NovelToon NovelToon
AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

AKU MENIKAH DENGAN PRIA YANG AKAN MEMENJARAKAN AYAHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 - Nama yang Membuat Mereka Mundur

Hujan turun semakin deras.

Air mengalir di sepanjang gang sempit, membasahi sepatu dan celana semua orang yang berdiri di sana.

Raka melangkah satu kali lagi.

"Lepaskan mereka."

Nada suaranya tetap tenang.

Namun ketenangan itu justru membuat empat pria di hadapannya saling berpandangan.

Pria yang memegang lengan Nadira mendengus pelan.

"Kalau kami tidak mau?"

Raka tidak menjawab.

Tatapannya beralih pada tangan pria itu yang masih mencengkeram lengan Nadira hingga perempuan itu meringis kesakitan.

"Lengan kirimu."

Pria itu mengernyit.

"Kenapa?"

"Kalau dalam tiga detik belum dilepas..."

"...kau akan menyesal."

Ucapan itu terdengar datar.

Tidak seperti ancaman.

Lebih seperti sebuah kepastian.

"Ha!"

Pria itu tertawa keras.

"Kau pikir aku takut?"

Satu...

Dua...

Belum sempat hitungan ketiga terlintas di kepala Alea, sebuah suara memecah keheningan.

"Berhenti!"

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berlari dari arah mobil SUV.

Wajahnya tampak panik.

Begitu melihat Raka dari dekat, matanya membelalak.

"Pak..."

Ia buru-buru menarik anak buahnya mundur.

"Lepaskan perempuan itu!"

"Tapi, Bos—"

"LEPASKAN!"

Bentakan itu membuat pria yang memegang Nadira langsung melepaskan cengkeramannya.

Nadira terhuyung dan hampir jatuh.

Alea segera memeluknya.

"Apa kamu tidak apa-apa?"

Nadira mengangguk pelan, meski napasnya masih memburu.

Pria yang baru datang itu menundukkan kepala ke arah Raka.

"Kami tidak tahu kalau Anda yang turun tangan."

Alea membeku.

Ucapan itu terdengar aneh.

Mereka...

Mengenal Raka?

Raka tetap memasang wajah tanpa ekspresi.

"Bawa anak buahmu pergi."

"Dan jangan pernah mengganggu mereka lagi."

Pria itu tampak ragu.

"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah."

"Perintah siapa?"

Pertanyaan itu membuat suasana kembali sunyi.

Pria tersebut menggertakkan giginya.

"Saya tidak bisa memberitahunya."

Raka mengangguk pelan.

"Kalau begitu..."

"Sampaikan satu pesan."

"Apa?"

"Permainan mereka sudah terlalu jauh."

"Mulai sekarang..."

"Aku yang akan datang."

Kalimat itu membuat wajah pria tersebut berubah pucat.

Ia segera mengangguk.

"Baik."

Tanpa berani berkata apa-apa lagi, ia mengajak semua anak buahnya masuk ke mobil.

Dalam hitungan detik, kendaraan itu melaju meninggalkan gang.

---

Alea masih belum mampu berkata-kata.

Ia menoleh kepada Raka.

"Siapa mereka?"

Raka mengambil payung dari dalam mobil, lalu membukanya di atas kepala Alea dan Nadira.

"Kita bicara di tempat lain."

"Bukan sekarang."

"Lagi-lagi nanti."

Nada suara Alea terdengar kecewa.

"Kamu selalu bilang nanti."

"Kapan nanti itu akan datang?"

Raka menatap mata istrinya.

Ia bisa melihat rasa lelah di sana.

Lelah karena terus diberi jawaban yang menggantung.

"Aku janji."

"Sebentar lagi."

"Tapi bukan di sini."

---

Mereka bertiga akhirnya berhenti di sebuah klinik kecil.

Dokter memeriksa luka lecet di lutut Alea dan memar di lengan Nadira.

"Syukurlah tidak ada cedera serius."

Setelah dokter keluar, ruangan kembali sunyi.

Nadira memecah keheningan lebih dulu.

"Aku minta maaf."

Alea menoleh.

"Aku tahu kata maaf tidak akan menghapus semua yang sudah terjadi."

"Tapi ada banyak hal yang tidak kamu ketahui."

"Kalau begitu jelaskan."

Suara Alea terdengar lebih tenang daripada sebelumnya.

"Aku siap mendengarnya."

Nadira menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Arga memang mengkhianatimu."

"Dan aku..."

"...aku membuat keputusan paling bodoh dalam hidupku."

Air matanya mulai jatuh.

"Aku percaya semua ucapan Arga."

"Dia bilang ayahmu menghancurkan hidup keluarganya."

"Dia bilang semua yang dia lakukan hanya untuk membalas dendam."

Alea menggeleng pelan.

"Itu tidak masuk akal."

"Aku juga baru sadar."

Nadira mengusap air matanya.

"Setelah uang itu berhasil dibawa kabur..."

"...Arga berubah."

"Dia bertemu orang-orang yang berbahaya."

"Mereka bukan sekadar penipu."

"Mereka punya jaringan yang besar."

Ruangan kembali sunyi.

Raka mendengarkan tanpa memotong.

"Flashdisk itu..." lanjut Nadira.

"...berisi salinan transaksi dan rekaman percakapan Arga."

"Dia menyimpannya sebagai cadangan."

"Aku mencurinya saat dia lengah."

Alea refleks memegang tasnya.

Flashdisk itu masih ada.

"Apa semua bukti itu cukup untuk membersihkan nama ayahku?"

Nadira mengangguk.

"Mungkin."

"Tapi..."

Wajahnya kembali pucat.

"Kalau mereka tahu flashdisk itu masih ada..."

"...mereka tidak akan berhenti mengejar kita."

Saat itu juga, ponsel Raka bergetar.

Ia membaca pesan yang masuk, lalu wajahnya berubah serius.

Adrian mengirimkan satu kalimat singkat.

> **Hati-hati. Ada orang dalam yang membocorkan semua pergerakan kita. Jangan percaya siapa pun.**

Raka perlahan mengangkat pandangannya.

Kalau benar ada pengkhianat...

Berarti musuh mereka bukan hanya di luar.

Melainkan...

Sudah sangat dekat.

Sangat dekat hingga mungkin sedang berdiri di antara mereka sekarang.

**Bersambung...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!