Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Siapa takut?
Siang itu juga ibu Astrid langsung mendatangi Ana di rumahnya. Kebetulan sekali saat itu Ana tengah berada di kamar mengemasi kopernya. Ditunggunya Ana selesai dengan pekerjaannya, lalu mengajaknya bicara.
“Ada apa, Bu?” Ana melangkah menuju sofa, ia menurut ketika ibu Astrid memintanya duduk di sampingnya.
“Ada sesuatu hal yang perlu Ibu sampaikan padamu.” Ibu Astrid lalu mengeluarkan selembar cek dari dalam tasnya, dan memperlihatnya pada Ana.
“Waow!” Ana terbelalak, melihat nominal fantastis lembar cek di tangan ibu Astrid. “Orang baik mana yang sudah memberikan cek ini pada Ibu? Pasti bukan orang sembarangan.”
“Ibu juga baru ketemu tadi pagi. Kemarin orang itu datang melihat kafe Dylan, lalu menitipkan kartu namanya pada rekan Ibu yang bernama Daffa. Rupanya dia bersimpati melihat musibah yang kita alami dan berniat membantu,” jelas ibu Astrid sambil menatap lekat mata Ana.
“Dan pagi ini Ibu bertemu dengannya, lalu orang itu memberikan cek ini pada Ibu.” Ana mengangguk-anggukan kepalanya, setelah mendengar penjelasan ibu Astrid. “Baru kenal tapi sudah mau bantu banyak, mana jumlahnya besar banget.”
“Ibu sangat bersyukur masih ada orang baik yang peduli sama nasib kita. Dia juga kasih tenggang waktu lumayan lama untuk masalah pembayaran, bisa diangsur beberapa kali. Itu pun setelah kafe Dylan kembali beroperasi.” Jelas ibu Astrid lagi.
“Baik banget itu orang. Kok Aku jadi penasaran pingin tahu kayak gimana orangnya. Laki-laki kan, Buk. Ganteng, gak? Masih sendiri apa sudah punya pasangan? Aduh, jadi kepo kan?” Ana geli sendiri, tapi ia benar-benar penasaran.
“Laki-laki, seorang pengusaha muda yang sukses. Ganteng, dan juga kaya raya. Kalau soal pasangan, Ibu kurang tahu.Tapi sikapnya sedikit kaku, dan bicaranya pun hanya seperlunya saja.” Ibu Astrid terlihat merenung seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Astaga, hampir Ibu lupa!”
Ana mengernyit, ibu Astrid menarik tangan Ana dan menggenggamnya erat. “Jujur sampai sekarang Ibu masih bingung harus bicara apa sama Kamu. Laki-laki itu punya satu permintaan yang harus Ibu penuhi dan ini menyangkut diri Kamu, Ana.”
“Aku? Kok .. memang siapa dia, dan apa hubungannya dengan Aku?”
“Namanya Hugo Denis, dia mau Kamu bekerja dengannya mulai besok. Dia perlu asisten pribadi yang bisa bekerja selama dua puluh empat jam di rumahnya. Ibu sudah menawarkan anak buah Ibu yang lain. Tapi dia hanya mau Kamu, Ana.”
Ana terkesiap, terkejut bukan main. Secara spontan ia menarik tangannya lalu duduk dengan punggung tegak dan wajah berubah tegang. Ia tak pernah menyangka kalau laki-laki itu adalah Hugo, tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya. Pasti lelaki itu sedang merencanakan sesuatu untuknya, dan Ana merasakan sesuatu yang sulit akan terjadi padanya.
“Ibu tahu ini bukan pilihan yang mudah, apalagi bekerja selama dua puluh empat jam sebagai seorang asisten pribadi di rumah lelaki yang masih asing untukmu.” Ibu Astrid menundukkan kepalanya, lalu mengesah pelan. “Maaf kalau permintaan Ibu kali ini terlalu menyulitkanmu, tapi Ibu berharap Kau mau memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan.”
Ana menatap sekilas cek yang kini berada di atas meja, ia tersenyum kecut bila mengingat cerita ibu Astrid tadi. Bukan hal yang sulit untuk seorang Hugo mengeluarkan dana hingga milyaran rupiah, apalagi ada tujuan yang ingin ia raih.
Ana dilema. Jika ia setuju, itu artinya ia akan tinggal lagi bersama dengan pria itu dan siap berhadapan dengannya sepanjang waktu. Hugo tak mungkin membiarkannya duduk tenang, apalagi sekarang sudah tidak ada papa yang akan berdiri membelanya. Tapi kalau ia menolak permintaan laki-laki itu, apa Hugo akan menarik dana bantuannya pada ibu Astrid? Apa Ana tega melihat wanita itu bersedih dan kehilangan harapannya lagi?
“Ibu, Aku harus bicara dengannya.” Ana mengambil keputusan cepat, karena ia tak punya banyak waktu lagi dan harus segera bertindak. “Aku harus menemui laki-laki itu dan bicara masalah ini.”
Ana beranjak berdiri hendak menuju kamarnya, tapi ibu Astrid menahan lengannya. “Bagaimana cara Kau menghubunginya kalau kalian belum saling kenal? Ibu punya kartu namanya.”
Ana meringis, segera menyadari kekeliruannya. Ia tak ingin membuat Ibu Astrid curiga padanya dan bertanya macam-macam. Ia berdiri menunggu sementara wanita itu mengambil kartu nama Hugo yang ada di dalam dompetnya. Ana pamit menuju kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar rumah untuk menemui Hugo di hotel tempatnya menginap.
