Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL15
HARI BARU, SEMANGAT BARU
Pertengkaran semalam memang belum benar-benar selesai. Namun Hamnah memilih menyimpan semuanya rapat-rapat dan menyambut hari ini dengan senyum seperti biasa. Tak dipungkiri, tindakan Romi yang tiba-tiba pagi tadi memang sedikit banyak memperbaiki suasana hatinya. Ya walaupun masih ada kesal sedikit tapi ia mencoba bersikap dewasa. Ia banyak berpikir disepanjang perjalanan menuju kantor tadi jika tetap mengedepankan ego maka masalahnya tidak akan pernah selesai sampai kapanpun.
“Selamat pagi, Tim!” Hannah menyempatkan diri menyapa semua orang yang berada di depannya sebelum masuk ke dalam ruangan dengan senyum lebar. Sedang orang yang disapa menatap dengan keheranan.
“Happy banget Mbak Hannah pagi ini.” Celetuk salah satu rekan kerja Hannah ketika wanita itu sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Iya ya, beda banget sama yang kemarin. Kayak suntuk gitu mukanya. Tekuk mulu mukanya.”
“Iya loh, gue sampai mikir kalau si bos ada masalah sama suaminya.”
Elea menggeleng kepala mendengar cuitan rekan kerjanya, dia tak ikut nimbrung dengan obrolan rekan kerjanya itu, tapi dia juga menyadari perubahan wajah sang atasannya pagi ini.
“Sudah, sudah… gibahin orang mulu, lanjut kerja deh, kita masih sibuk loh buat rencana ke Singapura besok.” Elea mengingatkan rekan kerjanya yang entah kenapa masih membahas suasana hati sang atasan yang ceria pagi ini.
“Tapi lo lihat juga kan, El perubahan mbak Hannah? Kemarin tuh mukanya kayak murung gitu, gue aja lihatnya jadi cemas. Terlebih kemarin dia kayak kosong gitu waktu kita pas rapat.”
Elea juga menyadari hal itu tapi lagi-lagi Elea tak menanggapi lebih. Entah apa alasannya tapi ia berharap agar atasannya itu bisa seperti pagi ini seterusnya. Walau tak tahu banyak soal pribadi sang atasan tapi ia tahu jika setiap hubungan pasti akan memiliki konflik dan masalahnya sendiri.
“Iya gue lihat, tapi cukup kita lihat saja dari jauh, gak perlulah kita masuk lebih jauh ke ranah pribadi mbak Hannah. Cukup jaga moodnya biar pekerjaan kita juga aman jaya lancar.”
“Iya juga sih. Ya udah deh yuk kita lanjut kerja.”
“Nah itu ide yang brilliant daripada pada kepoin atasan terusss?” Kali ini Elea langsung menimpali rekan kerjanya itu.
“Eh mau kemana lo?” tanyanya ketika melihat Elea berjalan menuju ruangan Hannah.
“Mau serahin laporan yang kemarin, udah gue buat rancangannya, tinggal minta persetujuan si bos oke atau enggaknya. Gue masuk dulu ya?” jawab Elea sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Hannah.
“Oke, good luck, El, tapi lo jangan ember soal tadi kita-kita ngibahin mbak Hannah.” Elea tak menyahut, namun jempolnya tetap memberi respon.
Tok! Tok! Tok!
Elea mengetuk pintu ruangan Hannah sebanyak tiga kali sebelum ia masuk ke dalam ruangan sang atasan.
“Selamat pagi, Mbak, Elea boleh masuk?” kata Elea sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Hannah.
“Selamat pagi, Elea, udah masuk apa perlu dipersilahkan lagi?” jawab Hannah sedikit menggoda.
Yang digoda terlihat malu-malu kemudian ia berdiri di hadapan Hannah.
“Ini Mbak aku mau serahin berkas hasil rapat kita kemarin, sudah aku perbaiki dan masukin data sesuai dengan arahan Mbak waktu rapat kemarin.”
Hannah menatap berkas yang disodorkan Elea padanya.
“Buru-buru nggak? Kalau nggak aku mau selesain ini dulu, bentar kok,” tukas Hannah pada Elea. Karena kejadian kemarin moodnya jadi berantakan alhasil hari ini ia harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin dan hari ini.
“Nggak juga sih, Mbak tapi kalau bisa cepat makin baik, soalnya aku mau serahin sama departemen keuangan biar anggarannya cepat keluar,” balas Elea.
“Oke, 10 menit gimana? Masih aman nggak?”
Elea tersenyum, “aman, Mbak. 10 menit lagi aku kesini ambil berkasnya.”
“Oke, Elea, thanks ya.”
“Siap, Mbak, semangat kerjanya!”
Elea memberi semangat pada sang atasan. Ia bisa melihat jelas jika atasannya itu akan sangat sibuk hari ini, terlihat jelas tumpukan berkas yang ada di atas meja wanita itu. Tentu saja akan banyak sebab kemarin atasannya itu memang lebih banyak melamun ketimbang kerja.
“Udah, El?” sapa rekan kerjanya yang lain.
“Sudah, cuma mbak Hannah masih sibuk, kamu mau masuk?” Elea melihat rekannya itu juga membawa berkas yang tak kalah banyak dari berkas yang ia bawa tadi.
Ahh.. sepertinya Mbak Hannah bakalan lembur hari ini. Kasihan.
“Aman nggak sih gue masuk sekarang? Tapi kayaknya aman sih soalnya kan dia lagi good mood pagi ini.”
“Aman kok, lo kira mbak Hannah Macan apa?” balas Elea menimpali ucapan rekan kerjanya.
