Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Sofie dan Rencana Baru
Setelah pertemuan penting di kafe, Pak Wijaya memberikan nomor telepon genggamnya kepada Ibu Ratna. "Ini nomor saya, Bu. Agar Ibu tidak perlu repot mencari saya lagi jika ada hal mendesak atau informasi baru. Cukup hubungi saya kapan saja," ujarnya, memberikan kartu nama yang terlipat rapi.
Ibu Ratna menerima kartu nama itu dengan rasa terima kasih. Memiliki jalur komunikasi langsung dengan Pak Wijaya memberinya rasa aman dan kemudahan yang sangat berarti. Ia tahu, dengan Pak Wijaya di sisinya, langkah-langkah selanjutnya akan lebih terarah.
Rencana Ibu Ratna mulai terbentuk dengan lebih jelas. Ia tidak bisa lagi hanya bersembunyi dan menunggu. Ia harus bertindak. Sumber daya yang ada, baik dari dana di rekening Theo maupun dari dukungan Pak Wijaya, harus dimanfaatkan dengan bijak. Rencana besarnya adalah mendirikan sebuah perusahaan. Perusahaan yang kuat, yang kelak bisa menjadi tandingan bagi Rendra. Untuk itu, ia perlu mencari mitra dan partner yang bisa dipercaya, orang-orang yang memiliki visi yang sama dan integritas yang tinggi.
Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah gedung pencakar langit yang modern, PT Alta sedang mengadakan rapat penting. Suasana di ruang rapat itu dipenuhi oleh campuran antara kelegaan dan ketegangan. Mereka sedang membahas keberlanjutan program-program perusahaan yang berfokus pada teknologi hijau.
CEO PT Alta, seorang wanita bernama Sofie, memimpin rapat tersebut. Wajahnya memancarkan kecerdasan dan keteguhan hati. Ia baru saja menyelamatkan perusahaannya dari jurang kebangkrutan.
"Kita hampir saja membubarkan perusahaan ini," ujar Sofie, suaranya terdengar tegas namun penuh emosi. "Tidak ada pihak yang mau mendukung kita. Proyek-proyek kita dianggap terlalu berisiko dan belum menjanjikan keuntungan dalam waktu dekat." Ia menghela napas panjang. "Namun, kali ini, kita mendapatkan modal yang sangat besar dari seorang investor misterius. Investor inilah yang telah menyelamatkan kita dari keterpurukan."
...****************...
Sofie, sang CEO PT Alta, memang masih terbilang muda. Di usianya yang baru menginjak 30 tahun, ia telah berhasil membangun sebuah perusahaan teknologi yang inovatif. Usianya yang lima tahun lebih muda dari Ratna, namun pencapaiannya sungguh mengagumkan. Kesuksesannya ini tidak datang begitu saja. Ia mendapatkan dukungan penuh dari ayahnya, seorang pengusaha sukses yang kini berdomisili di luar negeri. Ayahnya melihat potensi besar dalam diri Sofie dan visi perusahaannya, sehingga ia memberikan modal awal dan jaringan yang luas untuk membantu Sofie mewujudkan mimpinya.
Di tengah rapat keberlanjutan program, Sofie melanjutkan penjelasannya mengenai investor misterius tersebut. "Investor ini menghubungi kami beberapa minggu lalu," kata Sofie, matanya menatap tajam ke arah para bawahannya. "Mereka menunjukkan ketertarikan yang luar biasa pada visi teknologi hijau kita. Mereka melihat potensi jangka panjangnya, sesuatu yang tidak dilihat oleh investor lain."
Ia menekankan, "Modal yang diberikan sangat besar, jauh melebihi perkiraan terburuk kita. Ini memungkinkan kita tidak hanya melanjutkan program yang ada, tetapi juga mengembangkan riset dan inovasi baru. Namun, identitas investor ini masih dirahasiakan. Mereka hanya memberikan instruksi melalui perwakilan hukum mereka."
Sofie merasa sedikit penasaran sekaligus waspada. Siapa investor ini? Mengapa mereka begitu yakin pada PT Alta, padahal perusahaan itu hampir bangkrut? Namun, di saat yang sama, ia juga merasakan gelombang kelegaan. Dukungan finansial ini adalah penyelamat. Ia bertekad untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, untuk membuktikan bahwa keputusan investor itu tepat.
