Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keheningan di meja makan
Mereka masih dalam posisi yang sama, saling menatap dalam.
Leon menyadari satu hal, warna mata Zura begitu indah jika dia melihat dalam jarak sedekat ini.
Zura terus memperhatikan struktur wajah Leon.
Hidung mancung, alis tebal, bibir seksi yang sedikit terbuka, serta mata biru cerah yang mampu mengunci mata, juga menghipnotis Azura, sehingga dia enggan mengalihkan pandangannya.
"Apa kau tidak ingin bangkit?"
Seru Leon datar.
Azura tersentak, dia buru-buru berdiri.
Membuang pandangan salting.
Lalu menatap tajam Leon dengan bibir berkedut.
"Lo... Ngapain pegang gue lama-lama? Cari kesempatan ya?!"
Sentak Zura, matanya tak mampu menatap pemuda itu.
Alis Leon sedikit menukik, dengan rahang mengeras.
"Jika aku tak menolong mu, mungkin kau akan jatuh, bukankah harusnya kau berterima kasih?"
Sahut Leon, matanya menatap tak suka, tapi detak jantungnya belum stabil.
"Gue gak butuh pertolongan Lo!"
Ucap Zura, matanya sekilas melirik Leon, dan pergi dengan kaki menghentak.
Leon menghela napas pelan, gadis itu memang selalu membuatnya kesal.
Namun entah kenapa, sudut bibirnya justru terangkat tipis.
Azura pergi ke kamarnya, dia terus memegangi kedua pipinya yang terasa hangat.
Menutup pintu dengan keras.
Lalu membanting tubuhnya ke atas kasur.
Menekan kepalanya ke atas bantal.
"Kya...."
Teriaknya tertahan.
Dia mengangkat wajah dengan nafas tidar teratur.
"Ganteng banget!...."
Gumamnya, dia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik di perutnya, sehingga dia tak bisa berhenti untuk tertawa.
" Fix...gue ketularan virus gilanya Leon! Kyaa..."
Gumam Azura sebelum membenamkan kembali wajahnya pada bantal.
Menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Ihk... Gue kenapa sih? Kok gue jadi gini"
Gumamnya gemas sendiri.
Dia duduk tegak di pinggir kasur, seraya menyimpan bantal di pangkuannya.
Bibirnya kembali menyunggingkan senyumnya.
Wajah Leon yang dekat dengannya terus berputar di kepala.
Tak tahan, Azura melempar bantal ke udara, lalu bantal tersebut mengenai wajahnya.
Puk..
"Aww"
Dia mengucek matanya yang sedikit merah, karna terkena ujung sarung bantal.
Mengambil bantal itu dan memukul-mukulnnya gemas.
"Iiihk... Gue kenapa?"
Tengah malam Leon masih belum tidur, dia terus memikirkan keadaan lunaventia setelah kepergiannya, juga memikirkan bagaimana cara supaya dia bisa pulang ke istana.
Dia duduk termenung di pinggir kasur, sesekali menelisik setiap sudut kamar.
'sebenernya, aku ada di dimensi mana? Mengapa aku tidak pernah tau jika ada kehidupan bebas seperti ini'
Tangannya memijat kening.
Semakin dia pikirkan, semakin pusing kepalanya.
'apa di sini ada penyihir? lalu cermin itu,'
Teringat akan hal itu, Leon segera beranjak, berjalan pada cermin lemari, dan terus menatap bayangannya.
Dia menyentuh, mengusap, juga mengetuk-ngetuk.
Tapi cermin itu tidak memunculkan sesuatu, seperti cermin kerajaan yang membawanya sampai ke sini.
Dia maju selangkah lebih dekat, menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Matanya tertutup, perlahan tangannya menyentuh cermin dengan pelan.
Setelah menunggu, tidak terjadi apa-apa.
Dia kembali membuka mata lalu menatap pantulan dirinya tajam.
Tapi ada yang aneh, pantulan dirinya terlihat menyeringai seram.
Leon mundur tersentak.
Kemudian pantulan dirinya itu menggerakkan bibirnya.
