Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang melihat Sekar
"Bu... dingin, Bu... Sekar dingin..."
Suara lirih itu kembali terdengar di telinga Bu Ratmini.
Di dalam mimpinya, dia melihat Sekar berdiri jauh di tengah gelap malam. Gadis itu tampak pucat dengan tubuh sedikit gemetar sambil memeluk dirinya sendiri.
"Sekar..." Panggil Bu Ratmini panik.
Dia mencoba menghampiri putrinya, namun langkahnya terasa berat seolah ada sesuatu yang menahan kakinya.
"Bu... dingin..." Suara Sekar terdengar lagi, kali ini lebih lemah dan menyedihkan.
Hati Bu Ratmini langsung terasa diremas.
"Sekar, sini Nak." Ucapnya sambil menangis dan mengulurkan tangan.
Namun seperti mimpi-mimpi sebelumnya, jarak di antara mereka tidak pernah benar-benar dekat.
Kabut gelap perlahan kembali menyelimuti tubuh Sekar.
"Jangan tinggalin ibu." Tangis Bu Ratmini pecah.
Dan seketika dia terbangun dengan napas memburu.
Dadanya naik turun, sementara air mata sudah membasahi pipinya.
Bu Ratmini langsung memeluk tubuhnya sendiri sambil menahan tangis.
Sejak kepergian Sekar, beberapa malam ini hampir setiap malam dia mengalami mimpi-mimpi aneh seperti itu.
Sekar selalu datang dalam tidurnya.
Kadang memanggil namanya.
Kadang menangis.
Kadang hanya berdiri diam menatapnya dengan wajah sedih.
Dan setiap kali mimpi itu berakhir...
Bu Ratmini pasti terbangun dan sulit tidur lagi sampai pagi.
"Ya Allah... lindungi anakku..."
Suara Bu Ratmini lirih penuh harap di tengah gelap malam.
Wanita itu mengangkat kedua tangannya dengan tubuh yang masih gemetar setelah mimpi buruk tadi.
Air matanya terus jatuh tanpa bisa ditahan.
"Di mana pun Sekar berada, tolong jaga dia ya Allah." Bisiknya sambil terisak.
Hatinya benar-benar tidak tenang beberapa hari terakhir ini.
Mimpi-mimpi tentang Sekar terasa semakin nyata dan menyakitkan.
"Kalau memang dia masih hidup. pulangkan anakku dengan selamat." Lirihnya lagi.
Dan jika sesuatu buruk benar-benar terjadi pada Sekar.
Bu Ratmini bahkan tidak sanggup membayangkannya.
"Mas Lindu..."
Wulan menghampiri Lindu yang sejak tadi duduk diam di sisi ranjang dengan tatapan kosong.
Pria itu hanya menoleh sekilas.
"Ada apa?" Tanyanya dingin.
Wulan menunduk pelan sebelum duduk dengan jarak agak jauh darinya.
"Mas... aku tahu Mas sendiri pasti nda menginginkan pernikahan ini." Ucap Wulan lirih penuh penyesalan. Suaranya bergetar kecil, seolah setiap kata yang keluar terasa berat baginya.
Lindu terdiam. Tatapannya kosong menembus lantai kayu rumah itu. Malam terasa sunyi, hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar samar menemani kegelisahan mereka.
"Maaf..." Lanjut Wulan pelan sambil menggenggam jemarinya sendiri dengan gugup.
"Karena aku nda bisa menolak."
Ucapan itu membuat dada Lindu terasa sesak. Dia tahu Wulan berada dalam posisi sulit. Semua keputusan seolah sudah ditentukan oleh keluarga dan keadaan. Tidak ada yang benar-benar diberi pilihan, termasuk dirinya.
Lindu tak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi kayu di belakangnya. Matanya sempat terpejam beberapa detik, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Wulan." Katanya pelan akhirnya.
Wulan menatap Lindu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku juga nda sepenuhnya bisa melawan keadaan." Lindu tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
"Kadang hidup memaksa kita menerima sesuatu yang sebenarnya nda kita inginkan."
Suasana kembali hening. Namun kali ini, kesunyian itu terasa jauh lebih menyakitkan bagi keduanya.
Wulan perlahan mengangkat wajahnya.
"Kita berdua sama-sama terjebak."
Kalimat itu membuat dada Wulan terasa sesak.
