Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 22 Adrian mode kerja
Arunika akhirnya meninggalkan rumah itu, Pintu di belakangnya tertutup perlahan.
Namun kali ini, ia tidak menoleh Bukan karena sudah tidak peduli.
Justru karena terlalu banyak hal yang masih ia rasakan.
Arunika berjalan menuju mobil sambil mengusap sisa air mata di pipinya. Dadanya terasa berat, tetapi anehnya, ada sedikit ruang yang terasa lebih lega.
Setidaknya sekarang ia sudah mendapatkan jawaban, Meskipun jawaban itu tidak mampu mengembalikan semua yang telah hilang.
Arunika masuk ke dalam mobil Tangannya baru saja meraih sabuk pengaman ketika ponselnya bergetar, Sebuah pesan masuk Dari Adrian.
Adrian: Kamu di mana?
Arunika menatap layar beberapa detik Ia mengetik.
Arunika: Baru selesai menemui seseorang.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Adrian: Kamu sudah makan?
Arunika mengerutkan kening Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.
Arunika: Belum.
Beberapa detik kemudian.
Adrian: Datang ke kantor.
Arunika mengerjapkan mata.
Arunika: Untuk apa?
Pesan berikutnya masuk.
Adrian: Makan.
Arunika menatap layar cukup lama.
"Orang ini..."
Ia menggeleng kecil Tadi pagi pikirannya penuh dengan Bagaskara, Sekarang Adrian justru membuat pikirannya semakin kacau.
Namun pada akhirnya, Arunika tetap menyalakan mesin mobil. Satu jam kemudian, mobil Arunika berhenti di depan gedung kantor Adrian.
Gedung itu menjulang tinggi dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari pagi, Arunika turun dari mobil dan menatap gedung tersebut.
Begitu memasuki lobi, Arunika langsung merasakan suasana yang tidak biasa. Para karyawan berjalan lebih cepat.
Beberapa orang bahkan terlihat membawa dokumen sambil berbicara dengan suara rendah.
Tidak ada yang berani bercanda Tidak ada yang terlihat santai, Arunika menghentikan seorang staf yang kebetulan lewat.
"Permisi."
Staf itu berhenti.
"Iya, Bu?"
"Pak Adrian ada?"
Staf tersebut terlihat ragu.
"Ada di ruang rapat."
"Oh."
Arunika mengangguk.
"Kalau begitu aku langsung ke atas."
Staf itu segera mengangguk Namun sebelum Arunika pergi, ia sempat mendengar suara dari arah ruang rapat yang berada tidak jauh dari sana.
Itu Suara Adrian Dingin, Tegas, Dan sama sekali tidak seperti Adrian yang selama ini ia kenal.
"Jelaskan lagi."
Arunika berhenti.
Suara seorang pria terdengar gugup.
"Pak, masalahnya bukan seperti itu. Kami hanya—"
"Saya tidak bertanya alasan."
Suasana langsung hening Arunika perlahan menoleh, Pintu ruang rapat terbuka sedikit.
Dari celah itu, ia bisa melihat Adrian berdiri di ujung meja panjang.
Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih, Tidak ada senyum, Tidak ada ekspresi lembut, Tatapannya tajam dan dingin.
Di hadapannya, beberapa orang duduk dengan wajah tegang, Adrian mengambil sebuah dokumen dari atas meja.
"Kamu menandatangani kontrak ini?"
Seorang pria di depannya mengangguk cepat.
"Iya, Pak."
"Tanpa memeriksa laporan keuangan?"
Pria itu terdiam Adrian mengangkat wajah.
"Saya bertanya."
"Sudah, Pak."
"Kalau sudah, kenapa angka di halaman tujuh berbeda dengan laporan yang saya terima kemarin?"
Wajah pria tersebut langsung berubah.
"Saya..."
Adrian meletakkan dokumen itu di atas meja.
Tidak keras, Namun bunyinya cukup membuat semua orang diam.
"Perusahaan kita kehilangan hampir dua miliar karena kesalahan ini."
Pria itu buru-buru menjawab.
"Pak, saya bisa memperbaikinya."
"Tidak."
Adrian menjawab singkat.
"Tapi, Pak—"
"Kamu sudah diberi kesempatan."
Tatapan Adrian beralih kepada seorang wanita yang duduk di sebelah pria tersebut.
"Dan kamu."
Wanita itu langsung duduk tegak.
"Iya, Pak?"
"Kenapa bagian legal meloloskan kontrak ini?"
Wanita itu terlihat panik.
"Karena saya menerima persetujuan dari—"
"Berhenti."
Adrian menatapnya.
"Saya tidak peduli siapa yang menyuruhmu."
Ruangan kembali hening.
"Di perusahaan ini, jabatan tidak membuat seseorang kebal dari kesalahan."
Adrian berjalan perlahan di sepanjang meja.
"Kalau direktur melakukan kesalahan, dia bertanggung jawab."
"Kalau manajer melakukan kesalahan, dia bertanggung jawab."
"Kalau staf melakukan kesalahan, dia juga bertanggung jawab."
Ia berhenti.
"Jangan pernah menggunakan nama orang lain untuk menutupi kesalahan kalian."
Arunika yang berdiri di luar pintu hanya bisa terdiam, Adrian yang seperti ini...Ia belum pernah melihatnya dalam mode kerja.
