NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Berbaikan / Tamat
Popularitas:548.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uki Hara

Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini

ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA

***

Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.

Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.

Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.

"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.

Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sampai apartemen, Myria mengempaskan tubuh ke sofa ruang tamu. Jilbab yang seharian menutup kepala, ditarik perlahan agar rambut bisa bernapas. Kejar target menggambar membuat dua lengan beserta jari-jarinya ngilu. Namun, dia jalani itu dengan sukarela karena telah terbiasa.

Ponsel bergetar. Myria lekas duduk dan mengorek tas untuk mengambil. Dia berdehem sembari merapikan rambut sebelum menerima panggilan.

“Iya, Ayah. Assalamualaikum.” Sambutan terlontar saat panggilan terhubung. Sejak tujuh tahun lalu, ucapan salam bisa diucapkan Myria lagi pada Tuan Tirta karena ayahnya kembali masuk Islam. Bahkan, Nyonya Caroline ikut menjadi mualaf meski masih harus banyak belajar sampai sekarang.

Myria tak pernah memaksa. Hak beragama adalah milik setiap orang dan dia menghargai itu. Myria hanya menjalani kewajiban untuk berbakti pada orang tua, selebihnya itu urusan Tuan Tirta.

“Kamu sehat, Nak?” Pertanyaan terucap setelah Tuan Tirta membalas salam putrinya. “Maaf, Ayah baru sempat meneleponmu karena kesibukan akhir-akhir ini cukup menyita waktu.”

“Ayah enggak perlu minta maaf. Aku memaklumi itu. Aku sehat dan baik-baik aja di sini, Yah. Jangan khawatir.”

Tuan Tirta tersenyum tipis meski tidak bisa dilihat putrinya. “Ayah dapat kabar dari Mommy kemarin kalau kamu sudah bekerja. Di mana kamu bekerja?”

Myria melipat bibir dapat pertanyaan demikian. Bukan tanpa alasan dia terlihat gugup. Sebenarnya, jawaban pertanyaan itu telah terpikir dari awal, tetapi hati kecil Myria tidak bisa berkilah saat dirinya merasa berdosa telah berbohong pada ayah sendiri.

“Myria.”

Suara Tuan Tirta menyadarkan Myria. Wanita itu lekas menjawab, “Oh, iya, Yah. Alhamdulillah ada perusahaan fashion yang terima aku.”

“Apa nama perusahaannya? Sebesar apa jangkauan bisnisnya? Apa kamu diperlakukan baik? Apa mereka memberi gaji yang pantas untuk keahlianmu? Apa mereka juga ….”

“Ayah.” Myria segera memotong pembicaraan. Dia tahu Tuan Tirta tidak akan diam dan pasti bertanya banyak hal. “Aku dari awal sudah bilang kalau enggak terlalu memikirkan soal gaji. Uang dari Ayah sudah lebih dari cukup bahkan kalau mendirikan butik pun aku bisa. Tapi Ayah jangan lupa kalau semua ini keinginanku, aku nyaman, itu sudah cukup. Ayah enggak perlu khawatir apa pun.”

“Ayah khawatir itu wajar. Ayah tidak ingin kamu susah lagi seperti dulu.”

“Ayah, kalau aku ada kesulitan dan butuh bantuan, pasti lari ke Ayah. Jadi selama aku tidak mengabarkan hal buruk, aku pasti baik-baik saja.” Myria harus pandai merayu. Tidak mungkin saat ini dia mengatakan bahwa bekerja di bawah pimpinan Angkasa. Akan terjadi perang kedua andai itu terbongkar oleh Tuan Tirta.

“Baiklah. Ayah tenang kalau kamu nyaman. Bekerjalah yang rajin. Katakan pada Ayah saat kamu siap menikah lagi, Nak. Ada banyak pria di sini yang Ayah rasa pantas untukmu.”

Pembahasan soal pernikahan terulang lagi. Tidak sekali dua kali Tuan Tirta memberi pilihan padahal Myria sudah mengatakan kalau belum siap. Kegagalan hubungan selalu dijadikan alasan kuat untuk menolak, meski sebenarnya wanita itu sedang berharap pada rujuknya hubungan bersama Angkasa.

Memikirkan Angkasa, Myria tersenyum getir. Dia nyaris menangis padahal telepon belum ditutup. Daripada membuat Tuan Tirta khawatir, Myria pamit untuk mandi sehingga panggilan selesai.

