NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kota di Bawah Naungan Sekte

Setelah perjalanan selama enam jam, gerobak Lu Zheng akhirnya melintasi gerbang batu Kota Lanyu. Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti jalanan kota dengan kegelapan yang hanya dipecahkan oleh cahaya lentera minyak dari rumah-rumah penduduk. Dua menara batu menjulang di sisi gerbang dengan beberapa kultivator berjubah ungu berdiri berjaga di atasnya.

Wang Hao membuka matanya. Ia mengamati gerbang kota itu dengan tatapan datar, memperhatikan setiap detail yang bisa ditangkap oleh penglihatannya dalam cahaya redup.

"Tuan Muda," Lu Zheng menoleh dari kursi kusir. "Kita sudah sampai. Di mana Tuan Muda ingin turun?"

"Di pusat kota saja."

Lu Zheng mengangguk dan melanjutkan perjalanan melewati jalan-jalan batu yang masih ramai oleh pedagang malam. Toko-toko di sepanjang jalan menjual berbagai barang, mulai dari bahan makanan biasa hingga ramuan roh dalam botol-botol kaca murah. Beberapa kultivator berjubah longgar berjalan di antara kerumunan, beberapa di antaranya membawa pedang di punggung atau di pinggang.

Yue'er mencuri pandang ke belakang beberapa kali, memandang Wang Hao yang masih duduk bersila di antara peti-peti kain. Gadis itu membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkannya kembali.

Setelah melewati tiga persimpangan, gerobak berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan papan kayu bertuliskan

"Penginapan Cendana".

"Ini pusat kota, Tuan Muda," kata Lu Zheng sambil turun dari kusir. "Penginapan Cendana adalah tempat menginap yang cukup baik. Pemiliknya kenalanku."

Wang Hao melompat turun dari gerobak dengan ringan. Ia menepuk debu dari jubah hitamnya lalu menoleh ke arah Lu Zheng dan Yue'er.

"Terima kasih atas tumpangannya."

Lu Zheng menggeleng cepat. "Jangan bicara begitu, Tuan Muda. Kamilah yang berutang nyawa. Jika Tuan Muda tidak keberatan, biarkan aku membayarkan kamar untuk Tuan Muda malam ini. Itu hanya sedikit balasan."

Wang Hao memandang Lu Zheng sejenak. Pria paruh baya itu tidak menawarkan karena kasihan, melainkan karena benar-benar ingin membalas budi. Menolak tawaran itu hanya akan membuatnya tidak enak hati.

"Satu malam," kata Wang Hao akhirnya. "Setelah itu, hutangmu lunas."

Lu Zheng tersenyum lega. Ia segera masuk ke dalam penginapan dan kembali beberapa saat kemudian dengan sebuah kunci kayu bernomor.

"Kamar nomor tujuh di lantai atas, Tuan Muda. Sudah dibayar untuk satu malam."

Wang Hao menerima kunci itu dengan anggukan kecil. Ia menoleh ke arah Yue'er yang masih berdiri diam di samping gerobak.

"Kau ingin mengatakan sesuatu sejak tadi."

Yue'er tersentak. Wajahnya memerah, lalu ia menunduk dalam-dalam. "Aku... aku hanya ingin bertanya... apakah Tuan Muda akan tinggal lama di Kota Lanyu?"

"Tergantung keadaannya."

Gadis itu mengangguk pelan, masih menunduk. "Kalau begitu... sampai jumpa, Tuan Muda."

Wang Hao tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam Penginapan Cendana, meninggalkan Lu Zheng dan Yue'er yang masih berdiri di samping gerobak mereka.

Kamar nomor tujuh adalah ruangan kecil di ujung lorong lantai dua. Sebuah dipan kayu dengan bantal kain, meja rendah, dan lampu minyak kecil menjadi satu-satunya perabotan di dalamnya. Wang Hao menutup pintu di belakangnya, lalu duduk bersila di atas dipan kayu.

