NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Dua minggu kemudian, Keira berdiri di belakang panggung auditorium UI dengan toga hitam di lengannya dan tangan yang terasa lebih dingin daripada AC ruangan.

Hari wisuda.

Nama Tan Keira tercetak di susunan acara sebagai wisudawan terbaik fakultas. Seharusnya itu membuatnya bangga. Engkong bahkan bangun lebih pagi dari biasa, memilih sendiri batik yang akan dipakai, lalu berkali-kali bertanya pada Pak Hasan apakah bunganya sudah disiapkan.

Saat berangkat dari Rumah Tan, Engkong memegang tangan Keira lebih lama dari biasa.

"Papa kamu pasti bangga," katanya.

Keira tersenyum. "Engkong juga?"

"Lebih dari bangga."

Pak Hasan yang berdiri di samping mobil menunduk, matanya agak merah. "Non Kei jangan lupa makan setelah acara. Biasanya kalau tegang, Non suka lupa."

"Iya, Pak."

Semua perhatian itu membungkus Keira seperti selimut hangat, tetapi juga membuat rahasia di dadanya semakin berat. Orang-orang ini mencintainya sebagai Tan Keira. Kalau suatu hari nama itu dipertanyakan, apakah tangan mereka masih akan memegangnya seerat ini?

Namun semakin dekat waktu namanya dipanggil, dada Keira semakin sempit.

Terlalu banyak mata.

Terlalu banyak kamera.

Terlalu banyak kemungkinan sesuatu runtuh di depan umum.

"Kei!" Mira muncul dari sisi panggung dengan kebaya modern warna sage dan wajah berbinar. "Ya Allah, cantik banget. Kalau gue jadi dosen, lo langsung gue kasih cum laude dua kali."

Keira tertawa gugup. "Itu tidak ada."

"Harusnya ada buat lo."

Keira tertawa lagi. Di sela tawa itu, ia melihat Richard membantu Engkong duduk lebih nyaman di baris depan. Gerakannya sederhana, tidak dibuat untuk dilihat orang, tetapi Keira melihatnya. Ia melihat cara Richard menunggu sampai Engkong benar-benar stabil sebelum duduk di sebelahnya.

Di dada Keira, sesuatu melunak.

Mira sedang merapikan poni Keira ketika pandangannya tiba-tiba melewati bahu Keira. Mulutnya terbuka sedikit.

"Itu siapa?"

Keira menoleh.

Richard masuk bersama Jason dari pintu samping auditorium. Ia mengenakan setelan gelap, kemeja putih, dan manset jade imperial green di pergelangan tangannya.

Keira lupa bernapas.

Ia sungguh memakainya.

Di bawah cahaya auditorium, jade itu tidak berkilau berlebihan. Warnanya justru dalam, seperti sesuatu yang disimpan lama di tempat gelap lalu akhirnya keluar. Di pergelangan Richard, hadiah kecil dari Keira tampak seperti tanda kepemilikan yang hanya ia sendiri pahami.

Mira mencengkeram lengan Keira. "Kei. Itu siapa? Ganteng banget. Pacarmu?"

"Bukan." Suara Keira sedikit terlambat keluar. "Itu Om-ku."

Mira menatapnya seolah Keira baru saja mengatakan langit berwarna ungu. "Om dari dimensi mana?"

"Mir."

"Oke, oke. Tapi kalau semua om bentuknya begitu, gue mau daftar jadi keponakan."

"Jangan," bisik Keira cepat.

Mira menatapnya, lalu senyumnya berubah jahil. "Oh. Jadi ada alasan gue tidak boleh daftar?"

Keira mencubit lengannya pelan. "Fokus wisuda."

"Siap, Nona Tan."

Nada Mira menggoda, tetapi matanya hangat. Ia tahu kapan harus bercanda dan kapan harus menjaga Keira tetap bernapas di tengah keramaian.

Keira hampir tertawa, tetapi Richard sudah melihatnya. Mata mereka bertemu dari seberang ruangan. Richard tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk sangat kecil.

Aneh sekali.

Ketenangan itu lebih menenangkan daripada seratus kata semangat.

Engkong duduk di baris depan, didampingi Pak Hasan. Saat Richard mendekat, Engkong langsung menepuk kursi kosong di sebelahnya.

"Richard, sini. Duduk dekat saya."

