NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasien yang Tidak Diinginkan

"Nona Montmirail! Buka pintu gerobak ini sekarang juga!"

​Suara teriakan Gaspard yang panik dan kehilangan seluruh nada datarnya terdengar menembus panel kayu mahoni. Ksatria bayangan itu menggedor bagian belakang gerobak etalase Le C'eow dengan sangat keras.

​Geneviève yang sedang tersenyum melayani seorang Viscountess segera menoleh. Keningnya berkerut tajam. Ia memberi isyarat kepada Odette.

​"Maafkan saya, Nyonya Viscountess. Sepertinya ada sedikit kendala teknis pada persediaan kami," ucap Geneviève dengan nada diplomasi tingkat tinggi. Ia segera menarik tuas penutup etalase depan. "Kami harus menutup toko lebih awal hari ini. Saya berjanji kalung safir pesanan Anda akan dikirimkan langsung ke kediaman Anda besok pagi dengan potongan harga sepuluh persen."

​"Tapi Nona Montmirail, saya sudah membawa koin emasnya!" protes sang Viscountess dengan wajah kecewa.

​"Odette, tutup panel bajanya. Kunci kelima gembok silangnya sekarang," perintah Geneviève tegas, mengabaikan keluhan para pelanggan bangsawan yang berkerumun di alun alun.

​Odette mendengus kesal. Pelayan itu memutar tuas roda gigi dengan kasar, menurunkan panel baja yang langsung menutupi kaca kristal etalase mereka. Bunyi logam beradu terdengar nyaring, mengisolasi bagian dalam gerobak menjadi sebuah ruangan tertutup yang hanya diterangi oleh celah ventilasi dan satu lentera kecil.

​Geneviève melangkah ke bagian belakang gerobak dan membuka pintu akses khusus pegawai.

​Begitu pintu terbuka, Gaspard langsung menerobos masuk. Ksatria bertubuh besar itu tidak datang sendirian. Ia memanggul tubuh Lucien de Vaudémont di atas bahunya.

​"Turunkan dia perlahan, Gaspard! Jangan sampai sepatu botnya merusak karpet beludru putihku!" tegur Geneviève dengan insting pedagang yang mendominasi rasa terkejutnya.

​Gaspard membaringkan tubuh Lucien di atas lantai gerobak yang sempit, tepat di antara rak rak penyimpanan perhiasan. Napas ksatria bayangan itu memburu cepat. Keringat membasahi wajahnya yang biasanya kaku seperti batu.

​Odette berkacak pinggang, menatap tubuh ksatria terkuat kekaisaran yang kini terkapar tak berdaya di lantai tokonya. Pelayan itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan sangat menghakimi.

​"Bagus sekali," gerutu Odette sambil mengusap celemeknya. "Sekarang toko perhiasan eksklusif kita berubah jadi rumah sakit gratis untuk bangsawan pengangguran. Apa yang terjadi pada Tuan Duke arogan ini? Apakah dia tersedak ludahnya sendiri karena terlalu sering berteriak?"

​"Ini bukan waktunya untuk bersarkasme, Nona Odette," jawab Gaspard dengan suara bergetar. "Beliau memuntahkan darah hitam di tengah jalan dan langsung kehilangan kesadaran. Saya tidak bisa membawanya ke tabib kota. Jika mata mata istana melihat kondisi Tuan Duke yang melemah, faksi Putri Mahkota akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang wilayah Vaudémont."

​Geneviève berjongkok di samping tubuh Lucien. Rasa frustrasi langsung menyerang kepalanya. Mengapa pria ini harus tumbang di dekat tokonya? Jika Lucien mati di dalam gerobaknya, reputasi Le C'eow akan hancur dan ia akan dituduh melakukan pembunuhan. Logika rasionalnya berteriak bahwa ini adalah krisis hubungan masyarakat tingkat dewa.

​Namun, saat mata Geneviève menatap wajah Lucien, seluruh kalkulasi bisnisnya mendadak terhenti.

