Alena tidak menduga kekasihnya tega mengkhianatinya dan tidur bersama wanita lain di dalam apartemen yang Ia beli sendiri. Hubungan yang terjalin beberapa tahun, kandas dalam sehari.
Apa yang kau harapkan Alena, semua ini sudah terlihat jelas di matamu, aku tak perlu lagi mengatakan apa pun. Karena setiap kata yang keluar dari bibir seseorang yang tak berstatus tak akan ada gunanya- Alandra.
Aku berharap satu penjelasan darimu, meski itu hanya satu kata - Alena.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Melepaskan
Sesuai perintah, Alandra membersihkan air jus berwarna kemerahan yang tergenang di atas lantai tersebut dengan kain pel di tangannya.
Alena mengepalkan tangannya karena kesal, dia merasa jengah dengan apa yang terjadi, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Jack, aku ke toilet sebentar," ujar Alena sembari berlalu, dia sungguh tidak tahan dengan perlakuan orang lain terhadap Alandra.
"Dia benar-benar menyebalkan, kenapa dia tidak pergi saja, apa dia terbuat dari batu, kenapa dia diam saja saat orang lain menghinanya," gerutu Alena sembari berlalu keluar, bukannya ke-toilet seperti yang Ia bilang sebelumnya, justru langkahnya mengarah ke balkon yang bersebrangan dengan dapur rumahnya.
Alena berdiri menghadap udara terbuka dengan tangan terlipat di dada, menahan gejolak kekesalan yang sedari tadi merundung kepalanya.
Aaargggghhhh, jeritnya kesal, dia ingin mengungkapkan kekesalannya, tapi tak bisa. Ia juga tak suka saat orang lain membuat Alandra kesulitan, tapi lagi-lagi semua kata-kata yang ingin keluar dari bibir Alena hanya mampu Ia telan kembali.
"Cukup Alena, oke! Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa kamu lupa apa yang telah laki-laki itu lakukan padamu, seharusnya kau merasa puas karena melihat dia menderita," gumam Alena pada diri sendiri. Meski mulutnya berkata begitu, tapi tidak dengan hatinya.
Bertepatan dengan perdebatan dalam kepalanya, Alena melihat sosok Alandra yang hendak berjalan menuju dapur, tanpa sadar kakinya mulai melangkah mengikuti kemana Alandra pergi, Alena memandangi setiap gerak-gerik yang di lakukan Pria itu tanpa dia sadari, sungguh Alena sangat merindukannya, merindukan hari-hari yang pernah Ia lewati bersama Alandra.
Frang...
Sebuah sendok jatuh menimpa piring yang tengah Alandra cuci di bak cuci piring, membuat semua pasang mata tertuju ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan, kerja dengan benar!" Bentak sang Manajer yang terpanggil karena suara tersebut, "jangan kamu pikir karena kamu memiliki darah dari keluarga Wilson, saya akan memperlakukan kamu dengan cara yang berbeda, itu tidak akan mungkin, lagi pula--," ucapannya terjeda sejenak, "kamu hanya anak yang lahir karena terpaksa, kamu tidak memiliki kelebihan apa pun, jadi jangan mimpi di perlakukan berbeda karena darah yang kamu miliki."
Tangan Alandra mengepal erat, sepertinya kali ini kesabarannya sudah habis, tubuhnya bergetar untuk sesaat.
'Ayo lawan dia, jangan biarkan dia menghinamu Alandra, kau seorang Pria, jangan berjiwa lemah hanya karena status dia lebih tinggi darimu,' batin Alena bergumam, matanya tak henti-hentinya mengawasi keadaan.
Namun, bukannya kemarahan yang Alandra tunjukan dia justru meminta maaf pada Manajernya itu, membuat Alena menjadi geram, dia lantas keluar dari persembunyiannya.
"Ada apa ini?" Tanya Alena pura-pura tidak tahu apa yang terjadi, refleks para pelayan pun langsung menunduk hormat tak berani menatap wajah putri dari bosnya itu.
"Mohon maaf, untuk keributan yang telah kami timbulkan Nona, kami sudah menganggu kenyamanan anda," ujarnya menunduk setengah badan.
Alena melipat tangannya di dada, "siapa pemicunya, apa kamu?" Seketika orang yang Alena tunjuk langsung menggelengkan kepalanya, menampik tuduhan yang terarah padanya, "atau kamu?"
