NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Mantanku

Menikahi Bos Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Me Akikaze

"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Wira, teman satu kantor Binar. Seketika pertanyaan itu membuatnya terdiam beberapa saat. Di sana ada suaminya, Tama. Tama hanya terdiam sambil menikmati minumannya.

"Suamiku sudah meninggal," jawab Binar dengan santainya. Seketika Tama menatap lurus ke arah Binar. Tidak menyangka jika wanita itu akan mengatakan hal demikian, tapi tidak ada protes darinya. Dia tetap tenang meskipun dinyatakan meninggal oleh Binar, yang masih berstatus istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Akikaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyesakkan

Benar adanya jika roda berputar, kadang yang di bawah akan ada di atas, begitu juga sebaliknya. Begitupun hidup. Siapa yang menyangka, bahwa nasib itulah yang dialami oleh keluarga Tama. Setelah pernikahan dihelat, perusahaan keluarganya benar-benar nyata pailit.

Bukan hal mudah untuk dihadapi, yang biasanya hanya tinggal tunjuk ini itu. Keluarga Hutama pun harus menyesuaikan dirinya. Tama harus bekerja untuk kehidupan barunya, berbekal keahlian dan kepawaiannya di perusahaannya dulu, tak butuh waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan di tempat baru. Walau harus merangkak dari bawah, tak masalah baginya.

Sementara, Ratih —Ibu Tama— pun harus menyesuaikan dirinya menjadi serba kekurangan, suaminya sontak mengalami syok dan meninggal tak lama setelahnya. Praktis kini dia tinggal sendirian di kota kelahiran Tama. Masih hendak beranjak di kota tersebut meski Tama sudah berusaha mengajaknya tinggal.

Rasa hangatnya yang dulu ditujukan untuk Binar pun tak sehangat dulu, perlahan memudar. Dan bahkan menganggap Binar adalah pembawa sial keluarganya, hingga sekarang dingin. Hanya kebencian.

Suara dari klien memenuhi ruang rapat ini, ini adalah rapat perdana yang Binar ikuti bersama Aksa. Otaknya berusaha sangat keras mengikuti agenda rapat ini, kenapa? karena pikirannya penuh dengan adegan di pantry tadi. Sungguh dia harus bekerja keras.

Beberapa kali Aksa melirik apa yang dilakukan sekretaris baru.

Rapat usai, semuanya keluar. Begitu juga dengan Binar. Mengekor di belakang Aksa dan juga Putra.

"Siapkan resume rapat setelah ini, saya tunggu 15" Aksa melepaskan kancing di pergelangan kemeja putihnya sambil melonggarkan dasi warna abu tua itu.

"Baik, Pak" jawab Binar. Serasa siap namun hatinya tidak terkendali, ada yang mengganjalnya. Binar menarik kursinya dan bergegas meresume hasil rapat barusan. Sesekali dia mengusap wajahnya, menggeleng dan mencoba mengingat. Beberapa kali terlihat frustasi.

"Apakah sesulit itu membuat resume?" tanya Putra yang memperhatikan Binar sejak berada di ruang rapat tadi.

"Oh Pak Putra? tidak Pak," jawab Binar dengan gagap.

"Apa mbak Binar sedang tidak enak badan?" tanya Putra mendekat, memperhatikan Binar yang wajahnya nampak kusut. Binar merasa bersalah, di hari pertamanya kerja, bukan malah menunjukkan kinerja terbaiknya, malah terdiktrasi dengan kejadin tadi.

"Apa mbak Binar nanti tidak bisa menemani Pak Aksa?"

"Oh...oh bisa kok pak, saya hanya menyesuaikan diri saja," Binar tidak mau terlihat buruk.

"Seharusnya tidak menunjukkan wajah tidak profesional, Pak Aksa tidak suka hal itu,"

"Maaf Pak" Binar merasa bersalah.

Binar kembali melanjutkan pekerjaannya, dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, dilakukan beberapa kali agar dia tenang. Binar mengambil jepit rambut yang ada di tasnya dan merapikan rambutnya, agar tidak terasa gerah. Udara dari pendingin ruangan rasanya tak mampu menepis rasa panas di dadanya.

Sementara, suara pintu diketuk, Aksa melihat siapa yang datang. Setelah Putra memberi tahu jika Helena sudah menunggu sedari tadi untuk urusan pekerjaan. Helena adalah rekan kerja dari perusahaan yang sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan Aksa. Wanita cantik dengan kaki jenjang itu mendekat ke arah Aksa.

"Selamat siang, Pak" sapanya. Di samping Helena, Putra ada di sana.

"Silahkan duduk," Aksa mempersilahkan. Menurut Putra, Helena adalah salah satu pebisnis yang sudah 2 tahun belakangan bekerjasama dengan salah satu anak perusahaan yang kini dipegang oleh Aksa. Seorang wanita muda yang sudah sukses.

"Terima kasih, Pak" Helena menyunggingkan senyum manis dan duduk dengan tenang di kursi seberang meja Aksa. Aksa kembali memeriksa berkas yang sudah dia baca semalam, ada rasa tertarik untuk menjajaki bisnis dengan Helena.