Ana memesan taksi online, lalu menghubungi nomor Hugo meminta bertemu. Jawaban yang Ana terima membuatnya mendengkus kesal. Laki-laki itu sedang tidak di tempat karena satu urusan, sementara taksi yang dipesannya sudah datang.
“Aku sibuk. Aku masih ada urusan sekarang. Kalau Kau mau, Kau bisa datang ke hotel tempatku menginap.” Hugo lalu mengirim lokasi tempatnya menginap.
“Aku harus bicara denganmu,” sahut Ana, sambil melangkah masuk ke dalam mobil, ia menjauhkan ponselnya saat sopir di depannya itu bicara dan menanyakan lokasi tujuannya. Ana menunjukkan alamat hotel yang menjadi tujuannya.
“Kau bicara dengan siapa?” tegur Hugo mendengar suara lain di dekat Ana.
“Taksi! Aku tidak punya kendaraan dan harus buru-buru karena waktunya mepet.” Semua karena ulahmu, Tuan! Rutuk Ana dalam hati. Kau yang sudah membuat kekacauan ini.
“Kau sepertinya sudah tak sabar ingin segera bekerja denganku,” sindir Hugo membuat Ana bertambah kesal. “Baiklah, satu jam lagi Aku akan tiba di penginapan.” Imbuhnya kemudian.
“Tentu saja. Aku merasa sangat tersanjung, suatu kehormatan besar bisa kembali bekerja dengan Anda, Tuan.” Balas Ana dengan nada penuh penekanan. Ia harus menahan diri untuk tidak berteriak karena berada di dalam taksi yang sopirnya terus saja mencuri-curi pandang ke arahnya.
Hugo tergelak di seberang telepon. “Baguslah, jadi Aku tak perlu repot-repot meyakinkanmu lagi untuk mau bekerja denganku.”
Ana mengernyit, dan tersadar. Ia membuka mulut hendak membantah, namun laki-laki itu sudah menutup teleponnya.
Beberapa menit kemudian ia sampai di tempat tujuan, Ana harus menunggu beberapa saat sebelum Hugo datang. Ia memilih kafetaria hotel yang tampak lengang dan mulai memainkan ponselnya.
Ana terkejut bukan main melihat satu tayangan berita yang menampilkan gambar dirinya tengah dipeluk Hugo saat pemakaman papa Fitra. Wajahnya terekam jelas di sana, berjongkok di dekat nisan yang masih basah.
“Astaga! Bagaimana kalau mereka tahu dan bertanya macam-macam soal hubunganku dengan Hugo?” Ana langsung teringat pada ibu Astrid dan juga rekannya yang lain. Mereka semua tahu kalau Ana pernah menikah lalu berpisah, tapi tak pernah tahu sosok pria yang menjadi suaminya itu.
“Sudah lama nunggunya?”
Ana terlonjak dari kursinya, ponsel di tangannya hampir saja jatuh terlepas. Ia mendelik sebal pada Hugo yang tiba-tiba saja datang dan mengejutkannya.
“Gak! Barusan juga,” sahutnya dengan nada ketus. Hugo menautkan alisnya, tapi Ana tak peduli. Ia cepat-cepat menyimpan ponselnya kembali, sontak berdiri berhadapan dengan Hugo yang langsung menarik kursi di depannya.
Hugo menyentak ujung kemejanya, melihat arloji di tangannya. Sore ini ia harus kembali pulang setelah menyelesaikan beberapa urusan. Ia beralih menatap Ana yang juga tengah menatapnya.
Senyum samar terbit di wajah Hugo melihat Ana memalingkan wajahnya yang merona. “Katamu Kau ingin bicara denganku.” Hugo memulai pembicaraan.
Ana menoleh padanya, menghela napas sejenak sebelum bicara. “Apa maksudmu memberi ibu Astrid cek lalu memintaku untuk bekerja denganmu?” tanya Ana langsung ke intinya.
Hugo tak langsung menjawab, ia memanggil pelayan dan memesan minuman. Ia bertanya pada Ana saat ingin memesan makanan, tapi Ana menolak dan beralasan sudah makan. Ana dibiarkan menunggu sampai pesanannya datang. Benar-benar menyebalkan.
“Aku butuh seseorang yang bisa membantu mengatur semua kegiatanku di rumah selama dua puluh empat jam. Dan Aku mau orang itu Kamu, Ana.”
“Hhah!” ucapan ibu Astrid memang benar adanya, dua puluh empat jam! Apa dia robot? Lagi pula berada seharian bersama pria itu hanya akan membuat mereka terus bertengkar karena selisih paham. Hugo dengan perintahnya, dan Ana dengan bantahannya. “Kau bisa membayar orang lain untuk melakukannya, kenapa harus Aku?”
“Aku tidak mau orang lain, Aku maunya Kamu!” tegas Hugo tak ingin dibantah. “Atau Kau ingin Aku menarik lagi bantuanku padanya?”
“Itu kan memang yang Kamu mau, membuatku tak punya pilihan dan harus mengikuti apa yang menjadi keinginanmu. Kau lupa, Aku bisa saja menipumu lagi dan membuatmu tak betah berada di dekatku.” Ana mengingatkan hal yang membuat Hugo meradang dan menatapnya marah.
“Aku pastikan hal itu tak akan pernah terjadi lagi padaku. Camkan itu!” mata itu menatapnya garang, seperti ada api yang berkobar di sana. Ana merasakan tubuhnya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang dan malah berdiri menantang.
“Siapa takut? Siapa bisa menjamin hal itu tak akan terulang lagi?” Ana bangkit berdiri, lalu berlalu dari hadapan Hugo. Lututnya terasa lemas, tapi Ana berusaha berjalan dengan kaki tegap hingga melewati pintu keluar di depan sana.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