"Bukan mereka Nona, tapi Alandra." Alena memutar badannya menghadap Alandra, tatapannya mengarah tajam.
"Lagi-lagi kamu, dan selalu saja kamu," Alena mendengus kasar, "Pak, seharusnya anda tidak memperkerjakan orang seperti dia, dia benar-benar membuat aku terganggu. Dan kalian tahu kan, dia hampir saja membuat pesta pertunanganku ini gagal." Keluh Alena kesal.
"Pelayanan kalian membuat saya kecewa, saya pikir kalian adalah orang yang profesional, tapi ternyata," Alena menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menunjukan rasa kekecewaan yang dia miliki.
"Sekali lagi saya mohon maaf Nona, saya akan segera mengurus segalanya, dan saya berjanji dia tak akan lagi membuat Nona terganggu." Ucapnya, Alena tak menggubris perkataan sang Manajer tersebut, pandangannya Ia arahkan pada sosok Alandra yang kini membalas tatapannya dengan tatapan datar.
"Hey kamu Alandra, karena adanya kamu di tempat ini hanya membuat keributan, jadi kamu saya pecat, saya tidak ingin melihat kamu lagi di rumah saya, jadi sebaiknya kamu pergi dari sini." Tegas Alena, membuat semua orang yang ada disitu begitu terkejut sekaligus ketakutan.
"No-nona tunggu dulu, kita bisa bicarakan ini baik-baik, saya--,'' perkataan sang Manajer seketika di potong Alandra.
"Tidak papa Pak, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang telah saya perbuat, saya janji kalian tidak akan terlibat, benarkan Nona Jennings?" Alandra meminta pendapa Alena masih dengan tatapan tenang.
"Tentu saja, tapi jika kau pergi dari sini, karena masalah yang aku miliki hanya denganmu, dan orang lain tidak ada hubungannya dengan itu," ujar Alena mengiakan.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang juga. Tapi kamu harus menepati janjimu untuk tidak melibatkan mereka semua dalam masalah yang aku sebabkan." Alandra kembali memastikan.
Alena mendengus senyum, "memangnya kapan aku tidak menepati janji yang aku buat?Aku orang yang selalu menepati janji, dan kau paling tahu seperti apa aku," sindir Alena, membuat orang-orang di sekeliling mereka saling tatap satu sama lain, agaknya mereka saling bertanya dalam hati masing-masing perihal hubungan apa yang pernah di miliki Alandra dan Alena.
Alandra tak menggubris ucapan Alena, dia malah membuka kemeja putih yang di kenakannya dan kembali mengenakan jas hitam yang sebelumnya Ia pakai, dengan kaus abu-abu polos yang tetap berada di tubuhnya sejak semula.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Alandra berbalik dan tersenyum pada semua orang, "terimakasih sudah menjadi rekan kerja yang baik untuk beberapa hari ini teman-teman, maaf sudah banyak menimbulkan maslah untuk kalian semua, aku permisi dulu," ujarnya sambil menunduk hormat.
Semua orang tak ada yang berani menjawab, mereka hanya diam seribu bahasa, takut jika kata yang keluar dari mulut mereka justru menimbulkan timbal balik bagi diri mereka sendiri. Alandra berlalu meninggalkan tempat tersebut, dengan perasaan tak karuan.
"Mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku, karena aku tidak ingin melihat wajahmu, lagi!" Ucap Alena setengah berteriak, untuk sejenak Alandra menghentikan langkahnya, namun kemudian ia lanjutkan kembali.
'Jangan menangis Alena, keputusan ini sudah tepat. Kamu harus bisa melepaskan dia, kini dalam hidupmu sudah ada Pria lain, dia hanya akan jadi masalalumu mulai sekarang.' Batin Alena bergumam, sebisa mungkin dia berjuang menahan air mata yang terus saja ingin menerobos melewati sudut matanya, bulu matanya yang panjang dan lentik, ia kerjapkan beberapa kali, untuk menghalau keluarnya air mata.
'Pergilah Alandra, jalani hidupmu sendiri, aku minta maaf untuk apa yang telah aku lakukan, mulai sekarang kita jalani hidup kita masing-masing, dan aku akan berusaha untuk melupakanmu sebisaku, walau aku tak yakin aku mampu, atau tidak.'