NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.

Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.

Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.

Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.

Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

​Di seberangnya, Sona masih berdiri dalam diam, dadanya naik turun sedikit lebih cepat dari biasanya, dan matanya memancarkan campuran antara rasa harap, bingung, dan sedikit rasa malu karena ditertawakan.

​"Harusnya kau cukup mengatakan, 'jangan segan untuk melakukan pertaruhan apapun, karena akan kulayani'," ujar Yudi dengan nada yang jauh lebih santai. Ia mengangkat bahunya sekilas. "Tapi baiklah. Akupun akan merespon dengan formalitas yang sama. Karena dalam pertaruhan ini, kita berada di posisi yang setara."

​Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah. Sisa-sisa tawa menguap ke udara, digantikan oleh intensitas yang berat. Yudi berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhitungan. Suara gesekan sepatunya terdengar jelas. Ia melangkah satu langkah ke depan hingga pinggangnya menyentuh pinggiran meja.

​Lengan kanan Yudi terangkat. Jari telunjuknya terentang lurus, menunjuk tepat ke arah wajah Sona. Sorot mata Yudi menajam, memancarkan tekad yang membara dan keteguhan yang tak tertembus. Senyum percaya diri terlukis kuat di wajahnya, bukan senyum meremehkan, melainkan senyum seseorang yang siap menerjang badai.

​"Aku menerima syarat yang kau ajukan," suara Yudi menggelegar, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Vokalnya berat, jernih, dan tidak memiliki getaran keraguan sedikit pun. "Serta berterima kasih karena kau mau meladeni keinginan konyolku."

​Di bawah tatapan tajam Yudi, mata Sona tidak berkedip. Angin malam mulai berhembus menabrak kaca jendela, menciptakan suara siulan pelan yang menjadi latar belakang deklarasi tersebut.

​"Karena itu, bersiaplah," lanjut Yudi. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat jarak jarinya semakin dekat dengan Sona. "Perlahan namun pasti, aku akan membuatmu mengakui diriku."

​Secara tiba-tiba, atmosfer di dalam ruangan terasa bertambah berat. Udara menjadi lebih padat. Meski tidak terlihat oleh mata telanjang, getaran energi magis yang berasal dari bidak Pawn di dalam tubuh Yudi seakan merespon resonansi tekad pemiliknya. Urat-urat halus di punggung tangan Yudi tampak sedikit menonjol.

​"Atas nama Bidak Pawn yang bersemayam di dalam tubuhku," Yudi mengucapkan sumpah, setiap kata diukir dengan ketegasan mutlak. "Aku akan menggunakan seluruh kemampuan yang kubisa. Dan cara apapun, entah itu licik atau kotor, untuk memenangkan setiap pertaruhan yang kubuat."

​Yudi menarik tangannya, mengepalkannya dengan kuat di depan dada. "Bisa juga menyerah di tengah pertaruhan jika memang aku tidak sanggup menyelesaikannya. Ini sumpahku. Hanya untukmu seorang..."

​Yudi memberikan jeda dramatis, matanya menembus lensa kacamata Sona, mencari bagian terdalam dari jiwa gadis itu. "...Sona Sitri."

​Deklarasi lantang itu menggantung di udara, beresonansi dengan detak jam dinding dan siulan angin di luar jendela.

​Menerima sumpah itu secara langsung dari jarak sedekat ini, tubuh Sona memberikan reaksi yang tak terkendali. Bahu Sona, yang sejak awal pertemuan mereka selalu ditarik kaku ke belakang, kini merosot turun dengan perlahan. Kepalan tangannya di sisi tubuh terlepas, membiarkan jari-jarinya rileks. Napas yang sejak tadi ditahannya berhembus keluar berupa helaan panjang yang pelan.

​Kelopak mata Sona bergerak turun sejenak. Ketika mata ungu itu kembali terbuka, kilatan kaku dan kewaspadaan yang biasanya membentengi tatapannya telah mencair. Sorot matanya menjadi jauh lebih lembut, lebih tenang. Gerakan-gerakan kecil dari tubuhnya mencerminkan seseorang yang baru saja melepaskan sebuah beban logam seberat puluhan kilogram dari punggungnya.

