NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

"Bu, Dira, sebentar ya. Ada direksi yang ingin membicarakan sesuatu denganku."

Ibu Adrian mengangguk. "Pergilah. Ibu bisa mengobrol dengan Dira."

Adrian tersenyum kepada Dira. "Nanti jangan pulang dulu."

"Oke."

Setelah Adrian berjalan menjauh, suasana menjadi lebih tegang. Dira berdiri dengan sikap sopan di hadapan wanita yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang. Dari dekat, Ibu Adrian memiliki pembawaan yang sangat berwibawa. Senyumnya lembut, tetapi sorot matanya begitu tajam, seolah mampu membaca karakter seseorang hanya dari cara ia berbicara. Beliau memperhatikan Dira beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Jadi... Dira."

"Iya, Bu."

Tatapan ibu Adrian menyapu wajah Dira dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai seseorang yang baru pertama kali ditemuinya. "Aku sudah tahu tentangmu."

Dira sedikit terkejut. "Tentang saya, Bu?"

"Iya. Mayang sudah banyak bercerita."

Kalimat itu membuat senyum Dira memudar.

Ibu Adrian melanjutkan dengan nada datar. "Katanya akhir-akhir ini kamu cukup sering bersama Adrian. Rapat bersama. Makan bersama. Minum kopi bersama. Sebagai seorang ibu, tentu aku memperhatikan siapa saja yang berada di sekitar putraku."

Dira langsung memahami arah pembicaraan itu. Ia tetap menjaga nada suaranya agar terdengar sopan. "Kami hanya rekan bisnis, Bu."

"Hm." Wanita itu hanya mengangguk tipis. Entah percaya atau tidak. "Semoga memang begitu."

Dira memilih diam. Ia sadar, apa pun yang ia jelaskan saat ini mungkin hanya akan terdengar seperti pembelaan diri. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Tiba-tiba ibu Adrian kembali berbicara. "Meski begitu... Aku harus mengakui satu hal." Dira mengangkat wajahnya. "Kamu mengingatkanku pada diriku sendiri saat muda."

Dira sedikit terkejut. "Saya?"

"Dulu aku juga bekerja sekeras itu. Tidak mengenal waktu. Ambisius. Ingin membuktikan kemampuan. Tidak mau bergantung pada siapa pun." Untuk pertama kalinya, nada bicara wanita itu sedikit melunak.

Mendengar hal tersebut, Dira memberanikan diri berkata, "Kalau begitu... bolehkah saya belajar dari Ibu?"

Ibu Adrian menatapnya cukup lama. Tatapan itu kembali tajam. "Boleh saja."

Jawaban itu membuat mata Dira berbinar. Namun harapan itu hanya bertahan beberapa detik.

"Tapi... Aku tidak sembarang menerima orang masuk ke dalam circle-ku."

Senyum Dira perlahan menghilang. "Maksud Ibu?"

"Aku sangat selektif. Orang-orang yang belajar langsung dariku bukan hanya harus pintar. Mereka juga harus memiliki latar belakang keluarga yang jelas. Keluarga yang terhormat. Keluarga yang menjaga nama baik."

Kalimat demi kalimat itu terdengar halus. Namun bagi Dira, setia katanya terasa seperti sedang menghakimi.

Wanita itu lalu menatap lurus ke mata Dira. "Kalau boleh tahu... Siapa keluargamu, Nona?"

Dira membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia ingin menjawab. Namun lidahnya terasa kelu. Apa yang harus ia katakan? Bahwa ayahnya seorang pemabuk yang pernah menjualnya ke rumah bordil? Bahwa ibunya meninggal karena depresi setelah menjadi korban kekerasan? Bahwa masa kecilnya dihabiskan di kawasan kumuh yang bahkan enggan diakui orang? Tidak... Ia tidak sanggup mengucapkannya.

Melihat Dira terus diam, ibu Adrian menyipitkan mata. "Kenapa? Pertanyaan sesederhana itu saja sulit dijawab?" Tatapannya berubah semakin penuh curiga. "Atau....memang ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan?"

Dira menggenggam gaun yang dikenakannya erat-erat. "Saya..." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara langkah kaki mendekat.

"Bu." Adrian kembali menghampiri mereka. "Maaf, tadi ada yang perlu dibicarakan."

Ibu Adrian langsung mengalihkan pandangannya dari Dira. Ekspresinya kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. "Kami hanya mengobrol."

Adrian tersenyum tanpa menyadari ketegangan yang baru saja terjadi.

Sementara Dira mengembuskan napas lega dalam diam. Namun ia bisa merasakan satu hal dengan sangat jelas. Mayang telah lebih dulu menanamkan benih kecurigaan di hati ibu Adrian. Dan mulai malam itu, Dira tahu bahwa mendapatkan pengakuan dari wanita tersebut akan jauh lebih sulit daripada memenangkan puluhan tender bisnis sekalipun.

Dira berusaha mengembalikan senyumnya begitu Adrian berdiri di samping mereka. Ia tidak ingin Adrian mengetahui percakapan barusan. Apalagi sampai menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan ibu Adrian.

"Tadi membicarakan apa?" tanya Adrian sambil tersenyum.

Ibu Adrian menjawab lebih dulu. "Tidak ada. Ibu hanya sedang mengenal rekan bisnismu."

Adrian mengangguk tanpa curiga. "Oh ya, Bu. Dira ini salah satu pengusaha muda paling berbakat yang pernah aku temui."

Ibu Adrian hanya tersenyum tipis. "Begitu?"