***

Baru tiba, Sakti sudah bermalas-malasan. Pria itu menguap terus menerus sejak dari perjalanan. Gara-gara Angkasa yang mengajak lembur, Sakti kurang tidur. Sialnya lagi, pekerjaan tidak selesai dalam satu malam.

“Anda perlu kopi, Pak?” Office Boy kebetulan berpapasan dengan Sakti. Merasa pimpinannya terlihat menyedihkan, dia inisiatif menawari.

Sakti menggeleng. Dia lanjutkan langkah, tetapi berhenti dan memanggil OB tadi saat ingat sesuatu.

“Iya, Pak. Apa ingin dibuatkan yang lain?”

“Tidak, aku ingin tanya sesuatu. Apa kamu yang membuatkan susu untuk Pak Angkasa kemarin pagi?”

“Susu ….” Pekerja itu mengingat-ingat. “Tidak, Pak. Biasanya Nyonya Nasita yang ke pantry kalau soal itu. Tapi kemarin ada wanita bercadar yang membuat susu, tapi saya tidak diberi tahu kalau itu untuk Pak Angkasa.”

Wanita bercadar? Otak Sakti berpikir. Saat paham, bibirnya menyeringai.

Licik juga si Kasa. Dasar, Pecundang!

“Pak! Pak Sakti!” Tangan OB sampai bergerak kanan dan kiri guna menyadarkan Sakti yang senyum-senyum tanpa kejelasan.

Bukannya malu, Sakti justru pasang wajah dingin dan berlalu begitu saja tanpa mengucap terima kasih atau hal lain.

Menjelang zuhur, para karyawan lelaki meninggalkan tempat. Perusahaan memang memberi aturan adanya salat berjamaah dan istirahat lebih awal di Hari Jumat.

David dan dua tim desainernya yang laki-laki keluar, sementara anggota lain masih tinggal.

“My, ayo turun. Kamu nggak istirahat?”

“Ee, enggak. Aku dibawain bekal sama ibu temenku. Jadi makan di sini aja.”

Faiza dan empat teman wanitanya tak lagi membujuk. Mereka meninggalkan Myria di ruangan karena harus ke kantin untuk makan.

Komputer masih menyala, Myria lanjut menggarap desain sembari menikmati bekal buatan ibu Friska. Selama dua hari bekerja, memang Friska yang jadi pengantar atau penjemput. Sahabatnya itu tidak keberatan sama sekali dan justru tidak membiarkan Myria naik taksi seorang diri.

Mobil pernah ditawarkan Tuan Tirta pada Myria, tetapi ditolak. Wanita itu lagi-lagi bilang bisa beli sendiri andai mau.

Sementara itu, Daniel juga siap menjadi sopir pribadi meski harus merangkap pekerjaan menjadi asisten Tuan Aji. Namun, tetap saja Myria tidak mau. Ada Daniel, sama saja bunuh diri.

Langkah Angkasa terhenti tepat di depan ruang desainer. Dia menoleh dan mendapati Myria sedang serius menatap layar komputer sembari menyuapi mulut dengan makanan. Ingin mendatangi, dia tidak punya alasan. Maka dari itu, Angkasa memilih melanjutkan langkah meski mata terus terbayang.

Salat Jumat selesai. Di undakan tangga, Angkasa hendak memakai sepatu. Sakti ada di sebelahnya meski diam saja dan tidak seberisik biasanya. Sahabatnya tahu tempat, Angkasa telah hafal perangai Sakti bahkan sejak kecil.

“Pak Kasa, Pak Sakti.”

Dua pria yang hari ini sama-sama memiliki lingkaran hitam di bawah mata itu mendongak, sementara orang yang memanggil mendekat.

“Hari ini Faiza terakhir kerja, Pak. Divisi kami berencana melakukan makan malam perpisahan kecil-kecilan, apa Bapak mau hadir?”

“Perpisahan?” Kening Sakti berkerut seiring mata menyipit karena sinar matahari mengenai retina. “Aku dan Pak Kasa ada ….”

“Kami akan hadir. Jam berapa acara kalian?”

Sakti langsung menoleh saat Angkasa memberi keputusan sepihak. Padahal, kemarin sahabatnya itu bilang kemungkinan akan ada lembur tambahan sampai Sabtu. Mengapa ganti lagi?

Sial! Sejak Myria balik ke sini, Kasa jadi kayak bunglon.

David tersenyum. “Jam tujuh malam, Pak. Di Delicious Resto.”

Setelah dapat anggukan dari Angkasa, David pamit kembali ke kantor lebih dahulu.

