NovelToon NovelToon
Masih Menggenggam Dirimu

Masih Menggenggam Dirimu

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:240.2k
Nilai: 5
Nama Author: RN

CINTA ITU MANIS
CINTA ITU PAHIT
CINTA ITU HAMBAR
CINTA ITU INGIN TERUS BERJUANG
CINTA ITU TIDAK EGOIS
CINTA ITU INGIN DI MENGERTI
CINTA ITU PENGORBANAN
CINTA ITU HASRAT UNTUK MEMILIKI DAN MENGIKAT
CINTA ITU MELELAHKAN TAPI PENUH CANDU
CINTA ITU SELALU INGIN BAHAGIA
APAKAH SEMUA BISA MAYA DAPATKAN DARI SEORANG PLAYBOY BERNAMA REYNALDI
SIMAK NOVEL INI SAMPAI END

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan

"Assalamualaikum Pa," Salam Maya membuat Papanya langsung menengok ke arahnya dan melipat koran di tangannya.

Seulas senyum tersungging di bibir Darmawan .

"Waalaikumsalam," Darmawan membalas salam putrinya.

Maya menghampiri Papanya dan mencium tangannya dalam hati , Darmawan merasa bersyukur putrinya tumbuh dengan sangat baik menjadi anak yang sholehah .

"Duduklah Maya, mau sarapan apa May?" tanya Papanya.

Maya bingung .

"Apa aja Pa, yang penting nasi," jawab Maya.

"Buatkan Maya nasi goreng , sekalian Panggil Aldo dan suruh sarapan ke sini," perintah Darmawan kepada Bi Ati.

Tak berselang lama Aldo muncul bersama Reynaldi.

"Sarapan dulu Rey," ajak Darmawan saat melihat Aldo dan Reynaldi datang.

Aldo duduk disebelah Maya dan Reynaldi di samping Darmawan tepat di depan Maya. Reynaldi memperhatikan dengan cermat gadis didepannya, banyak pertanyaan yang mengusik pikirannya tentang gadis itu.

"Oh ya, May Kenalkan ini Rey dia sahabat kakakmu. Papa sudah menganggap Rey seperti Putra papa sendiri dan dia juga anak dari sahabat Papa," ucap Darmawan mengenalkan Reynaldi.

"Rey, ini Maya dia Putri Om satu-satunya," sambung Darmawan lagi.

Deg...

"Putri?"

Wajah Renaldy seketika berubah terkejut alisnya terangkat ke atas, Aldo tersenyum puas melihat reaksi Reynaldi.

"Sialan lu, pantes aja selama ini Sikap lu lebay sama ni cewek," umpat Reynaldi dalam hati.

"Kita udah kenal kok Pa," ucap Maya sambil tersenyum ramah ke arah Reynaldi.

"Oh , syukurlah Papa harap kalian bisa dekat," pesan Darmawan.

Reynaldi memperhatikan Aldo, sesekali dia melirik kearah Maya.

"****** lu Al, selama ini Sikap lu begitu perhatian sama nih cewek karena dia adik lu, dasar kampred!" gerutu Reynaldi dalam hati dengan tatapan tajam ke arah Aldo.

Aldo memang sengaja mengerjai Reynaldi agar penasaran saat ini di benar-benar puas melihat kejengkelan Aldo sahabatnya

Aldo asik dengan sarapannya, kesal karena tidak ada respon dari Aldo membuat Reynaldi geram. Dia Mengayunkan kaki panjangnya ke depan sengaja mau menendang kaki Aldo.

"Aaauuw ...." teriak Maya meringis ,ternyata bukan kaki Aldo yang terkena tendangan Reynaldi tapi kaki Maya yang terkena.

Reynaldi tersentak darah seketika memenuhi wajahnya hingga wajahnya merah, dia benar-benar merasa malu.

"Maaf," kata Reynaldi kali ini dia benar-benar kena sial.

Bola mata Aldo melebar menatap Reynaldi sambil menggelengkan kepala tanda dia kesal.

"Sakit May?" tanya Aldo Maya menggelengkan kepalanya.

"Eng-gak, cuman kaget aja," sahut Maya tersenyum polos.

.

"Apa - apaan sih Rey!" cela Aldo.

Darmawan hanya tersenyum melihat ulah kedua cowok itu.

"Maya, sebaiknya kamu kuliah saja gimana?" tanya Papanya.

Maya menatap wajah Papanya.

