"Tiga minggu di surga tersembunyi, atau tiga minggu terjebak di istana para penguasa abadi?"
Liburan akhir semester yang seharusnya menjadi momen healing bagi empat sahabat Elena, Aldara, Keisha, dan Amanda berubah menjadi awal dari petualangan lintas dimensi yang berbahaya sekaligus mendebarkan. Tergiur oleh foto-foto estetik di internet, mereka sepakat untuk melakukan camping selama tiga minggu di Pulau Tirta Asri, sebuah pulau terpencil tak berpenghuni di wilayah laut selatan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan pasir putih dan air kristalnya, pulau itu memiliki nama asli yang terhapus dari peta manusia Pulau Bai She. Pulau tersebut adalah domain suci yang menyembunyikan empat istana kolosal kuno, rumah bagi empat raja klan siluman tertinggi dengan rupa ketampanan yang mematikan.
Bai Yuanjun, Sang Raja Ular Putih yang dingin Mo Chenxi, Sang Raja Buaya Putih yang tak tersentuh Su Lingkong, Sang Raja Rubah Putih yang penuh tipu daya dan Lang Ye, Sang Raja Serigala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramuan Pemutus Sumpah Purba
Kubah raksasa Aula Tirta Kencana berdiri dengan keagungan yang sunyi di bawah siraman cahaya rembulan dimensi. Bangunan kuno yang menjadi pusat tatanan hukum spiritual Pulau Bai She ini terbuat dari batuan basal hitam yang dipahat dengan ukiran aksara-aksara magis kuno. Di sinilah tempat para Tetua Agung bersemadi, menjaga keseimbangan seluruh klan siluman dan memelihara kitab-kitab pustaka yang mencatat seluruh hukum langit sejak ribuan tahun lalu.
Kereta kencana Putri Huanying mendarat perlahan di pelataran sunyi paviliun belakang. Dengan langkah yang anggun namun sarat akan ketegasan yang mendesak, putri klan bangsawan burung bangau itu melangkah menyusuri pelataran marmer kelabu, menuju pintu gerbang ruang meditasi utama milik Kepala Tetua Agung.
Dua orang prajurit zirah perunggu yang menjaga pintu gerbang langsung menyilangkan tombak mereka begitu merasakan ada hawa asing yang mendekat. Namun, sebelum para penjaga itu sempat mengeluarkan kata-kata larangan, pelayan pribadi Putri Huanying yang setia berjalan di depan langsung menepis udara dengan kipas bulunya, lalu mengatakan kepada para penjaga di luar dengan nada yang sangat ketus dan penuh penekanan.
"Buka jalan! Putri Huanying dari Klan Bangau Perak ingin menemui Tetua Agung sekarang juga karena ada kepentingan pribadi yang sangat mendesak dan rahasia antar kerajaan!" seru sang pelayan pribadi dengan tatapan mata yang tajam.
Melihat lambang klan Bangau Perak yang terukir di hiasan rambut Putri Huanying, ditambah dengan kesadaran bahwa ayah sang putri adalah sekutu politik lama yang sangat dihormati oleh para petinggi Aula Tirta Kencana, para prajurit itu tidak berani mengambil risiko untuk memicu perselisihan. Setelah saling bertukar tatapan ragu selama beberapa detik, mereka akhirnya menarik kembali tombak mereka dan membungkuk dalam-dalam.
"Mohon maaf atas kelancangan kami, Tuan Putri. Silakan masuk, Tetua Agung sedang berada di dalam ruang pustaka batin," ucap kepala penjaga sembari membukakan pintu kayu jati tebal tersebut.
Hingga akhirnya, mereka berdua diizinkan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh aroma wewangian dupa gaharu yang pekat dan ribuan gulungan kitab kuno yang melayang di udara. Di tengah ruangan, duduk bersila seorang pria tua berambut putih panjang terurai dengan jubah kelabu yang memancarkan aura kebijaksanaan spiritual yang sangat kuat. Dialah adalah Tetua Gu, Kepala Penjaga Pustaka Hukum Langit.
Melihat kedatangan sang putri bangsawan, Tetua Gu perlahan membuka sepasang matanya yang tampak sayu namun jernih, lalu bangkit berdiri dan memberi salam hormat kepada Putri Huanying dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Sebuah kehormatan besar menerima kedatangan Putri Huanying di tempat yang sunyi ini. Ada gerangan apa yang membuat putri dari langit utara mendatangi Aula Tirta Kencana secara mendadak tanpa pemberitahuan?"
Putri Huanying tidak ingin membuang waktu sepeser pun. Ketegangan batin dan rasa sakit hati akibat perlakuan dingin Bai Yuanjun tadi siang membuatnya ingin segera menuntaskan masalah ini. Hingga akhirnya, tanpa basa-basi lagi atau menggunakan kiasan kata-kata manis khas etiket istana, Putri Huanying langsung bertanya pada inti masalah yang paling krusial.
"Tetua Gu, aku datang ke sini bukan untuk urusan basa-basi politik," ucap Huanying, suaranya terdengar dingin dan tajam. "Aku ingin bertanya tentang satu hal yang sangat rahasia. Apakah ada penawar atau ritual pemutus ikatan darah suci klan ular purba jika ramuan darah itu terlanjur diberikan dan menyatu ke dalam tubuh seorang manusia fana?"
Mendengar pertanyaan yang sangat spesifik dan sensitif tersebut, alis putih Tetua Gu langsung bertaut rapat. Matanya menyipit, mencoba menelaah apa motif di balik pertanyaan sang putri, namun ia tahu betul tentang rumor pernikahan mendadak Bai Yuanjun dengan seorang wanita manusia fana kemarin malam.