​Di hadapannya, berdiri seseorang yang tidak melihat gelar "Adik Maou Leviathan". Seseorang yang tidak menundukkan kepalanya, tidak gemetar oleh rasa segan, dan tidak membangun tembok tak kasat mata bernama formalitas birokrasi. Seseorang yang memandang Sona Sitri secara utuh sebagai seorang individu, seorang rival, dan seorang Master.

​Sebuah lekukan lembut terbentuk di bibir Sona. Kali ini, senyuman itu bukan sekadar formalitas basa-basi. Otot-otot di pipinya tertarik secara natural. Wajah porselennya tampak jauh lebih hidup dan memancarkan rona kemanusiaan yang hangat.

​"Baiklah," bisik Sona. Suaranya terdengar sangat lembut, nyaris menyerupai hembusan angin malam. Nada tegas dan memerintah yang menjadi ciri khas Ketua OSIS telah menguap sepenuhnya. "Aku menerima tekadmu itu... Yudi."

​Sebuah keheningan yang nyaman menyelimuti mereka berdua selama beberapa detik. Namun, momen ketenangan itu tidak berlangsung lama.

​"Tapi," suara Yudi tiba-tiba memecah keheningan, mengembalikan perhatian Sona sepenuhnya. Pemuda itu kembali menurunkan lengannya, namun posturnya tetap tegak. "Aku juga minta syarat satu lagi."

​Sona mengerjapkan matanya dua kali. Kepalanya sedikit miring ke kanan. Tanpa sadar, langkah kecil membawanya lebih dekat ke meja. Ketegangan tidak kembali menghampirinya; postur tubuhnya tetap rileks. Ia sudah melepaskan topeng defensifnya.

​"Apa itu?" tanya Sona. Suaranya mengalun santai dan terbuka. Ia merespon dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada anggota OSIS lainnya, bersedia mendengar apapun dari pion yang baru saja mengikat sumpah dengannya.

​Yudi menatap wajah Sona lamat-lamat. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, sebuah gestur kasual yang sangat bertolak belakang dengan aura sumpah beberapa detik lalu.

​"Tolong wajahmu itu jangan diseriusin terus," kata Yudi dengan nada setengah menegur namun diwarnai senyum geli. "Tersenyumlah, Kaichou. Tersenyum."

​Gerak tubuh Sona terhenti. Mata ungunya berkedip lambat. Ia hanya diam, mendengarkan.

​"Sangat disayangkan sekali," lanjut Yudi sambil menggelengkan kepalanya pelan, matanya menyusuri fitur wajah Sona. "Mukamu yang kelewat imut itu hanya dipasangi wajah datar bak porselen."

​Mendengar kata 'imut' dilontarkan secara langsung ke arahnya, bola mata Sona sedikit membesar. Jari-jari tangannya secara refleks mencengkeram ujung rok seragamnya. Namun, Yudi tidak berhenti sampai di situ.

​"Seperti aku yang membuat janji hanya untukmu, bisakah kau juga membuat janji untuk tidak terlalu formal padaku?" Nada bicara Yudi mulai meninggi, dipenuhi dengan tuntutan yang tulus. Tangan kanannya bergerak menunjuk udara di antara mereka. "Jika kau kesal, langsung hajar saja kepalaku! Jika kau jengkel, luapkan saja dengan sumpah serapah! Keluarkan saja emosimu padaku, jangan ditahan-tahan seperti orang yang takut aku akan menjaga jarak karena melihat sifat aslimu!"

​Kata-kata Yudi menghantam gendang telinga Sona bagaikan palu godam. Mata ungu Sona mulai bergetar ringan. Refleksi tubuh Yudi terpantul jelas di iris matanya yang berguncang.

