NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu masa lalunya

Tak terasa, hari yang paling mendebarkan itu akhirnya tiba. Hari dimana transfer embrio akan dilakukan. Hari yang selama ini ditunggu sekaligus ditakuti oleh Zulfa. Perjalanan panjang yang ia tempuh selama berbulan-bulan seolah berputar kembali di kepalanya. Puluhan suntikan telah menembus kulit perutnya. Ratusan butir obat telah ia telan dengan teratur tanpa pernah terlewat. Belum lagi berbagai prosedur medis, pemeriksaan rutin, perubahan pola hidup, hingga perjuangan menjaga harapan agar tidak runtuh oleh rasa takut.

Saking seringnya disuntik, kulit di beberapa bagian tubuhnya bahkan terasa kebal terhadap rasa nyeri. Namun Zulfa tahu, perjuangannya belum benar-benar berakhir. Justru hari ini adalah salah satu penentunya. Saat ini ia dan Arslan kembali berada di Singapura, duduk di ruang tunggu klinik fertilitas yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Beberapa kali mereka datang ke tempat ini dengan membawa harapan yang sama. Harapan untuk menjadi orang tua.

Tanpa sadar, Zulfa menggenggam kedua tangannya sendiri. Pikirannya melayang pada lima percobaan IVF sebelumnya yang belum membuahkan hasil.

Bagaimana kalau kali ini gagal lagi?

Bagaimana kalau semua perjuangan ini kembali berakhir dengan kekecewaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di dalam kepalanya, membuat dadanya terasa semakin sesak. Zulfa menunduk, berusaha mengusir ketakutan yang perlahan menggerogoti keberaniannya. Namun tiba-tiba lamunannya buyar.

"Nyonya Zulfa?"

Suara perawat yang memanggil namanya membuat ia tersentak.

Di sampingnya, Arslan yang sejak tadi sibuk menatap layar iPad segera mengangkat kepala. Jemarinya langsung menekan tombol layar dan menutup dokumen perusahaan yang sedari tadi ia pelajari. Begitulah Arslan. Berbeda dengan Zulfa yang memiliki cukup waktu untuk melamun, Arslan hampir tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Bahkan di tengah proses penting seperti ini, pikirannya masih sempat menyinggahi laporan-laporan bisnis yang menunggu keputusan darinya.

Meski demikian, bukan berarti pria itu tidak cemas. Ia hanya menyembunyikannya dengan cara yang berbeda. Arslan segera berdiri dan menghampiri istrinya. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Zulfa yang terasa dingin bahkan sangat dingin. Jemari pria itu mengusap lembut punggung tangan sang istri, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia miliki.

"Semua akan baik-baik saja."

Hanya kalimat sederhana itu.

Namun entah mengapa, setiap kali Arslan mengucapkannya, Zulfa selalu merasa sedikit lebih kuat. Seolah beban yang menyesakkan dadanya berkurang meski hanya sedikit. Arslan menggandeng istrinya memasuki ruang konsultasi yang didominasi warna putih gading dengan pencahayaan hangat yang menenangkan. Begitu masuk, ia langsung menarik sebuah kursi untuk Zulfa.

"Duduk dulu."

Nada suaranya terdengar lembut namun penuh perhatian. Zulfa menurut. Sementara Arslan mengambil tempat di sampingnya, tetap menggenggam tangan sang istri seakan tak ingin melepaskannya. Hari ini mereka kembali datang membawa harapan yang sama. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya berdoa dalam diam agar harapan itu akhirnya menemukan jalannya pulang.

Dokter Tan membuka map rekam medis milik Zulfa yang sudah cukup tebal. Matanya menelusuri lembar demi lembar catatan perjalanan panjang pasangan itu. Lima kali percobaan. Lima kali harapan yang harus berakhir dengan kekecewaan.Dan hari ini, mereka kembali berdiri di titik yang sama.

Titik yang selalu dipenuhi doa, harapan, sekaligus ketakutan. Sudah waktunya menjalani tahap terakhir, batin dokter itu.Sebelum prosedur transfer embrio dilakukan, dokter terlebih dahulu memeriksa kondisi rahim Zulfa untuk memastikan semuanya benar-benar berada dalam kondisi optimal.

Zulfa kembali berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Alat transduser bergerak perlahan di atas perutnya yang rata. Di sana masih terlihat samar bekas suntikan pemecah sel telur yang dilakukan malam sebelumnya. Sebuah langkah penting yang harus dilalui sebelum transfer embrio dilakukan.

