Alundra Kylie patah hati saat mengetahui Arsenio Ghaisan, cinta pertamanya, ternyata dijodohkan dengan sepupunya, Alora Eleandra.
Untuk melupakan cinta pertamanya itu, Alundra memutuskan untuk kembali ke luar negeri menyusul orang tuanya yang menetap di sana. Namun, saat perjalanan menuju bandara, Alundra tidak sengaja menabrak seseorang hingga mengalami koma.
Masalah kian rumit saat orang yang Alundra tabrak ternyata adalah kekasih Qireia Zhavara, seorang Nona kaya yang terkenal arogan.
"Aku akan mengampunimu, tapi dengan satu syarat, kamu harus menggantikanku menemui calon tunanganku. Kamu harus berpura-pura menjadi aku." Qireia Zhavara.
Apa yang akan terjadi, jika tunangan Qireia tahu Alundra menyamar sebagai Qireia?
Apa yang akan Alundra lakukan saat mengetahui tunangan Qireia ternyata dosen killer baru di kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
"Ka-kamu salah dengar. Ya, salah dengar," ucap Qireia sedikit terbata. Wanita itu berusaha menyembunyikan kegugupannya, ia tidak akan membiarkan Alundra tahu jika Leon sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Masa sih? Aku yakin gak salah dengar. Jelas-jelas aku dengar kamu bilang sama dokter itu, kalau Leon sudah sadar. Iya kan, Lan?"
Allano menganggukkan kepalanya. Pria itu juga mendengar apa yang Alundra dengar.
Alundra bersikukuh jika pendengarannya tidak salah. Ditambah lagi Allano pun mengiyakan ucapannya.
"I-iya m-maksudku Leon sempat membuka mata, tapi badannya kejang-kejang, terus kembali tak sadarkan diri," ucap Qireia. Entah alasannya masuk akal atau tidak, namun ia berharap Alundra mempercayai ucapannya.
"Kata dokter, jika dalam waktu satu jam ini Leon belum membuka mata, dia akan dinyatakan koma," ucapnya lagi.
Perkataan Qireia semakin mengada-ada, yang wanita itu pikiran hanyalah bagaimana caranya membuat Alundra kembali percaya. Rencananya tidak boleh gagal, Alundra tetap harus mematuhi kesepakatan mereka.
"Tapi---"
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa lihat sendiri keadaan Leon saat ini."
Qireia sudah tidak memiliki cara lagi untuk membuat Alundra percaya, karena tampaknya Alundra justru semakin penasaran.
Semoga dokter sudah pergi dari ruangan Leon, gumam Qireia dalam hati.
Qireia hanya berharap, Alundra tidak benar-benar melihat keadaan Leon. Atau semuanya akan terbongkar.
"Baiklah, aku percaya. Jadi, di mana aku harus menemui tunanganmu?"
Alundra memilih untuk mempercayai Qireia, walaupun sebenarnya ia sendiri masih mencurigai wanita itu. Hanya saja, Alundra tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut, biarlah ia mengalah, anggap saja Alundra sedang menebus semua kesalahannya karena menyebabkan Leon terbaring saat ini.
Qireia diam-diam menyunggingkan senyumnya. Wanita itu sangat lega karena akhirnya Alundra mengalah juga.
"Berikan nomor ponselmu, aku akan mengirimkan alamatnya," ucap Qireia.
Alundra pun memberikan nomor ponselnya pada Qireia. Setelah itu, keduanya berpisah. Qireia kembali ke ruangan Leon, sementara Alundra pun bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit.
"Lun, kenapa kamu percaya gitu aja? Harusnya tadi kita lihat dulu keadaan kekasih wanita itu. Aku yakin, wanita itu membohongi kita, jelas-jelas dia mengatakan jika kekasihnya sudah sadar," gerutu Allano. Pria itu sangat kesal dengan Alundra yang menurutnya, terlalu gampang mempercayai orang.
Pantas saja selama ini Alundra dibohongi oleh Arsenio, karena wanita cantik itu terlalu naif.
"Aku bukan mempercayai wanita itu, Lan. Aku hanya ingin semua masalah ini cepat selesai. Aku ingin segera pergi dan melanjutkan hidupku dengan tenang," ucap Alundra.
Anggaplah Alundra naif. Sebenarnya bisa saja Alundra meminta bantuan Gefanda untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, Alundra tidak pernah ingin merepotkan siapapun, termasuk opanya. Alundra terbiasa mandiri, walaupun semua keluarganya sangat memanjakannya.
"Tapi, Lun, kamu tidak perlu menuruti perintah konyol wanita itu."
Allano tetap tidak setuju. Menurutnya, cara ini terlalu beresiko. Walau bagaimanapun, berpura-pura menjadi orang lain itu sama saja dengan menipu. Sekalipun Alundra terpaksa melakukannya.
"Kamu tenang saja, aku hanya perlu menemui tunangan Qireia sekali saja, dan memintanya untuk mengundur hari pertunangan. Setelah itu, aku tidak akan pernah bertemu pria itu lagi."
