Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB12 - Siapa dia?
Sesampainya di depan gedung perkantoran. Dave menghentikan mobilnya tepat di area parkiran. Buru-buru Davina melepas seatbelt dari tubuhnya. Saat hendak menarik handle pintu mobil, tangan Dave mehentikannya.
Wanita muda itu menoleh ke arah Dave.
"Ingat yang aku katakan tadi. Jangan dekat-dekat dengan yang namanya Williams." Dave menekan kata-kata di akhir.
Davina mengerut ngeri. Tatapan mata dari Dave, seakan menusuk dalam kedua mata Davina.
"I-iya. Tenang saja. Aku juga tau batasan. Aku tidak akan pernah lupa statusku, Dave." Davina menatap sendu pada Dave.
"Baguslah! Kalau begitu turunlah. Aku mau berangkat." Dave membuang pandangannya.
"Iya. Tapi lepas dulu tangan kamu, Dave." Dave spontan menoleh dan menatap tangannya. "Oh ya, kelupaan." Davina sontak menarik napasnya, sesaat tangan Dave tidak lagi menyentuhnya.
"Aku pergi Dave. Kau berhati-hatilah di jalan." Davina turun dari mobil dan menjejakkan kakinya di atas lantai. Dengan berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Davina dengan langkah pasti memasuki pintu menuju lobby.
Dengan tampilan yang berbeda. Davina masuk kembali, tempat di mana dia mengais rezeki. Davina sebelumnya mengambil cuti sebulan saat mengurusi sang ayah di masa-masa tersulitnya.
Kali ini, Davina menjadi bahan sorotan setiap para staf di lantai 5. Tempat di mana ruangan kerjanya berada. Memberikan senyuman manis dan sapaan, saat melewati para karyawan lainnya. Ya, Davina itu terkenal dengan keramahan juga dengan kepintarannya.
"Davina," seru Aldi. Davina semakin menjadi sorotan seluruh teman dan sahabatnya.
Aldi, Dinda dan Savira. Ketiganya berlari, menyambut kedatangan Davina. Betapa senang dan gembiranya mereka. Kedatangan Davina kembali ke perusahaan Miracle Group, menjadi kesenangan tersendiri untuk para staf di lantai 5 khususnya.
"Apa kabar sayangku." Dinda memeluk erat sahabat terbaiknya.
"Gue baik. Kalian semua gimana?" Davina melonggarkan pelukannya.
"Baik kok! Gantian dong Din. Gue kangen sama Davina." Vira menarik tubuh Dinda.
"Sebentar lagi dong. Masih rindu sama bau tubuhnya Davina. Tapi, gue rada bingung. Bau Davina ini, bau-bau barang mahal." Dinda melepas pelukannya dan menoleh ke arah tubuh Davina.
Davina salah tingkah. Gawat pikirnya kalau seluruh sahabatnya pada tau. Kalau Davina sudah menjadi Istri dan menantu keluarga Smith.
"Egh ... gak kok. Biasa aja," balas Davina gugup.
"Apanya yang biasa aja sih? Gue benaran rasa ada yang berbeda dari Davina. Kayaknya, lebih stylish gitu. Dan ... uda berbeda aja. Semakin cantik dan pakaian lo, keknya lebih mahal yang sekarang dech. Branded lagi," Dinda memperhatikan dengan seksama tubuh Davina.
"Kenapa jadi itu sih yang lo tanyakan Din?" Aldi berjalan menarik tubuh Dinada dan mendekati Davina. "Apa kabar lo, Vin?" Aldi mengelus puncak kepala Davina dengan kedua mata serius.
"Gue sehat kok Al. Gimana dengan lo?"
"Gue? Gue kangeeeennnn....," balas Aldi dengan memeluk tubuh Davina manja.
Yang lainnya tertawa dengan ngakak. Awalnya saja Aldi sok serius. Mendengar suara Davina, Aldi langsung klepek-klepek.
"Udahan dong. Gue yang dari tadi ya, nunggui mau meluk si Vina gak jadi-jadi." Savira menarik lengan Aldi dan bergantian memeluk Davina dengan sangat erat.
"Gue kangen sama lo, Vin. Lo selama ini ke mana sih? kenapa gak ada kasi berita ke gue dan ke yang lainnya." Savira berkata dengan lirih.
"Ayah gue uda gak ada Vir," ucap Davina lirih.
Sontak semuanya tercengang. Mendengar kabar dari Davina. Selama Davina cuti, Davina selalu mengingatkan kalau dia akan sibuk. Sibuk mengurusi ayahnya. Davina selalu menghindar. Saat seluruh sahabatnya menghubunginya, Davina selalu saja memberikan kabar baik. Davina tidak suka menyusahkan orang terdekatnya.
"Kenapa lo gak bilang?" tanya Aldi lirih.
Davina tersenyum.
"Gue gak mau menyusahkan kalian semua, Al. Uda gak apa-apa. Gue mau ke ruangan." Davina berjalan menuju ruangannya. Masih juga di ikuti Savira, Dinda dan Aldi.
"Lo kenapa sih Vin? kita di sini ada loh buat lo. Kenapa menanggung sendiri?" tanya Savira sedih.