Ruangan menjadi hening. Hanya suara mesin USG yang sesekali terdengar. Dokter Tan memperhatikan layar dengan saksama, mengukur dan memastikan setiap parameter sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa menit kemudian, ia menarik alat tersebut dan meletakkannya kembali pada tempat semula. Dokter itu lalu duduk di kursinya sambil menatap Arslan dan Zulfa. Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, senyum tipis terlihat di wajahnya.

"Ketebalan endometrium sudah sangat baik. Kondisi rahim Ibu Zulfa siap untuk dilakukan transfer embrio."

Kalimat sederhana itu langsung membuat jantung Zulfa berdebar lebih cepat. Meski belum menjamin keberhasilan, setidaknya satu tahap penting telah berhasil mereka lewati.

"Kalian sudah bisa masuk ke ruang tindakan."

Seorang perawat segera mengantar mereka menuju ruangan berikutnya. Zulfa mengganti pakaiannya dengan jubah pasien berwarna biru muda yang menyerupai kimono. Rambutnya ditutupi penutup kepala steril, sementara Arslan yang akan mendampinginya juga diminta mengenakan pakaian pelindung khusus.

Tak lama kemudian mereka memasuki ruang tindakan. Aroma antiseptik langsung memenuhi indera penciuman. Ruangan itu terasa dingin dan sangat bersih. Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang khusus dengan penyangga kaki di kedua sisi. Sebuah monitor USG berdiri di dekatnya, sementara layar besar menempel di dinding untuk membantu proses pemantauan selama transfer embrio berlangsung.

Zulfa berbaring sesuai arahan perawat. Sementara Arslan duduk di sampingnya. Tak sedetik pun pria itu melepaskan genggaman tangannya. Jemari Zulfa terasa dingin bahkan teramat dingin. Wajahnya pun tampak lebih pucat dari biasanya. Bukan karena takut terhadap prosedur yang akan dijalani. Melainkan hasil dalam dua minggu ke depan yang akan menjadi masa penantian paling berat.

Dua minggu yang akan menentukan apakah perjuangan panjang mereka akan berbuah kebahagiaan atau kembali menyisakan luka. Arslan mengusap punggung tangan istrinya perlahan.

"Jangan takut, apa pun hasilnya nanti, aku akan tetap ada di sampingmu."

Suara Arslan terdengar pelan, namun cukup untuk membuat mata Zulfa mulai terasa hangat. Ia hanya mengangguk kecil. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan saat ini. Tak lama kemudian, dokter Tan memasuki ruangan bersama tim medisnya. Di layar monitor besar yang terhubung dengan laboratorium embriolog, tampak dua embrio yang telah dipersiapkan untuk prosedur transfer.

Begitu kecil. Hanya berupa titik-titik kehidupan yang nyaris tak terlihat oleh mata awam. Namun di balik ukurannya yang begitu mungil, tersimpan harapan yang sangat besar. Harapan seorang wanita yang telah bertahun-tahun menanti dipanggil sebagai ibu. Harapan seorang pria yang diam-diam selalu membayangkan dirinya menggandeng anak-anaknya kelak.

Dan harapan sebuah keluarga yang tak pernah berhenti berdoa. Embrio-embrio itu telah melalui perjalanan panjang. Dibentuk di laboratorium, dirawat dengan hati-hati, lalu dibekukan dalam suhu khusus untuk menjaga kualitasnya. Kini, setelah rahim Zulfa dinyatakan siap, keduanya akan dipertemukan dalam satu kesempatan yang sangat berharga.

Satu kesempatan untuk tumbuh.

Satu kesempatan untuk bertahan.

Satu kesempatan untuk menjadi kehidupan baru.

Zulfa menatap layar itu tanpa berkedip. Dadanya dipenuhi rasa haru yang sulit dijelaskan. Sudah terlalu banyak air mata yang ia keluarkan selama perjalanan ini. Sudah terlalu banyak kegagalan yang ia lalui. Namun jika ada satu hal yang tidak pernah berubah dari dirinya, itu adalah keberaniannya untuk mencoba lagi. Dan lagi.

Sebab di dalam hati Zulfa, harapan itu masih hidup. Baginya, selama ia masih memiliki rahim masih ada kesempatan untuk terus berjuang. Bukan semata-mata untuk memenuhi keinginan orang lain. Melainkan karena ia dan Arslan sama-sama memimpikan hadirnya seorang anak yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.

Seorang embriolog mulai menarik paksa embrio kecil itu, agar masuk ke dalam alat khusus yang berbentuk seperti suntikan yang jarumnya begitu panjang. Nantinya jarum ini yang akan masuk ke area intim Zulfa untuk mengantarkan embrio sampai ke dalam rahim. Kedua mata Arslan sampai tak berkedip menatap layar monitor yang akan menampilkan proses embrio masuk ke dalam rahim. Ini bukan pertama kalinya Arslan menyaksikan hal itu, tapi rasanya tetap sama. Masih membuat jantungnya berdebar-debar.