​Wajah Lucien sepucat kertas perkamen. Keringat dingin membasahi dahi dan rambut hitamnya. Bibir pria itu membiru, dan ada sisa noda darah berwarna hitam pekat yang mengerikan di sudut mulutnya. Dada Lucien naik turun dengan sangat tidak beraturan, seolah ia sedang bertarung melawan monster tak kasatmata yang mencekik paru parunya.

​"Ini bukan penyakit biasa," gumam Geneviève. Ia menyentuh noda darah hitam di sudut bibir Lucien menggunakan saputangan sutranya. Darah itu terasa sangat dingin, sedingin es, dan memiliki tekstur seperti kabut cair. "Ini pendarahan internal. Seseorang pasti telah meracuninya."

​Logika Geneviève langsung mengarah pada satu nama. Putri Mahkota Camille. Wanita bergaun putih itu terkenal ahli menggunakan racun yang tidak terdeteksi untuk menyingkirkan lawan politiknya. Penolakan Lucien pagi ini pasti telah memicu kemarahan sang Putri Mahkota, dan wanita gila itu memutuskan untuk meracuni ksatria peliharaannya sendiri.

​"Gaspard, kau harus keluar sekarang," perintah Geneviève dengan nada otoriter. "Berdiri di depan gerobak ini. Bersikaplah seperti patung batu seperti biasanya. Jika ada prajurit patroli istana yang bertanya, katakan bahwa Duke of Vaudémont sedang berada di dalam untuk melihat lihat perhiasan secara privat. Jangan biarkan siapa pun mencurigai bahwa majikanmu sedang sekarat."

​"Baik, Nona Montmirail. Saya akan memastikan tidak ada seekor lalat pun yang mendekati gerobak ini," jawab Gaspard kaku. Ia segera keluar melalui pintu belakang dan menguncinya dari luar, meninggalkan Geneviève dan Odette terkunci di dalam bersama tubuh Lucien.

​Ruangan di dalam gerobak itu terasa sangat sesak dan pengap. Aroma kayu mahoni bercampur dengan bau anyir darah hitam yang keluar dari mulut Lucien.

​"Nona, apa yang harus kita lakukan?" tanya Odette, suaranya kini terdengar cemas. Pelayan itu mungkin sering menyumpahi Lucien, tetapi melihat pria yang biasanya sekuat beruang itu tumbang membuat nyalinya sedikit ciut. "Kita tidak punya ramuan penawar racun. Hamba hanya punya bubuk merica."

​"Menaburkan bubuk merica ke hidungnya hanya akan mempercepat kematiannya, Odette," desah Geneviève menahan pusing. "Bantu aku membuka pakaiannya. Kita harus melonggarkan jalan napasnya terlebih dahulu."

​Geneviève mencondongkan tubuhnya. Jari jarinya yang lentik mulai membuka kancing jubah kulit hitam Lucien. Tangannya sedikit gemetar saat merasakan suhu tubuh pria itu yang membakar seperti bara api, padahal darah yang ia muntahkan terasa sedingin es.

​Setelah jubah kulit itu terlepas, Geneviève beralih pada kemeja putih berkerah tinggi yang sangat kaku. Ia menarik paksa kain cravat renda yang mencekik leher Lucien, lalu membuka tiga kancing teratas kemeja pria itu.

​Gerakan tangan Geneviève terhenti seketika.

​Di balik kain kemeja putih yang sedikit terbuka itu, tepat di atas dada kiri Lucien, tersemat bros perak bertahtakan safir biru dan kecubung ungu. Bros dengan desain estetika dongeng yang sangat rumit. Karya seni yang selalu disembunyikan pria ini dari pandangan dunia.

​Melihat bros itu menempel tepat di atas jantung Lucien, pertahanan logika Geneviève kembali diuji. Novel yang ia baca tidak pernah menceritakan detail ini. Tidak ada satu pun kalimat yang menyebutkan bahwa sang tokoh utama pria menyimpan perhiasan yang serasi dengan cincin milik sang penjahat.

​"Nona, lihat dadanya!" seru Odette tiba tiba, menunjuk ke arah kulit Lucien yang terekspos.

