Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20: Wangi Pria Berbahaya
System Glicth
Stella melirik ke arah Neo yang sedang fokus membaca rentetan anggaran di dokumen tersebut. Jarak mereka kini cukup dekat.
Pria ini terlihat sangat mematikan, sangat dingin, dan tidak memiliki selera humor sama sekali.
Kalau Stella mengucapkan dialog konyol itu sekarang, Neo pasti akan menganggap kewarasannya sudah benar-benar hilang.
Tapi di sisi lain, membayangkan dirinya duduk di rapat direksi sambil mengeluarkan suara 'plop!' seperti gelembung sabun setiap lima menit? Tidak.
Harga dirinya sebagai CEO sudah hancur lebur di depan Liam semalam.
Ia tidak akan membiarkan tubuh ini dipermalukan lebih jauh oleh cegukan memalukan.
Stella menarik napas panjang. Ia mengunci rapat-rapat rasa malunya.
Ia berdehem pelan, memecah keheningan yang tegang, membuat Neo mendongak dari map tersebut dan menatapnya tajam.
"Tuan Blake," panggil Stella.
Wajah cantiknya dibuat seserius dan setenang mungkin, tetapi kilatan mata monolid nya memancarkan ke-tengilan yang luar biasa nekat.
"Apa?" jawab Neo pendek, nada suaranya berbahaya.
Stella mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Neo, lalu menghirup udara di sekitar pria itu dengan gerakan yang sedikit dramatis.
Alis Neo berkerut samar, tidak mengerti apa yang sedang dilakukan mangsanya ini.
"Tuan Blake, kau wangi sekali hari ini," ucap Stella tanpa berkedip. Ia mempertahankan kontak matanya.
"Kau wangi seperti pria berbahaya yang baru saja selesai membakar gudang senjata musuh... tapi tetap sempat mandi air mawar yang mahal sebelum datang ke mari."
Keheningan total yang luar biasa mencekam langsung menyergap ruangan lantai 40 itu.
Di belakang Neo, Liam terbatuk kecil dan harus mencengkeram tabletnya erat-erat agar tidak jatuh ke lantai karena terkejut.
Sementara itu, mulut Chloe terbuka sedikit. Matanya berkedip-kedip cepat seolah ia baru saja mendengar seseorang berbicara dalam bahasa alien.
Kakak tiriku benar-benar sudah kehilangan akalnya, batin Chloe ngeri.
Neo Hayes Blake membeku sepenuhnya.
Tangan besarnya yang sedang memegang tepi map biru itu berhenti bergerak.
Pria yang ditakuti oleh seluruh musuh bisnisnya di Eropa itu menatap Stella tanpa ekspresi, mencoba mencari tanda-tanda apakah wanita di depannya ini sedang sengaja mengolok-oloknya, atau otaknya memang sudah rusak parah akibat terlalu banyak meretas data semalaman.
Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata cokelat gelap yang menatapnya dengan sangat tulus, tapi menyimpan kelicikan dan rasa geli yang menyebalkan.
Perlahan, sangat perlahan, Neo menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegak. Dada pria itu naik turun saat ia mengambil napas panjang.
Sudut bibir Neo berkedut samar –sebuah reaksi mikroskopis– yang menunjukkan bahwa ia sedang mati-matian menahan sesuatu yang sangat asing baginya.
Sesuatu yang menyerupai rasa geli yang sangat berbahaya.
"Mandi air mawar?"
Neo mengulang kalimat aneh tersebut dengan suara rendah, serak, dan penuh getaran yang intens.
Mata obsidiannya kini menatap Stella seolah wanita itu adalah karya seni paling membingungkan di dunia.
"Kau memiliki cara yang sangat... unik, untuk menghina atau memuji seseorang, Rosewood."
"Tentu saja itu sebuah pujian, Tuan Blake," balas Stella, menopang dagunya dengan tangan, memamerkan senyum miringnya yang sangat tengil.
"Aku sangat menghargai seorang pria yang tetap mengutamakan kebersihan pribadinya di tengah-tengah kekacauan yang ia buat."
[ Misi Selesai dengan Sukses! ]
[ Tingkat keberanian Host di luar nalar manusia biasa. Hadiah ditambahkan. ]
Sensasi hangat tiba-tiba mengalir dari tengkuk menyebar ke seluruh aliran darah Stella.
Kepalanya yang tadinya berat dan pening mendadak menjadi seringan kapas.
Staminanya kembali penuh, membuatnya merasa sanggup berlari mengelilingi kota London sekarang juga.
Neo tidak membalas ucapan gila Stella, tetapi tatapan pria itu justru berubah semakin pekat, gelap, dan penuh intensi yang tidak bisa dibaca.
Ia meletakkan map biru itu kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan yang terkontrol.
"Draf kasar ini... menarik. Kau punya sudut pandang yang berbeda dari pamanmu," ucap Neo, nada suaranya kini terdengar sedikit lebih serak dari sebelumnya.
