemburuan soal satu kata. Reynard ingin tahu apakah ada ruang yang hanya miliknya, sesuatu yang tidak dibagi dengan masa lalu, keluarga, atau dunia bisnis.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Reynard di atas konsol.
"Ini hanya untukmu."
Rahang Reynard bergerak. "Sekali lagi."
"Koko Rey\~"
Kali ini Seraphina sengaja memanjangkan sedikit nada akhirnya.
Reynard menarik napas tajam, lalu tertawa rendah, hampir tidak percaya. "Kau berbahaya."
"Aku belajar dari pacarku."
"Pacarmu sekarang ingin melakukan hal yang sangat tidak cocok untuk area drop-off."
Panas naik ke wajah Seraphina. "Maka jangan lakukan."
"Aku meminta izin."
"Untuk?"
"Mencium tanganmu. Kalau aku mencium bibirmu sekarang, kita tidak akan pergi dari sini cepat."
Seraphina menelan ludah, lalu mengulurkan tangan.
Reynard mengangkat tangannya dan mencium buku-buku jarinya satu per satu. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut. Justru karena ditahan, setiap sentuhan terasa lebih dalam. Seraphina memandang ke luar jendela, takut kalau ia terus melihat, ia akan lupa bahwa mereka masih di tempat umum.
"Masih cemburu?" tanyanya.
"Ya."
"Rey."
"Tapi lebih mudah ditanggung."
Seraphina tertawa pelan. "Itu kemajuan?"
"Sangat besar."
Ia melepaskan tangan Seraphina, tetapi ibu jarinya masih mengusap punggung tangannya.
"Aku tidak akan memintamu berhenti memanggilnya Ko Vincent," kata Reynard. "Aku hanya perlu belajar bahwa panggilan itu tidak mengancamku."
Seraphina mengangguk. "Dan aku akan belajar tidak menertawakanmu saat kau cemburu."
"Kau boleh menertawakan sedikit."
"Baik. Sedikit."
"Tapi setelah itu panggil aku tadi."
Seraphina menatapnya, lalu akhirnya tertawa bebas.
Mereka kembali ke jalan ketika langit Jakarta sudah benar-benar gelap. Kali ini suasana di mobil lebih ringan. Reynard tidak lagi terlalu sopan. Ia bertanya apakah Seraphina sudah makan, apakah ia ingin mampir membeli martabak, dan apakah Natasha benar-benar orang yang mengajarinya panggilan itu.
Seraphina menolak menjawab pertanyaan terakhir.
"Berarti iya," kata Reynard.
"Fokus menyetir."
"Aku fokus. Sangat fokus mencari tempat martabak."
"Kita benar-benar mampir?"
"Kau belum makan malam dengan benar."
"Aku sudah makan roti di kantor."
"Itu bukan makan malam."
Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan gerai martabak premium yang tetap ramai meski hari sudah malam. Reynard tidak menyuruh orang turun. Ia sendiri yang keluar, berdiri di antara pengemudi ojek online dan keluarga kecil yang menunggu pesanan, tampak sangat tidak pada tempatnya dengan kemeja mahal dan jam yang harganya mungkin cukup untuk membeli seluruh gerobak.
Seraphina melihat dari dalam mobil, lalu tertawa sendiri.
Ponselnya bergetar.
Rey:
Keju cokelat atau tipis kering?
Seraphina membalas:
Setengah keju cokelat, setengah kacang.
Rey:
Minum?
Tidak perlu.
Rey:
Itu bukan jawaban.
Seraphina menatap punggungnya di bawah lampu gerai. Laki-laki itu baru saja meleleh karena panggilan Koko Rey, tetapi sekarang berdiri serius memilih martabak seolah sedang memutuskan merger perusahaan.
Ia mengetik:
Teh tawar hangat.
Reynard menoleh dari luar kaca, mengangkat alis seolah berkata bagus.
Ketika ia kembali membawa kotak martabak dan dua gelas minuman, aroma mentega langsung memenuhi mobil. Seraphina menerima satu kotak kecil yang sudah dipotong rapi.
"Kau beli terlalu banyak."
"Kau bisa bawa pulang."
"Ini tiga kotak."
"Satu untukmu, satu untuk tim Astoria besok, satu untuk Natasha supaya dia berhenti memberi ide berbahaya."
Seraphina tertawa, lalu mengambil satu potong martabak. Keju yang masih panas memanjang ketika ia menggigit. Reynard memperhatikannya dengan ekspresi puas yang terlalu jelas.
"Jangan lihat aku makan."
"Aku suka melihatmu makan."
"Itu kalimat aneh."
"Kalimat jujur."
Seraphina menunduk, menyembunyikan senyum di balik kotak martabak. Lalu, karena keberanian malam itu belum habis, ia mengambil satu potong kecil dan mengangkatnya ke arah Reynard.
"Koko Rey, coba ini."
Reynard membeku lagi.
"Sera."
"Apa? Kau yang beli."
"Jangan panggil aku begitu sambil menyuapi."
"Kenapa?"
"Karena aku akan kalah total."
Seraphina menahan tawa, tetapi tangannya tetap terulur. Setelah beberapa detik, Reynard menunduk dan memakan potongan itu dari tangannya. Bibirnya nyaris menyentuh ujung jari Seraphina, cukup dekat untuk membuat napasnya tersendat.
Reynard menelan, lalu berkata pelan, "Manis."
"Martabaknya?"
Tatapannya naik ke wajah Seraphina.
"Kau tahu jawabannya."
Seraphina langsung menarik tangan dan pura-pura sibuk menutup kotak. Kali ini, ia yang kalah.
"Baik, kucing kecilku."
Seraphina memalingkan wajah ke jendela, tetapi senyumnya terpantul jelas di kaca.
Ketika ia tiba di apartemen, ponselnya bergetar. Pesan dari Hendrawan Lim.
Papa:
Besok malam pulang ke rumah. Ada tamu dari Surabaya. Keluarga Lianto akan datang, dan Papa ingin kau hadir.
Seraphina berhenti di depan pintu lobby.
Reynard yang hendak pergi ikut melihat perubahan wajahnya. "Apa?"
Seraphina menunjukkan layar.
Nama Lianto membuat sisa kelembutan di wajah Reynard menghilang perlahan, tetapi kali ini ia tidak langsung cemburu. Ia melihat pesan itu seperti melihat papan permainan baru.
"Hendrawan tahu hubunganmu dengan Vincent," katanya.
"Atau sedang ingin tahu."
Reynard menatap layar, lalu Seraphina.
"Besok," katanya, suaranya kembali rendah, "aku antar kau."
Seraphina menggenggam ponsel lebih erat.
Malam yang baru saja manis mendadak memiliki ujung tajam.