​Geneviève tersentak dari lamunannya. Ia menunduk menatap dada Lucien.

​Pemandangan di depannya membuat darah Geneviève berdesir ngeri. Di bawah kulit dada Lucien, tepat di sekitar area tempat bros itu tersemat, terdapat urat urat halus berwarna hitam pekat yang menjalar seperti akar pohon beracun. Urat urat hitam itu berdenyut pelan, seolah olah ada sesuatu yang hidup dan bergerak di dalam pembuluh darah pria tersebut.

​"Racun macam apa ini?" bisik Odette ngeri. "Ini terlihat seperti kutukan dari cerita nenek sihir."

​Geneviève mengerutkan keningnya. Ia adalah wanita modern yang tidak percaya pada hal hal mistis. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah reaksi kimia dari racun langka yang digunakan oleh istana.

​"Ini pasti racun perusak saraf," analisis Geneviève, mencoba terdengar ilmiah meski suaranya bergetar. "Racun ini menyerang pembuluh darah utama dan menyebabkan halusinasi serta rasa sakit yang luar biasa. Kita harus mencari cara untuk menstabilkan suhu tubuhnya."

​Tiba tiba, tubuh Lucien tersentak keras. Pria itu terbatuk hebat, matanya tertutup rapat menahan penderitaan yang tak tertahankan. Tangan kirinya bergerak liar di udara, mencari pegangan.

​Dalam kondisi setengah sadar, tangan Lucien yang besar berhasil meraih pergelangan tangan kiri Geneviève. Cengkeraman pria itu luar biasa kuat, seolah ia sedang bergantung pada satu satunya tali keselamatan di ujung jurang.

​"Tunggu... jangan pergi..." racau Lucien dengan suara parau yang sangat menyayat hati. Keringat menetes dari pelipisnya.

​"Lucien, lepaskan aku. Aku harus mengambil kain basah," ucap Geneviève, berusaha melepaskan pergelangan tangannya.

​Namun Lucien justru menarik tangan Geneviève semakin dekat ke dadanya, tepat di atas bros perak tersebut.

​"Geneviève..." bisik Lucien pelan, suaranya dipenuhi oleh rasa putus asa dan kerinduan yang sangat mendalam. "Aku tidak... aku tidak ingin melupakanmu lagi."

​Degup jantung Geneviève serasa berhenti. Kata kata itu menghantam pertahanan logikanya bagaikan godam besi. Lucien tidak sedang memanggil nama Putri Mahkota. Dalam kondisi sekarat dan kehilangan kendali atas otaknya, pria ini justru memanggil namanya. Mencari perlindungannya.

​Tepat pada detik itu, sebuah fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan manapun terjadi di depan mata mereka berdua.

​Saat telapak tangan kiri Geneviève yang mengenakan cincin rahasianya bersentuhan langsung dengan kulit dada Lucien yang dipenuhi urat hitam, sebuah pendaran cahaya perlahan muncul.

​Cincin emas putih bertahtakan safir dan kecubung di jari manis Geneviève mendadak bersinar. Cahayanya berwarna biru lembut dan ungu yang sangat jernih, menerangi bagian dalam gerobak etalase yang temaram.

​Odette melangkah mundur hingga menabrak dinding kayu. Matanya terbelalak lebar menatap fenomena tersebut. "Nona! Cincin Anda menyala! Apakah cincin itu akan meledak?"

​Geneviève sama terkejutnya. Ia mencoba menarik tangannya kembali, tetapi cengkeraman Lucien terlalu kuat, dan entah bagaimana, ada gaya magnet aneh yang menahan tangannya tetap menempel pada dada pria itu.

​Cahaya biru dan ungu dari cincin Geneviève mulai beresonansi. Bros perak di dada Lucien merespons pendaran cahaya tersebut. Kedua perhiasan itu seolah olah hidup dan saling memanggil satu sama lain.

​Lalu, hal yang paling tidak masuk akal pun terjadi.

​Urat urat hitam yang menjalar di dada Lucien mulai bergerak mundur. Warna hitam pekat itu perlahan terangkat dari bawah kulit, berubah menjadi helaian kabut asap hitam yang sangat menjijikkan.