Zulfa berdesis nyeri tatkala merasakan sensasi luar biasa yang menembus rahimnya. Bahkan Arslan bisa menyaksikan sendiri bagaimana embrio yang mereka miliki bisa masuk ke dalam rahim istrinya. Dan seperkian detik kemudian semua selesai. Prosesnya tidak rumit dan tidak lama, tidak ada obat bius yang masuk ke tubuh Zulfa seperti proses pengambilan sel telur beberapa bulan lalu. Kini mereka hanya tinggal menunggu hasil.

Sebelum dokter Tan beranjak ia menghampiri kedua pasiennya yang terlihat saling menguatkan, ia tersenyum dan berkata, "Tugas dokter hanya sampai mengantarkan embrio ke dalam rahim, selebihnya urusan Tuhan. Karna rahim sudah masuk areanya Tuhan. Banyak-banyak berdoa saja." Sambil menepuk-nepuk bahu Arslan dan memberi senyum tulusnya kepada Zulfa yang masih terbaring di atas brankar.

Setelah Zulfa melewati fase pemulihan yang hanya berlangsung dua jam, suster mengijinkan Zulfa untuk melanjutkan istirahatnya di hotel. Namun sebelum Zulfa kembali ke hotel, Arslan terlebih dulu masuk ke ruang farmasi untuk mengambil obat yang sudah di resepkan dokter. Arslan mulai menjelaskan satu persatu obat-obatan itu kepada Zulfa, 

"Ada beberapa obat dan vitamin yang harus di minum. Minumnya jangan sampai telat, ya. Harus on time!" Arslan meniru ucapan Apoteker, membuat Zulfa sedikit tertawa.

"Iya aku uda tau. Nggak usah dijelasin lagi. Yuk balik hotel, aku mau lanjut istirahat lagi." Rasa keram di perut membuat Zulfa tak bisa bergerak cepat. Arslan membantu istrinya itu untuk bangkit dari sofa. Memapahnya dengan sangat hati-hati. Arslan berniat untuk membawa Zulfa dengan kursi roda yang tersedia, namun tiba-tiba ada seorang wanita yang menyapanya. Wanita yang sudah lama sekali tidak pernah ia temui.

"Arslan." Sapa wanita itu. Dia tersenyum bahagia melihat sosok Arslan yang berdiri di hadapannya. Ada rasa tak percaya jika ia kembali bertemu dengan pria yang pernah mengisi hidupnya.

"Fathiya." Suara Arslan terdengar lirih. Ada keraguan dalam dirinya untuk menyapa wanita yang mengenakan seragam medis, apalagi istrinya sedang berada bersamanya.

"Sedang apa kamu disini?" Hampir saja Fathiya bertanya seperti itu namun secepat mungkin ia langsung mengganti pertanyaannya, "Apa kabar?"

"Baik." Jawab Arslan singkat. Mata Fathiya menangkap wajah wanita yang terlihat sedang menahan sakit di samping Arslan.

"Semoga usaha kalian kali ini membuahkan hasil, ya." Fathiya tersenyum menatap keduanya. Walau Fathiya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Arslan, tetapi ada seseorang yang selalu memberi informasi tentang rumah tangga Arslan yang belum diberi keturunan.

"Aamiin. Terimakasih." Hanya Arslan yang menjawab.

"Apa kamu lagi menangani pasien disini?" tanya Arslan.

"Sejak kapan dokter Onkologi berubah jadi dokter Obgyn?" Fathiya tertawa hingga gigi gingsul-nya terlihat, membuat bibir Arslan secara reflek tersenyum.

"Oiya maaf, aku nggak tau kalau kamu uda jadi dokter spesialis Onkologi." Arslan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Aku kesini karna lagi ada urusan. Aku kerja disini juga, kok. Cuma beda gedung aja." Jari telunjuk Fathiya mengarah ke arah gedung besar dari balik kaca, "Ruang praktekku ada di gedung sebelah sana."

Arslan termanggut mendengarnya, sementara Zulfa hanya terdiam saja sejak tadi. Fikirannya sedang berputar-putar. Zulfa memang tidak pernah bertemu wanita ini, tetapi namanya terasa tidak asing di telinganya. Siapa wanita itu? Ada hubungan apa Arslan dengan wanita itu? 

***

Komen dong yg udah baca sampai bab ini :)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!