“Sumpah! Gue nggak bisa mikir lo bisa dadakan gini sekarang kalau ambil keputusan.” Sakti mulai mengomel sembari berjalan. Angkasa di sampingnya tetap pasang wajah datar.

“Nggak ada yang nyuruh lo mikir.”

“Enteng banget mulut lo ngomong, Ka. Ada apa-apa sama lo, gue juga nggak bisa napas rasanya.”

Langkah Angkasa terhenti. Pria itu menatap lurus di mana lalu lalang kendaraan memenuhi indra penglihatan. Teriknya sinar mentari diabaikan agar bisa menikmati semilir angin yang kebetulan berembus.

Jarak masjid dan kantor tidak jauh. Angkasa dan karyawan lain memilih jalan kaki daripada harus mengeluarkan kendaraan dari parkiran. Pria itu menoleh pada sahabatnya. “Gue udah baik-baik aja, Sakti. Lo bisa hidup damai sekarang tanpa harus ngurusin gue lagi. Lo berhak bahagia, jemput bahagia lo sekarang tanpa harus nunggu gue.”

“Nggak. Nggak bener ini.” Sakti menggeleng. Tatapan sendu dari Angkasa seolah menusuk jantungnya hingga berdarah. “Gimana lo bisa bilang baik-baik aja kalau tampang lo aja kayak gini sekarang?”

Tidak peduli sedang berada di trotoar, Sakti dan Angkasa bicara seserius itu. Pejalan kaki memang tidak ramai, tetapi tetap saja jadi perhatian sepintas untuk pengendara motor dan mobil.

“Gue cuma butuh waktu. Dia udah ada di depan mata gue sekarang, gue cuma perlu bilang buat balikan setelah kondisi gue pantes buat dia.”

“Lo masih ngerasa minder sama dia setelah apa yang lo miliki sekarang, Ka?” Sakti mendorong bahu Angkasa dengan kepalan tangan. “Lo buta apa nggak peka? Dia mau bekerja kayak gini, itu artinya kemewahan bukan sesuatu yang berarti. Kalau emang dia gila uang dan jabatan, mungkin bokap lo udah nggak di Kalastra Group sekarang karena diambil alih sama dia. Mikir, Ka!”

“Ketakutan gue bukan soal dia bisa terima apa adanya atau bukan, tapi lawan gue sekarang ayahnya. Lo udah liat sendiri gimana hebatnya Paman Mandala.”

Sakti mengerang frustrasi. Berbicara dengan Angkasa memang harus siap adu argument dengan cara berpikir sahabatnya itu. Dia tarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan langkah.

“Kalau lo nunggu bisa nyaingin Tuan Tirta itu berat. Belum lagi kalau kelamaan, anaknya pasti bakal dijodohin sama pria lain. Gue nggak mau lihat lo hancur buat kedua kali.”

1
Uti Cimoy
Hai kakak author, aq suka tulisan mu. ini lagi baca maraton
ig: ukiii__21: udah tamat di f1zz0 kak
total 3 replies
Sri Puryani
kok gt sih sakti ....mbok yo mendekati faiza kasihan kan
Sri Puryani
ya deketin faiza dong sakti.....msk tanya sama ibrahim
Sri Puryani
myria egois....mementingkan diri sdr
Sri Puryani
kok rasanya gk percaya ya myria bs mikir gt, kirain ilmu agamanya tggi itu pinter ternyata.......
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya
Sri Puryani
thor faisa srh nolak nikah sama angkasa blg aja mo nikah sama sakti biar myrianya gk ngeyel
Sri Puryani
oalah myria ....jd orang kok gk sabar....br jg sethn blm punya anak dah bingung, aq aja 5 th br punya anak gk papa 🤭
Sri Puryani
oh faisa kirain friska ....ya udah faisa sama sakti aja
Sri Puryani
udah sama sakti aja friskanya
Sri Puryani
semangat angkasa myria
Sri Puryani
jangan" myria lg tekdung😀
Sri Puryani
sdh jd suami panggilannya dirubah dong my....
Sri Puryani
ternyata dendam
Sri Puryani
kyknya ada yg dendam sama angkasa
Sri Puryani
Luar biasa
Sri Puryani
ikut seneng baca 😀
Sri Puryani
kok gk rela ya thor angkasa sama orang lain
Sri Puryani
oalah thor kok gt nasib angkasa....kasihan thor, hukum bpk nya myria aja thor
Sri Puryani
ortu yg egois....myria lakukan sesuatu spy ayahmu kehilangan dirimu
Sri Puryani
kyknya yg dtg ortu angkasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!