Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merindukanmu 2
Fandyka
Sudah dua hari Nawal pergi tanpa kabar. Kemarin aku pun sudah mengunjungi bapak dan ibu mertuaku. Mencari tau tentang keberadaan Nawal. Aku menyesal. Aku ingin menebus kesalahanku padanya selama ini. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya, mengutarakan beribu maaf. Mungkin inilah takdirku. Aku tidak mungkin bisa bersama Mila lagi.
Mila. Wanita yang amat sangat ku cintai, Maaf telah meninggalkanmu. Kamu patut dan berhak marah padaku. Aku tau, kesalahanku fatal dan nggak bisa di maafkan. Tapi percayalah, saat ini aku masih sangat mencintaimu mil. Sungguh!.
Kemarin, aku fikir Nawal berada di desanya. Namun alangkah terkejutnya aku, ayah dan ibuku. Nawal tidak pulang ke sana dan tidak memberi kabar pada mereka. Bahkan, bapak dan ibu mertua begitu terkejut pula mendengar kabar bahwa Nawal pergi tanpa memberi kabar pada mereka, orang tuanya. Terlebih lagi, saat mereka mendengar dariku bahwa saat ini, Nawal tengah mengandung buah hati kami.
Aku bersimpuh di hadapan bapak dan ibu mertua, menceritakan tentang kejahatanku pada Nawal selama ini. Aku tak pernah memperlakukannya dengan baik. Aku menyakiti hatinya, menghancurkan perasaannya, sering mendiamkannya, menduakannya, dan menghinanya.
Tebak bagaimana reaksi mereka saat mendengar pengakuanku?
Mereka memang kecewa padaku. Namun tidak marah begitu saja dengan sikapku yang keterlaluan ini. mereka bilang, marah pun tidak akan menyelesaikan masalah. Sungguh, terbuat dari apa hati mertua ku ini? Bahkan setelah aku memperlakukan putri mereka dengan buruk, mereka masih mau menerima ku dan memperlakukanku dengan baik. Aku benar-benar sangat malu kali ini.
"Maaf buk, pak Maaf". Aku menunduk dan menangis penyesalan. Hanya kata maaf yang mau ku keluarkan setelah menceritakan semua yang terjadi. Ayah dan ibuku juga tak kalah sedih denganku. Yang menjadi masalah utama sekarang adalah, Dimana nawal dan bagaimana keadaannya dan kandungannya sekarang?
"Fandy. Kamu dan Nawal, kalian udah sama-sama dewasa. Meski Nawal jauh lebih dewasa karna usianya yang lebih matang dari kamu. Ketahuilah nak, sesungguhnya Nawal anak yang rapuh hatinya meski terlihat tegar menghadapi masalah apapun. Nawal itu.... anaknya cenderung menyembunyikan kesedihannya dan enggan membaginya dengan orang lain. Terakhir kali dia menelpon ibu seminggu yang lalu, Dia bilang bahwa dia sangat mencintai kamu. Dia juga tidak cerita kalau saat ini tengah mengandung. Tapi bunda yakin, saat ia mengatakan hal itu, sesungguhnya dia menyimpan kesedihan yang mendalam dari ibu". Kata ibu dengan perlahan sembari mengusap air matanya yang mengalir. Aku semakin merasa bersalah mendengarnya
"Maaf buk, Fandy janji, akan cari Nawal dan akan membawanya kembali untuk ibuk dan bapak. Fandy janji".
Setelah puas berbincang-bincang dengan bapak dan ibu, Aku bergegas kembali ke Banyuwangi. Menemui teman Nawal. Mungkin ada petunjuk disana, bisa saja nawal sudah menghubungi sahabatnya itu. Selain itu, aku juga berniat untuk mengembalikan uang dua juta yang sempat Nawal pinjam darinya.