Ia memandang sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah stafnya yang kini mulai menunjukkan secercah harapan. "Kita harus membuktikan bahwa kepercayaan ini tidak sia-sia," katanya dengan nada penuh semangat. "Kita akan bekerja lebih keras lagi. Kita akan pastikan PT Alta tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pemimpin di industri teknologi hijau."
...****************...
Para direktur dan manajer di ruangan itu saling pandang, bisikan-bisikan penasaran terdengar di antara mereka. Siapa gerangan investor misterius ini? Uang puluhan miliar adalah jumlah yang sangat besar, terutama untuk perusahaan yang baru saja terancam gulung tikar. Ketertarikan mereka pada sosok di balik kucuran dana itu tak terbendung.
"Saya masih tidak percaya," ujar salah seorang manajer senior. "Bagaimana bisa ada pihak yang mau menginvestasikan dana sebesar itu pada kita di saat-saat terberat seperti ini? Rasanya seperti keajaiban."
Seorang direktur cabang, yang selama ini fokus pada program-program inovatif, langsung memanfaatkan momen tersebut untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih konkret. "Terlepas dari siapa investornya, Bu Sofie," katanya, berusaha terdengar profesional, "yang terpenting adalah kita sekarang punya kesempatan untuk bergerak maju. Saya ingin membahas lebih lanjut mengenai program sampah daur ulang dari plastik menjadi bahan organik. Proyek ini memiliki potensi pasar yang sangat besar dan sejalan dengan visi perusahaan kita tentang keberlanjutan."
Ia melanjutkan, "Kita sudah memiliki prototipe yang menjanjikan, namun kita kekurangan dana untuk skala produksi. Dengan suntikan modal baru ini, kita bisa mempercepat pengembangan dan peluncurannya. Saya yakin program ini akan menjadi salah satu pilar utama PT Alta di masa depan."
Sofie mendengarkan dengan saksama. Ia menghargai antusiasme direktur cabangnya. "Ide yang bagus," sahut Sofie. "Kita perlu memprioritaskan program-program yang memiliki dampak paling signifikan dan potensi keuntungan jangka panjang. Silakan siapkan proposal detailnya, termasuk proyeksi anggaran dan target waktu. Kita akan tinjau secepatnya."
Ia kembali menatap seluruh jajaran direksi. "Ingat, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Investor ini telah memberikan kepercayaan besar kepada kita. Kita harus membuktikan bahwa mereka tidak salah pilih. Kita akan fokus pada inovasi, efisiensi, dan tentu saja, keberlanjutan."
...****************...
Setelah rapat yang cukup panjang dan penuh dengan diskusi strategis, Sofie merasa sedikit lelah namun juga bersemangat. Ia kembali ke ruangannya, bersiap untuk meninjau beberapa dokumen. Namun, tak lama kemudian, asisten pribadinya mengetuk pintu.
"Permisi, Bu Sofie," ujar asistennya. "Ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda. Dia bilang sangat penting. Dia cukup tampan, Bu."
Sofie mengangkat alisnya sedikit. "Penting? Siapa namanya?"
"Dia memperkenalkan diri sebagai Jhonatan, Bu. Jhonatan Wijaya."
Nama "Wijaya" terngiang di telinga Sofie. Ia tentu saja mengenalnya. Wijaya adalah nama sebuah konglomerat properti yang sangat besar dan berpengaruh di negeri ini. Tentu saja, CEO dari perusahaan sebesar itu pasti bernama Wijaya. Jantung Sofie berdebar sedikit lebih cepat. Ia penasaran, apa urusan putra dari keluarga Wijaya yang terpandang ini dengan perusahaan teknologi hijau miliknya yang terbilang kecil?
"Baiklah, suruh dia masuk," perintah Sofie, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang dan profesional.
Tak lama kemudian, pintu ruangan CEO terbuka, dan seorang pria tampan dengan aura percaya diri yang kuat melangkah masuk. Ia tersenyum ramah, senyum yang menunjukkan ketulusan sekaligus kecerdasan.
"Selamat siang," sapanya dengan suara yang dalam dan jelas. "Saya Jhonatan. Jhonatan Wijaya."
Sofie membalas senyumnya, namun dalam hati ia masih sedikit terkejut. "Ah, saya Sofie," katanya, berusaha bersikap profesional. Ia kemudian melanjutkan dengan nada bertanya yang halus, "Apa tujuan Tuan Jhonatan datang ke perusahaan kecil kami ini?"