Udara di dalam kamar ini sedikit lebih hangat dibandingkan di luar, tetapi energi spiritual di kota ini masih terasa tipis. Wang Hao menutup mata dan memeriksa kondisi lautan spiritualnya.

Kondensasi Qi lapisan pertama masih stabil.

Ia menghabiskan sisa malam itu dengan bermeditasi. Bukan untuk meningkatkan kultivasinya, melainkan untuk memperkuat fondasi lapisan pertama yang baru saja ia bentuk. Setiap tetes energi spiritual yang masuk ke tubuhnya diolah dengan hati-hati, dipadatkan, lalu disimpan di dasar lautan spiritualnya.

Ketika fajar tiba, Wang Hao membuka matanya. Cahaya jingga lembut masuk melalui celah jendela kayu, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di dalam kamar.

Ia berdiri dan melangkah keluar, dan mengembalikan kunci. Setelah itu dia keluar penginapan.

Setibanya di luar, Kota Lanyu di pagi hari jauh lebih hidup dibandingkan malam sebelumnya. Para pedagang sudah membuka kios mereka, sementara kultivator dari berbagai tingkatan berjalan di sepanjang jalan batu.

Wang Hao berjalan perlahan di antara kerumunan sambil mengamati setiap toko, setiap papan nama, dan setiap percakapan yang terdengar oleh telinganya.

Di persimpangan utama, ia berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan papan nama emas bertuliskan "Balai Ramuan Giok Hijau". Etalase di bagian depan menampilkan puluhan botol ramuan dalam berbagai warna, dari yang paling murah hingga yang cukup mahal untuk ukuran kota kecil ini.

Wang Hao melangkah masuk.

Di dalam, seorang pria tua berjubah hijau duduk di belakang meja kayu panjang. Tangannya sibuk menggiling tanaman obat dalam lumpang batu, sementara beberapa botol ramuan setengah jadi berjejer di rak di belakangnya. Ketika ia melihat Wang Hao masuk, ia menghentikan pekerjaannya dan mengangkat alis.

"Pemuda, kau mencari sesuatu?"

Wang Hao berjalan mendekati etalase kaca yang menampilkan ramuan-ramuan jadi. Matanya bergerak cepat, memindai setiap label dan warna cairan di dalam botol. Setelah beberapa saat, ia menunjuk satu botol ramuan berwarna hijau keruh dengan label 'Ramuan Pemulihan Qi.'

"Ramuan ini," kata Wang Hao singkat.

Pria tua itu menoleh. "Ramuan Pemulihan Qi? Itu ramuan standar, hampir semua toko ramuan menjualnya."

"Aku tahu." Wang Hao mengangkat botol itu dan memiringkannya perlahan, memperhatikan endapan di dasarnya. "Takaran Daun Bunga Bulan di dalamnya terlalu banyak. Ramuan ini akan meninggalkan sisa racun di meridian setelah pemakaian ketiga."

Pria tua itu menegakkan tubuhnya. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Apa maksudmu, pemuda? Ramuan itu kubuat sendiri dengan resep standar dari Sekte Awan Ungu."

"Resep anda tidak salah, hanya tidak sempurna." Wang Hao meletakkan botol itu kembali ke etalase. "Jika anda mengurangi takaran Daun Bunga Bulan sebanyak sepertiga dan menambahkan setetes sari Akar Kayu Besi, efek pemulihannya akan naik dua kali lipat dan residu racunnya hilang."

Pria tua itu terdiam. Ia memandang Wang Hao dengan tatapan menilai, seolah mencoba menentukan apakah pemuda di hadapannya ini hanya bicara kosong atau benar-benar tahu apa yang ia katakan.

"Nama aku Gu Yan," katanya akhirnya. "Aku sudah meracik ramuan selama tiga puluh tahun. Tapi aku belum pernah mendengar metode seperti itu."

"Anda baru mendengarnya sekarang."

Gu Yan menghela napas panjang. "Baiklah. Akan kucoba resepmu. Tapi jika kau hanya mengada-ada, jangan harap bisa keluar dari toko ini dengan mudah."

