"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 #Cincin pengikat
Anya terus mencoba menarik kakinya dengan gerakan sehalus mungkin di bawah meja. Namun, jepitan kaki panjang Bara Fernandez di pergelangan kakinya terasa seperti borgol besi yang kokoh, hangat, dan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Sialan, pria ini benar-benar gila! Bagaimana bisa dia mempertahankan ekspresi wajah seberwibawa itu di atas meja, sementara di bawah meja dia sedang menawan kaki calon tunangan keponakannya sendiri?
Kegelisahan Anya rupanya tertangkap oleh radar Calvin. Pria di hadapannya itu menghentikan gerakan pisaunya, menatap Anya dengan kening berkerut halus.
"Anya? Kamu baik-baik saja?" tanya Calvin, suaranya terdengar cukup peka dan perhatian. "Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"
Pertanyaan Calvin seketika membuat atensi Tito dan Isyana beralih pada Anya. Jantung Anya mencelos. Dia langsung memaksakan sebuah senyuman lebar, meski matanya melirik tajam ke arah Bara yang justru sedang menyeka sudut bibirnya dengan tisu, tampak sangat tenang.
"Ah! Tidak kok, Calvin. Aku baik-baik saja," jawab Anya, otaknya kembali dipaksa merajut karangan bebas demi menutupi kepanikannya. "Aku... aku hanya merasa makanan ini enak sekali! Dari tadi aku sedang mengunyah perlahan, memindai rasa apa saja yang ada di dalam saus truffle dan bumbu daging ini. Aku sangat menyukai makanan dengan cita rasa sekaya ini, jadi aku agak terlalu menghayati."
Tomi Fernandez tertawa renyah mendengar penuturan Anya. "Wah, ternyata seleramu tinggi juga, Anya. Koki di hotel ini memang sengaja didatangkan dari Prancis."
Namun, akibat terlalu gugup dan fokus memikirkan alasan, tangan Anya tidak sengaja menyenggol tas kecilnya yang diletakkan di tepi meja.
Prak!
Tas beludru hitam itu jatuh dan mendarat tepat di dekat kaki Calvin.
"Eh, maaf," ujar Anya spontan.
"Biar aku ambilkan," kata Calvin rendah. Pria itu langsung menundukkan kepalanya, bersiap condong ke bawah meja untuk memungut tas tersebut.
Anya seketika panik setengah mati. Jika Calvin menunduk sekarang, dia pasti akan melihat bagaimana kaki pamannya sedang menjepit erat kaki Anya! Itu akan menjadi skandal terbesar yang menghancurkan malam ini. Anya menatap Bara dengan mata melotot penuh tuntutan Lepaskan sekarang juga, bodoh!
Bara, dengan ketenangan yang luar biasa, baru melepaskan kuncian kakinya tepat satu detik sebelum kepala Calvin melewati batas kolong meja. Anya mengembuskan napas lega yang tertahan di tenggorokan.
Calvin kembali menegakkan tubuhnya, membawa tas kecil milik Anya lalu mengulurkannya melintasi meja. "Ini tasmu, Anya."
Melihat kesempatan untuk membalas Bara, Anya sengaja mengulas senyuman paling manis yang dia miliki. Dia menerima uluran tas itu dari Calvin, sengaja membiarkan jari-jarinya menyentuh punggung tangan Calvin dengan lembut dan lama. Anya ingin pria licik di hadapannya itu sadar posisinya dan berhenti mempermainkannya. Lihat ini, aku adalah calon istri keponakanmu! begitu pesan tersirat yang ingin Anya sampaikan pada Bara.
Calvin sedikit terkejut dengan sentuhan manis Anya, namun dia hanya tersenyum kaku dan kembali duduk tegak.
Di seberang mereka, Bara Fernandez menyaksikan adegan sentuhan tangan itu dengan mata yang menyipit. Bukannya menjauh atau merasa bersalah, di dalam hati Bara justru merasa tantangan ini semakin menarik. Sifat pemberontak dan kepintaran Anya dalam mengelak benar-benar menyalakan jiwa berburunya. Bara hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua saja dengan gadis cerinya ini tanpa interupsi dari siapa pun.