​Kabut hitam itu adalah wujud fisik dari sihir gelap yang dikirimkan oleh Putri Mahkota Camille. Sihir yang dirancang untuk menghancurkan kewarasan Lucien dan memaksanya untuk membenci Geneviève.

​Dengan gerakan perlahan namun pasti, cahaya murni dari cincin Geneviève menarik helaian kabut hitam tersebut. Batu safir dan kecubung di cincin itu berfungsi seperti pusaran air magis, menyerap seluruh racun sihir hitam dari tubuh Lucien tanpa sisa.

​Suara desisan aneh terdengar di udara saat kabut hitam itu menghilang ke dalam batu permata Geneviève.

​Begitu helaian kabut terakhir tersedot masuk, pendaran cahaya biru dan ungu itu seketika padam. Cincin di jari Geneviève kembali terlihat seperti perhiasan normal, meskipun batunya terasa sedikit hangat di kulit.

​Cengkeraman tangan Lucien perlahan mengendur. Otot otot tubuh pria itu yang sejak tadi menegang kaku akhirnya berelaksasi. Napasnya yang memburu berangsur angsur menjadi teratur dan tenang. Warna bibirnya kembali normal, dan urat urat hitam di dadanya telah menghilang sepenuhnya seolah tidak pernah ada.

​Geneviève menarik tangannya dan jatuh terduduk di atas lantai kayu gerobak. Lututnya lemas. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap wajah damai Lucien yang kini tertidur pulas.

​Seluruh teori logisnya hancur berkeping keping malam ini. Racun tidak berubah menjadi kabut hitam. Racun tidak bisa disedot oleh sebuah batu permata.

​Apa yang baru saja ia saksikan bukanlah ilmu kedokteran atau reaksi kimia. Itu adalah sihir murni. Dan lebih dari itu, perhiasan yang ia buat di masa lalu memiliki kemampuan perlindungan yang luar biasa kuat, yang hanya bisa diaktifkan ketika kedua pasangan perhiasan itu saling berdekatan.

​"Nona..." panggil Odette dengan suara berbisik, masih gemetar menempel pada dinding. "Apakah Anda diam diam mempelajari ilmu sihir dari sekte terlarang?"

​"Aku tidak tahu, Odette," jawab Geneviève dengan suara yang sama pelannya. Otak rasionalnya sedang bekerja keras mencari pijakan di dunia yang tiba tiba dipenuhi oleh keajaiban dan kutukan ini. "Tetapi satu hal yang aku tahu pasti, novel yang aku baca itu adalah kebohongan besar."

​Geneviève menatap wajah Lucien dengan pandangan yang sama sekali baru.

​Pria ini bukanlah boneka bodoh yang terobsesi pada Putri Mahkota. Lucien adalah korban. Dan Camille de Chanteclair bukanlah wanita suci yang menjadi tokoh utama pemaaf. Wanita bergaun putih itu adalah penyihir gelap yang menggunakan kekuatan tidak wajar untuk memanipulasi pikiran dan menghancurkan kehidupan orang lain demi kekuasaan.

​Rasa frustrasi yang sangat pekat kini berubah menjadi kemarahan dingin di dalam dada Geneviève. Ia telah ditipu oleh narasi palsu sebuah buku. Cinta masa lalunya tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Pria yang terbaring di depannya ini adalah kekasih sejatinya, yang ingatannya dirampas dan pikirannya disiksa selama bertahun tahun.

​Geneviève perlahan merapikan kembali kemeja Lucien. Tangannya bergerak lembut, tidak ada lagi kekasaran atau penolakan. Ia mengusap sisa keringat di dahi pria itu.

​"Tidur yang nyenyak, Tuan Duke," bisik Geneviève pelan. Matanya berkilat memancarkan tekad seorang penjahat sungguhan yang siap membumihanguskan musuhnya. "Karena saat kau bangun nanti, kita berdua memiliki banyak hal yang harus kita hancurkan di Istana Soleil."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!