"Kalau aku menolak keinginan orang tuaku untuk menikahimu." Lanjut Lindu dengan suara berat.
"Aku takut mereka kecewa untuk kedua kalinya."
Wulan langsung terdiam.
Dia bisa mendengar jelas rasa lelah dan luka dalam suara pria itu.
"Kita sama-sama terjebak, Wulan" Ucap Lindu pelan dengan tatapan kosong ke depan.
Wulan perlahan menatap pria itu.
"Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
Suara Lindu terdengar berat dan lelah, seolah dia sendiri sudah terlalu lelah memikirkan semua yang terjadi.
Malam itu, Gaga duduk sendirian di depan rumahnya sambil merokok pelan. Tatapannya kosong menembus gelap jalan desa yang mulai sepi.
Pikirannya masih dipenuhi tentang Sekar yang sampai sekarang belum ditemukan.
Saat itulah terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya.
"Gaga!" panggil seseorang.
Gaga langsung menoleh.
Ternyata Santa, salah satu temannya, datang dengan wajah tergesa-gesa.
"Ada apa?" Tanya Gaga sambil berdiri.
Santa langsung menghampirinya dengan napas sedikit terengah.
"Aku dapat kabar," ucapnya cepat.
"Kabar apa?"
"Soal Sekar."
Mata Gaga langsung berubah serius.
"Kenapa sama Sekar?" Tanyanya cepat.
Santa menelan ludah sebentar sebelum melanjutkan,
"Tadi aku ketemu sama kenalanku yang kerja di terminal kota."
Gaga langsung mendekat.
"Terus?"
"Katanya." Santa menurunkan suaranya pelan.
"Dia sempat lihat Sekar."
Jantung Gaga langsung berdegup keras mendengar ucapan itu.
"Kau yakin?" Tanyanya cepat.
"Apa benar yang dilihat itu Sekar?"
Santa mengangguk pelan.
"Aku juga awalnya nda percaya." katanya.
"Makanya aku tanya berkali-kali sama orang itu."
"Terus?"
"Katanya, dari ciri-cirinya, sepertinya memang Sekar."
Gaga langsung menatap Santa serius.
"Ciri-cirinya bagaimana?"
"Perempuan muda, rambut panjang, kulit putih, wajahnya cantik." Jawab Santa.
"Dan katanya wajah perempuan itu mirip sekali sama yang di foto yang dulu kau kasih."
Gaga langsung terdiam.
Dadanya mulai berdebar tidak karuan.
"Itu pasti Sekar." Lirihnya pelan.
Santa menghela napas kecil.
"Makanya aku langsung kesini begitu dengar kabar itu." Katanya.
Gaga langsung berdiri dari duduknya.
"Siapa orang terminal itu? Aku mau ketemu dia."
"Joko yang bilang," Jawab Santa cepat.
"Kernet bus yang biasa ke kota itu."
Gaga langsung mengangguk pelan.
"Joko?" ulangnya memastikan.
"Iya. Katanya dia sempat lihat perempuan yang mirip Sekar di terminal."
Gaga tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya berkata tegas,
"Besok kita ke terminal."
Santa mengangguk.
"Kita temui Joko langsung." Lanjut Gaga.
Entah kenapa, setelah sekian lama tidak mendapat petunjuk apa pun tentang Sekar.
Kabar kecil itu langsung membuat harapan di hati Gaga kembali muncul.
Santa langsung mengangguk cepat.
"Baik." Katanya.
"Nanti aku kabari yang lainnya juga."
Gaga menatap temannya itu serius.
"Besok pagi kita langsung pergi," kata Gaga tegas.
"Iya," sahut Santa sambil mengangguk.
"Nanti aku kabari yang lainnya juga malam ini."
Lindu kembali mengangguk kecil. Wajahnya tampak lelah setelah seharian penuh mencari Sekar tanpa hasil.
Setelah itu, Gaga kembali duduk pelan sambil menatap jalanan gelap di depan rumahnya.
"Semoga saja benar itu Sekar." Lirihnya hampir tak terdengar.
Santa menepuk pelan bahu temannya itu.
"Mudah-mudahan." Katanya.
Malam semakin larut, namun setelah sekian lama kehilangan jejak.
Untuk pertama kalinya, Gaga merasa memiliki sedikit harapan untuk menemukan Sekar.