Isyana Fernandez yang melihat interaksi manis antara putranya dan Anya langsung tersenyum semringah. Dia menyentuh lengan suaminya dengan gemas.
"Tomi, lihat mereka. Anya, kamu memang cocok sekali untuk putra Tante," puji Isyana, matanya berbinar senang.
Tomi Fernandez menyahut sembari mengangguk setuju. "Calvin ini memang sedikit kaku dan membosankan kalau diajak mengobrol, Anya. Tapi Om yakin, gadis secerdas dan sehidup kamu pasti bisa meluluhkannya dalam waktu singkat."
"Kalau begitu, tidak perlu menunda waktu lagi, langsung saja ke acara inti," potong Isyana dengan antusias. Wanita paruh baya itu berdiri, meraih sebuah kotak beludru merah dari dalam tasnya, lalu membukanya di tengah meja. Di dalamnya berkilau sepasang cincin berlian berdesain elegan dan mewah.
Jantung Anya berdegup kencang. Ini dia. Momen yang paling dia takuti.
Calvin berdiri lebih dulu, mengambil cincin untuk wanita, lalu melangkah mendekati sisi kursi Anya. Anya terpaksa ikut berdiri, mengulurkan jari manis tangan kirinya dengan perasaan campur aduk. Dengan gerakan perlahan dan kaku, Calvin menyematkan cincin itu di jari manis Anya. Dinginnya logam mulia itu seolah menegaskan bahwa kebebasan Anya telah tergadaikan.
Setelah itu, giliran Anya yang mengambil cincin untuk pria. Dia meraih jemari Calvin, memasangkan cincin tersebut hingga pas di jarinya. Semua orang bertepuk tangan pelan, kecuali Bara yang hanya menatap gerakan jemari Anya dengan senyum misterius yang tak terbaca.
Setelah cincin berkilau dari Calvin itu melingkar sempurna di jarinya, Anya langsung mendongak. Dia menatap lurus ke arah Bara, menaikkan dagunya dengan angkuh seolah sedang memproklamasikan kemenangannya. Tatapan mata Anya seolah berteriak, Aku sudah sah menjadi tunangan keponakanmu sekarang. Kamu tidak bisa macam-macam lagi denganku, om!
Namun, di dalam lubuk hatinya, Anya sebenarnya juga merasa sangat kesal dan dongkol. Ternyata trik gaun merah dengan potongan dada terbuka yang sengaja dia pakai malam ini sama sekali tidak mempan untuk membatalkan perjodohan. Keluarga Fernandez tetap menerimanya dengan tangan terbuka tanpa berkomentar buruk. Anya menduga, ini semua karena dia adalah putri dari Tito Sanjaya yang terhormat, sehingga aset bisnisnya jauh lebih berharga daripada sepotong gaun seksi.
Tito Sanjaya bangkit dari kursinya, mendekati Tomi Fernandez lalu mereka berdua berpelukan erat dengan tawa bahagia. "Akhirnya, Tomi... kita resmi jadi berbesanan!"
"Ya, Tito! Ini adalah kerja sama terbaik untuk masa depan anak-anak kita," balas Tomi tidak kalah bahagia.
Di tengah hiruk-pikuk kebahagiaan kedua keluarga, Bara Fernandez tetap duduk di tempatnya. Sepasang mata elangnya terus mengunci tatapan pada Anya. Senyum di wajah tampannya perlahan melebar, seolah-olah dia bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam pikiran gadis itu. Tatapan Bara seolah membalas, Permainan baru saja dimulai, little girl.
Anya merasa dadanya sudah sangat sesak dan ingin meledak saat itu juga karena tekanan atmosfer di ruangan ini, terutama karena tatapan intimidasi Bara. Dia butuh menjauh. Dia butuh udara segar untuk menenangkan otaknya, dan yang paling penting, dia harus menelfon Alena dan Bella untuk memberi tahu kabar buruk ini.
