Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Duel Darah Sangkala
Keris Kyai Kala Bayu menembus dada kiri Raka.
Darah hitam menyembur, tapi tidak seperti darah manusia biasa. Kental, dingin, berbau besi tua.
Raka terdiam. Matanya yang hitam pekat menatap Andi Sangkala tanpa berkedip.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Hanya kekosongan.
Andi Sangkala menyeringai di balik topeng tengkoraknya.
"Akhirnya... Kala Raja tumbang juga."
Tiga Wali yang tersisa langsung bersujud.
"Ampun, Tuan Sangkala! Ampun!"
Andi tidak menjawab. Dia memutar kerisnya pelan di dalam dada Raka.
"Kau pikir dengan membangkitkan Candi Cetho, kau bisa melawan aku? Kau masih bayi, Raka."
Raka tidak menjawab.
Dia hanya... tersenyum.
Senyum itu membuat Andi mengernyit.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Karena kau telat, Paman."
Suara Raka bukan lagi suara manusia. Bergema dari dua arah, berat, seperti datang dari dasar neraka.
"Keris itu... sudah menyatu dengan darahku."
DUAAARRR!!!
Ledakan energi hitam meledak dari tubuh Raka.
Andi terpental 5 meter ke belakang. Keris Kyai Kala Bayu terlepas dari tangannya.
Luka di dada Raka menutup sendiri. Darah hitam merayap kembali ke dalam tubuh, seperti ular yang pulang ke sarang.
Di punggungnya, bayangan Macan Hitam Kala Rahu mengaum. Kali ini suaranya nyata. Mengguncang seluruh Gunung Lawu.
"TIDAK MUNGKIN!"
Andi berdiri, suaranya pecah.
"Darah Sangkala tidak bisa menyatu dengan darah luar! Itu hukum kutukan!"
Raka mencabut Keris Kyai Kala Naga dari tanah.
"Hukum kutukan itu... sudah mati bersamamu 200 tahun lalu, Paman."
Raka menghilang.
SWOOSH!
Kecepatannya tidak manusiawi. Dalam sekejap dia sudah di depan Andi.
Keris Kala Naga diayunkan mendatar.
SRRRAAAKKK!!!
Topeng perak Andi retak. Garis merah muncul di pipi kirinya.
Darah merah... bukan hitam.
Andi Sangkala terpaku. Dia menyentuh pipinya.
"Darah...? Aku masih bisa berdarah?"
"Kau kira 200 tahun bersembunyi bikin kau jadi dewa?"
Raka menendang dada Andi.
"Kau cuma pengecut tua yang takut mati!"
Andi terpental. Tubuhnya menghantam tangga Candi Cetho. Batu kuno hancur berkeping-keping.
Tapi dia bangkit lagi. Keris Kala Bayu melayang kembali ke tangannya.
"Bagus, Raka."
Andi menyeka darah di pipinya. Matanya berubah. Dari dingin menjadi gila.
"Kalau begitu, aku akan keluarkan semua yang kusembunyikan 200 tahun ini!"
Andi menusukkan Keris Kala Bayu ke tanah.
"BANGKIT! BALA TENTARA BAYANGAN!"
Tanah di sekitar Candi Cetho retak.
Dari celah itu, keluar ratusan sosok hitam. Tanpa wajah. Tanpa suara. Hanya membawa pedang panjang yang bergetar.
Bala Tentara Bayangan Andi Sangkala.
Raka menatap itu semua. Tidak mundur.
"Oh? Main jumlah?"
Dia mengangkat Keris Kala Naga tinggi-tinggi.
Rantai hitam Rajah Kala yang tadi mengikat 3 Wali terlepas. Rantai itu melayang ke udara, berputar seperti naga hitam.
"Kalau begitu... kenalin."
"Ini 1000 jiwa pengkhianat Majapahit yang kubebaskan."
"KELUAR! MAKAN DIA!"
ROAAARRR!!!
Ratusan rantai hitam menyambar ke arah Bala Tentara Bayangan.
Perang antara pasukan kegelapan dimulai.
Darah hitam vs bayangan hitam.
Teriakan vs keheningan.
Kutukan vs kutukan.
Di tengah kekacauan itu, Raka dan Andi bertatapan lagi.
"Sekarang," kata Raka pelan.
"Cuma kita berdua."
Andi mengangguk.
"Akhirnya... duel darah Sangkala yang sebenarnya."
Dua keris bentrok lagi.
Hitam vs Biru.
Macan vs Angin.
Keponakan vs Paman.
BUAAAKKK!!! CRAAAKKK!!!
Langit terbelah untuk kedua kalinya malam ini.
Dan di atas mereka, Nyi Blorong yang sedari tadi diam... mulai tersenyum.
"Bagus... bunuh satu sama lain. Biar 9 pusaka jatuh ke tanganku semua."
BUAAAKKK!!! CRAAAKKK!!!*
Benturan kedua keris membuat seluruh puncak Candi Cetho bergetar.
Percikan biru dan hitam beterbangan seperti hujan api.
Setiap kali logam bertemu logam, tanah di bawah kaki mereka hancur sejauh 3 meter.
Raka terpental, tapi mendarat dengan satu tangan.
Bayangan Macan Hitam di punggungnya mengaum, cakarnya mencakar udara kosong.
"Kau cepat, Raka."
Andi Sangkala berputar, Keris Kala Bayu berputar mengikutinya seperti angin hidup.
"Tapi kau masih terlalu emosional. Kekuatan tanpa kendali hanya akan membunuhmu sendiri."
"Diem lu tua bangka!"
Raka meludah darah hitam.
