NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:110.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Suasana malam di kediaman Daneswara begitu hangat saat Eliza melangkah masuk ke kamarnya. Kegembiraan setelah mengobrol manis dengan Faas di kafe masih menyisakan rona merah di pipinya. Namun, saat ia membuka ponsel, sebuah pesan resmi dari Diki, asisten Tuan Malik membuat matanya membelalak.

"Selamat malam, Eliza. Besok malam Tuan Malik meminta Anda selaku Sekretaris Utama untuk mendampingi beliau menghadiri pesta pernikahan salah satu rekan bisnis besar di Jakarta. Saya akan mengurus akomodasi Anda."

Eliza memegang dadanya yang berdegup kencang. Menjadi pendamping Tuan Malik di acara formal? Itu adalah tugas besar. Ia segera menyiapkan gaun muslimah terbaiknya yang paling sopan dan anggun untuk besok malam.

__&

Sementara itu, kontras yang luar biasa terjadi di kediaman Husen Abrari. Suasana di ruang tengah terasa begitu tegang dan mencekam. Di sana, Husen sedang berdiri dengan wajah mengeras, menatap putra sulungnya yang duduk tenang di sofa.

"Kamu harus ikut besok malam, Faas! Tidak ada alasan!" bentak Husen, suaranya menggema di ruangan luas itu. "Ini adalah perayaan anniversary pernikahan ke-20 tahun salah satu kerabat paling dihormati di lingkaran bisnis kita. Seluruh pengusaha besar Jakarta akan hadir. Papa tidak mau mendengar selentingan kalau anak sulung Papa sengaja disembunyikan karena memalukan!"

Jihan yang duduk di samping Husen langsung menimpali dengan senyum sinis. "Benar itu, Faas. Kuatkan mentalmu dari sekarang. Jangan sampai nanti di sana kamu mendadak gemetar dan mojok di dekat meja makanan karena minder melihat orang-orang kaya."

Gavin tertawa meremehkan sembari memutar-mutar kunci mobil sport-nya. "Paling juga nanti dia bingung cara pakai sendok dan garpu formal, Ma. Hati-hati, Kak Faas, di sana bukan tempat untuk buruh cuci piring sepertimu. Kalau tidak kuat mental, mending pura-pura sakit saja dari sekarang."

"Iya, ih. Malu-maluin banget kalau sampai teman-teman kampus Jenita lihat Kak Faas planga-plongo di pesta orang itu," sahut Jenita ketus sembari sibuk mengikir kukunya.

Faas tetap diam, wajahnya sedatar dinding es. Di dalam kepalanya, ia sedang menyusun rencana. Jika ia harus pergi sebagai Faas di bawah paksaan ayahnya, maka ia tidak bisa pergi sebagai Tuan Malik. Dengan cepat, ia mengirimkan pesan singkat rahasia kepada Diki agar besok malam mendampingi Eliza ke acara tersebut atas nama Tuan Malik yang berhalangan hadir secara personal namun diwakilkan.

Faas awalnya berniat menolak mentah-mentah perintah Husen. Namun, sebuah sentuhan lembut di kursi roda menghentikan niatnya. Diana, ibunya, menatap Faas dengan mata yang berkaca-kaca penuh permohonan.

"Ikutlah, Nak... Demi Ibu. Ibu ingin melihatmu berdiri tegak di sana," bisik Diana lirih.

Melihat gurat kesedihan di wajah wanita yang paling ia hormati itu, benteng pertahanan Faas runtuh. Ia menghela napas pendek yang sangat halus. "Baik, Bu. Faas akan ikut," jawabnya tenang, mengabaikan sorak kemenangan yang mengejek dari Jihan dan anak-anaknya.

____

Keesokan harinya......

Malam pesta yang dinantikan pun tiba.

Gavin, Jenita, dan Jihan sudah bersiap di ruang tengah dengan pakaian mewah mereka yang glamor dan penuh kilau. Gavin mengenakan setelan jas desainer lokal yang mahal, berdiri dengan dagu terangkat seolah dialah bintang utama malam ini.

"Mana si pengangguran itu? Lama sekali. Sengaja mengulur waktu karena takut ya?" cibir Gavin sembari melirik jam tangannya.

"paling juga bingung cara memakai pakaian formal yang benar" timpal Jenita acuh.

"Siang tadi aku sudah meminta Faas untuk membeli pakaian formal yang bagus, setidaknya malam ini, penampilannya tidak boleh malu-maluin, kalau jelek, aku yang malu, nanti di kira pilih kasih terhadap anak tirinya" sahut Jihan terkekeh.

"Paling juga kak Faas ,tidak bisa memilih pakaian yang baik untuk ke acara pesta, dia kan belum pernah ikut ke acara pesta para konglomerat, apalagi di sana akan ada tuan Malik yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh para pengusaha yang ingin menjilat ludahnya" ucap Gavin dengan sinis.

Namun, ucapan Gavin mendadak terhenti di tenggorokan saat terdengar langkah kaki konstan menuruni tangga melingkar. Semua mata di ruangan itu seketika menoleh, dan dalam sekejap, keheningan yang mencekam melanda rumah Abrari.