"Tapi aku membutuhkan penjelasan yang jauh lebih detail sebelum aku menandatangani persetujuan apa pun. Besok malam. Datanglah ke kantorku tepat jam delapan. Kita bahas ini berdua... tanpa ada gangguan lalat di sekitarnya."
Mata Neo bergerak sekilas ke arah Chloe yang berdiri membatu di sana.
Chloe langsung menunduk dengan wajah merah padam, merasa terhina karena secara tidak langsung disebut sebagai serangga pengganggu oleh pria yang ia puja.
"Delapan malam?" Stella mengangkat sebelah alisnya dengan gaya menantang.
"Itu jam di luar jam kerjaku, Tuan Blake. Itu masuk hitungan jam lembur. Apa kau berniat membayar kompensasi uang lemburku?"
Neo melangkah mendekati meja Stella sekali lagi. Kali ini, pria itu tidak berhenti di batas wajar. Ia berjalan memutari sedikit sudut meja, memangkas jarak secara fisik.
Neo menumpukan satu tangannya di lengan kursi Stella, menundukkan wajahnya hingga wajah mereka kini berada pada jarak yang berbahaya.
Aroma Dark Musk dan Leather –tanpa bau air mawar, tentu saja– langsung menyergap indra penciuman Stella dengan sangat kuat, membuat napas wanita itu tanpa sadar sedikit tertahan.
"Aku tidak pernah membayar menggunakan uang untuk hal-hal yang menyita waktu pribadiku, Stella," bisik Neo pelan.
Suara seraknya mengalun sangat rendah, hanya ditujukan untuk telinga Stella, membawa getaran ketegangan yang sangat intens dan mengintimidasi.
"Aku akan membayarnya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar uang. Pastikan kau tidak terlambat besok."
Neo menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan Stella dari kurungan auranya.
Pria itu berbalik dengan gerakan elegan dan berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Liam yang hanya bisa mengangguk hormat dengan cepat sebelum menutup pintu kayu tersebut.
Begitu pintu tertutup, Chloe, yang sedari tadi menahan napas dan amarahnya, langsung meledak.
"Kak Stella! Kau ini benar-benar gila, ya?!" teriak Chloe, berjalan menghentakkan hak sepatunya mendekati meja kerja.
"Kau bicara apa tadi pada Tuan Blake?! Membakar gudang senjata? Mandi air mawar?! Pria berkuasa seperti dia tidak suka diajak bercanda dengan lelucon murahan seperti itu! Kau mau mempermalukan dan menghancurkan keluarga Rosewood untuk yang kesekian kalinya?!"
Stella hanya bersandar dengan santai di kursinya.
Ia mengambil gelas jus jeruknya yang masih tersisa separuh, memutar-mutarnya perlahan, tidak sedikit pun merasa terancam oleh teriakan adik tirinya.
"Mempermalukan?" Stella mengangkat sebelah alisnya, senyum mengejek terbit di wajahnya.
"Entahlah, Chloe. Seingat ku pria berkuasa itu malah mengajakku mengadakan rapat berdua di ruangannya malam besok, bukan mengusirku. Sepertinya, Tuan Blake jauh lebih suka berurusan dengan wanita 'gila' dan tengil sepertiku, daripada berbicara dengan wanita bermuka 'malaikat' tapi membosankan sepertimu."
Stella tersenyum sangat lebar hingga deretan giginya terlihat, sebuah senyuman kemarahan yang sengaja ia tujukan untuk menghancurkan ego Chloe.
Wajah Chloe berubah dari pucat menjadi merah padam akibat amarah yang memuncak. Dadanya naik turun dengan napas memburu.
Menyadari bahwa ia tidak akan menang melawan mulut berbisa Stella hari ini, Chloe membalikkan badannya dan menghentakkan kaki keluar dari ruangan, membanting pintu dengan suara debuman keras.
"Wah, wah, afeksi sebesar 25% itu rupanya bekerja sangat ajaib, Host," suara Vix terdengar.
Rubah putih itu melayang turun dan duduk manis di atas meja mahoni.
"Pangeran Es yang mengerikan itu sepertinya mulai kecanduan dengan ke-tengilan mu yang di luar batas."
Stella terdiam, pandangannya masih tertuju pada pintu yang tertutup rapat. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya.
Ia tahu betul, pertemuan berdua besok malam di markas besar Neo Hayes Blake tidak akan sesederhana membahas anggaran penyiaran draf proyek kerja sama.
Pria itu adalah predator, dan Stella baru saja secara sukarela melangkah masuk ke dalam radarnya.
"Kita lihat saja nanti, Vix," gumam Stella pelan, jari telunjuknya mengetuk meja mengikuti ritme jantungnya.
"Kita lihat siapa yang akan terbakar lebih dulu dalam permainan ini."
To be Continued