Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 # Queena ngambek
Makan siang hari itu rupanya bukan hanya sekedar makan siang yang berkedok Rafa merindukan dua sahabatnya tersebut, ada hal yang lebih penting dari sekedar temu kangen. Fokus utamanya adalah Arlo yang ingin bicara dengan Queena, karena sudah bisa dia pastikan mereka akan berdebat tanpa ujung jika tanpa Rafa diantara mereka.
“Queen,” panggil Arlo yang di balas dengan tatapan sinis nan tajam oleh Queena, rupanya gadis itu memang dalam suasana hati yang tidak baik. Bukan hanya Arlo, melainkan Rafa juga menyadari suasana hati Queena sedang dalam mode senggol bacok.
“Oke-oke, aku menyerah. Kita gencatan senjata sebentar,” Arlo mengangkat kedua tangannya keatas. Ada yang lebih penting dari sekadar memenuhi ego pribadinya yang merasa senang saat bisa membuat Queena kesal.
“Bagaimana bisa gencatan senjata? Perang denganmu saja tidak,” jawab Queena.
Rafa tertawa lepas, hari itu dia benar-benar di suguhi tontonan epic dari Arlo dan Queena.
“Rafaa! Terus saja menertawakanku,” kembali Queena melayangkan protes pada putra semata wayang papa Dio dan Mama Almira tersebut.
“Oke-oke, aku tidak akan menertawakan kalian lagi. Tapi kalian juga harus serius,” ujar Rafa.
Queena mengambil napas dan menghembuskannya perlahan, dia sedang berusaha menguasai dirinya sendiri. Benar apa yang Rafa katakan, masalahnya dengan Arlo tidak akan selesai jika mereka terus saja berdebat.
“Apa yang ingin kalian bicarakan denganku?” setelah beberapa saat, akhirnya Queena bisa mengendalikan suasana hatinya.
“Kamu setuju dengan keinginan orang tua kita, Queen?” tanya Arlo pada Queena.
“Bukan orang tua kita, Arlo. Tapi mi-mom kamu, karena aunty Hana yang mengusulkan. Papimu menyetujuinya, dan sialnya...” Queena menghela napas. “... saat papa menjemputku, dia melihat Andreas dan kak Bagas yang berusaha mendekatiku. Meskipun papa tidak bilang apapun, tapi aku cukup paham kalau hal itu yang membuat papa akhirnya sepakat dengan orang tuamu.”
Arlo memijat tulang hidungnya, kalau sudah begini dia tidak bisa berbuat apapun lagi. Karena satu-satunya harapannya adalah Queena, kalau begini sudah bisa di pastikan keinginan mi-mom Hana menikahkan dia dengan Queena akan terwujud.
“Memangnya siapa saja yang melihat Arlo memanjat dinding balkon kamarmu, Ueena?” sahut Rafa yang iba melihat kedua sahabatnya tersebut di landa galau.
“Aku tidak tahu pasti, Raf. Karena tidak terpikirkan sampai sejauh ini, malam itu aku tidak memperdulikan sekeliling. Tapi Dean bilang ada beberapa yang melihat, karena mereka sedang ngopi bareng sambil nonton bola di pos keamanan rumah. Bi Uyun juga sempat melihat saat dia mengantarkan camilan ke pos,” jawab Queena.
"Kenapa bukan kamu saja yang menolak keinginan aunty Hana? Lagi pula aunty Hana kan mi-mom kamu, Arlo. Pasti dia mau mendengarkan alasanmu,” Queena pikir akan lebih mudah jika Arlo yang membujuk mi-mom Hana, karena mereka ibu dan anak. Beda dengan Queena yang pasti sungkan jika harus bicara pada mi-mom Hana, karena gadis itu begitu menghormati sahabat mama dan papanya tersebut.
“Aku juga tidak bisa, Queen. Lebih tepatnya tidak mungkin,” jawab Arlo lesu.
“Kenapa?” Queena mengerutkan dahinya.
“Menolak sama dengan di pecat jadi anak mi-mom Hana. Langsung di suruh ming gat saat itu juga,” balas Arlo.
Queena melongo saat mendengar ucapan Arlo, sedangkan Rafa tertawa meledek sahabatnya tersebut. Queena tidak menyangka kalau ancaman yang di berikan mi-mom Hana pada Arlo tidaklah main-main.
“Bantuin kita mikir dong, Raf. Pusing ini kepalaku,” keluh Arlo.
Rafa menggelang. “Turuti saja keinginan orang tua kalian. Percuma kalau aunty Hana yang bertindak, Ar. Mi-mom kamu itu tidak bisa di lawan,”
“Bagaimana kalau kita pura-pura setuju, Queen?” Arlo sepertinya punya ide cemerlang.