"Lo ke sini bukan tanpa alasan!"
Ucap pantulan dirinya di cermin.
Leon membolakan matanya sempurna.
"Siapa kau?!"
Tanyanya tajam.
Namun, dirinya di dalam cermin malah tersenyum menyeringai, dan tertawa keras, menatap tajam Leon yang berdiri takut.
"Ha ha ha ha!"
Leon mundur, alis nya menukik tajam.
"Siapa kau sialan?!"
Teriaknya nyaring.
Namun dirinya di cermin terus tertawa keras, seperti sedang menertawakan dirinya.
Nafas Leon memburu, kepalanya mendadak sakit.
"Ha ha ha ha!"
semakin keras suara tawa yang dia dengar, semakin sakit telinganya.
Bahkan kini telah meneteskan darah, Leon menyentuhnya sedikit, menatap terkejut pada darah di tangannya.
Dia menutup kedua telinganya.
Menggeleng-gelengkan kepala.
" Ti-Tidak!"
Nafasnya memburu, dadanya seperti di hantam oleh gada yang begitu besar, tapi suara tawa yang berasal dari cermin tidak berhenti, malah semakin keras.
Leon terus menggelengkan kepala.
" TIDAK!!..."
Leon langsung terbangun dari tidurnya, nafasnya memburu, keringat menetes dari pelipisnya, bahkan kini pakainya sudah di basahi oleh keringat.
Pandangannya langsung teralihkan pada Farida yang membeku di ambang pintu.
Entah sejak kapan dia ada di sana.
Lalu matanya melirik cermin.
Tidak ada apa-apa di sana.
Dia mengusap wajah kasar, berusaha menetralkan nafasnya.
Melirik Farida yang masih terdiam di ambang pintu.
"Ada apa?"
Tanyanya dingin.
Farida sedikit tersentak, tersenyum tipis.
"Tuan udah manggil buat sarapan"
Sahutnya.
Leon mengangguk singkat, setelah Farida kembali menutup pintu, Leon langsung beranjak mendekati cermin lemari.
Memperhatikan pantulan dirinya.
Kali ini tidak ada yang aneh, orang di cermin hanya mengikuti gerakannya.
Dia menghela nafas lega.
"Ternyata aku hanya bermimpi, tapi mimpi itu sangat aneh"
Gumamnya pelan.
Sarapan kali ini terlihat lebih tenang.
Hanya terdengar suara denting sendok dan air mengalir di dapur.
Leon tidak banyak mengkritik pakaian Azura.
Azura juga hanya fokus makan dengan fikiran berkelana.
Monica perlahan mulai menerima kehadiran Leon di rumahnya.
Yang merasa suasana aneh adalah Jody.
Dia terus menatap wajah mereka satu-persatu.
Excel masih tidur, tadi malam dia rewel entah kenapa?
Sampai Jody dan Monica kewalahan.
"Makanan kalian enak kan?"
Celetuk Jody.
Mereka menatap Jody serentak, lalu mengangguk.
Mendapati itu, Jody sedikit menarik diri.
'ada yang aneh sama mereka'
Batin Jody heran, sekaligus agak seram mendapati mereka terdiam seperti itu.
Zura fokus makan, dia masih belum sanggup untuk menatap Leon, entah kenapa, tapi kejadian semalam, hampir membuatnya gila.
Karna wajah dekat Leon terus muncul di kepalanya, membuat dia terus menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa Zura? Pusing?"
Tanya Jody, heran saja melihat Azura terus menggelengkan kepala.
Zura melirik kiku.
"Enggak pih, aku- aku berangkat dulu"
Zura sedikit melirik Leon, setelahnya pergi lebih dulu ke sekolah.
Jody mengangguk singkat.
"Mamih mau bawa Excel ke rumah sakit, papi gak usah ikut, tolong dia aja buat cari rumahnya"
Monica menunjuk Leon.
Jody mengangguk singkat, dia menatap Leon yang masih makan dengan pelan.
'dia mempunyai tata Krama yang bagus, bahkan cara duduknya sangat sempurna'
Bersambung...