NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Manipulasi Finansial

Lembar dokumen palsu pengadaan barang mewah yayasan Dharma diletakkan di atas meja rias milik Nadia.

Kertas tebal berlogo emas itu tersembunyi sangat rapi di bawah tumpukan tanda terima butik desainer asal Paris. Savira menata ujung kertas tersebut menggunakan ujung telunjuknya. Permukaan meja marmer di depannya dipenuhi botol parfum beraroma mawar yang menyengat, kotak perhiasan beludru, dan serpihan bubuk kosmetik mahal yang berserakan.

Kertas dengan format persis seperti ini telah menghancurkan hidupnya di kehidupan pertama.

Ia mengingat jelas hawa beku kursi baja di ruang interogasi kepolisian. Lampu sorot putih membakar retinanya tanpa ampun. Tumpukan dokumen pengadaan fiktif dilemparkan kasar ke wajahnya, menuduhnya menggelapkan dana panti asuhan demi koleksi tas bertatahkan berlian.

Saat itu, ia menatap Wijaya Dharma menembus kaca sepihak ruang interogasi. Pria itu menyajikan senyum sopan kepada rentetan lensa kamera awak media, menggelengkan kepala dengan raut penuh simpati palsu, lalu membiarkan Savira membusuk di sel tahanan.

Malam ini, ia memutar balik hulu ledak peluru itu tepat ke arah pelipis sang putri kesayangan.

Savira menekan layar ponselnya dalam diam. Aplikasi kamera tersembunyi yang dipasang Aaron Jayanegara di balik jeruji ventilasi udara mulai berkedip aktif. Aaron hanya memberikannya akses mata digital, menolak turun tangan langsung menyusun skenario manipulasi finansial ini. Pria itu berpegang teguh pada aturan main mereka. Aaron bertugas menjaga nyawa Savira, sementara Savira bertugas memenangkan perangnya sendiri.

Suara ketukan hak tinggi beradu dengan lantai kayu terdengar merambat naik dari ujung tangga.

Savira memutar tubuhnya dengan tenang. Ia melangkah keluar dari kamar bernuansa pastel itu tanpa tergesa-gesa. Pintu berukir emas ia tarik hingga tertutup rapat, tepat beberapa detik sebelum siluet Nadia muncul di belokan tangga utama.

Nadia menghentikan langkahnya mendadak. Mata gadis itu memicing tajam, menangkap presensi Savira di area sayap barat rumah yang menjadi wilayah teritorialnya. Gaun sutra birunya berkibar pelan seiring napasnya yang memburu akibat amarah tertahan.

"Apa yang kamu cari di dekat kamarku?" Suara Nadia mengalun sinis, merobek udara lorong yang sepi.

Savira berdiri diam di posisinya. Matanya menyapu postur Nadia dari ujung rambut yang tertata sempurna hingga ujung sepatu hak tingginya. Tidak ada riak emosi yang terlintas di wajah Savira. Kekosongan tatapan itu justru memicu Nadia semakin mencengkeram tali tas kulit mahalnya.

"Memastikan kurir butik langgananmu menaruh semua kotak beludrumu di tempat yang benar." Savira merespons datar. Suaranya tidak memiliki intonasi ancaman, namun cukup dingin untuk menurunkan suhu di lorong tersebut. "Kamu baru saja mendapat kiriman paket gaun musim gugur yang menumpuk."

Nadia mendengus meremehkan, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Delusi bahwa dirinya adalah pusat rotasi keluarga ini mengambil alih seluruh fungsi logikanya.

"Sudah sepantasnya. Papa selalu memastikan aku mendapatkan koleksi eksklusif sebelum orang lain melihatnya." Nadia memangkas jarak di antara mereka dengan langkah agresif. Aroma mawarnya kembali menabrak wangi melati samar dari pakaian Savira. "Kamu mungkin mencuri tepuk tangan di panggung universitas kemarin. Tapi di rumah ini, kamu hanya tamu menumpang. Jangan berani menyentuh barang-barangku."

Savira membiarkan Nadia menabrak bahunya secara sengaja saat gadis itu melangkah melewatinya. Gesekan kasar itu tidak membuat pijakan Savira goyah satu milimeter pun. Ia menoleh perlahan, menatap punggung Nadia yang menghilang di balik pintu kamar dengan sudut bibir yang terangkat samar.

"Nikmati panggungmu, Nadia," bisik Savira pelan ke udara kosong.

Ia melangkah menjauh, menuruni anak tangga pualam dengan ritme teratur. Tangannya kembali masuk ke dalam saku, menggenggam ponselnya erat-erat. Layar gawai tersebut menampilkan siaran langsung dari kamera mini di dalam kamar Nadia.

Di layar digital, Nadia tampak melempar tasnya ke atas kasur dengan gerakan sembarangan. Gadis itu berjalan mendekati meja rias, menjatuhkan tubuhnya di atas kursi beludru, lalu menyalakan layar ponselnya sendiri. Jari-jarinya bergerak liar mengetik pesan, sibuk membalas rentetan pujian artifisial dari lingkaran sosialitanya.