Pria yang selama ini berbicara kepadanya dengan suara tenang, bahkan terkadang terlalu sabar, sekarang terlihat seperti seseorang yang sama sekali berbeda.
Dingin, Tidak memberi ruang untuk alasan, Tidak peduli siapa yang berdiri di hadapannya. Adrian mengambil sebuah berkas lain.
"Mulai hari ini, proyek ini dihentikan."
Semua orang langsung terkejut.
"Pak Adrian!"
"Keputusan sudah dibuat."
"Tapi kalau proyek ini dihentikan, perusahaan akan mengalami kerugian besar."
Adrian menatap orang tersebut.
"Kerugian bisa diperbaiki."
Ia berhenti sejenak.
"Kepercayaan tidak."
Tidak ada yang berani menjawab Adrian kemudian menatap pria yang tadi melakukan kesalahan.
"Serahkan jabatanmu."
Pria itu langsung pucat.
"Pak, tolong beri saya kesempatan terakhir."
"Sudah."
"Saya punya keluarga, Pak."
Adrian terdiam sesaat Namun ekspresinya tidak berubah.
"Saya turut prihatin."
Pria itu menatapnya penuh harap.
"Tapi perusahaan bukan tempat untuk meminta belas kasihan."
Kalimat itu membuat Arunika tanpa sadar menahan napas, Adrian berbalik.
"Keputusan saya tetap."
Pria tersebut menundukkan kepala.
"Baik, Pak."
Adrian kemudian menghadap seluruh ruangan.
"Rapat selesai."
Semua orang segera berdiri, Tidak ada yang berani berlama-lama. Arunika refleks mundur satu langkah ketika beberapa orang mulai keluar dari ruangan.
Seorang pria keluar dengan wajah pucat, Begitu melihat Arunika, ia langsung menundukkan kepala dan pergi.
Arunika menatapnya Kemudian ia kembali melihat ke dalam, Adrian masih berdiri di sana. Wajahnya tetap dingin. Ia mengambil ponsel di atas meja.
Kemudian tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Arunika, Tatapan dingin itu tidak langsung berubah.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang, Arunika bahkan sempat berpikir...Mungkin Adrian akan berbicara kepadanya dengan nada yang sama.
Namun kemudian sesuatu berubah di mata pria itu.
"Kenapa berdiri di sana?"
Nada suaranya berubah sedikit lembut.
Arunika berkedip.
"Aku..."
Ia menunjuk ke dalam ruangan.
"Sedang melihat."
"Melihat apa?"
Arunika masuk perlahan.
"Kamu."
Alis Adrian terangkat sedikit.
"Aku?"
Arunika mengangguk.
"Ternyata kamu menakutkan."
Beberapa orang yang masih berada di dekat pintu langsung menundukkan kepala lebih dalam, Arunika baru menyadari bahwa mereka mendengar.
Ia langsung salah tingkah.
"Maksudku..."
Adrian menatapnya Arunika berdeham.
"Kalau sedang kerja."
Adrian tidak menjawab Ia hanya berjalan mendekati Arunika, Begitu sampai di depannya, ekspresinya akhirnya melunak.
"Sudah makan?"
Arunika terdiam.
"Belum."
Adrian langsung mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Aku habis dari rumah Ayah."
Ekspresi Adrian berubah tipis Ia tidak langsung bertanya lebih jauh, Hanya menatap mata Arunika beberapa detik. Seolah sedang memastikan apakah perempuan itu baik-baik saja.
"Kamu menangis?"
Arunika spontan menyentuh pipinya.
"Tidak."
"Arunika."
"Aku tidak menangis."
Adrian menghela napas.
"Kamu buruk dalam berbohong."
Arunika mendengus.
"Dan kamu buruk dalam bersikap ramah."
Adrian menatapnya datar.
"Baru sekarang kamu sadar?"
Arunika terdiam Kemudian tanpa sadar tertawa kecil, Adrian memperhatikannya Untuk pertama kalinya pagi itu, ketegangan di wajahnya menghilang.
Ia mengambil jas yang tadi diletakkan di kursi.
"Ikut aku."
"Ke mana?"
"Makan."
"Aku belum bilang mau makan sama kamu."
Adrian berjalan melewatinya.
"Kalau begitu kamu boleh tidak makan."
Arunika menoleh tajam.
"Adrian!"
Pria itu tetap berjalan Arunika akhirnya mengejarnya.
"Tunggu!"
Adrian tidak berhenti.
"Kenapa kamu kalau di kantor galak sekali?"
"Karena mereka bekerja."
"Terus kalau aku?"
Adrian berhenti, Arunika yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggung pria itu. Ia mendongak Adrian menatapnya.
"Kalau kamu..."
Adrian berhenti sejenak Tatapannya yang tadi begitu dingin kini jauh lebih tenang.
"...bukan pekerjaan."
Arunika terdiam Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, Adrian kembali berjalan seolah tidak mengatakan sesuatu yang aneh.
Arunika berdiri beberapa detik.
"Orang ini..."
Ia buru-buru mengejarnya Namun tanpa mereka sadari, dari ujung koridor seseorang sedang memperhatikan keduanya.
Tatapan orang itu berhenti pada Arunika, Kemudian berpindah kepada Adrian
Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah serius.
"Jadi..."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Perempuan itu yang membuat Adrian berubah?"
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?