NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mode dosen aktif kembali

Hari Minggu malam berlalu dengan sangat cepat, dan tahu-tahu hari Senin pagi yang mendebarkan sudah menyambutku di depan mata.

Pukul enam pagi lewat sedikit. Alarm ponselku menjerit dengan sangat nyaring di atas meja nakas, membuatku langsung terduduk tegak di atas kasur dengan rambut yang masih berantakan mirip singa. Aku mengucek mataku berulang kali, mencoba mengusir rasa kantuk yang luar بيهasa akibat begadang semalaman demi menyelesaikan revisi bab satu yang penuh coretan tinta merah dari Mas Arkan.

Setelah mandi kilat dan bersiap mengenakan kemeja putih polos serta rok plisket hitam yang rapi, aku melangkah keluar kamar sambil memeluk erat map tebal berisi draf proposal skripsiku.

Aroma roti panggang mentega dan kopi hitam pekat langsung menyapa indra penciumanku begitu aku menginjakkan kaki di ruang tengah.

Di depan meja konter dapur, Mas Arkan sudah berdiri rapi. Pagi ini dia benar-benar terlihat sangat berbeda dari versi kasualnya kemarin. Ia mengenakan kemeja abu-abu slim-fit yang disetrika sangat licin, dipadukan dengan celana bahan hitam dan dasi senada yang terpasang sempurna di kerah bajunya. Jam tangan perak yang mahal melingkar di pergelangan tangannya, memancarkan aura profesional yang sangat pekat.

"Duduk dan makan sarapan kamu, Karin. Kita harus berangkat sepuluh menit lagi agar tidak terjebak macet di daerah kuningan," ujarnya tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat formal dan tegas—persis seperti saat ia memulai perkuliahan jam delapan pagi di kampus.

Aku menelan ludah dengan susah payah, langsung duduk di kursi meja makan tanpa banyak suara. "Baik, Mas..."

"Di luar apartemen ini, panggil saya Pak Arkan seperti biasa," potongnya cepat sembari meletakkan sepiring roti bakar isi telur setengah matang di hadapanku. "Ingat aturan nomor satu. Tidak boleh ada satu orang pun yang curiga tentang hubungan kita, terutama di lingkungan kampus pusat nanti."

"Iya, Pak Arkan," jawabku buru-buru, mendadak merasa sangat ciut melihat mode dosennya yang sudah aktif seratus persen.

Suasana sarapan pagi itu terasa jauh lebih tegang dibandingkan kemarin malam. Mas Arkan menyantap roti bakarnya sembari membaca tumpukan draf dokumen di tabletnya dengan kening yang berkerut dalam, sementara aku hanya bisa mengunyah rotiku dengan gerakan super cepat agar tidak membuat kami terlambat sedetik pun.

Perjalanan menuju kampus pusat universitas di Jakarta benar-benar menguras energi mentalku. Jalanan kota sangat padat, dipenuhi oleh klakson kendaraan yang saling bersahutan di bawah jembatan layang yang tinggi.

Mas Arkan menyetir dengan sangat tenang, sesekali melirik jam tangan peraknya dengan raut wajah tanpa ekspresi yang sangat sulit dibaca.

Begitu mobil sedan hitamnya memasuki area gerbang kampus pusat yang sangat megah dan luas, jantungku mulai berdegup kencang tak karuan. Gedung-gedung fakultas di sini tampak jauh lebih besar dan modern, dengan ratusan mahasiswa yang berlarian ke sana kemari membawa map dan ransel mereka masing-masing.

"Kamu turun di lobi gedung perpustakaan pusat di sebelah kiri itu," ujar Mas Arkan sembari memperlambat laju mobilnya di depan sebuah gedung kaca bundar yang sangat besar. "Cari meja yang nyaman di lantai tiga. Di sana suasananya lebih tenang untuk mengerjakan revisi."

"Baik, Pak. Terus nanti siangnya saya gimana?" tanyaku canggung sebelum membuka pintu mobil.

"Saya ada rapat dekanat sampai jam satu siang. Setelah selesai, saya akan mengirimkan pesan singkat untuk memberi tahu tempat makan siang kita. Jangan keluyuran ke luar area perpustakaan tanpa memberi tahu saya terlebih dahulu," perintahnya tegas.

"Iya, Pak. Dimengerti," sahutku patuh.

Aku segera turun dari mobil sambil memeluk erat tasku, lalu berjalan terburu-buru masuk ke dalam gedung perpustakaan tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku bisa merasakan beberapa pasang mata mahasiswa di sekitar lobi sempat melirik ke arahku yang baru saja turun dari mobil mewah milik dosen muda yang tampan itu, membuatku mempercepat langkah kaki dengan wajah yang terasa sedikit memanas karena canggung.

Lantai tiga perpustakaan pusat ini benar-benar sangat luas dan tenang. Hanya terdengar suara ketukan keyboard laptop yang pelan dan gesekan lembaran buku yang dibalik oleh para mahasiswa yang sedang fokus belajar di meja-meja belajar sekat kayu.

Aku memilih meja yang berada di sudut dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman tengah kampus yang asri.

Aku membuka laptop, mengeluarkan draf proposal skripsiku yang penuh coretan merah dari dalam map tebal, lalu mulai fokus memperbaiki bagian-bagian yang dianggap bertele-tele oleh Mas Arkan kemarin. Jam demi jam berlalu tanpa terasa seiring dengan jemariku yang menari-nari di atas keyboard, mencoba menyusun kalimat-kalimat yang lebih konkret, padat, dan penuh dengan data pendukung yang akurat.

Ting.

Ponselku yang diletakkan di sebelah laptop bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Mas Arkan:

[Pak Arkan]: Rapat saya sudah selesai. Turun ke lobi sekarang, saya tunggu di koridor belakang gedung perpustakaan dekat taman.

Aku melirik jam di sudut kanan bawah layar laptopku. Ternyata sudah pukul satu lewat lima belas menit siang. Perutku yang sejak tadi pagi hanya diisi sepotong roti bakar kini mulai berbunyi dengan sangat nyaring minta segera diberi makan.

Aku buru-buru merapikan barang-barangku ke dalam tas ransel, mematikan laptop, lalu melangkah cepat menuju lift untuk turun ke lantai dasar dengan perasaan yang campur aduk antara lapar dan gugup memikirkan pertemuan kami di area publik kampus ini.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!