Faas berjalan turun. Laki-laki itu mengenakan setelan tuxedo hitam formal yang dijahit khusus dengan potongan yang sangat pas di tubuh tegapnya. Tanpa penyamaran rambut beruban maupun kumis tebal, ketampanan asli Faas yang luar biasa terpampang nyata.

Wajah blasteran Arab Saudi-nya terlihat begitu tegas dan memikat. Garis rahangnya yang kokoh, rambutnya yang tertata rapi dan hidung mancungnya yang sempurna, serta sorot mata elangnya yang dingin memberikan kesan karisma yang begitu pekat dan mahal. Faas mewarisi perpaduan genetik terbaik, ketampanan mutlak dari Husen di masa mudanya, dan kecantikan murni dari ibunya, Diana.

Melihat penampilan Faas, rahang Gavin mengeras seketika. Dadanya bergemuruh hebat diserang rasa dengki yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, Gavin selalu merasa paling unggul dalam segala hal, harta, jabatan, dan perhatian Papa. Namun malam ini, hanya dengan berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Faas berhasil menghempaskan harga diri Gavin ke titik terendah. Gavin meradang karena secara fisik, ia merasa kalah telak dan terlihat seperti asisten di sebelah kakaknya yang tampak seperti pangeran sejati.

Jihan dan Jenita pun sempat terpaku beberapa detik, tak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka sebelum akhirnya Jihan memalingkan muka dengan ketus.

Husen menatap putra sulungnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada secercah rasa bangga yang sempat melintas di matanya melihat betapa miripnya Faas dengan dirinya saat berjaya dulu, namun keangkuhannya sebagai kepala keluarga segera menutupi hal itu.

"Bagus. Setidaknya pakaianmu tidak memalukan," ucap Husen dingin, mencoba memecah ketegangan. "Gavin, pimpin jalan. Kita berangkat sekarang."

Faas tidak membalas. Ia melangkah melewati Gavin yang masih menatapnya dengan pandangan menghunus penuh kebencian. Sembari berjalan menuju mobil, Faas meraba ponsel di sakunya. Sebuah notifikasi dari Diki masuk,

"Tuan Malik, saya sudah menjemput Eliza Daneswara. Kami sedang dalam perjalanan menuju gedung pesta. Eliza terlihat sangat anggun malam ini."

Faas menyimpan kembali ponselnya, seulas senyum tipis yang sangat misterius muncul di sudut bibirnya yang tampan.

"Faas, kali ini kamu ikut mobil papa, papa tidak mau melihatmu memakai mobil bututmu itu, itu sangat memalukan " ujar Husen yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil mewahnya di tengah bersama Jihan.

Faas mengangguk lalu masuk ke mobil ayahnya,dan duduk di depan bersama sang sopir.

Jenita masuk ke dalam mobil Gavin, sambil sesekali memuji kakak pertamanya" kak Faas terlihat sangat tampan malam ini ya, sayang nya kak Faas tidak memiliki kemampuan apapun" keluh Jenita di dalam mobil yang membuat Gavin sedikit meradang.

"modal tampan saja tidak cukup kalau kenyataannya bodoh " balas Gavin ketus.

1
Sri Supriatin
hebat Fadil melindungi Noval 👍😍😍🙏🙏
Sri Supriatin
ditunggu upnya n pasti saran2 pembaca.bakal mbludak... sy nenek2 nunggu dgn sabar🤭🤣🤣
Lovita BM
jadikan dia orang abnormal Thor 😆
Sukarti Wijaya
semedi dulu thior buat nyari ide pembalasannya, ayyooo semangat💪💪💪💪💪
suti markonah
part ini kok melani semua sih thor ?
Sri Supriatin
untung cemburu fadil blm mendarah daging, semoga selalu rukun💪💪💪
Sri Supriatin
eleuh2 kecil2 sdh cemburu🤭🤭
Sapna Anah
pedil keci kecil otaknya Uda licik
suti markonah
nah gitu dong fadil, kamu harus jadi sepupu yg baik untuk aufal👍👍👍👍👍
suti markonah
fadil kamu kan dr kecil dpt ksh syg dan kemewahan materi..kenapa mesti cemburu sm aufal yg notabene hidup serba kekurangan dan penyiksaan...
Sukarti Wijaya
waaduhh kasihan dong aufalnya kalau nanti di buly sama fadil/Frown/
Sri Supriatin
tks upnya thor, semoga kemahnya menyenangkan 👍👍😍
Sapna Anah
katanya diki ga perna nidurin regina , regina lebaran h banyak tidur sama rshan ko bisa mirip
suti markonah
aufal umur 10th masih di kasih bola warna warni sm prosotan thor🤭🤭🤭
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: kam Aufal belum pernah 😄
total 1 replies
suti markonah
weleh" rehan ngajak melani ke grand indonesia emang bisa bayar?.
suti markonah
ayo dong kakak² yg cantik jelita semua nya~ bantu author kasih vote dan hadiah nya biar author tmbh semangat update nya 🙏🙏🙏
Cica Aretha
semangattt thor..kok up nya cuma satu bab thor🤭💪
Sri Supriatin
sehat thor kok belum up?🤭 ditunggu yah 👍😍😍
suti markonah
author nya kemana yo~
Sukarti Wijaya
èhm...ehm...ehmm...MP diki dan jenita🤭👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!