Terpaksa dia harus menyamar sebagai tenaga pengajar di sekolah bergengsi dan terkenal di kota tersebut.
Rencana tersebut terpaksa dilakukan lantaran, sampai detik ini, tersangka pembunuhan berantai yang melibatkan siswa SMA sebagai korbannya belum juga di temukan.
Alhasil, pihak kepolisian harus menggunakan cara tersebut.
Membuat Bulan, mau tak mau harus melakukan tugas yang di bebankan pada dirinya.
Bagaimana jadinya seorang polwan cantik, masuk ke dalam area sekolah. Bahkan menjadi seorang guru di sekolah tersebut.
Apa Bulan akan mengalami kesulitan, atau malah menemukan pelaku dari pembunuhan berantai tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PaS 12
"Gimana Jev,,, elo dapat info apaan?" tanya Arya sembari mengemudi.
"Nggak ada." sahut Jevo dengan mata fokus ke layar ponsel.
"Menurut elo, apa setelah ini akan ada korban lagi?"
"Entahlah." Jevo menyimpan ponselnya ke dalam saku. "Seperti biasa, mungkin dia akan memberi jeda waktu sebelum kembali memakan korban." tebak Jevo.
"Tapi siapa yang bisa menebak. Elo sendiri pasti ingat, korban yang ditemukan di tempat perkemahan, dengan korban di bioskop hanya berselang waktu dua hari." tutur Arya mengingatkan.
Jevo serta kedua temannya juga tengah menyelidiki kasus tersebut secara diam-diam. "Pembunuhan berantai. Iblis, berkedok manusia." kekeh Arya sambil menggelengkan kepalanya.
Arya heran, apa motif pelaku, hingga tanpa takut melenyapkan nyawa seseorang. "Apa sia memang psikopat. Atau, menyalurkan hobi sadisnya." lanjut Arya.
"Bahkan sampai sekarang kita juga tidak tahu. Dia sendiri. Apa ada pihak lain yang ikut terlibat." Jevo dan kedua sahabatnya, juga Jeno masih berusaha memecahkan teka-teki pembunuhan ini.
"Kita akan menyebar lebih banyak orang. Bahkan sampai saat ini, kita belum menemukan bukti apapun. Haahh,,,,," desah Jevo.
"Ada, bukankah kita punya beberapa bukti." sanggah Arya.
"Bukti yang masih abu-abu. Bahkan, sampai sekarang gue masih berpikir, apa arti dari bukti yang kita temukan?" papar Jevo.
"Elo masih menyimpannya?"
Jevo mengangguk. "Setiap malam gue selalu mencari jawaban atas bukti-bukti tersebut. Tapi tetap, gue tidak bisa menemukannya." jelas Jevo
"Bagaimana dengan Jeno?"
"Sama. Bahkan Jeno sedang berusaha memecahkan kata acak tersebut. Ada kemungkinan, arti dari kata acak tersebut adalah pembuka. Tapi gue dan Jeno masih ragu." tutur Jevo.
"Takut kalau hanya sebuah pengalihan. Atau bahkan sebuah jebakan baru." tebak Arya.
Jevo mengangguk. "Pelaku sangat cerdik." desis Jevo.
"Awas Arrrr.....!!" seru Jevo. Hanya beberapa detik Arya mengalihkan pandangan. Tapi di depan mobil sedang berlari seseorang.
Ciiittzzzz,,,,,...... Suara mobil mengerem mendadak. Arya memutar stir, hingga mobil yang dia setir berputar membentuk sebuah jejak lingkaran.
"Sial." umpat Bulan, saat sebuah mobil hampir menabraknya, membuatnya berada di tengah mobil yang berputar di sekelilingnya.
Jevo memegang kencang kursi pengemudi. Dengan pandangan mata Bulan dan Jevo beradu. ''Hah......" jantung Arya seperti lompat dari dalam tubuhnya.
Bulan memutuskan pandangannya. Menatap sekeliling. "Gara-gara anak ingusan ini, gue kehilangan dia." geram Bulan.