"Kuliah?" tanya Maya mata melebar.

"Iya May, Kakak setuju sama saran Papa,

lagian udah seharusnya kamu kuliah daripada kamu bekerja," kata Aldo bersemangat .

"Tapi...." kata Maya wajahnya tampak bingung.

"Apa May, katakan tapi apa?" desak Aldo.

Reynaldi seperti pemerhati dalam percakapan keluarga ini. Maya menarik napas panjang, Ketiga orang yang duduk di meja itu memasang wajah serius menunggu jawaban Maya.

"Pa, selama ini May kerja bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan May saja, tapi juga untuk membantu mamak, apalagi dia sudah tua dan janda kalau Maya gak kerja. Siapa yang akan mengirim uang mamak untuk kebutuhannya," tutur Maya menjelaskan keraguannya dengan saran Papanya.

Semua mata menatap Maya dengan ekspresi yang berbeda-beda.

"Njir, nih cewek bener-bener polos atau pura-pura polos, bener-bener baik atau licik ," batin Reynaldi dalam hati .

"Kamu bisa mengirim Bude mu di kampung dengan uang saku yang papa kasih, kalau enggak biar Papa yang mengurus masalah itu," saran Papanya.

"Setuju, benar itu May," Aldo kembali mendukung usul Papanya.

"Sebelumnya terima kasih banyak, sama perhatian papa tapi maaf Pa. Mamak membesarkan May bukan hanya dengan kasih sayang saja, tapi juga dengan keringat dan air mata. Harapan May cuman satu bisa membahagiakan Mamak dan membuat hidup Mamak nyaman di usia tuanya dengan keringat dan Air Mata Maya sendiri, jika suatu hari May membutuhkan bantuan Papa pasti May akan bicara sama Papa," ucap Maya sambil tersenyum.

Semua tercengang dengan pendapat Maya, Darmawan tampak bangga dengan sikap putrinya begitu juga dengan Aldo. Sementara Reynaldi no comment walaupun cuma dalam hati.

"Oya, Al sabtu ini Papa akan mengundang keluarga besar kita dan juga kolega Papa ke rumah untuk memperkenalkan Maya, bagaimana pendapatmu Al?" Aldo mengangguk dan mengacungkan jempolnya tanda setuju.

...----------------...

Pyaaar....

seseorang melemparkan gelas itu ke tembok, orang itu tak lain adalah Bu Susi dia duduk di salah kursi ruang baca rumahnya .

"Dasar anak s***l***!" umpat Bu Susi dia mendengus dengan napas memburu kedua matanya tampak menyala begitu juga pembuluh darah tampak tegang di lehernya.

Mila Putri bungsunya terlihat tegang.

"Ma ....Mama yang tenang, ingat mah darah tinggi mama," kata Mila mulai mencemaskan kemarahan mamanya.

Bu Susi mencoba menarik nafas panjang

untuk meredakan amarahnya setelah tiga kali menarik nafas panjang dia kelihatan mulai tenang.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang mah?" tanya Mila setelah melihat ibunya mulai reda amarahnya.

"kita tidak akan membiarkan anak haram itu begitu saja, apa yang sudah menjadi milik Aldo tidak boleh dibagi sama anak s**l** itu sedikitpun!" Bu Susi berkata penuh dengan kebencian.

Setiap kali mengingat Maya darah Bu Susi rasanya mendidih sampai ke ubun-ubun seperti akan meledak .

"Elisa ...,Elisa kenapa kamu bodoh sekali, ada saja masalah yang kau timbulkan akibat kebodohanmu di masa lalu hingga membuat kami semua tidak bisa hidup dengan tenang," rutuk Bu Susi.

"Kita akan datang nanti malam siapkan segala sesuatunya Mila!" perintah Bu Susi kepada putrinya.

"Apa yang akan Mama lakukan?" tanya Mila.

Bu Susi tidak menjawab dia diam dalam kemarahan luar biasa.

"Baiklah, kalau begitu Mila akan siapkan semuanya Ma," kata Mila lalu dia keluar dari ruang kerja meninggalkan Bu Susi sendirian

...----------------...

Waktu sudah menunjukkan pukul 18 15 Maya masih rebahan di kamar kontrakan.

Dia membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri hatinya gusar pikirannya tak karuan dia merasa gugup malam ini .