Pada hari itu juga, Aku pulang ke rumahku, di Banyuwangi. Aku langsung saja menemui Nila, tanpa pulang kerumah terlebih dulu. Aku sampai disana tepat sore hari di waktu hampir jam pulang kerja. Aku sengaja masuk ke ruangan pak Bambang meminta ijin padanya untuk menemui nila dan mengajaknya pulang duluan. Aku udah nggak sabar ingin bicara dengannya mengenai Istriku.
Dan disinilah saat ini aku dan nila, duduk saling berhadapan di sebuah warung lesehan tepat di depan kantor nila.
"Maaf mbak, Ini aku mau ngembaliin uang yang dipinjam istriku kemaren?".
"Baru sadar kalau Nawal istri kamu? Kemaren kemana aja?", tanya nya dengan nada santai.
"Aku tau aku udah keterlaluan mbak. Aku nyesel".
"Jadi, apa yang buat kamu nyesel?".
"Kepergiannya", Aku menjawab mantap.
"Kenapa setelah Nawal pergi kamu baru nyesel?", nila bersedekap dengan angkuh di depanku.
"Intinya aku kesini cuma mau minta tolong sama mbak nila, kabari aku kalau ketemu atau dapet kabar apapun dari istriku".
"Lalu istri muda mu di kemanain?". Aku diam tanpa bisa menjawab. Lidahku terasa kelu.
"Aku harus gimana untuk menebus semua dosa dan kesalahanku mbak? Kalau ada cara lain untuk mewujudkan penyesalanku, katakan apa itu?? Pasti aku lakukan. Mbak nila boleh aja menyalahkan dan menghakimiku karna memang .... aku yang salah. Tapi tolong, beri tahu aku dimana istriku. Beri aku hukuman apapun asal jangan jauhkan dia dariku. Aku khawatir dengan keadaannya mbak, tolong aku".
"Apa bener kamu udah nyesel dengan semua ya? Apakah itu artinya, kamu udah mulai suka dengan Nawal". Aku mendesah lelah, merasa bingung dengan pertanyaan seperti ini.
"Terlepas aku suka atau enggak dengan Nawal, Yang jelas, aku ingin memperbaiki semuanya mbak. Aku ingin mulai belajar mencintainya. Harapan aku cuma satu, aku ingin istriku memaafkan dan kembali menerimaku untuk memulainya dari awal", aku berucap dengan lirih.
Aku merasa ragu dengan yang namanya nila ini. Aku menyadari ada gelagat aneh dari reaksinya. Aku yakin, pasti ada yang di sembunyikannya dariku.
"Bagus deh kalau gitu. Aku harap, kamu beneran tulus untuk belajar mencintai Nawal. Aku dukung kamu kalau kamu memang ingin kembali dengannya. Hanya saja aku nggak bisa bantu apapun, Terimalah nawal apa adanya. Nanti, kamu pasti akan menyadari, Bahwa ketulusan itu tidak diukur dari usia pasangan kita , pantes atau enggaknya. Kamu udah mematahkan hatinya, maka sekarang, kamu harus bisa meraih hatinya kembali." Nila tersenyum tulus saat mengatakan itu. Aku mengangguk pasrah.
🌙🌙🌙🌙
Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 22.14. Aku berdiri seorang diri di kamar utama di sisi jendela. Aku duduk berjongkok di kusen jendela sambil menyandarkan bahuku disalah satu sisinya. Menatap langit malam yang begitu menenangkan.
Sunyi. Sepi. Hampa. Aku merasa ada ruang kosong di sudut terbesar hatiku. Merasa kehilangan yang lebih cenderung kurasakan pada Nawal. Bukan pada Mila. Aneh kan? Aku bingung kenapa ini kok bisa terjadi.
Saat ini, aku sendiri. Tinggal seorang diri. Mbak ayu pegawai Rumah laundy milik Nawal sesekali seminggu dua kali membereskan rumah ini. Terkadang aku jenuh dengan kesendirianku.