Jhonatan tertawa kecil, tawanya terdengar lepas dan menyenangkan. Ia melangkah mendekat ke meja Sofie. "Bukankah sudah jelas, Bu Sofie?" katanya, matanya berbinar penuh arti. "Saya ingin bekerja sama."
...****************...
Jhonatan tertawa kecil, tawanya terdengar lepas dan menyenangkan. Ia melangkah mendekat ke meja Sofie. "Bukankah sudah jelas, Bu Sofie?" katanya, matanya berbinar penuh arti. "Saya ingin bekerja sama."
Ia kemudian menambahkan, dengan nada yang sedikit lebih rendah dan penuh rahasia, "Oh iya, tentang investor misterius yang menyelamatkan PT Alta itu... tidak lain tidak bukan adalah saya sendiri. Dan ini, Bu Sofie, adalah rahasia kita berdua."
Sofie terdiam sejenak, otaknya berputar cepat mencerna informasi yang baru saja ia terima. Jhonatan Wijaya? Putra dari konglomerat properti Wijaya, sekaligus investor misterius yang menyelamatkan perusahaannya? Ini sungguh di luar dugaan. Ia menatap Jhonatan, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. Apakah ini jebakan? Atau sebuah tawaran yang terlalu bagus untuk dilewatkan?
"Anda... Anda investornya?" tanya Sofie, suaranya terdengar sedikit bergetar karena terkejut.
Jhonatan mengangguk mantap. "Ya. Dan saya punya alasan kuat mengapa saya memilih PT Alta. Visi Anda tentang teknologi hijau sangat menarik. Saya percaya ini adalah masa depan. Dan saya ingin menjadi bagian dari masa depan itu, bersama Anda."
Ia tersenyum lagi, kali ini senyumnya lebih hangat. "Jadi, bagaimana? Apakah kita bisa bekerja sama, Bu Sofie? Saya siap memberikan dukungan lebih lanjut, baik finansial maupun jaringan bisnis ayah saya, asalkan kita bisa merahasiakan keterlibatan saya ini."
Sofie memandang Jhonatan, mencoba memproses semua ini. Di satu sisi, ia merasa lega karena akhirnya mengetahui identitas investornya. Di sisi lain, ia harus berhati-hati. Keterlibatan keluarga Wijaya, yang terkenal dengan kekuatan bisnisnya, bisa menjadi keuntungan besar, namun juga bisa membawa risiko yang tidak terduga. Terutama jika Rendra, yang ia tahu punya hubungan dengan dunia bisnis yang kelam, mengetahui hal ini.
...****************...
"Saya... saya perlu waktu untuk memikirkannya, Tuan Jhonatan," ujar Sofie dengan hati-hati. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela, memandang ke arah kota yang terhampar di bawah. "Ini adalah keputusan besar. Terutama mengenai kerahasiaan ini. Saya perlu memastikan bahwa saya memahami sepenuhnya implikasinya."
Jhonatan mengangguk mengerti. Ia tidak memaksakan diri. "Tentu saja, Bu Sofie. Saya menghargai profesionalisme Anda. Ambil waktu Anda. Namun, saya harap Anda segera memberikan keputusan. Saya sangat antusias untuk bekerja sama dengan PT Alta dan melihatnya berkembang pesat."
Ia kemudian bangkit dari kursinya. "Saya akan menunggu kabar dari Anda. Jika ada yang ingin Anda diskusikan lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi saya. Nomor saya ada di kartu nama ini." Jhonatan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja Sofie, kartu nama yang sama elegan dan berkelasnya dengan perusahaan ayahnya.
Setelah Jhonatan keluar dari ruangannya, Sofie kembali duduk di kursinya. Ia meraih kartu nama itu, membolak-baliknya. Jhonatan Wijaya. Putra dari konglomerat properti. Dan ternyata, dialah investor misterius yang telah menyelamatkan PT Alta.
Pikirannya berpacu. Mengapa Jhonatan memilih PT Alta? Apakah ini murni bisnis, atau ada motif lain di baliknya? Dan bagaimana ia bisa merahasiakan ini, terutama jika Rendra, yang ia curigai memiliki koneksi luas, mulai mencari tahu tentang sumber pendanaan PT Alta?