Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup, Daniel!
Daniel memilih untuk tetap di sini, di tempatnya tinggal selama ini. Ia tahu posisinya, ia bukan pangeran dalam dongeng yang akan mengejar sang putri ke Jakarta. Ia hanyalah Daniel, seorang mekanik dan petarung jalanan yang tahu bahwa minyak dan air memang tidak akan pernah bisa bersatu, sekeras apa pun pengemulsi yang digunakan.
Namun, di tengah kesunyian itu, ia meraba saku jaketnya dan menyentuh selembar tisu noda d*r*h yang masih ia simpan, Daniel memejamkan mata dan membiarkan angin laut menyapu wajahnya yang kembali babak belur.
Di tempat ini, hidup memang kembali seperti semula, keras dan dingin. Namun kali ini, Daniel tahu bahwa ia sedang berbohong pada dunia, terutama pada dirinya sendiri.
Daniel tidak segera pulang ke bengkel, ia membiarkan motornya terparkir sembarangan di pinggir jalan dermaga sementara ia berjalan tertatih menuju bibir semen yang berbatasan langsung dengan air laut yang hitam pekat.
Rasa sakit di rusuknya yang baru saja dihantam berkali-kali terasa seperti diingatkan kembali pada momen ketika pengawal Viona menendangnya, namun kali ini tidak ada teriakan histeris Rachel yang memanggil namanya.
Daniel merogoh saku celananya dan mencari pemantik untuk menyulut rokok yang sudah sedikit penyok di bibirnya. Saat tangannya bergerak, ia merasakan gesekan kertas kecil di saku jaketnya. Itu bukan tisu bernoda darah yang tadi ia sentuh, melainkan sebuah robekan kecil kartu nama yang ia temukan di lantai bengkel setelah Rachel pergi, kartu nama Trinity Beauty yang terjatuh dari tas Viona.
Daniel menatap nama perusahaan itu di bawah cahaya remang lampu pelabuhan, nama yang mewakili tembok emas yang kini mengurung Rachel.
"Sial," umpatnya lirih, kepulan asap rokok keluar dari mulutnya yang bengkak.
Tiba-tiba, suara deru motor lain mendekat. Itu Dandi, pria itu tiba-tiba khawatir dan ia tidak bisa membiarkan bosnya mati konyol karena depresi. Dandi mematikan mesin motornya dan berjalan mendekat, membawa kantong plastik berisi beberapa kaleng bir dingin dan perban baru.
"Lo bener-bener nyari mati, El," ucap Dandi sambil duduk di samping Daniel tanpa permintaan izin.
Dandi menyodorkan satu kaleng bir yang langsung ditempelkan Daniel ke pipinya yang lebam sebelum dibuka.
"Gue cuma butuh keringat," jawab Daniel parau.
Keringat atau hukuman?" tanya Dandi.
"Lo ngerasa bersalah karena lo nolak tawaran Om Brian, kan? Lo ngerasa kalau lo bilang iya, dia nggak bakal telepon emaknya," lanjut Dandi.
Daniel tidak menyahut, ia justru menenggak bir dingin itu dengan rakus hingga urat lehernya menegang. Sensasi dingin yang beradu dengan luka robek di sudut bibirnya memberikan rasa perih yang nyata, sesuatu yang lebih ia mengerti daripada rasa sesak yang tak kasat mata.
"Gue nggak butuh dikasihani dan gue nggak ngerasa bersalah," ucap Daniel setelah menghela napas panjang, suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada besi tua.
"Gue nolak Om Brian karena gue sadar diri. Gue ini montir, bukan bodyguard sewaan, apalagi suami pajangan. Rachel itu berlian, sementara gue... gue cuma oli bekas yang nggak sengaja nempel di bajunya," ucap Daniel.
Dandi mendengus, ia membuka kaleng birnya sendiri. "Alasan klasik. Lo itu pengecut, El. Lo lebih milih digebukin gerombolan preman daripada ngaku kalau lo takut kehilangan tuh cewek. Lo pikir dengan nyiksa diri kayak gini, lo bisa lupain Rachel? Nggak, El!" ucap Dandi.
