Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 12
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Sepulang dari sekolah, Novelia langsung menuju rumah sakit jiwa tempat di mana Milea di rawat. Sesampainya di rumah sakit jiwa, Milea langsung menemui suster jaga untuk meminta izin menemui Milea.
Setelah mendapatkan izin, Novelia pun masuk ke dalam ruangan Milea, terlihat Milea sedang terduduk di atas tempat tidurnya dengan pandangan kosong. Novelia pun duduk di samping Milea dan mengusap kepala Milea.
"Dek, Kakak datang, bagaimana kabar kamu? baik kan, Dek?" seru Novelia.
Novelia meneteskan airmatanya, setiap dia melihat keadaan adiknya, Novelia selalu tidak bisa menahan airmatanya. Novelia memeluk adiknya itu, Novelia sungguh rindu dengan adiknya karena di dunia ini yang dia punya hanya adiknya seorang.
"Kakak janji Dek, akan menemukan semua pelakunya apalagi guru yang sudah memperkosamu, Kakak tidak akan melepaskan mereka semua."
Milea hanya diam dengan pandangan kosongnya, tapi Milea juga bisa dengar ucapan Kakaknya sehingga matanya terlihat berkaca-kaca.
Seharian Novelia hanya menghabiskan waktu menemani adik kesayangannya itu.
Sementara itu di kediaman Razaksman, Angkasa terduduk sendirian di depan jendela kamarnya entah apa yang sedang dia pikirkan.
***
Keesokan harinya...
Di saat jam masuk, Novelia hendak ke kamar mandi untuk buang air kecil tapi belum juga Novelia masuk ke toilet, tidak sengaja Novelia melihat seorang siswi yang sedang di seret oleh seorang guru.
Novelia pun memutuskan untuk mengikutinya, dan ternyata guru itu membawa siswi itu ke samping gudang yang sudah tidak di pakai.
"Bukanya itu Pak Dedi, guru olahraga yang di bilang Fatar," batin Novelia.
Novelia mengintip dari balik dinding, ternyata Pak Dedi sedang memaksa seorang siswi untuk melakukan hal yang tidak terfuji.
"Pak, tolong jangan lakukan itu lagi, aku takut hamil, Pak," seru siswi itu.
"Kamu tenang saja, kalau kamu sampai hamil, tinggal gugurkan saja gampang, kan."
"Tidak Pak, Bapak sudah beberapa kali melakukan ini sama aku, dan aku tidak mau terus-terusan menjadi pemuas nafsu Bapak, kalau sekarang Bapak melakukannya lagi, aku akan melaporkan Bapak kepada Pak Angkasa, bahkan aku akan bilang kalau Milea juga gila karena Bapak yang sudah memperkosanya," ancam siswi itu dengan nada yang meninggi.
Pak Dedi langsung membekap mulut siswi itu. "Awas saja kalau kamu berani lapor kepada Pak Angkasa, aku pastikan kamu akan aku buat gila seperti Milea, MAU!" bentak Pak Dedi.
Jedaaarrrr...
Hati Novelia remuk redam mendengar ucapan Pak Dedi, mata Novelia memerah bahkan Novelia sudah mengepalkan kedua tangannya, Novelia melihat di depannya ada sebuah tong sampah, dengan cepat Novelia menendang tong sampah itu sehingga membuat Pak Dedi terkejut.
Novelia segera berlari, meninggalkan tempat itu.
"Sekarang kamu kembali ke kelas, sepertinya ada seseorang yang sudah mengintip," seru Pak Dedi.
Siswi itu pun langsung berlari meninggalkan Pak Dedi, sungguh dia sangat berterima kasih kepada orang yang menendang yong sampah itu karena secara tidak langsung dia sudah menyelamatkannya dari jeratan guru biadab itu.
"Sial, siapa tadi? kalau sampai ada yang tahu, aku bisa-bisa dilaporkan," geram Pak Dedi.
Novelia berlari kembali ke kantin, tapi saat berlari Novelia bertabrakan dengan Angkasa sampai-sampai Novelia tersungkur di lantai.
"Maaf-maaf Pak, saya tidak sengaja," seru Novelia yang langsung berdiri dan membungkukan tubuhnya.
Angkasa memperhatikan wajah Novelia yang berkeringat bahkan sesekali Novelia menyeka airmatanya, tidak lupa Angkasa pun melihat kedua tangan Novelia yang bergetar.
"Kamu kenapa lari-lari?" tanya Angkasa dingin.
"Tidak apa-apa Pak, sekali lagi saya minta maaf, kalau begitu saya pamit dulu."
Novelia segera berlari dengan darah yang mengucur dari lututnya karena di saat terjatuh tadi, lutut Novelia menggores ujung keramik.
"Ada apa dengannya? sepertinya dia ketakutan, tapi takut apa?" batin Angkasa.
Novelia pun langsung duduk lesehan di kantin dengan nafas yang ngos-ngosan, sampai-sampai Bu Ningsih yang sedang memotong sayuran terkejut melihat penampilan Novelia.
"Astagfirullah Novel, kamu kenapa?" tanya Bu Ningsih.
Bu Ningsih menghampiri Novelia dengan membawa satu gelas air dan memberikannya kepada Novelia, ia meminumnya sampai tandas.
"Kamu kenapa?"
"Novel tidak apa-apa kok Bu."
Bu Ningsih melihat lutut Novelia berdarah. "Lutut kamu berdarah, Novel."
"Ah, iya barusan Novel terjatuh karena Novel lari dan Novel terpeleset," dusta Novelia.
"Kamu itu ya, kenapa ceroboh sekali, tunggu Ibu ambilkan betadine dulu."
Bu Ningsih pun mengambil betadine dan juga perban untuk menutup luka Novel.
"Terima kasih, Bu."
"Iya, sama-sama. Lain kali kamu hati-hati ya, jangan ceroboh seperti itu."
"Iya Bu."
Setelah diobati oleh Bu Ningsih, akhirnya Novelia pun membantu Bu Ningsih masak. Perasaan Novelia sangat panas, dia ingin sekali membunuh pria tua itu dengan tangannya sendiri.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu, Pak Dedi, lihat saja nanti," batin Novelia dengan emosinya.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