"Kendali? Kendali gak bikin gue bisa balas dendam!"
Raka menyerang lagi.
Tebasan vertikal, horizontal, diagonal. Semua diarahkan ke titik vital Andi.
Tapi Andi hanya menghindar.
Gerakannya halus, seperti tarian. Angin hitam dari Keris Kala Bayu membelokkan setiap serangan Raka hanya beberapa milimeter.
SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!
"Lihat ini!"
Andi tiba-tiba menendang.
Sepatu kulitnya menghantam lutut Raka dengan kekuatan yang membuat tulang berderit.
KRAAKK!!!
Raka tersungkur. Lutut kanannya tertekuk ke arah yang salah.
Darah hitam mengucur lebih deras.
"ARGHHH!!!"
Andi tidak memberi napas.
Dia mengangkat Keris Kala Bayu tinggi-tinggi.
"Mati kau, Kala Raja palsu!"
Tapi yang tertusuk bukan Raka.
Rantai hitam Rajah Kala melilit kaki Andi dan menariknya mundur tepat 1 detik sebelum tusukan mendarat.
Raka merangkak, memegang lututnya.
"Gue... belum selesai..."
Matanya berubah.
Hitam pekat itu sekarang menyala merah tipis di bagian tengah.
Suara Kala Rahu bergema lebih keras di kepalanya:
"KASIH LIAT DIA RASA SAKITNYA 1000 JIWA, RAKA!"
Raka mengangkat Keris Kala Naga dengan tangan kiri.
Tangan kanannya mencengkeram tanah.
"RAJAH KALA... BANGKIT!"
Tanah di sekitar mereka meledak.
Dari 20 titik berbeda, rantai hitam keluar dan menyambar Bala Tentara Bayangan Andi.
SRRRAAAKKK!!! SRRRAAAKKK!!!
Satu per satu pasukan bayangan itu robek.
Tapi mereka tidak mati. Mereka pecah jadi asap hitam, lalu menyatu lagi.
"Gak guna!"
Andi tertawa.
"Mereka tidak hidup, Raka! Mereka tidak bisa mati!"
"Oh iya?"
Raka menyeringai.
"Kalau gitu..."
Dia menancapkan Keris Kala Naga ke tanah.
"MAKAN JUGA LU!"
Rantai hitam tiba-tiba berbelok.
100 rantai sekaligus mengikat kaki, tangan, leher Andi Sangkala.
"APA?!"
Andi memberontak.
"LEPASKAN AKU!"
"Gak bisa, Paman."
Raka berjalan mendekat, pincang, tapi matanya menyala.
"Rantai ini cuma bisa dilepas kalau kau ngaku... kalau kau salah."
"NGAKU SALAH? HAHA!"
Andi tertawa gila.
"Aku tidak pernah salah! Aku menyelamatkan Majapahit dari kau, Raka!"
"Menyelamatkan?"
Raka menendang dada Andi.
"Dengan nyuruh 7 Wali bunuh keponakan sendiri? Dengan nyembunyiin 9 pusaka biar lu jadi raja bayangan?"
"Kalau bukan aku, Majapahit sudah hancur 200 tahun lalu!"
Andi berteriak.
"Kau pikir darah Sangkala itu kutukan? Itu berkah! Itu kekuatan untuk menguasai dunia!"
Raka terdiam.
Kata-kata Andi menusuk lebih dalam dari keris mana pun.
"Berkah... ya?"
Raka berbisik.
"Kalau berkah, kenapa gue merasa kosong?"
Andi terdiam.
Untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya.
"Karena kau belum siap, Raka."
Suara Andi melembut.
"Kekuatan ini butuh harga. Dan harganya adalah... kemanusiaanmu."
"Gue gak butuh manusia."
Raka mengangkat keris.
"Gue butuh balas dendam."
SRRRAAAKKK!!!
Keris Kala Naga mengarah ke leher Andi.
Tapi tepat 1 cm sebelum menyentuh kulit, Raka berhenti.
Tangannya gemetar.
"Kenapa... kenapa gue gak bisa?"
Andi menatapnya.
"Karena di dalam dirimu... masih ada Raka Wiraatmaja yang dulu."
"DIAM!"
Raka berteriak.
"Dia sudah mati!"
"Kalau dia mati, kenapa kau ragu?"
Suasana hening.
Hanya suara perang antara rantai hitam dan pasukan bayangan yang terdengar.
Tiba-tiba, dari atas langit, terdengar suara Nyi Blorong:
"DUA-DUANYA LEMAH!"
Naga Emas turun menyambar.
Cakar emas sepanjang 20 cm mengarah ke kepala Raka dan Andi sekaligus.
"KALAU KALIAN GAK MAU BUNUH SATU SAMA LAIN... AKU YANG AKAN AMBIL SEMUA!"
ROAAARRR!!!
Raka dan Andi sama-sama melompat mundur.
Dua kekuatan besar bentrok lagi di udara.
"Sialan!"
Andi mengumpat.
"Nyi Blorong mau ngambil untung dari kita berdua!"
Raka menyeka darah di mulutnya.
"Bagus. Biarin dia dateng."
"Kenapa?"
Andi mengernyit.
"Karena gue butuh 9 pusaka."
Raka menatap Naga Emas itu dengan tatapan lapar.
"Dan dia bawa satu."
Perang tiga arah dimulai.
Rantai hitam vs Angin Hitam vs Naga Emas.
Candi Cetho yang sudah tua, akhirnya runtuh total malam itu.
GROOOANNNGGG!!!
---
*[BERSAMBUNG KE BAB 27: "PENGKHIANATAN NYI BLORONG"]*