Anya meremas tas tangannya, lalu tersenyum formal pada keluarga Fernandez dan papanya. "Maaf, Pa, Om,Tante, Calvin... Anya izin ke toilet sebentar ya,"
"Oh, iya silakan, Sayang. Jangan lama-lama ya," jawab Isyana lembut.
Anya segera berbalik, melangkah cepat keluar dari ruang privat tersebut. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia mengembuskan napas panjang, bergegas menyusuri koridor marmer yang sepi menuju area toilet eksklusif di ujung lantai.
Sesaat setelah Anya beranjak dari ruangan, Bara Fernandez melirik ponselnya yang berada di atas meja. Pria itu ikut bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat tenang.
"Kak, Pak Tito, maaf. Saya harus keluar sebentar, ada telepon penting dari investor London yang tidak bisa saya abaikan," ucap Bara memberikan alasan yang sangat logis dan berwibawa.
"Oh, silakan, Bara. Urusan bisnis jangan ditunda," kata Tomi memaklumi.
Bara mengangguk sopan, lalu melangkah keluar. Namun, dia tidak berjalan ke arah lobi untuk menerima telepon. Langkah kaki lebarnya justru berbelok, menyusuri koridor yang sama dengan yang dilewati oleh Anya beberapa saat lalu.
Anya mendorong pintu toilet perempuan yang bernuansa emas dan putih. Beruntung, tempat itu sangat sepi, tidak ada satu pun pengunjung lain di dalamnya. Anya melangkah mendekati deretan wastafel marmer, meletakkan tasnya, dan baru saja mengeluarkan ponsel dari sana untuk menghubungi sahabatnya.
Klek.
Mendengar suara pintu toilet di belakangnya terbuka, Anya otomatis menoleh lewat pantulan cermin besar di depannya. Matanya seketika membelalak horor ketika melihat sosok tinggi tegap Bara Fernandez menerobos masuk ke dalam toilet perempuan. Dengan gerakan santai namun cepat, tangan kekar Bara memutar gerendel pintu dari dalam, menguncinya rapat-rapat.
Anya langsung membalikkan tubuhnya, menatap Bara dengan wajah panik sekaligus marah. "Apa yang kamu lakukan di sini?! Ini toilet perempuan! Keluar!" desis Anya dengan suara tertahan, takut jika ada orang lain yang mendengar dari luar.
Bara tidak menjawab. Pria itu justru melangkah maju perlahan, melepaskan kancing jas abu-abu gelapnya, menampilkan aura dominasi seorang predator yang mengunci mangsanya. Langkah kakinya yang mantap membuat Anya refleks melangkah mundur, hingga akhirnya punggungnya menabrak pinggiran wastafel marmer yang dingin. Anya terpojok. Dia terpaksa mencondongkan tubuh bagian atasnya ke belakang untuk menjauh, menjaga jarak agar dadanya yang terekspos oleh gaun merah itu tidak bersentuhan langsung dengan dada bidang Bara.
Bara berhenti tepat di depan Anya, mengurung tubuh ramping gadis itu dengan meletakkan kedua tangan kekarnya di atas meja wastafel, di sisi kiri dan kanan pinggang Anya. Jarak mereka begitu mengikis, hingga Anya bisa mencium aroma parfum maskulin berpadu dengan mint dari napas hangat Bara yang menerpa wajahnya.
Bara menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Anya yang bergetar panik, lalu tatapannya turun ke arah jari manis kiri Anya yang kini sudah dihiasi cincin berlian dari Calvin.
Sebuah senyuman nakal yang sangat seksi terukir di wajah tampan yang bersih tanpa jambang itu.
"Kamu pikir setelah memakai cincin milik keponakanku, kamu bisa lolos begitu saja dari radar-ku, hm?" bisik Bara, suaranya yang rendah dan serak bergema seksi di dalam toilet yang sunyi.
Bara memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan, membuat napas Anya berantakan. "Kamu punya hutang yang belum dibayar padaku, Sayang. Dan aku bukan tipe pria yang suka membiarkan hutangnya lunas begitu saja tanpa bunga."