Richard menunduk hormat. "Om Budi sehat hari ini?"

"Hari ini Kei wisuda. Saya harus sehat."

Keira mendengar itu dari kejauhan dan matanya memanas.

Upacara dimulai. Nama-nama dipanggil satu per satu. Tepuk tangan naik turun seperti ombak. Keira duduk di barisan depan mahasiswa terbaik, punggung tegak, senyum rapi, telapak tangan basah.

Saat dekan memanggil namanya, ruangan terdengar lebih keras.

"Tan Keira."

Ia berdiri.

Langkah pertama terasa ringan. Langkah kedua mulai goyah. Lampu panggung terlalu terang. Kamera di depan terlalu banyak. Ia tiba-tiba teringat mimpi buruk itu: dirinya berdiri di ruang tamu, semua mata menatapnya seperti pencuri, namanya dicabut dari mulut semua orang.

Keira hampir kehilangan ritme.

Lalu ia melihat Richard.

Pria itu duduk di baris depan, satu tangan di sandaran kursi Engkong, tatapannya lurus kepadanya. Semalam, saat Keira mengaku gugup melalui pesan singkat, Richard hanya membalas satu kalimat.

Kalau gugup, tatap satu titik.

Keira menjadikan Richard titik itu.

Ia naik ke panggung, menerima penghargaan, lalu menunduk pada rektor dan dekan. Tepuk tangan terdengar jauh, tetapi tidak lagi menakutkan. Saat turun, ia melihat Engkong mengusap mata. Pak Hasan diam-diam menunduk.

Setelah prosesi selesai, halaman kampus penuh wisudawan. Bunga, kamera, orang tua, tawa, teriakan nama. Keira mencari Engkong, tetapi sebelum sampai, toga di bahunya tersangkut sedikit dan hampir jatuh.

Ia tahu banyak mata melihat.

Maka ia melakukan sesuatu yang sangat kecil, sangat manja, dan sangat efektif.

Ia berlari ke arah Richard.

"Om, toganya miring."

Richard menatapnya.

Jason di belakangnya tampak seperti ingin pura-pura tidak ada di sana. Mira, beberapa meter jauhnya, sudah menutup mulut dengan dua tangan.

"Sini," kata Richard.

Di depan ratusan orang, Richard mengangkat kedua tangan dan membetulkan toga Keira dengan serius. Jarinya menyentuh ujung kerah, merapikan lipatan, lalu menurunkan kain hitam itu sampai jatuh sempurna di bahu Keira.

Keira menatap manset jade di pergelangan tangannya dari jarak dekat.

"Om pakai hadiah saya."

"Kamu yang memberi."

Jawaban itu sederhana, tetapi pipi Keira menghangat.

Di belakang mereka, dua ibu alumni yang tadi memotret anaknya mulai berbisik.

"Itu Pak Lim, kan?"

"Iya. Kok dekat sekali dengan cucu Tan?"

"Katanya teman papanya."

Keira mendengar semuanya. Ia juga tahu Richard mendengarnya, karena jari pria itu berhenti sebentar di lipatan toga. Namun ia tidak menjauh. Ia tetap merapikan kain itu sampai selesai.

Satu per satu, tatapan orang berubah. Bukan sekadar penasaran. Ada rasa segan. Keira merasakan posisinya di halaman itu bergeser, dari gadis yang sempat digosipkan plagiat menjadi seseorang yang bisa membuat Lim Richard berdiri di tengah keramaian untuk membetulkan toganya.

"Sudah," kata Richard.

Keira tersenyum. "Terima kasih, Om."

Mira muncul di sampingnya, mata masih membesar. "Kei, gue butuh penjelasan tujuh jilid."

Sebelum Keira menjawab, suara laki-laki memanggil dari tengah kerumunan.

"Kei!"

Dimas Prasetyo, mahasiswa satu angkatan yang selama ini hanya sesekali mengobrol dengannya di perpustakaan, berdiri dengan buket bunga raksasa. Wajahnya merah, tetapi matanya nekat. Di belakangnya, beberapa mahasiswa mulai bersorak.

Keira baru sempat berkata, "Dimas, apa..."

Dimas sudah berlutut.

"Kei, aku suka kamu sejak semester tiga."

Kerumunan meledak oleh teriakan.

Di samping Keira, tangan Richard menjadi kaku.

Rahangnya mengeras.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!