Wang Hao tidak menanggapi ancaman itu. Ia hanya berdiri dengan tenang sementara Gu Yan mengambil beberapa tanaman obat dari rak dan mulai meracik sesuai instruksinya. Proses itu memakan waktu sekitar setengah jam.

Ketika ramuan baru itu selesai, warnanya berubah dari hijau keruh menjadi hijau bening dengan kilauan samar. Gu Yan menatap botol itu dengan mata membelalak. Ia mencelupkan jarinya dan mengecap sedikit, lalu wajahnya langsung berubah.

"Ini... ini jauh lebih baik," bisiknya pelan. "Tidak ada residu sama sekali."

"Tentu saja."

Gu Yan meletakkan botol itu dengan hati-hati, lalu menoleh ke arah Wang Hao dengan ekspresi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Rasa ingin tahu dan sedikit kekaguman kini bercampur di matanya.

"Siapa namamu, pemuda? Dan apa maumu datang ke tokoku?"

"Saya hanya butuh tempat tinggal untuk beberapa waktu," kata Wang Hao. "Resep tadi adalah pembayarannya."

Gu Yan mengerutkan kening. "Kau butuh tempat tinggal? Hanya itu?"

"Ya."

Pria tua itu merenung sejenak, kemudian ia mengangguk perlahan. "Aku punya gudang kecil di belakang toko. Tidak besar, tapi cukup untuk ditinggali. Jika kau bersedia... kau boleh tinggal di sana. Tapi..." Ia menatap Wang Hao dengan tajam. "Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Bisa jadi kau buronan dari kota lain."

"Saya bukan buronan."

"Mungkin benar, mungkin tidak." Gu Yan menyilangkan tangannya. "Tapi resepmu tadi cukup berharga untuk membuatku percaya. Gudang itu kosong, kau boleh memakainya."

Wang Hao mengangguk. "Cukup."

Gu Yan memandangnya beberapa saat lebih lama, lalu menghela napas. "Baiklah. Ikut aku."

Mereka berjalan melewati ruang belakang toko, lalu keluar ke halaman kecil yang dikelilingi pagar bambu. Sebuah gudang batu berdiri di sudut halaman dengan pintu kayu yang sudah agak lapuk. Gu Yan membuka pintunya dan menyalakan lampu minyak di dalam.

Gudang itu memang tidak besar, hanya sekitar empat langkah lebarnya. Tetapi di dalamnya terdapat dipan batu, meja kayu tua, dan beberapa rak kosong. Lantainya dari batu yang masih bersih, sementara sebuah jendela kecil di dinding belakang membiarkan cahaya pagi masuk.

"Maaf tempatnya sederhana," kata Gu Yan. "Tapi setidaknya kau tidak akan kehujanan."

"Ini sudah cukup."

Gu Yan mengangguk. "Kalau begitu, aku kembali ke depan. Kau bisa beristirahat dulu." Ia berbalik, tetapi berhenti di depan pintu. "Ah, satu hal lagi. Jika kau punya resep lain... atau saran tentang ramuan-ramuan di tokoku... aku bersedia membayar dengan harga yang pantas."

Wang Hao tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Gu Yan dengan tatapan tenang. "Kita lihat nanti."

Gu Yan mengangguk, lalu pergi, Wang Hao kemudian duduk di atas dipan batu dan menutup matanya. Dia telah mendapatkan tempat tinggal, itu adalah langkah pertama.

Sekarang ia harus merencanakan langkah selanjutnya. Kota Lanyu memiliki balai lelang dan berada di bawah perlindungan Sekte Awan Ungu. Itu berarti ada sumber daya, informasi, dan kesempatan yang bisa ia manfaatkan.

Tetapi semuanya harus dilakukan perlahan.

Wang Hao membuka matanya dan memandang ke luar jendela kecil. Langit pagi di Kota Lanyu cerah dan bersih, sangat berbeda dengan langit Dunia Dou Li yang terakhir kali ia lihat.

"Aku akan memulainya dari sini," gumamnya pelan.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!