Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Rahasia di Balik Proyek Garuda
Pagi itu Nara datang ke kantor dengan pikiran yang masih dipenuhi Proyek Garuda.
Semalaman ia hampir tidak tidur.
Setiap kali memejamkan mata, ia teringat kalimat Adrian.
> "Semuanya mungkin berawal dari sana."
Jika benar demikian, berarti proyek yang terjadi belasan tahun lalu menjadi akar dari seluruh tragedi yang menimpa ayahnya.
Dan mungkin juga menjadi alasan seseorang masih berusaha menutupi kebenaran sampai sekarang.
---
Begitu tiba di lantai kerja, Nara melihat Siska sudah duduk sambil menikmati sarapan.
"Astaga."
Siska menatap wajahnya.
"Kamu lagi-lagi kurang tidur."
"Aku baik-baik saja."
"Itu kalimat favorit orang yang tidak baik-baik saja."
Nara terkekeh kecil.
Meski sedang banyak masalah, keberadaan Siska selalu berhasil membuat suasana sedikit lebih ringan.
---
Di ruang direktur.
Damar baru saja menerima laporan terbaru dari Raka.
Tumpukan dokumen memenuhi meja.
Sebagian besar berkaitan dengan Proyek Garuda.
"Ada sesuatu yang aneh."
ucap Raka.
Damar mengangkat kepala.
"Apa?"
"Semua arsip proyek ini sengaja dipotong."
"Maksudmu?"
"Beberapa halaman hilang."
Raka menunjuk dokumen yang terbuka.
"Nomor halaman langsung melompat."
Damar menyipitkan mata.
Benar.
Ada bagian yang sengaja diambil.
Dan bagian itu kemungkinan besar berisi informasi penting.
---
Tak lama kemudian Nara dan Adrian ikut bergabung.
Mereka mulai memeriksa dokumen satu per satu.
Hingga akhirnya Adrian menemukan sebuah nama perusahaan.
PT Garuda Infrastruktur Mandiri.
Perusahaan yang menjadi pelaksana utama proyek tersebut.
---
"Tunggu."
gumam Adrian.
"Aku pernah mendengar nama ini."
---
"Dari mana?"
tanya Nara.
---
Adrian terlihat berpikir keras.
Lalu matanya membesar.
---
"Perusahaan itu bangkrut tepat sebelum kasus ayahmu muncul."
---
Ruangan langsung sunyi.
---
"Bangkrut?"
ulang Damar.
---
Adrian mengangguk.
---
"Dan anehnya, seluruh direksinya menghilang dari dunia bisnis."
---
Raka langsung membuka laptop.
Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Beberapa menit kemudian ia menghela napas panjang.
---
"Benar."
---
"Aku tidak menemukan aktivitas apa pun setelah tahun itu."
---
Nara mulai merasakan firasat buruk.
---
Terlalu banyak orang yang menghilang.
Surya.
Leonard.
Direksi perusahaan.
Dokumen proyek.
---
Seolah seseorang sedang menghapus seluruh jejak masa lalu.
---
"Tidak mungkin semua ini kebetulan."
ucap Nara.
---
"Tidak."
jawab Damar.
---
"Dan kita semakin dekat ke pusat masalah."
---
Siang harinya.
Sebuah paket datang tanpa nama pengirim.
Paket itu ditujukan kepada Nara.
---
Semua langsung waspada.
---
Raka bahkan memeriksanya terlebih dahulu sebelum dibuka.
---
Di dalam kotak hanya ada sebuah buku tua.
---
Sampulnya kusam.
Beberapa bagian sudah rusak.
---
"Apa ini?"
tanya Nara.
---
Adrian mengambil buku tersebut.
Lalu ekspresinya berubah.
---
"Ini buku agenda."
---
"Agenda siapa?"
---
Pria itu membuka halaman pertama.
---
Dan suasana ruangan langsung membeku.
---
Karena di sana tertulis nama yang sangat mereka kenal.
---
Arman Prasetya.
---
"Itu milik ayahku."
bisik Nara.
---
Tangannya mulai gemetar saat menerima buku tersebut.
---
Di dalamnya terdapat catatan harian.
Bukan catatan pribadi.