"Ikatan darah suci klan ular pada manusia adalah belenggu sukma yang sangat pekat, Tuan Putri. Itu mengunci detak jantung sang fana pada inti spiritual sang raja," jelas Tetua Gu dengan nada suara yang berat. "Namun... di dalam hukum alam gaib, tidak ada ikatan yang tidak memiliki celah. Mohon tunggu sebentar, saya akan melihat dulu di kitab kuno leluhur untuk memastikannya."
Tetua Gu kemudian memejamkan matanya, merapalkan mantra pemanggil batin. Dalam hitungan detik, sebuah gulungan kitab kulit domba kuno yang memancarkan pendaran cahaya kuning redup melayang turun dari rak paling atas, mendarat tepat di atas telapak tangan sang tetua. Dengan jemarinya yang keriput, ia membuka lembaran-lembaran usang yang dipenuhi tulisan aksara darah kuno.
Mata Putri Huanying menatap tanpa berkedip, memegang erat kipas bulunya dengan jantung yang berdebar kencang.
Setelah beberapa menit yang menegangkan berlalu, helaan napas panjang keluar dari mulut Tetua Gu. "Dan untungnya... di sini tercatat ada penawarnya, Tuan Putri. Ikatan itu bisa diputuskan menggunakan cairan Nektar Empedu Burung Pegas yang dicampur dengan sari kelopak bunga es langit utara dan dibakar dengan prana suci. Ramuan ini akan melarutkan sisa-sisa darah siluman di dalam sirkulasi darah manusia tanpa merusak jantungnya."
Mendengar konfirmasi tersebut, secercah binar kemenangan yang kejam langsung terpancar dari sepasang mata Putri Huanying. Rasa puas yang luar biasa membuncah di dalam dadanya. Hingga akhirnya, tanpa membuang kesempatan yang sudah berada di depan mata ini, Putri Huanying langsung melayangkan perintah mutlak dengan nada suara yang tidak menerima penolakan.
"Bagus! Jika memang ada, aku memerintahkanmu untuk membuat ramuan penawar itu sekarang juga di dalam kuali batin istana ini! Jangan menundanya bahkan untuk satu detikan pun, Tetua Gu!" tegas Huanying, matanya berkilat penuh ambisi.
Tetua Gu membungkuk patuh, tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan seorang putri klan sekutu besar. Ia segera berbalik menuju altar pembakaran obat, memasukkan bahan-bahan mistis yang disebutkan ke dalam sebuah cawan perunggu kuno, lalu mulai merapalkan mantra api spiritual untuk memproses pencairan zat-zat pemutus belenggu tersebut.
Proses pembuatan ramuan pemutus kutukan darah purba bukanlah perkara yang mudah. Cairan itu membutuhkan penyelarasan suhu spiritual yang sangat presisi agar khasiatnya tidak berubah menjadi racun yang mematikan bagi tubuh fana manusia.
Putri Huanying terpaksa harus menunggu sangat lama untuk pembuatan ramuan itu. Jam demi jam bergulir di dalam ruang pustaka yang sunyi, hanya diiringi oleh suara desisan api spiritual dan aroma pahit obat yang mulai menguap memenuhi udara kamar. Huanying berjalan mondar-mandir di belakang altar dengan rahang mengetat, sesekali menatap keluar jendela memikirkan apakah Bai Yuanjun sudah menyadari kunjungannya ke kamar Elena atau belum.
Hingga akhirnya, setelah penantian panjang yang menguras kesabaran batinnya yang abadi, kepulan asap perak tipis membubung dari dalam cawan perunggu, menandakan bahwa ramuan penawar itu pun akhirnya jadi dengan sempurna. Cairan di dalam cawan itu kini berwarna biru jernih seperti kristal air laut dalam.
Tetua Gu menuangkan cairan itu ke dalam sebuah botol giok kecil berukir burung phoenix, lalu menyerahkannya kepada Putri Huanying dengan kedua tangan. "Ramuan sudah siap, Tuan Putri. Begitu manusia itu meminumnya, ikatan darah suci dengan Baginda Raja akan langsung meleleh dan putus dalam waktu beberapa saat. Namun ingat, efek sampingnya akan membuat tubuh fana itu sangat lemas selama sehari penuh."
Putri Huanying menerima botol giok kecil itu, menggenggamnya dengan sangat erat seolah-olah benda itu adalah kunci dari seluruh masa depannya. Meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat kesal karena harus menunggu begitu lama di tempat yang membosankan ini, tapi tak apa bagi dirinya. Semua rasa lelah, kesal, dan sakit hatinya siang ini terasa lunas terbayar demi rencana besarnya berjalan mulus tanpa ada hambatan lagi.
"Kerja bagus, Tetua Gu. Pastikan tidak ada satu pun makhluk di Aula Tirta Kencana ini termasuk para penjaga yang membocorkan tentang pembuatan ramuan ini kepada Bai Yuanjun," ancam Huanying dengan nada suara yang berbisik tajam.
"Rahasia ini akan terkunci bersamaku, Tuan Putri," jawab sang tetua membungkuk hormat.
Dengan senyuman dingin yang penuh kemenangan yang terukir di wajah cantiknya, Putri Huanying menyembunyikan botol giok itu di balik lipatan lengan jubah sutranya. Ia segera berbalik dan melangkah keluar dari Aula Tirta Kencana dengan kecepatan penuh, bersiap untuk kembali menyusup ke Istana Bai Long guna mengantarkan tiket kebebasan bagi Elena sekaligus tiket penyingkiran sang manusia fana dari sisi pria yang teramat ia gila-gilai selama ratusan tahun.