"Seandainya boleh, aku pengennya nggak datang ke acara itu tapi gimana dengan papa dan kak Aldo pasti mereka nanti akan kecewa "bisik Maya seakan bicara dengan dirinya sendiri.

Ting tong Ting tung ting tong tong tong .

Dering hp-nya berbunyi Maya melihat kakaknya menelepon agak lama dia tidak mengangkat teleponnya tapi kemudian ada rasa enggak tega karena ini sudah panggilan dari kakaknya yang ke-6 .

Maya mengangkat telepon belum sempat Maya mengucapkan salam suara di seberang sana sudah memberondong dengan beberapa pertanyaan.

"May kamu di mana sekarang? ini udah jam berapa? kenapa kamu belum datang ?sebentar lagi acara akan segera dimulai!. Apa perlu Kakak jemput sekarang? katakan posisimu ada di mana May? please jangan buat kita cemas!" Aldo berbicara seperti tidak bernapas Maya terdiam sejenak .

"Kasih waktu aku sebentar kak aku masih ada urusan di tempat kerja," sahut Maya terpaksa berbohong kepada kakaknya.

"Mungkin aku datang agak terlambat sedikit kak, tapi Kakak jangan khawatir Insyaallah aku akan datang," sambung Maya.

"Udah ya kak aku tutup teleponnya, Assalamualaikum," ucap Maya mengakhiri pembicaraan telepon dengan Aldo.

Maya merebahkan badannya di lantai tangannya dijadikan ganjalan untuk kepalanya Dia menatap langit-langit kamarnya

"Apakah sudah waktunya Upik abu harus berubah menjadi Cinderella?" pertanyaan yang dia tujukan pada dirinya sendiri.

Maya menarik nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya sayup-sayup terdengar orang sedang mengaji.

"Aaaahhh...sebentar lagi waktu isya," dia bangun dari rebahan nya lalu dia berdiri.

"Aku akan mengikuti air mengalir yang akan membawaku ke muara," bisiknya dalam hati.

Diambilnya handuk yang menggantung di kapstok di belakang yang pintu lalu dia bergegas ke kamar mandi Maya berharap guyuran air akan membuat pikirannya lebih rileks.

...----------------...

Tepat jam 20.00 Maya tiba di rumah papanya, malam itu Maya mengenakan setelan celana panjang pallazo berwarna peach dipadu dengan blus blouson warna salmon dia memasuki halaman rumah papanya .

Sudah banyak berjajar mobil-mobil mewah yang terparkir di luar sepertinya tamu undangan papanya sudah banyak yang hadir .

Dia berhenti sejenak di pertengahan halaman kegugupan mulai menyerangnya kembali, Maya menarik nafas panjang.

" Bismillahh," bisik nya.

Maya kembali mengayunkan kakinya satu langkah, dua langkah perasaannya mulai kembali gugup, tapi dia tetap melangkah ke depan.

Saat langkah ketujuh keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya yang saling meremas rona wajahnya berkerut. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menguasai rasa gugupnya spontan dia membalikkan tubuhnya hendak berjalan keluar saat tiba-tiba .

Buuuk

Tak sengaja wajahnya menabrak sesuatu dan saat di perhatikan sesuatu itu adalah sebuah dada yang bidang dengan aroma wangi parfum yang menyegarkan.

Sekejap Maya menikmati aroma parfum itu lalu dia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang memiliki aroma itu dan ternyata adalah Reynaldi.

Mata mereka saling beradu Maya tidak berani lama menatap mata tajam Reynaldi. Maya merasa tatapan itu begitu dingin dan sinis dia buru-buru menundukkan kepalanya.

"Maaf, maaf kak," ucap Maya.

Segera dia menggeser badannya ke samping beberapa langkah untuk menghindar.

Saat Maya hendak melangkahkan kakinya Reynaldi menarik tangannya untuk mencegahnya pergi, dipegangnya dengan kuat lengan itu.

"Mau ke mana lu?" tanya Reynaldi.

Maya tidak menjawab dia hanya berusaha melepaskan tangan kekar Reynaldi yang memegang lengannya kuat.

"Lu tahu, dari tadi lu sudah di tunggu papa dan kaka lu, bisa nggak sih lo tuh gak nyusahin orang!" bentak Reynaldi dengan nada kesal. Entah kenapa setiap melihat Maya Reynaldi bawaannya ingin marah .