"Ok, nampaknya menarik, dan kapan kita akan meeting untuk membicarakannya lebih lanjut?" Aksa membuka peluang, gadis itu nampak sangat senang.

"Saya akan mengikuti jadwal Pak Aksa," ungkapnya dengan senang hati, akhirnya salah satu mimpi besarnya sudah terlihat. Yaitu ingin mengembangkan mall yang kini dipegang oleh keluarga Aksa.

***

Banya kejutan yang Binar rasakan di hari pertama kerja, kejutan yang paling wow adalah melihat Tama, suaminya sendiri tengah bermesraan dengan wanita lain. Binar tersenyum kecut, menertawakan nasibnya yang benar-benar tidak baik. Laki-laki yang harusnya menjadi pelindungnya, yang dulu memperjuangkannya, yang dulu menjanjikan bahagia, nyatanya zonk.

Binar mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia tengah bersiap diri untuk pergi ke undangan dan urusan kerjaan dengan Aksa. Binar menarik kursi dan mematut dirinya di depan cermin.

Terdengar suara mobil dari luar, dia meyakini jika itu adalah mobil Tama. Binar masih sibuk mengoles make up ke wajahnya. Tak berapa lama terdengar derap kaki mendekat ke arah kamar. Tidak salah, Tama yang datang. Ini adalah salah satu kepulangan tersore yang dilakukan suaminya.

"Kamu mau balik kerja lagi atau...?" Tama menggantung kalimatnya, tangannya meletakkan tas dan melonggarkan dasinya. Biasanya Binar akan menerima dasi dan baju kotornya, kali ini Binar tak bergeming. Dia masih sibuk dengan dirinya.

"Iya," jawab Binar singkat tanpa melihat langsung ke arah Tama, hanya sekelebat bayangan di cermin yang terlihat. Tama sedang melepas kemejanya. Kemeja warna biru muda yang sama persis di kantor tadi.

"Sampai jam berapa?"

"Entahlah, kenapa mas?" tanya Binar yang tinggal memoles lipstik di bibirnya"

Tama menghela nafas, lalu duduk di bibir ranjang. Melihat Binar yang cuek terhadapnya.

"Aku tidak suka jika kamu pulang larut,"

Binar masih memegang lipstik warna nude nya, lalu perlahan melihat ke arah Aksa.

"Aku lebih tidak suka jika dipandang sebelah mata, mas." Binar melanjutkan memoles lipstik ke arah bibirnya dan kembali melihat ke arah cermin.

"Apakah perkataan Mama begitu menyakitkan sehingga kamu memendam amarah, Binar?"

Binar menutup lipstiknya, lalu berdiri. Membuka lemari dan memilih baju yang sesuai untuk acara malam ini. Binar memilih baju semi formal dengan lengan pendek dan celana panjang.

"Mas, nyatanya aku cuma manusia biasa, dan ternyata aku memang memikirkannya," Binar masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju. Tama mencelos, bahkan kini ganti baju pun tidak terlihat olehnya.

Tama masih berada di kamar. Binar kembali masuk ke dalam kamarnya sudah dengan baju gantinya, rambutnya tergerai, Binar mengambil jepit rambut dan menjepitnya agar terlihat lebih rapi.

"Kamu mau aku antar?" Tama menwarkan.

"Terima kasih, mas, tapi aku sudah memesan taksi online, sebentar lagi sampai" jawba Binar dingin. Tama kembali menghela nafas panjang, dia mengangguk. Merasakan betapa dinginnya Binar kini, tidak menyangka lingkungan kerja yang baru sehari itu merubah Binar secepat itu.

Sekembalinya melihat Binar berangkat kerja, Tama kembali ke kamar. Pandangannya tertuju pada meja rias, dia menemukan cincin, tidak salah lagi itu adalah cincin pernikahan mereka. Binar memilih melepasnya. Tama mengambil lalu melihatnya dengan seksama.

Nyatanya Tama sudah lama tidak memakai cincin pernikahannya, dan Binar menyadari hal itu.

Binar duduk dengan tenang di taksi yang dia pesan menuju alamat di mana dia dan Aksa akan bertemu. Tidak sepenuhnya dia tenang, karena batinnya tengah bergejolak. Tak terasa matanya terasa berembun, dadanya sesak, dan tenggorokannya sakit. Binar ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi rasa malu masih memagarinya. Dia tidak mau terlihat buruk di mata orang asing, yaitu sopir taksi. Binar mengambil tisu yang ada di tasnya, kini dia rajin membawa tisu kemana-mana. Binar mengusap air mata yang menitik di bawah matanya. Lalu dia menghirup nafas sedalam mungkin agar dirinya jauh lebih tenang.