“Maksudnya?” tanya Queena.
Plak ... Plak
“Aduh...” Arlo mengusap kepalanya yang sakit karena di pu kul Rafa. “Jangan main-main dengan pernikahan, Ar. Aku tahu isi pikiranmu itu,” kesal Rafa.
Rafa tidak akan membiarkan dua sahabatnya tersebut melakukan hal yang akan membuat keduanya menyesal di kemudian hari.
Arlo masih mengusap-usap kepalanya. “Ck ... padahal aku belum bilang, tapi kamu sudah bisa menebaknya. Siapa tahu Queen juga setuju,” jawab Arlo.
“Setuju untuk apa?” tanya Queena dengan kepolosannya yang tidak tahu maksud arah pembicaraan Raga dan Arlo.
“Nikah kontrak,” jawab Arlo.
Queena langsung berdiri dari kursinya dan ...
Byuurr...
Gadis itu menyiram air ke wajah Arlo dari gelas miliknya, Arlo dan Rafa sampai terkejut di buatnya.
“Kamu kira aku ini perempuan apa an, Arlo? Aku bukan perempuan baya ran atau perempuan mura han,” Queena masih berdiri di tempatnya, dia meraih tas yang tadi di taruhnya di kursi sampingnya yang kosong. “Pernikahan itu sakral, Arlo. Bukan mainan, katakan pada aunty Hana kalau memang kamu keberatan. Kamu memang selalu egosi,” lanjut Queena, nada bicaranya terdengar begitu serius.
Queena mendorong kursi tempatnya duduk ke belakang. “Terimakasih untuk makan siangnya. Aku harus pulang,” ucap Queena, dia berlalu meninggalkan Arlo yang mematung.
“Ueena,” Rafa beranjak dari tempatnya duduk, dia mengejar sahabatnya yang sudah keluar dari ruangan tersebut. “Ueena, tunggu dulu!” Rafa mengejar Queena.
"Apa lagi, Raf?" kesal Queena.
"Kamu jangan salah paham dulu. Aku yakin Arlo tidak berniat seperti itu, meskipun dia memang salah. Kalian berdua sama-sama pusing dan emosi saat ini,” ujar Rafa.
“Aku tahu, Raf. Tapi Arlo juga tidak bisa seenaknya saja, dia lupa kalau bukan dia yang korban. Aku pergi dulu, kamu pulang saja sama Arlo. Mbak Aretha datang menjemputku,” Queena pamit pada Rafa, beruntung tadi Aretha mengiriminya pesan. Azura ingin main bersama Aretha dan dirinya, tanpa pikir panjang tentu saja Queena mengiyakan dan dia mengirimkan share lock cafe tempatnya berada.
Rafa membiarkan Queena pergi, dia kembali ke ruangan di mana Arlo berada.
“Queen marah banget?” Arlo menatap sendu sahabatnya.
Rafa mengangguk. “Dia di jemput mbak Aretha, sebaiknya kita juga pulang. Pikirkan lagi apa yang sebenarnya kamu inginkan, Ar. Jangan lupa minta maaf pada Ueena,” Rafa menepuk pundak sahabatnya.
Arlo tidak pernah mengira kalau Queena akan semarah itu, beberapa kali dia menghela napas dan Rafa bisa merasakan keresahan sahabatnya tersebut.
“Apa aku memang harus menerima perjodohan ini, Raf?” tanya Arlo sebelum dia turun dari mobil, karena mereka sudah sampai di rumah papi Leo.
“Aku tidak bisa menjawabnya, Arlo. Karena jawaban itu ada di sana!” tunjuk Rafa pada dada Arlo. “Tapi percayalah, Ar. Aunty Hana pasti punya alasan kenapa mengusulkan pernikahan kalian, terlebih kita sudah hidup di dunia modern. Alasan yang di gunakan para tetua bisa kita atasi, terlebih kalian tidak melakukan apapun. Tapi kamu perlu ingat, Ar. Queena El-Meera Regantara adalah berlian yang terjaga dan tak tersentuh, aku rasa aunty Hana sepemikiran denganku. Kita bertiga tumbuh bersama, kita tahu kalau tidak ada yang lebih memahami kita berdua selain Ueena. Percaya saja pada hatimu,” lanjut Rafa.
Arlo tersenyum. “Aku dan Queen selalu beruntung memilikimu,” ucapnya pada Rafa.
“Kalian harus membayarku dengan mahal nanti,” balas Rafa diangguki Arlo.