Sudah sering kali aku selalu menyibukkan diri dengan terjun langsung menangani usaha resto sederhanaku. Tidak terlalu besar. Namun cukup lah, untuk memenuhi kebutuhan.
Kadang aku pergi keluar kemanapun hanya untuk berharap agar dipertemukan kembali Dengan Nawal. Entah itu di jalan, di warung, di manapun itu. Penyesalanku kian hari kian menjadi-jadi saja.
Sudah empat bulan ini semenjak kepergian nawal, aku pun sering bolak-balik pergi ke banyuwangi - pasuruan hanya untuk mencari tau keberadaan Nawal. Berharap mungkin saja ada kabar terbaru dari keluarganya. Namun Nihil. Aku pulang selalu dengan membawa kepedihan dan kekecewaan karna tak kunjung mendapat petunjuk keberadaan Nawal.
Sungguh, aku tersiksa sekarang. Andai Nawal masih di sini, pasti usia kandungannya sudah memasuki usia enam bulan. Bagai mana keadaannya? Apa kabarnya? Apakah dia menginginkan sesuatu? Apakah Nawal mengalami ngidam? Pasti ia akan terlihat menggemaskan dengan perut buncitnya. Tubuhnya yang mungil sama sekali tak menunjukkan bahwa usianya telah memasuki 28 tahun. Bahkan ia terlihat seperti wanita berusia 20 tahun.
Aku memejamkan mataku dan meneteskan air mata. Rasa bersalah ini kian menyiksaku. Disaat saat penting ini, harusnya aku ada disisinya,mendampinginya, menjadi suami siaga untuk istriku, juga ayah siaga untuk calon anakku. Sungguh, aku nggak kuat. Jangan hukum aku dengan kepergianmu Nawal. Kamu dimana?
Dering ponsel mengagetkan lamunanku. Ku usap kasar air mataku dan kulihat nama Malik terpampang disana. Aku memang sengaja meminta bantuan Malik untuk menemukan istriku, karna dia memiliki koneksi yang luas. Malik temenku saat kuliah. Aku memang tak terlalu akrab dengannya. Tapi dia orang yang baik. Udah kelihatan karna dia nggak menolak sedikitpun saat aku mintai tolong.
"Ya hallo. Ada kabar apa Lik?", Ku dengar di seberang sana, Sangat gaduh. entahlah, mungkin dia di jalan.
"Eh, Kamu dimana fan? Bisa susul aku ke temanggung sekarang?".
"Gila.... ini malem bro, kamu halu ya? Temanggung itu nggak Deket.".
"Kamu mau ketemu istrimu apa enggak?", Sontak saja aku bangkit dan menegang.
"Kamu udah nemuin dia?".
"Iya, Namanya Nawalisya nasyirah asal Pasuruan, usia 28 tahun. Tengah mengandung dan usia kandungannya sekitar enam bulan. Bener?"
"Iya bener".
"Dia tinggal sama pak lek nya di temanggung. cepet yah jangan lama. soalnya lusa aku harus udah balik ke banyuwangi. empat hari lagi aku mau minta anak orang buat tunangan".
"Iya aku ganti baju dan berangkat sekarang. Kalau nanti nyampek temanggung aku telpon kamu, kamu sharelock ya?".
"Iya iya, pokoknya setelah kamu ketemu istrimu, aku mau makan gratis selama sebulan di resto kamu" Malik terkekeh menanggapi kepanikanku.
"Jangankan sebulan. Setaun juga terserah kamu", Malik tergelak sambil mematikan ponselnya.
Aku pun bergegas mempersiapkan mobil, membawa beberapa potong baju untuk nginep beberapa hari disana. Aku udah nggak bisa nahan rindu ini terlalu lama. Aku ingin ketemu kamu na. Nawalisya nasyirah, istriku.
Nawal istriku, tunggu aku datang untuk menjemputmu sayang!
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel