Di tahun kedua sekolahnya, Suki mencoba untuk mencari kisah cintanya seperti orang-orang kebanyakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Salim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Samyang or Dare
"Kok lo kecilan sih?"
Suki hanya menghela napas, tidak mengindahkan pertanyaan Zidan. Secara sial terjebak untuk pergi ke mini market untuk membeli Samyang bersama Zidan sudah cukup-tadi mereka (memaksa Suki) hompimpa untuk bagi tugas dan Suki-Zidan sama-sama mengeluarkan telapak tangan, tak perlu pakai perbincangan yang ujungnya hanya akan menyakiti hati Suki.
Iya, Zidan selalu mengejeknya.
"Dulu lo sepantar sama gue, tapi sekarang jadi se dagu, tuh," katanya sambil mengukur tingginya dan tinggi Suki.
"Iya kan lonya tinggian!" balas Suki kesal, menjauhkan diri dari Zidan yang suka membandingkan tinggi badan.
Zidan tertawa keras.
Suki mendengus jengkel, andai berani, sudah ia sumpal mulut lebar Zidan yang tertawa itu dengan daun pepaya.
Pahit mampus kan.
"Oh iya, rumah lo ternyata masih di situ ya. Kelas lima SD, rumah gue di sini," kata Zidan menunjuk sebuah rumah yang terhalang dua rumah dari rumah Suki yang baru dilewati. "Dulu kita sering main."
Suki masih tak merespon.
"Oh, rumah Felik di sana, di ujung!" seru Zidan begitu saja. Kemudian langsung melotot kala teringat sesuatu. "Ah, Felik masih di Mixme ya ampun! Ketinggalan!"
"Bego," kata Suki keceplosan. Ia langsung menutup mulut ketika Zidan langsung melotot.
"Apa lo bilang?"
"Apaan? Lo salah denger kali, gue nggak bilang apa-apa," kata Suki ngeles, mempercepat langkahnya salah tingkah takut kena marah.
"Heh, Ucil," Zidan menahan sweater Suki supaya Suki berhenti berjalan. "Jangan ngatain gue ya."
"Iya! Iya! Maaf, udah ah cepetan, keburu sore nih," kata Suki kesal sendiri.
Zidan mendengus, tersenyum puas kemudian melepaskan tahanannya. Suki lanjut berjalan, sementara Zidan satu langkah di belakangnya berjalan santai.
"Cil, lo inget nggak gue kejar di sini?" tanya Zidan teringat masa kecil saat melewati jalan menuju mini market tempat mereka dulu jajan eskrim. "Gue pengen nyicip eskrim lo, tapi lo gak mau. Akhirnya gue ngejar lo. Tapi karena waktu itu lo pake rok panjang, lo akhirnya jatoh kan ya, eskrimnya juga."
Suki hanya bergumam, tak ingin mengingat masa kecilnya yang suram diganggu Zidan.
"Lo nangis kenceng banget," kata Zidan lanjut cerita, jadi berjalan sejajar dengan Suki. Ia menunduk agak malu. "Lo nggak tau, waktu itu gue takut banget lo kenapa-napa. Lutut lo berdarah. Tangisan lo makin kenceng. Ya ampun, gue bingung banget harus ngapain."
"Makanya jangan jail," kata Suki datar.
Zidan jadi nyengir. Suki rupanya tak selemah yang ia kira. Perempuan itu semakin tumbuh semakin menarik perhatian Zidan saja.
"Tau rumah lo masih di sini gue mampir tiap hari," cetus Zidan, mendesah kecewa. "Kenapa gue baru tau hari ini?"
"Lo sekangen itu sama gue?"
Zidan terdiam, terkejut mendengar pertanyaan Suki. "Apa?"
Suki tersenyum tipis. "Gue juga agak kaget bisa ngobrol santai kayak gini. Mungkin efek kita dulu temen?"
"Kita dulu emang temen, sekarang juga sih masih sebenarnya," balas Zidan mangut-mangut.
"Waktu di sekolah, gue takut banget liat lo, Dan. Gue trauma," kata Suki mulai berani bercerita. Rambutnya tertiup angin, membuatnya harus memperbaiki ikatan terlebih dahulu. Tapi ketika ia baru membukanya, Zidan langsung mengambil ikatan itu dan mengikat rambut Suki dengan tangannya.
Suki terdiam. Ini pertama kalinya seorang laki-laki mengikatkan rambutnya.
Kalau dulu, Zidan pasti membuang ikatan rambut Suki setelah mengambilnya secara tak manusiawi. Rambut Suki yang panjang dan mengembang suka menjadi olokkan Zidan.
"Heh, mak lampir dateng! Kabur-kabur!"
"Hua, ada vampire!"
"Ada kunti! Ada kunti!"
Ah, membayangkannya saja sudah bikin Suki kesal. Tapi lihat sekarang. Zidan berubah. Dalan hati, Suki bersyukur.