Pagi berlalu begitu cepat, namun tidak bagi Hannah yang merasa waktu berjalan begitu lambat bahkan siang ini masih berkutat dengan berkas-berkas yang rasa-rasanya tidak ada habisnya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuat fokus Hannah sedikit teralihkan.
“Masuk!” ucapnya sedikit lebih keras.
“Loh, apa ini?” Kaget melihat beberapa kotak makanan diletakkan di atas meja kerjanya.
“Ini makanan Mbak,” jawab Elea.
“Iya tahu makanan, dari sini kerasa kok, tapi aku nggak pesan masalahnya, eh apa aku lupa ya?”
Elea tertawa kecil melihat ekspresi kebingungan sang atasan.
“Mbak emang nggak pesan kok, tadi habis makan siang aku lihat Mbak nggak turun-turun ke kantin, makanya aku inisiatif beliin makanan buat Mbak.” Jelas Elea.
“Oalah gitu toh?”
Hannah mengangguk kecil setelah mendengar penjelasan Elea.
“Iya nih, lumayan sedikit sibuk, saya saja bingung kok ini berkas kayak nggak ada habisnya ya? Eh, ini jadinya berapa?” kata Hannah seraya mengeluarkan dompet dari dalam laci.
“Sedikit apa lumayan, Mbak? Eh nggak usah, Mbak, nggak usah diganti. Anggap saja aku lagi traktir, Mbak.” Elea menggelengkan tangannya cepat ketika melihat sang atasan akan membuka dompetnya.
“Kok gitu?” Protes Hannah.
“Ya nggak apa-apa, Mbak, hitung-hitung jadi booster biar kerjanya makin semangat. Itu ayam penyet kesukaan Mbak loh, yang level lima sambalnya.”
“Wah, thanks ya, Elea, Mbak pasti makin semangat nih kerjanya.”
“Siap, Mbak, aku keluar dulu. Jangan lupa makanannya dimakan, mumpung masih hangat.”
Hannah menganggukkan kepala seraya mengatakan, “Iya bawel!”
Tak heran jika Hannah begitu disukai para bawahannya. Sikapnya yang hangat membuat jarak antara atasan dan bawahan nyaris tak terasa.
Hannah melirik bungkusan yang tadi Elea berikan padanya, ia sedang menimbang apakah akan makan sekarang atau nanti, namun mengingat ucapan Elea soal ayam yang masih hangat mendadak membuatnya berselera makan.
Hannah makan dengan lahap siang itu. Seporsi ayam penyet hangat dilengkapi dengan Nasi uduk, lalapan segar plus sambal level lima favoritnya semakin membuatnya lahap makan. Namun ada satu yang tiba-tiba terpikirkan oleh Hannah.
Romi?
Yup, Romi, suaminya yang sampai detik ini belum juga memberikan kabar, bahkan tak juga menanyakan dirinya apakah sudah makan siang atau belum. Pikiran negatif kembali muncul namun dengan cepat Hannah menapiknya. Tidak, tidak lagi ia mau dikuasai oleh pikiran negatif. Terlebih ia harus fokus mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai kemarin. Ia tidak ingin pergi ke Singapura dalam kondisi pekerjaannya belum selesai di sini.
Di tengah semua kesibukannya, Hannah sama sekali tidak tahu bahwa ketika ia sedang berusaha melupakan semua prasangkanya, di gedung lain Romi justru sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang sejak kemarin terus memenuhi pikirannya.
Romi sebenarnya ingin menolak ajakan itu. Setelah apa yang terjadi kemarin, ia sadar menjaga jarak adalah keputusan terbaik. Namun ketika Jelita berkata hanya ingin makan siang sebentar sambil mengenang masa-masa mereka di rumah sakit, rasa tidak enaknya kembali mengalahkan logikanya.
“Ini beneran nggak apa-apa kamu makan di sini?”
Wanita itu tertawa kecil.
“Nggak apa-apa. Harus berapa kali kamu ngomong gitu?”
“Ya kali aja, kan kamu sudah nggak terbiasa, secara kan sekarang posisi kamu sudah jadi Manager?”
“Ngaco kamu! Aku yang dulu sama aku yang sekarang nggak ada bedanya, paling yang beda ya posisiku aja di kantor, selebihnya tetap sama. Masih sama Jelita yang kamu kenal saat di Rumah Sakit.” Sengaja menekankan kata ‘rumah sakit’.
Dan benar saja, mendengar kata ‘rumah sakit’ membuat Romi mengingat akan pertemuan pertama mereka kala itu.
“Benar, kamu masih sama. Ramah juga pengertian seperti dulu.”
“Kamu bisa saja, tapi kata cantiknya udah hilang? Perasaan aku berubah dikit deh, masa iya nggak lebih cantik daripada dulu?”
“Emang kamu superman pake berubah segala?” Kelakarnya.
“Enggak harus jadi superman dulu buat berubah.”
“Eung?”
Ekspresi bingung Romi membuat Jelita menghembuskan napasnya pelan.
“Buktinya kamu, kamu berubah begitu cepat dari terakhir kali kita ketemu waktu itu.”
Romi tersentil dengan ucapan wanita itu. Semenjak interaksinya dengan Jelita diketahui oleh Hannah, Romi memang mulai memberi batasan pada hubungan mereka. Hubungan yang tidak tahu juga apa namanya.
Ya.
Wanita itu adalah Jelita.
Sosok yang selama ini berusaha Romi hindari.
Romi mengira pertemuan itu hanya makan siang biasa.
Padahal, tanpa ia sadari, sejak siang itu semuanya mulai berjalan ke arah yang tak lagi bisa ia kendalikan.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