Alundra pun bukan wanita bodoh, ia akan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Walaupun Qireia bilang, tunangannya itu belum pernah melihatnya, untuk berjaga-jaga, lebih baik Alundra pun tidak menunjukkan wajahnya.
Alundra tidak pernah berpikir, jika keputusan yang ia ambil saat ini, akan membuatnya menyesal seumur hidup. Alundra hanya percaya, jika ia berbuat baik, maka akan menghasilkan yang baik juga.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Arsenio tiba-tiba datang menghampiri Alundra dan Allano. Pria itu baru saja dari kantin rumah sakit.
Ketiganya saat ini berada di depan ruang rawat Alundra.
"Bukan urusanmu," ucap Allano dengan ketus. Allano benar-benar muak melihat pria tidak tahu malu yang saat ini berdiri di hadapannya.
Arsenio sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan Allano. Sejak awal adik Alora itu memang selalu ketus dengannya.
"Lun---"
"Allan benar. Kamu tidak perlu tahu. Kita bukan siapa-siapa lagi," ucap Alundra.
Wanita cantik itu dengan cepat memotong perkataan Arsenio. Ia benar-benar tidak ingin ada urusan apa pun lagi dengan mantan kekasihnya itu. Sekalipun apa yang Arsenio lakukan adalah bentuk rasa simpati untuknya, namun, semuanya percuma jika hanya pura-pura.
Arsenio tampak terkejut mendengar perkataan Alundra. Ini ke-dua kalinya Alundra bersikap dingin padanya.
"Lun, tidak bisakah kita berteman? Walaupun hubungan kita sudah berakhir, kita masih bisa berteman seperti dulu."
Di satu sisi, Arsenio senang hubungannya dengan Alundra berakhir tanpa harus ia yang mengakhirinya. Dengan begitu, ia tidak akan disalahkan jika nantinya menjalin hubungan dengan Alora. Karena, Alundra lah yang lebih dulu meninggalkannya.
Tapi, di sisi lainnya, ada ruang yang terasa hampa saat Alundra meminta untuk mengakhiri hubungannya. Kehampaan itu berubah kian menyesakkan saat Alundra memilih untuk menjauh.
Kenapa?
Bukankah ini yang Arsenio inginkan?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Namun, Arsenio belum menemukan jawabannya.
"Berteman?" Alundra tersenyum sinis. "Tidak ada pertemanan antara pria dan wanita. Sekalipun ada, pasti salah satu diantara mereka memiliki perasaan lain. Dan kamu tahu, aku---"
"Kalau kamu masih mencintaiku, kenapa kamu harus mengakhiri hubungan kita, Lun?"
Alundra terdiam, ia mencoba mencerna ucapan Arsenio. Wanita cantik itu lalu terkekeh, saat menyadari betapa bodohnya ia mencintai pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Karena memang harus berakhir. Dan mungkin, seharusnya hubungan kita tidak pernah ada."
"Maksud kamu---"
"Sayang, ayo kita pulang!"
Gefanda tiba-tiba datang, pria paruh baya itu baru saja menyelesaikan administrasi dan mengurus kepulangan Alundra.
Dan tanpa sepatah katapun, Alundra pergi meninggalkan Arsenio yang mematung di tempatnya.
"Kak, kamu kenapa? Alundra mana?" Alora tidak menemukan keberadaan Alundra, bahkan di ruang rawatnya. Alora pikir, Alundra belum kembali.
Arsenio sedikit terkejut saat menyadari kehadiran Alora yang sudah berada di hadapannya.
"Ehh.. Ra, Alundra baru saja pergi," ucap pria itu.
Alora dan Roland baru kembali dari kantin. Sebenarnya Arsenio pun pergi bersama mereka, hanya saja pria itu kembali lebih dulu. Arsenio bahkan sengaja membelikan makanan untuk Alundra. Namun, Alundra sudah lebih dulu pergi sebelum Arsenio memberikannya.
"Kalau begitu, kita juga pergi," ucap Roland.
Dengan langkah cepat, ketiganya pergi meninggalkan rumah sakit.
...----------------...
Keesokan harinya.
Seorang pria tampan tampak duduk di sebuah restauran cukup mewah di kota itu. Pria tampan itu terlihat beberapa kali melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Ke mana wanita itu?" Gumamnya sedikit kesal.
Sudah hampir setengah jam pria tampan itu berada di sana. Namun, ia belum menemukan tanda-tanda kedatangan seseorang yang ditunggunya itu.
"Maaf, saya terlambat."
Tiba-tiba saja seorang wanita duduk di hadapan pria itu. Wanita itu mengenakan kacamata dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Siapa wanita ini? Dia bukan Qireia, gumam pria itu dalam hati.
To be continued
sementara alundra sedang berada diambang menuju ke move on an dari arsenio karena dia GK bakal sempet mikirin masa lalu kalo udh mulai dipepet SM pk dosen 🤣
ayo pk dosen jerat pak jerat biar alundra cepet move on dari si kadal buntung itu 🤣
ayo land bilang ke anakmu itu sebabnya krna alundra udh tau kebohongan mereka gtu 🙄