"Udah." Zidan bersuara, lebih cepat dari dugaan Zidan. Ia menatap Suki tersenyum tipis. "Sama-sama."
"Oh?" Suki langsung tersadar, ia menyentuh rambutnya yang terikat menjadi satu. "Jago juga lo iketin rambut, makasih."
Zidan mengangguk. "Terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Cerita lo, yang awalnya takut sama gue."
"Oh," Suki mengangguk, lanjut bercerita. "Lo tau dulu gue sering banget nangis karena lo. Dari situ, gue jadi takut ketemu lo, dan sampai sekarang masih kayak gitu."
Zidan mengernyit. "Sekarang masih?"
Suki mengangguk. Zidan tersenyum, kemudian berjalan duluan masuk minimarket. Suki mengekori dan langsung mengambil tiga bungkus Samyang, satu botol besar Sprite dan Coca cola, tiga bungkus Chitato dan sekantung yupi beruang.
Zidan berdecak melihat itu. "Masih suka yupi beruang?"
"Kenapa?" tanya Suki, melihat lima lolipop di tangan Zidan. "Lo juga masih suka lolipop itu."
"Dulu suka gue curi," kata Zidan. Entah kenapa rasanya lucu mengingat kejahilannya dulu pada Suki.
Suki langsung cemberut. "Ada lagi yang mau dibeli?"
Zidan menggeleng. Kemudian mereka menuju meja kasir, membayarnya dan melakukan perjalanan pulang.

"Oke, Samyang buatan Suki udah siap," kata Selena sambil meletakkan sepiring besar berisi tiga Samyang yang disatukan. Suki menyusul dengan membawa selusin gelas tambah tiga.
"Nah, udah lengkap kan?" tanya Selena sambil mengabsen. "Suki, gue, Alan, Marissa, Raka, Batak, Tiana, Mala, Lele, Farhan, Marwah, Jaki, Dika, Zidan."
"Nama gua Leo, asu," kata Leo, tak suka dirinya disebut Lele.
"Nama gue juga Batheo, panggil aja Theo, sat. Nggak ada yang namanya Batak di sini." Theo ikut bersuara.
Selena mengangguk pasrah. "Iya, iya, maaf, santuy kali ah. Salahin Zidan yang ngasih panggilan kalian kayak gitu."
"Dan." Leo dan Tho memanggil serempak.
"Apa sih kok masalah nama panggilan jadi ribet macem cewek lagi PMS ya? Udah, mulai aja, gue lapar nih," kata Zidan tak peduli.
"Oke-oke," kata Selena tersenyum senang. "Peraturannya gini. Seseorang puterin botol yang ditengah, terus kasih ToD, kalo nggak mau atau nggak bisa, dia harus makan Samyangnya. Nggak boleh ada yang minum kecuali atas persetujuan bersama. Ada hadiah untuk yang menang dan kalah, setuju?"
"Setuju!"
"Oke, good." Selena menukas gembira. "Karena yang masaknya Suki, jadi yang pertama puterin botol adalah Suki!"
Suki mengerjap tak terima. "Gue kan masak karena nggak mau dapur gue kenapa-napa. Gue nggak ikutan main, nonton aja, kok."
"Nggak bisa gitu, Ucil," tukas Zidan greget, mencubit pipi Suki tanpa sadar. "Cepet puterin atau mau gue puterin?"
Wajah Suki memerah, membuat Dika langsung berkicau.
"Ndeh, salting nih mbaknya!"
"Aduh, dicubit pipi mau dong," Leo ikut-ikutan.
Suki mendelik, kemudian memutar botol secara asal masih dengan wajah masam. Semua orang menahan napas, dan begitu botol memelan yang akhirnya menunjuk Jaki, semua orang bersorak gembira.
Ya, kecuali Jaki.
"Maaf," Suki langsung merasa bersalah. Ia tau, Jaki bukan penyuka pedas. Bahkan bisa disebut benci.
Tapi Jaki adalah Jaki. Dia memang sebaik itu. Jaki tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa." kemudian ia menatap Selena. "Gue pilih T."
"Nah, sekarang siapa yang mau nanya?" tanya Selena.
"Gue!" seru Mala semangat. Begitu Selena mengangguk, Mala lanjut bersuara. "Lo pilih Farhan sama Marissa atau sama Marwah?"
Tiga orang yang namanya disebut langsung tersedak ludah berjamaah.
"Pertanyaan bodoh," komen Farhan.
"Apaan sih, kan dulu kalian cinta segitiga gitu." Mala masih mempertahankan pertanyaannya. "Kan lo deket ama Farhan nih, Jak, menurut lo Farhan dulu suka sama siapa?"
"Sama elo," jawab Jaki enteng.
"Lah anjir kok gue?" tanya Mala bingung sendiri. Bukan ini yang ia harapkan. "Kan gue nanyanya Farhan lebih cocok ama Ma-"
"Iya, gue suka ama lo, Mal." Farhan memotong. Wajahnya serius dan bikin Mala langsung deg-degan.