Melainkan catatan pekerjaan.
---
Sebagian besar berisi jadwal rapat.
Nama klien.
Dan rincian proyek.
---
Namun menjelang halaman akhir.
Isi tulisan berubah.
---
Tulisan ayahnya terlihat lebih berantakan.
Seolah ditulis dalam keadaan terburu-buru.
---
Nara mulai membaca.
---
> Aku mulai mencurigai Leonard.
> Ada transaksi yang tidak masuk akal.
> Surya tampaknya mengetahui sesuatu.
> Nugroho belum mengetahui semuanya.
---
Damar langsung mengangkat kepala.
---
"Ayahku tidak tahu."
gumamnya.
---
Untuk pertama kalinya ada bukti tertulis yang mengarah ke sana.
---
Nara melanjutkan membaca.
---
> Jika aku gagal menghentikan mereka, seseorang harus menemukan dokumen utama.
> Semua jawabannya ada di ruang arsip Garuda.
---
Adrian langsung berdiri.
---
"Ruang arsip."
---
Raka mengernyit.
---
"Masalahnya proyek itu sudah tutup bertahun-tahun."
---
"Tapi arsipnya mungkin masih ada."
jawab Adrian.
---
Harapan kembali muncul.
---
Karena selama ini mereka hanya mengikuti petunjuk kecil.
Kini mereka memiliki tujuan yang jelas.
---
Mencari ruang arsip Garuda.
---
Menjelang sore.
Raka berhasil menemukan alamat lama gudang penyimpanan proyek.
Lokasinya berada di luar kota.
Sekitar dua jam perjalanan.
---
"Kita berangkat besok pagi."
ucap Damar.
---
Semua setuju.
---
Namun tak seorang pun menyadari bahwa sejak tadi seseorang sedang mengawasi gedung kantor dari mobil yang terparkir di seberang jalan.
---
Pria itu menerima telepon.
---
"Mereka menemukan agenda Arman."
---
Suara di seberang terdengar kesal.
---
"Bagaimana bisa?"
---
"Aku tidak tahu."
---
Pria tersebut menatap ke arah jendela kantor.
---
"Tapi mereka juga menemukan petunjuk ruang arsip."
---
Keheningan beberapa saat.
---
Kemudian suara dingin terdengar.
---
"Kalau begitu jangan biarkan mereka sampai ke sana."
---
Panggilan terputus.
---
Senyum tipis muncul di wajah pria tersebut.
---
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Permainan mulai memasuki tahap yang berbahaya.
---
Malam harinya.
Nara pulang lebih awal.
Ia ingin beristirahat sebelum perjalanan besok.
---
Namun saat sedang membaca ulang agenda ayahnya, selembar kertas kecil jatuh dari bagian belakang buku.
---
Nara membungkuk mengambilnya.
---
Awalnya ia mengira itu hanya catatan biasa.
Namun setelah melihat isinya, napasnya langsung tertahan.
---
Karena di atas kertas itu terdapat sebuah foto.
---
Foto seorang wanita muda.
---
Wajahnya sangat cantik.
Dan entah kenapa terasa familiar.
---
Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahnya.
---
> Untuk Nara.
Jika suatu hari kau menemukan foto ini, berarti kebenaran sudah mulai terbuka.
Wanita ini adalah kunci dari semua rahasia yang kusimpan.
---
Jantung Nara berdetak semakin cepat.
---
Siapa wanita itu?
---
Kenapa ayahnya menyebutnya sebagai kunci?
---
Dan mengapa wajahnya terasa begitu dekat?
---
Saat itulah ponselnya bergetar.
Pesan dari Damar masuk.
---
> Istirahatlah.
Besok akan menjadi hari yang panjang.
---
Nara menatap pesan itu beberapa saat.
Lalu kembali melihat foto wanita misterius tersebut.
---
Firasatnya mengatakan satu hal.
---
Perjalanan ke ruang arsip Garuda besok tidak hanya akan membuka rahasia tentang ayahnya.
---
Tetapi juga rahasia tentang dirinya sendiri.
---
Dan jika firasat itu benar...
Maka hidup Nara tidak akan pernah sama lagi setelah kebenaran terungkap.
Bersambung ke Bab 35