1
Indriani Kartini
lanjut thor
sunaryati jarum
Akhirnya setelah sekian lama up juga.Terima kasih,Tamu benar-benar benar serakah dan tidak tahu diri.Setelsh ketahuan pengkhiatan pada perusahaan tempat bekerja,ini ingin menguasai perusahaan Helena.Aka jadi perseteruan yang seru.
Me Akikaze: aaa... makasih lho masih ditunggu. iya kakak.... ini author masyaAllah sekali kerjaan di dunia nyata. hihi
total 1 replies
sunaryati jarum
Ini mau lanjut ndak, Thoor .kok lama belum up
sunaryati jarum
Ujian menjelang pernikahan biasanya pertanda kebahagiaan akan datang
Sunaryati
Binar sesuatu yang baik dan dapat banyak rintangan di perjalanan akan meraih kebahagiaan selanjutnya.Jangan bimbang dan ragu,percayakan dan beri dukungan pada Aksa agar segera dapat mengatasi masalah perusahaan yang dibuat Tama.Dengan kerja sama dengan Hanzen yang tahu dan mempunyai bukti pengkhianatan Tama,dan tak akan terseret tok kau juga tidak tahu Nak Binar
Sunaryati
Jangan khawatir Binar Aksa akan melindungi mu.Kebenaran pasti terungkap.
Sunaryati
Kenapa kamu harus memikirkan Tama, biarkan toh dia sudah sengaja, dan menggelapkan dana perusahaan juga, karena berniat mendirikan perusahaan sendiri. Ingin hati menghancurkan Aksa malah hancur berkeping-keping. Membuang o
istri yang setia malah mungut perempuan busuk. 🤣🤣🤣🤭 Bagaimana ya reaksi ibumu yang menghina dan memfitnah Binar dan orang tuanya, ternyata anaknya selain pengkhianat di dalam rumah tangganya juga pengkhianat di perusahaan yang memberinya nafkah. Penjara menantimu, Tama
Sunaryati
Emak selalu tunggu tapi jangan kelamaan, entar lupa alurnya, maklum nenek- nenek. Cerita ini emak suka jangan putus fi tengah jalan. Karmamu otw bukan dari balasan Binar tapi pikiran dan tindakan kamu sendiri yang mengkhianati perusahaan. Ingat bukan kamu yang hancur, mungkin perusahaan Helena sebentar lagi juga akan dihancurkan. Agar kau tidak bisa berlindung di manapun, kecuali PENJARA!!! 🤣🤣🤣✋✋🤭
Sunaryati
Mana upnya Thoor 🙏🙏🙏 jangan putus tengah jalan
Sunaryati
Kamu itu sudah salah dan masuk jebakan Hansen. Tama- Tama kamu tidak merasa ya, jika Hanzen menarik kamu ke dalam jurang kehancuran karirmu, untuk menghancurkan hubungan kamu dengan Helena istrimu yang mengandung anak Hansen
Sunaryati
Tama - Tama selain mengkhianati istri kau juga mengkhianati perusahaan yang telah memberi kehidupan kamu dn ibumu. Karena tindakan kamu kamu pun dibodohi istri barumu. Segera menikah Binar dan Nak Aksa. Kemudian tangkap Tama. Suruh mengembalikan uang perusahaan yang dirugikan dan penjarakan. Emak tak sabar menunggu kehancuran Tama dan Ibunya.
Sunaryati
Kamu ternyata selain bodoh juga berhati kotor, selain jadi pengkhianat di rumah tanggamu juga jadi pengkhianat perusahaan. Kamu akan mendapatkan karma dari tanganmu sendiri. Hanzen Sepak terjang Tama selalu diawasi maka keterlibatan kamu juga diketahui Aksa
Sunaryati
Upnya jangan lama- lama Thoor
Sunaryati
Ternyata kamu siap masuk penjara Tama, jangan kau kira Tuan Aksa tidak tahu, beliau hanya ingin kau digiring masuk jebakan, dan hap tinggal tangkap serahkan polisi.
✋✋✋ emak suka ini Tama tahu hasil lab bahwa dia yang akan tidak bisa memberi anak, kamu mengawasi untuk mengetahui lelaki yang menanam benih fi rahimnya, kau pun diawasi orang kepercayaan Aksa untuk menambah bukti pengkhianatan kamu
Sunaryati
Ingat Tama, kau berani khianat di mana tempat kau memperoleh penghasilan bukan hanya kamu yang hancur tapi perusahaan yang kau bantu juga akan dihancurkan, jika itu perusahaan Helena, bersiaplah jadi gembel. Emak akan bertepuk tangan.
Dilla Fadilla
Thor kapan karmanya Tama 😡
Sunaryati
Ya kalau malu berarti Anda masih waras Ny Ratih yang selingkuh anakmu kok ngelabrak Binar dan besan. Segera menikah dan punya anak, Nak Aksa dan Binar. Emak berharap Hanzen berdebat dengan Helena soal anak yang dikandung Helena, dan Tama mendengarkan
Dilla Fadilla
detik detik kehancuran Tama plus Helena karma otw😡💪
Sunaryati
Semoga keluarga yang sakit segera sembuh pulih sedia kala, Thoor🙏💪
Sunaryati
Duh drama Helena, kamu itu hanya takut ditinggalkan Bima, itu sepertinya akan terjadi bila uang tutup mulut untuk Hansen berhenti. Emak harap setelah pernikahan Nak Aksa dengan Binar, kebenaran tentang kandungan Helena terbongkar, agar tidak merasa di atas angin.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!