"Iya nih. Segitunya banget sih lo sama kita, Vin." Dinda menimpali.
Davina meletakkan tas jinjingnya di atas meja. Menoleh ke arah para sahabatnya.
"Gue gak mau nyusahi lo pada. Gak apa-apa. Sudah kerja sana. Gue bakalan banyak kerjaan sepertinya." Davina menatapi seluruh bagian tempat kerjaya. Meja, bangku dan komputernya, bersih tidak ada debu.
"Gak ada kerjaan lo! kita uda kerjakan buat lo, Vin," sambung Dinda.
Kedua mata Davina berbinar. Davina mendekati ketiga sahabatnya. "Terima kasih. Aku benar-benar sayang banget sama kalian." Davina yang memeluk tubuh sahabatnya secara bersamaan. Dan ketiganya, membalas pelukan Davina sevcara beramai-ramai.
"Kita turut berduka cita atas kepergian ayah, lo, Vin," ucap Aldi dalam pelukannya.
"Iya. Kita turut sedih buat lo, Vin," timpal Dinda.
"Gue juga. Kita ada buat lo ya Vin. Jangan mikir, lo bakalan sendiri di bumi ini. Kita akan selalu ada, saat lo sedih atau juga senang. Kita sama-sama, melewati waktu hidup kita ya, Vin," sambung Savira.
"Iya. Uda agh. Gue benar-benar terharu sama kalian semua. Gue uda pasrah dengan keadaan gue. Gue yakin, ayah di sana juga uda senang. Uda gak nahan sakit lagi. Jadi, kenapa gue harus bersedih. Tinggal sekarang, gue harus menjalani hidup gue, dengan sebaik mungkin." Davina mengusap air mata yang lolos dari kedua pelupuk matanya. Dia benar-benar teraharu dengan seluruh sahabat baiknya.
"Kalian kenapa buat Davina menangis sih?" Rasyid datang dari belakang para sahabatnya.
Davina langsung saja menarik tubuhnya. Melepaskan rangkulan tangannya dari sahabatnya, dengan mengusap sisa air mata yang menggenangi sudut matanya.
"Rasyid." Davina mengulas senyumannya.
"Apa kabar Davina," Rasyid berjalan dan langsung meluk tubuh Davina.
Terasa sangat hangat. Bau tubuh Rasyid adalah hal yang terindah yang sempat Davina rasakan. Parfum yang menyelimuti tubuh Rasyid, meringkuk masuk ke indera penciuman Davina.
"Gue baik Syid," Rasyid mengelus puncak kepala Davina.
"Ayah Davina uda gak ada, Syid. Kita gak ada di kabari sama dia." Dinda masih saja lirih.
"Davina," tiba-tiba suara seorang pria kembali membuat Davina menoleh ke arah pintu ruangannya. Mata Davina terkesiap. Buru-buru Davina melepas pelukan Rasyid. Rasyid bingung dan ikut menatap ke Dave.
"Dave," ucapnya membuat semua satu ruangan mereka menatap ke arah Dave
"Gilaaaa! tampan amat itu cowok," suara Dinda terdengar menggema.
"Siapa Vin?" pertanyaan Aldi membuyarkan lamunan Davina. Entah kenapa Davina takut. Padahal, Davina dan Dave, tidak sebaik dan sekakrab yang namanya suami—istri. Ya ... wajar. Keduanya juga baru satu malam menikah. Tapi, kedua mata Dave sangat berbeda. Matanya menyala-nyala. Seperti pandangan tidak suka melihat Davina di peluk Rasyid tadi.
"Sebentar ya teman-teman," ucap Davina serba- salah dan berjalan mendekati Dave. Rasyid mengerutkan dahinya. Menatap Davina dan Dave berpegangan tangan dan meninggalkan lokasi ruangan mereka. Ya ... Davina dengan berani, menggenggam punggung tangan Dave dan membawanya ke arah koridor lantai 5.
"Ada apa Dave?" tanya Davina. Sesaat setelah mereka tiba di koridoran lantai 5.
"Siapa pria tadi? kenapa main peluk-peluk aja?" tanya Dave dengan kedua matanya penuh seliidk.
"Dia leader di team-ku, Dave." Davina menjelaskan seadanya.
"Kenapa kamu tampak nyaman sekali dengannya? punya rasa ya, sama dia?" Dave menebak.
Kedua mata Davina berputar. Dia sedang mencari alasan yang tepat. Kenapa Dave langsung bisa menebak langsung ke intinya. Membuat Davina seperti kedapatan berselingkuh saja. Tapi, bukankah mereka tidak saling mencintai. Begitupun, Dave juga menolak perjodahan mereka. Kenapa harus peduli dengan urusan pribadi Davina.
"Kenapa cuma diam? benarkah itu pria yang ada di hatimu? atau jangan-jangan, dia pacar kamu?"
"Dave,"
"Jawab!"
Davina menelan salivanya. Mata Dave benar-benar terpancar keseriusan.
Bersambung.
Yeee.. maafkan saya. Gak bisa update tiap hari ya. soalnya saya lagi fokus sama Daddy Kendrick. Dia lagi naik kelas. Tolong di follow ya Ig saya @putritritrii_ ^^
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