Pandangan Nadia sesekali melirik tumpukan kotak berlogo merek mewah di sudut meja. Senyum kebanggaan merekah lebar di wajahnya. Tangan kirinya meraba tumpukan kertas tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel, lalu meraih pena tinta emas yang selalu tergeletak rapi di dekat cermin.

Kertas tanda terima pengiriman barang berada di urutan paling atas. Nadia menarik dokumen tersebut dengan gerakan ceroboh, menyingkap lembar kedua yang telah Savira susupkan secara presisi. Fokus sang putri tiruan sepenuhnya tertawan oleh layar ponsel yang terus berkedip menampilkan notifikasi pemujaan.

Tangan kiri Nadia menahan pinggiran kertas dokumen tanpa membacanya sama sekali. Tangan kanannya menari cepat, membubuhkan tanda tangan melingkar khas miliknya tepat di atas garis nama.

Satu lembar berlalu. Dua lembar terlewati. Tiga lembar tuntas.

Nadia baru saja menandatangani formulir persetujuan pencairan dana Yayasan Amal Dharma senilai belasan miliar rupiah untuk pengadaan alat medis fiktif. Rute aliran dana itu telah Savira belokkan langsung menuju rekening cangkang milik penjual perhiasan berlian ilegal di luar negeri.

Napas Savira tertahan satu ketukan di kerongkongan saat melihat tinta emas itu mengukir nama Nadia. Jantungnya berpacu brutal menghantam dinding dada. Darah mengalir deras memanaskan pembuluh darah lehernya, membawa sengatan euforia pembalasan yang meracuni setiap sel sarafnya.

Ia tidak membutuhkan sebilah belati untuk menyudahi riwayat Nadia. Arogansi dan kecerobohan gadis itu sendiri adalah algojo yang paling mematikan.

Nadia baru saja menggali kuburannya sendiri dengan tangannya. Wijaya Dharma adalah monster sosiopat yang menyembah reputasi publik di atas segalanya. Pria itu bisa menoleransi anak yang tidak berguna, tapi ia tidak akan pernah memberikan ampunan bagi anak yang menyeret nama yayasan sosialnya ke dalam selokan skandal korupsi.

Kapan pun auditor eksternal menemukan dokumen manipulasi ini esok pagi, nilai tukar Nadia di mata Wijaya akan hancur menjadi debu kotor. Sang putri kesayangan akan berubah wujud menjadi barang rongsokan pembawa aib.

Savira mendorong pintu kayu raksasa rumah keluarga Dharma. Hembusan angin malam langsung menerpa wajahnya, mengalirkan udara segar yang membersihkan paru-parunya dari racun bangunan megah ini.

Mobil sedan hitam tak bertanda milik Aaron sudah terparkir menunggunya di balik bayangan pohon ek besar. Kaca jendela pengemudi turun tanpa suara, menampilkan garis rahang tegas pria itu dari balik kemudi.

Savira membuka pintu penumpang, menjatuhkan tubuhnya ke atas jok kulit yang dingin. Ia tidak menoleh ke arah Aaron, pupil matanya masih terpaku pada pendaran layar ponsel yang merekam aktivitas Nadia di lantai atas.

"Barang buktinya sudah diresmikan?" Suara berat Aaron mengalun rendah mengisi kabin mobil. Pria itu langsung memindahkan tuas persneling tanpa menuntut penjelasan rinci.

"Dia menandatanganinya tanpa membaca satu huruf pun." Savira mengunci layar ponselnya perlahan. Gelapnya ruang kabin menyamarkan kilat buas yang menyala di dasar matanya. "Dia terlalu sibuk merayakan kekuasaan palsunya."

Aaron memutar kemudi membelah jalan aspal yang sepi. "Tim forensik audit independen akan menyerbu kantor yayasan besok tepat pukul delapan pagi. Salinan berkas digital itu sudah bersarang aman di peladen terenkripsi mereka."

Savira menyandarkan kepalanya menempel pada kaca jendela mobil. Sisa manis permen stroberi di mulutnya telah larut terbawa ludah, berganti dengan rasa besi berkarat yang amis. Perang ini baru memasuki babak pembuka. Ia menolak membiarkan Nadia hancur dalam satu malam. Ia akan menguliti lapisan perlindungan gadis itu satu per satu, mengeringkan semua sumber kasih sayangnya, hingga tidak ada lagi celah untuk bernapas.

Dunia digital esok hari tidak akan mengenal belas kasihan. Pasukan netizen yang hari ini memuja Nadia sebagai putri tanpa cela, besok akan berevolusi menjadi kawanan predator kelaparan yang mencabik-cabik dagingnya hidup-hidup. Mesin algoritma media sosial akan menyebarkan dokumen laknat itu lebih cepat dari rambatan api di ladang ilalang kering.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!