Di pandangnya wajah Maya dalam-dalam di bawah lampu teras yang redup. Rey menatap wajah di depannya lekat-lekat pandangan matanya jatuh pada bibir Maya yang sedikit terbuka.

"Seksi," desisnya dalam hati sambil menelan ludah.

Reynaldi tiba - tiba merasa insting nakalnya berkelebat di pikirannya. Maya merasa risih dengan tatapan Reynaldi dia membuang muka.

"Gila, bikin malu aja nih otak biasanya kalau gue ketemu nih cewek bawaannya sebel. Sekarang otak Gue kenapa mesum?" gerutunya dalam hati.

Reynaldi lalu menarik tangan Maya membawanya masuk ke dalam. Maya berjalan mengikuti langkah Reynaldi sambil tersuruh-suruh jalannya.

Sulit buat Maya mengikuti langkah kaki Reynaldi yang panjang. Beberapa pasang mata memperhatikan kehadiran mereka berdua bahkan tidak sedikit yang saling berbisik di antara mereka.

Reynaldi melepaskan pegangan tangannya, langkah mereka berhenti di tengah orang-orang yang yang ada di ruangan perjamuan ini.

Maya mengangkat wajahnya pucat rona merah terkuras dari wajahnya.

Matanya berkeliling menatap ruangan hampir semua orang matanya tertuju ke arahnya. Dia menjadi pusat perhatian orang hingga membuat Maya salah tingkah dia diam mematung.

"May, kamu ke mana aja? kenapa baru sekarang datang?" kata Aldo dengan nada cemas .

Maya mengangkat wajahnya dan ia menatap Aldo yang tampak cemas di tengah perjamuan .

"Maaf, May datang terlambat kak," kata Maya dengan suara pelan .

"Maaf, membuat Kakak cemas," sambungnya lagi .

"Nggak pa - pa yang penting yang kamu udah di sini," jawab Aldo sambil tersenyum manis pada adiknya .

"Makasih," jawab Maya seulas senyum tersungging di bibirnya senyum yang tulus senyum ucapan terima kasih untuk sang Kakak.

Benarkah cinta datang dari mata turun ke hati?l

..._Author_...

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like komen dan jadikan favorit ya Kakak🙏🙏

1
Nay Sha
ceritanya bagus
Achmad Elvino
sukses terus kk....
mulai baca..dr awal baca sudah menarik..sepertinya akan banyak mengandung bawang..sedia tisyu 🤧🤧🤧
semoga saja aldo kakak yg baik y may
pasti terkejut y maya..takdir berubah segitu cepatnya
ada perjanjian apa antara bu asih dan pak darmawan?
menbawanya? maksudnya apa ini? apa bu asih sebenarnya bukan ibu kandung maya?
pasti campur aduk ya yg di rasakan maya antara percaya dan gak..antara mimpi apa nyata
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
ceritanya bagus dan selalu bikin terharu membacanya.. good job Thor👍🏻
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
ya ampun Maya pasti mikirnya yg aneh 2 tu🤭 pasti mikirnya Aldo mau ngapa-ngapain 😅 rupanya Aldo mau masang seat belt 🤣🤣
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
adik kamu itu wanita baik kuat dan lembut Aldo, perlakukan lah Maya semestinya.
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
pasti belum terbiasa ada laki2 yg tiba 2 hadir di hidupnya mengakui bahwa iya ayahnya. pasti susah buat menyebutkan kata papa. lambat lain pasti kamu bisa menerima kenyataan kalau kamu punya ayah dan seorang kakak. dan kelihatannya kak Aldo itu baik .
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
kakak ketemu gede. apalagi kk nya ganteng, jgn sampai ada hati ya Maya. hati2 sama Tante Mila ya Maya
👏RIRI💕🏚️ᴄ͜͡ʀ7
kepo dan ingin tau rahasia apa yg di sembunyiin dari kisah masa lalu mereka
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
semoga Aldo dpt menyayangi Maya
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
oh mulai paham jadi Maya bukan anak bu Asih
🏚️🆒ᴵᶜᵉʷᵒˡᶠ👏 ⍣⃝కꫝ🎸
Semoga Maya bisa bahagia bersama papanya bintang 5 untukmu Thor
ARIS SUSAN
semoga Maya bisa lurusin jalan aldo
ARIS SUSAN
uhuk
Uda mulai muncul benih " asmara nih 🤭
ARIS SUSAN
Alhamdulillah...
Rey datang buat nyelametin maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!