BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pernikahan Kilat Tanpa Cinta
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut menggambarkan suasana hati Riko yang kelabu. Berdiri di depan cermin besar di salah satu ruangan Kantor Catatan Sipil, Riko menatap bayangannya sendiri. Dia mengenakan setelan jas hitam terbaik yang tersisa di lemarinya—jas yang dulu dia beli dengan keringatnya sendiri saat Pratama Corp baru saja memenangkan proyek pertamanya. Namun hari ini, jas itu membungkus tubuh seorang pria yang baru saja menjual kebebasannya lewat selembar kertas kontrak.
Riko merapikan dasinya dengan tangan yang sedikit kaku. Dadanya terasa sesak. Menikah selalu menjadi hal yang sakral dalam bayangannya dulu. Dia pernah bermimpi mengenakan jas seperti ini, berjalan menuju altar dengan senyuman tulus, menyambut wanita yang benar-benar dia cintai. Namun kenyataan menamparnya dengan keras. Hari ini dia menikah bukan karena cinta, melainkan karena utang dan paksaan keadaan.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka. Rani melangkah masuk dengan keanggunan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya. Dia tidak mengenakan gaun pengantin putih yang megah bersisikan payet mewah. Rani hanya mengenakan dress formal selutut berwarna putih gading dipadukan dengan blazer senada. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang dipulas riasan natural.
Dia tampak sangat cantik, namun juga tampak sangat tidak tersentuh.
Rani berhenti di samping Riko, menatap bayangan mereka berdua di cermin. "Kamu terlihat cukup rapi, Riko. Setidaknya tidak memalukan untuk bersanding denganku," ucap Rani datar, memecah keheningan.
Riko menoleh, menatap Rani dari samping. "Terima kasih atas 'pujiannya', Rani. Aku harap kamu juga sudah siap mental. Karena begitu kita keluar dari ruangan ini, sandiwara terbesar dalam hidup kita resmi dimulai."
Rani hanya mengangguk samar, namun sebelum dia sempat membalas, pintu ruangan kembali terbuka dengan kasar. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor bermerek dari ujung kepala hingga ujung kaki masuk dengan wajah cemberut. Di belakangnya, seorang pria paruh baya berwajah teduh mengikuti dengan langkah pelan. Mereka adalah Bu Siska dan Pak baskoro—orang tua Rani.
Bu Siska langsung menatap Riko dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan. Desahan napas meremehkan terdengar jelas dari hidungnya.
"Jadi... ini pria yang kamu agung-agungkan itu, Rani?" suara Bu Siska terdengar melengking dan sarat akan nada sinis. "Ibu kira kamu menolak Hendra karena sudah punya calon suami anak konglomerat atau pemilik saham asing. Ternyata cuma pria dari perusahaan kecil yang namanya bahkan tidak pernah masuk majalah bisnis top nasional? Apa yang kamu lihat dari pria ini, Rani?!"
Riko mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Urat-urat di rahangnya menegang. Sebagai seorang pria yang selalu mandiri dan membangun usahanya dari nol, diremehkan secara terang-terangan seperti ini membuat darahnya mendidih. Dia ingin sekali membalas, namun bayangan cek 4,5 miliar di saku jasnya memaksa Riko untuk menelan kembali harga dirinya bulat-bulat. Dia harus bertahan demi perusahaannya.
"Ibu, jaga ucapan Ibu," potong Rani dengan suara yang rendah namun sangat tegas. Sorot matanya menajam menatap ibunya sendiri. "Riko adalah pilihanku. Dia bukan pria yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua seperti Hendra. Riko memiliki otak bisnis yang jenius, dan aku tidak butuh harta pria lain karena hartaku sendiri sudah lebih dari cukup."
Bu Siska mendengus, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Jenius kamu bilang? Perusahaan kecilnya itu paling sebentar lagi juga gulung tikar kalau berani bersaing dengan Rani Group. Ibu benar-benar tidak habis pikir, Rani. Kamu itu CEO wanita paling sukses, tapi seleramu dalam memilih suami sangat menjatuhkan martabat keluarga kita! Mau ditaruh di mana muka Ibu kalau teman-teman arisan Ibu tahu menantu Ibu cuma pengusaha kelas teri?"
"Cukup, Siska," Pak Baskoro akhirnya angkat bicara, memegang pundak istrinya untuk menenangkannya. Beliau memandang Riko dengan tatapan bersalah, lalu tersenyum tipis. "Ini pilihan anak kita. Yang penting mereka saling menyayangi dan bisa menjaga satu sama lain. Sudah, petugas catatan sipil sudah menunggu di dalam."
Riko menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Dia melirik Rani, dan entah mengapa, melihat bagaimana Rani membelanya di depan ibunya barusan membuat rasa kesal Riko sedikit mereda. Wanita itu, meskipun dingin, ternyata tahu bagaimana cara menjaga wibawa suaminya—meski statusnya hanya suami sewaan.
Prosesi pendaftaran pernikahan berlangsung dengan sangat cepat, dingin, dan efisien. Tidak ada dekorasi bunga yang indah, tidak ada alunan musik romantis, dan tidak ada ciuman mesra setelah cincin disematkan. Di hadapan petugas dan saksi, Riko dan Rani mengucapkan janji pernikahan mereka dengan suara yang lantang namun hampa dari emosi cinta.
Begitu pena digoreskan di atas buku nikah, mereka resmi dinyatakan sebagai suami istri yang sah di mata hukum.
Setelah prosesi yang kaku itu selesai, mereka berjalan keluar menuju lobi gedung. Bu Siska bahkan tidak sudi mengucapkan selamat pada Riko. Wanita paruh baya itu langsung melengos pergi menuju mobil Alphard-nya sembari mengomel sepanjang jalan, diikuti oleh Pak Baskoro yang sempat menepuk pundak Riko pelan seolah memberikan kekuatan.
Di lobi yang mulai sepi, Riko melepaskan cincin pernikahan dari jarinya dan menatapnya dengan pandangan getir, namun suara Rani menghentikan gerakannya.
"Jangan dilepas, Riko. Aturan nomor satu, cincin itu harus tetap berada di jarimu selama berada di luar rumah," ucap Rani sembari memakai kacamata hitamnya.
Riko mengembuskan napas pendek, lalu memasukkan kembali cincin itu ke jemarinya. "Ibumu benar-benar luar biasa, Rani. Sekarang aku tahu dari mana sifat dingin dan keras kepalamu itu berasal."
Rani menghentikan langkahnya, berbalik menatap Riko dari balik kacamata hitamnya. "Ibuku memang keterlaluan, dan aku minta maaf atas ucapannya tadi. Tapi setidaknya, hari ini kita berhasil menggagalkan rencana perjodohan dengan Hendra. Peranku sudah selesai untuk hari ini, sekarang giliranmu."
Rani memberi isyarat kepada Gita yang berdiri tidak jauh dari mereka. Gita berjalan mendekat sembari membawa sebuah kunci mobil mewah dan sebuah dokumen baru.
"Hari ini, kamu resmi pindah total ke rumahku, Riko," ujar Rani, menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Riko. "Gita sudah mengatur tim untuk memindahkan sisa barang-barang pribadimu dari rumah lamamu ke rumahku siang ini. Kamu tidak perlu kembali ke rumahmu lagi. Mulai malam ini, kamu adalah bagian dari rumah pribadiku."
Riko menerima kunci mobil itu, merasakan beratnya tanggung jawab baru yang kini harus dia pikul. Rumah pribadinya kini akan dihuni oleh orang lain, dan dia harus berbagi atap dengan wanita yang selama tiga tahun ini dia anggap sebagai musuh bebuyutan.
"Baiklah, Istriku," ucap Riko dengan nada sarkasme yang tipis namun sengaja ditekankan pada kata terakhir. "Aku akan pergi ke kantor dulu untuk menyelesaikan administrasi bank, lalu aku akan langsung menuju... 'neraka' baruku malam ini."
Rani tidak membalas sindiran itu. Dia hanya membalikkan badan dan melangkah anggun menuju mobilnya yang sudah menunggu di lobi, meninggalkan Riko yang kini menatap langit Jakarta yang perlahan mulai menumpahkan rintik hujan pertamanya. Pernikahan tanpa cinta ini telah resmi dimulai, dan keduanya tahu, jalan di depan mereka tidak akan pernah mudah.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