Arya dan Jevo masih terdiam di dalam mobil. "Gila, benar-benar gila." ucap Arya dengan nada kalimat yang tak beraturan karena nafas dan irama jantung yang tak beraturan.
Belum sempat hilang keterkejutan mereka, Arya dan Jevo kembali dikejutkan dengan aksi Bulan yang meninggalkan mereka begitu saja.
Bukan pergi dengan berjalan biasa. Melainkan berlari seperti hembusan angin. Begitu cepat. Melompati tanaman di tepi jalan dengan lincah. Bagai seekor kangguru.
"Di-di-dia manusiakan Jevv." cicit Arya melongo.
"Mata itu." batin Jevo, karena dirinya hanya bisa melihat kedua mata Bulan.
"Gila. Sumpah, gue kayak di film-film yang pernah gue tonton." ujar Arya seraya tertawa tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Manufer saat menyetir mobil.
"Waoowwww....!!!" teriak Arya memukul stir mobil. "Gimana kalau kita ulangi lagi Jevv." pinta Arya. Bukannya memikirkan orang yang hampir dia tabrak, malah fokus ke atraksi yang tak sengaja dia buat.
Jevo memandang Arya tajam. "Jalan." perintah Jevo.
"Iyaaaa." dengan santai, Arya kembali melajukan mobilnya.
"Menurut elo, dia laki apa perempuan?" tanya Jevo.
"Siapa? Pembunuh itu? Mana gue tahu." jawab Arya.
"Ckk,,,, orang yang hampir elo tabrak." kesal Jevo.
Arya terdiam. "Gue juga nggak tahu." cicit Arya, mengingat bentuk tubuhnya.
Bulan berhenti tak jauh dari dia menaruh motornya. Mengamati keadaan sekitar, lalu segera menaiki motor miliknya.
"Lagian ngapain, tu anak kelayapan malam-malam. Nggak dicariin orang tuanya apa." ucap Bulan sebal.
Bulan melihat dengan jelas, siapa uang ada di dalam mobil tadi. Jevo dan Arya. Muridnya di kelas dua IPA.
Bulan tak langsung pulang. Dia dengan santai melajukan motornya hingga memasuki gedung tua yang besar. Terlihat tak pernah dijamah.
Tapi siapa yang menyangka, ada sesuatu yang hebat di dalamnya. Sebuah tembok terbuka secara otomatis, saat Bulan hendak masuk.
Kembali menutup saat Bulan sudah berada di dalamnya. "Browww...!!!" teriak Bulan.
"Ini bukan hutan." kesal seorang lelaki yang dipanggil brow oleh Bulan.
Bulan melepaskan pembungkus kepala serta wajahnya. "Ini. Cari identitasnya. Usahakan untuk segera ketemu." jelas Bulan, memberi sehelai rambut yang berada di dalam kantong plastik pada rekannya.
"Dapat apa elo?" tanyanya, dengan tangan menerima apa yang diberikan Bulan.
Bulan berjalan ke lemari pendingin. Mengambil sebotol minuman dingin. "Zonk." ucapnya setelah meneguk air tersebut hingga tersisa separuh.
"Gimana rasanya jadi guru?" goda rekan kerjanya. Hanya dia yang Bulan beritahu, mengenai setiap misinya.
"Haaaahhhh...." Bulan menghela nafas panjang. Rekan kerjanya terkekeh, dapat menebak apa yang dirasakan Bulan dari ekspresi wajahnya.
"Sebaiknya elo segera pulang. Tidak baik seorang guru kelayapan malam-malam. Apalagi sampai begadang." godanya, membuat Bulan semakin muak.
"Terserah." ketus Bulan. Berdiri, bersiap meninggalkan gedung tersebut.
"Lewat belakang saja." sarannya.
Tanpa menjawab, atau mengatakan apapun, Bulan. pergi meninggalkan gedung tersebut. "Bulan,,, Bulan." cicitnya terkekeh pelan.
Dengan kaki pincangnya, dia masuk ke dalam ruangan. Memastikan gedung yang dia tempati aman dari pandangan orang luar.
semangat💪😊