"Apa elah, bercanda lo klasik banget." Mala tertawa garing. "Udah lanjut lagi dah."
Leo menepuk punggung Farhan, mencoba menguatkan. Sementara Jaki jadi sumringah karena tak kena hukuman.
Selena bertepuk tangan, kemudian mengintruksikan Jaki untuk memutar botol. Jaki menurut, memutar botol itu amat kencang hingga akhirnya memelan dan berhenti tepat menunjuk seseorang di sebelah Suki.
Yang lain tertawa puas, sementara yang kena langsung mengumpat kasar.
"Asu Jaki, pulang kelar lo nanti."
Tentu itu Zidan.
"Jadi, saudara Zidan, ToD?"
"T."
"Siapa yang mau nanya? Uki, lo mau nanya nggak?" tanya Selena, seperti biasa menjadi administrator game ini.
"Hm." Suki berpikir agak lama. Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang sampai sekarang membuat Suki penasaran akan jawabannya. "Kenapa lo ganggu gue mulu sejak SD?"
Zidan tersenyum miring, merasa geli. "Pertanyaan mudah."
"So?"
"Karena gue suka," jawab Zidan.
Suki terdiam, agak terkejut. Begitupun anak-anak yang lain, jadi terdiam karena tak biasanya Zidan mengutarakan rasa sukanya-
"Suka jailin lo. Itu adalah hobi gue dan cita-cita gue bikin lo kesel."
-secara terang-terangan.
Bolehkah Suki menendang Zidan ke Antartika sekarang juga?
Suki sudah misuh-misuh kesal. Tapi permainan berlanjut lagi. Kini giliran Zidan yang memutar botol, dan sialnya botol itu berhenti di...
"UCIL HOREE!" seru Zidan gembira. "Ayo, pilih ToD?"
Suki masih terkejut dan tak bisa langsung menjawab. Begitu Selena menjentrikkan jari di deoan wajahnya, baru Suki sadar.
"Gue pilih D aja deh," jawab Suki tak yakin. Takut kalau ia memilih jujur, sesuatu yang buruk akan jadi pertanyaannya.
"Oke, Dare ya? Hm, berani cium Jaki?" tanya Marissa, mengompori suasana. Dari kecil ia tahu Jaki sudah memiliki rasa pada Suki. Cowok itu selalu curhat padanya.
Jaki melotot pada Marissa. Tapi Marissa menggeleng sambil tersenyum meyakinkan. Ia menoleh pada Suki. "Jadi?"
"Kok lo frontal ya?" Selena protes.
"Apaan udah SMA cium di pipi it's oke, kok," timpal Leo mendukung Marissa.
Suki sendiri terkejut bukan main. Ia sendiri tak pernah dicium atau mencium pipi seseorang. Sekarang ia harus mencium pipi Jaki?
Sepertinya Suki salah memilih pilihan.
"Bener tuh, selewat aja deh," kata Raka memotivasi Suki untuk maju.
"Ayo! Ayo! Cium! Cium!" Marwah jadi bersorak.
"Ayok, ciuman kerinduan temen SD!" seru Tiana yang sedari tadi .
Farhan tersenyum tipis. "Ayo, Suki, Jaki nungguin tuh."
Suki bingung bukan main. Ia melirik Jaki yang seperti tak peduli dengan menyibukkan diri memerhatikan rumah Suki. Selena jadi diam, seperti mendukung, Zidan lebih terlihat tak peduli dan Alan sedang di toilet.
Ah, toilet!
"Eh, gue ke air dulu ya," pamit Suki.
"Et, no no no!" seru Dika menahan bahu Suki. "Jangan kabur."
"Tinggal cium elah, ayok," dorong Marissa greget.
Kenapa tak ada yang menghentikan Suki?
Suki berkeringat dingin. Ia memejamkan matanya sambil mengembuskan napas berat. Sepertinya Suki harus melakukannya, karena jika ia memakan pedas, perutnya akan bermasalah dan jadi ribet. Suki jelas tak mau mengalaminya.
Baru ia bangkit setengah berdiri, Zidan menahan pergelangan lengannya, wajahnya serius dengan sorot mata tajam dan serius, "jangan."
Suki menoleh dan mengangkat alis, begitupula dengan anak-anak lain yang menatap penuh tanya pada Zidan.
"Biar gue makan Samyangnya buat lo."
*

A/N
Huhu, double up-date nih!
Mulai memanas pemirsa, ditunggu vote dan komennya ^^
Thanks:D
MY BOY ZIDAN 😭😭
bau" dendam nih
Curhatnya Zidan ke Felix tuh kocak.
absurd ala2 anak abegeh 🤣🤣
tulisan ny ringan rapi dan keren
semoga semakin bnyak yg baca
padahal ceritanya seruuuuu,tp sepi