Daniel menoleh, tatapannya tajam dan dingin. "Gue cuma nggak mau dia hancur karena gue, lo liat sendiri emaknya kayak gimana, uang mereka bisa ngebeli pelabuhan ini kalau mereka mau. Kalau Rachel tetap di sini, hidupnya cuma bakal berisi pelarian dan ketakutan. Di sana... setidaknya dia nggak perlu tidur di atas tumpukan kardus," ucap Daniel.
"Tapi di sana dia nggak napas, El! Lo liat matanya pas dia di sini? Dia hidup! Sekarang dia balik jadi boneka lagi... dan lo? Lo malah duduk di sini kayak rongsokan nunggu karat," ucap Dandi dengan nada yang mulai meninggi.
Daniel terdiam, ia membuang puntung rokoknya ke laut dan melihat percikan apinya mati seketika ditelan kegelapan. Daniel mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya adalah yang paling logis, ia menghabiskan birnya dalam satu tegukan besar lalu meremas kalengnya hingga pipih.
"Gue bukan siapa-siapa buat dia, Dan. Kejadian kemarin itu cuma kebetulan, dia butuh tempat sembunyi dan gue kebetulan punya bengkel. Itu aja, nggak lebih," ucap Daniel dan mencoba mempertebal tembok pertahanan di hatinya.
"Ya udah, kalau emang cuma itu, kenapa lo nggak balik ke bengkel dan tidur? Kenapa lo malah nyari mampus di ring judi bawah tanah? Gue bukan orang bodoh, El. Gue tahu, ada yang nggak beres sama lo, setelah kepergian Rachel," ucap Dandi telak.
Daniel tidak bisa menjawab, ia berdiri dengan kaku dan mengabaikan rasa nyeri yang menusuk rusuknya setiap kali ia bergerak lalu menyambar jaket kulitnya dan mencoba menutupi tubuhnya yang babak belur.
"Gue mau balik, besok masih banyak kerjaan," ucap Daniel singkat.
Daniel melangkah menuju motornya, langkahnya masih sedikit gontai namun ia memaksakan diri untuk tegak.
Sepanjang perjalanan pulang, Daniel sengaja memacu motornya dengan kecepatan gila. Ia membiarkan angin malam yang dingin menghantam luka-lukanya, berharap rasa dingin itu bisa membekukan setiap kenangan tentang Rachel.
Namun, setiap kali ia melewati tikungan jalan yang menuju ke rumah susun Brian, tangannya tanpa sadar sedikit mengendurkan gas, seolah-olah ada magnet yang menariknya ke sana.
Sesampainya di bengkel, suasana sunyi menyambutnya. Daniel tidak langsung masuk ke kamarnya, ia berdiri di tengah-tengah area kerja dan menatap kursi plastik tempat Rachel duduk terakhir kali saat mengobati lukanya.
Daniel masih bisa melihat bayangan gadis itu, dengan kaos hitamnya yang kebesaran dan wajahnya yang serius penuh kekhawatiran.
Daniel berjalan menuju meja kerjanya, ia mengambil kartu nama Trinity Beauty yang tadi sempat ia remas dan menatap logo mewah perusahaan itu sekali lagi sebelum akhirnya melemparkannya ke dalam bak sampah besi di pojok ruangan.
"Cukup, Daniel!" bisik Daniel pada kegelapan.
Daniel masuk ke kamarnya, melepaskan sepatu dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busa tipis. Namun, bau oli yang biasanya menenangkan kini terasa berbeda.
Ada sisa aroma sabun dan wangi samar yang pernah Rachel tinggalkan di sana, Daniel menarik selimutnya kasar dan menutupi wajahnya, mencoba mematikan semua indranya. Ia terus mencari alasan, terus membangun narasi bahwa ia baik-baik saja.
Daniel percaya jika hidupnya sudah kembali ke jalur yang benar, namun di dalam sunyinya malam, detak jantungnya sendiri terdengar seperti pengkhianatan yang meneriakkan nama yang sama berulang kali.
.
.
.
Bersambung.....
Semoga Mommy Viona segera tersingkir dari kehidupan mereka