"Dia membangun bisnisnya dari nol. Beberapa tender besar bahkan berhasil dimenangkan olehnya. Menurutku, lima atau sepuluh tahun lagi, namanya akan menjadi salah satu yang terbesar di negeri ini."

Dira langsung menggeleng malu. "Mas Adrian berlebihan."

"Aku bicara apa adanya." Adrian tersenyum tulus. "Kamu memang hebat."

Mendengar putranya memuji Dira tanpa ragu, sorot mata ibu Adrian berubah. Ia diam-diam memperhatikan cara Adrian memandang perempuan di hadapannya. Tatapan penuh penghargaan. Tatapan yang jarang ia berikan kepada orang lain. Dalam hati, muncul rasa tidak nyaman. "Mayang benar... Adrian mulai memberikan perhatian khusus kepada perempuan ini." Ibu Adrian segera menyela pembicaraan. "Adrian. Sebentar lagi kita harus pulang. Mayang pasti juga sedang menunggu." Nama Mayang sengaja diucapkan dengan jelas. Seolah ingin mengingatkan semua orang tentang posisi perempuan itu.

Adrian mengangguk. "Iya." Lalu ia menoleh kepada Dira. "Maaf. Sepertinya kita lanjut ngobrol lain kali."

"Tidak apa-apa." Dira tetap tersenyum. Padahal di dalam dadanya, hatinya terasa sesak.

Ibu Adrian melangkah lebih dulu. Namun sebelum benar-benar pergi, beliau berhenti di depan Dira. "Dira." Wanita itu tersenyum sopan. Tetapi sorot matanya tetap dingin. "Kamu perempuan yang cerdas. Itu tidak bisa kupungkiri. Tapi ada satu nasihat dariku."

Dira mendengarkan dengan penuh hormat.

"Dalam hidup...ketahuilah batas antara ambisi dan keinginan. Jangan sampai mengejar sesuatu yang memang bukan milikmu."

Kalimat itu terdengar seperti nasihat. Namun Dira menangkap makna lain di baliknya. Itu bukan sekadar nasihat. Melainkan sebuah peringatan. Peringatan agar ia tidak mendekati Adrian. Dira menelan ludah. Ia tetap menundukkan kepala. "Terima kasih atas nasihatnya, Bu."

Ibu Adrian mengangguk singkat. Lalu berjalan meninggalkan ballroom bersama Adrian. Sesaat sebelum masuk ke lift, Adrian sempat menoleh ke belakang. Ia melambaikan tangan kecil kepada Dira. "Sampai jumpa."

Dira membalas lambaian itu dengan senyum yang tetap manis. "Sampai jumpa, Mas Adrian."

Pintu lift perlahan menutup. Senyum di wajah Dira ikut memudar. Ia mengembuskan napas panjang. Ternyata... Mendapatkan pengakuan dari dunia bisnis jauh lebih mudah daripada mendapatkan penerimaan dari keluarga orang yang dicintainya.

Di sisi lain, di dalam lift, ibu Adrian berdiri dengan wajah tenang. "Adrian. Kamu cukup sering bersama Dira?"

Adrian mengangguk santai. "Iya. Kami cukup sering bertemu karena urusan bisnis."

Ibu Adrian memandang lurus ke depan. "Jaga jarak."

Adrian menoleh heran. "Maksud Ibu?"

1
...
ya sudah lh,,
...
sumpah cerita nya bikin Mut3rmuter.. tapi penasaran. karena emang dr awal aku mau nya beri yg nikah sama dira. karena selama ini beri yg bnyk berjuang untuk dira
...
dan setelah berjuang demi restu mertuamu sendiri dira,, kamu baru nyesel. pengen gue tendang aja😭😭😭
...
kenapa makin kesini cerita nya malah makin ngawur.. harus nya sebelum nikah sama Adrian dira nyesal nya. 😭😭😭 kamu ini jahat thor.. bkin cerita muter² obok² Hati mereka aja.
...
ibu egois,, ini cuma prank kan bu. kamu mau uji cinta Adrian dan dira kan😭😭😭
...
menghidupi ayah dan keluarga,,/Slight/ bukan kh ayah nya sebatang kara, cuma punya anak dira aja kn
...
dira😭😭😭😭😭
...
beri😭😭😭
...
knp sekarang sebutannya beliau thor.. kesan nya kayak udah tua
...
hati mu terbuat dari apa sih ber🥲🥲🥲
...
gimana tuh komentar ibu nya Adrian,, msh kh memandang kasta🤣🤣
...
nahh lohh,, beri benerkah beri?? kmu punya rasa sama dira
...
egois gak sih kalau adrian yg selalu ada di hati dira, pdhl dr awal dira berjuang beri lah yang selama ini jd tameng untuk dira
...
nah kan beri lagi,, 🥲🥲 padahal beri yang selalu ada di sisi dira😭😭 egois gak sih klu dira sama beri aja😭😭
...
bingung dengan beri, beri ini tipe orang seperti apa. dulu aku kira dia menyukai dira, tp makin kesini kelihatannya beri hanya menganggap dira seperti adik nya sendiri.
...
malah sekarang beri lh yg selalu berada di sisi dira..
...
Adrian kapan kembali?? apakah Adrian tahu usaha dira selama ini karena dia
...
aku kira Adrian yang datang, ternyata beri
...
sejauh ini bagus.. kata-kata nya bagus,, typo gak ada. teruskan
Hara Hari
sepertinya Beri suka Dira🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!