​"Aku tidak suka orang yang hidup di dalam topeng bernama kesempurnaan hanya karena dia dibayangi oleh sosok yang besar," pungkas Yudi dengan suara lantang yang tegas. Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman lebar, tangannya masih berkacak pinggang dalam postur menantang namun penuh kehangatan. "Kau mengerti, Shishi?"

​Keheningan mutlak kembali mengambil alih. Detak jam dinding terasa semakin keras. Angin malam menderu di luar kaca jendela. Di dalam ruangan, waktu seolah berhenti mengalir.

​Mata ungu Sona masih bergetar. Giginya mengigit pelan bibir bawahnya. Tangan yang mencengkeram roknya perlahan-lahan mengendur dan terlepas. Dada gadis itu naik dan turun dalam ritme yang tidak teratur, menyerap setiap kata yang baru saja diucapkan oleh pionnya. Kata-kata yang meruntuhkan dinding pertahanan terakhir yang mengelilingi hatinya.

​Perlahan, getaran di mata Sona mereda. Ia menundukkan kepalanya sesaat, poni hitamnya menutupi mata dan kacamata yang ia kenakan. Ketika ia kembali mengangkat wajahnya, seluruh bayang-bayang keraguan, beban ekspetasi, dan topeng porselen sang Ketua OSIS telah hancur berkeping-keping.

​Sebuah senyuman yang sangat lebar, tulus, dan memancarkan kepercayaan penuh terukir di wajah Sona Sitri. Senyuman yang mengalahkan keindahan cahaya matahari senja mana pun.

​"Aku mengerti," jawab Sona. Suaranya mengalun mantap, jernih, tanpa keraguan sedikit pun. Ia menatap lurus ke dalam mata Yudi, tidak lagi sebagai Ketua OSIS atau adik Maou, melainkan sebagai Sona. "Aku tidak akan segan-segan padamu. Janji."

1
Bayuon So7
Lagi dan lagi saji blunder di sini cok
Bayuon So7
wedeh jadi MC punya hubungan sama Irina menarik untuk di tunggu hubungan seperti apa ya
Bayuon So7
Irina lawak orang lagi perang malah perkenalan diri,, emang beneran julukan dari si Milicas. Malaikat yang memproklamirkan diri
Bayuon So7
Si Imut koneko🤭
Bayuon So7
Weh mau gelut kayaknya nih, semogaa author senantiasa sehat deh
Bayuon So7
Debatnya asyik cuy, mantap lanjutkan💪
Zuta Huda
Kurang ngerti min, aku disuruh sepupuku buat like
Tessar Wahyudi: Terima kasih likenya dan salam untuk sepupunya ya👍
total 1 replies
Bayuon So7
Gak ekspektasi kalau dari pertanyaan simple bisa ambil kesimpulan seperti itu.
Paolo Maldini
Bang gw mau lempar 💣 nih
Fans Real Madrid
Semangat author
Tessar Wahyudi: makasih, semoga gak kapok ya
total 1 replies
Bayuon So7
sudah kuduga emang Kiba
Bayuon So7
Hoah udah mau masuk ke arc kiba kah?
Bayuon So7
Ada aja kelakuan Sona dan Yudi ini ya 🤣
Bayuon So7
Tutorial memancing keributan 🤭
Bayuon So7
marketing sales gak tuh🤭
Bayuon So7
Aduh Saji, begitu pedenya bilang kalau iblis reinkarnasi awal-awal sulit mendapatkan kontrak🤭
Bayuon So7
Tsubaki Flexing njir🤣
Bayuon So7
beneran juga sih, hasil yang memuaskan. Ini MC diam-diam serakah juga ya, kalau dilihat-lihat 🤭. tapi tetap masuk akal kok Thor.👍
Bayuon So7
Hn jadi ini semacam Cooling down setelah pertarungan sengit, mantap Thor.
Bayuon So7
Gua cuma mau bilang bisa cepetin gak updatenya penasaran njir🤭
Tessar Wahyudi: Sabar dong bang, semua ada waktunya mohon ditunggu dengan sabar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!