NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lusiana Anwar

Menjadi istri kedua tidak semudah mengucapkannya. Pada kenyataannya istri kedua harus punya kesabaran dan ketekunan lebih untuk menghadapi dunia.

Begitu pula dengan Winda, terlebih dengan status janda yang disandangnya tak luput dari sorot kebencian. Sebutan pelakor dan perusak rumah tangga orang seolah melekat pada dirinya, sejak ia memutuskan menikah dengan Detta, laki-laki yang telah beristri.

Namun Winda harus tetap bertahan demi anak yang didapat dari pernikahannya dengan Detta. Tetapi jika cacian dan cemoohan berpengaruh pada tubuh kembang anaknya, apa yang harus Winda lakukan? Haruskah ia bertahan? Ataukah ia justru menyerah dan mengakhiri semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Cara yang lebih dewasa

Lelah, tak juga mendapat kepastian dari Detta, Winda, mencari cara untuk mengajukan pernikahan ke meja hukum. Ia tak akan lagi duduk diam, menunggu Detta mengajukan pernikahan ke meja hukum.

Winda sangat kecewa pada sikap Detta, yang terkesan tidak peduli dengan status pernikahan keduanya.

Winda bisa, memaklumi jika Detta tak bisa sesering mungkin datang mengunjunginya dan Zia. Ia sadar dengan posisinya, oleh karena itu ia tak permasalahkan waktu Detta bersamanya. Namun, untuk surat pernikahan, Winda sangat keberatan jika Detta tak segera mengurusnya.

Apalagi, setelah te ror yang minimpa Winda. Membuat Winda harus lebih siaga untuk melindungi dirinya dan juga kedua anaknya. Ia takut jika suatu saat Mesya menuntut, ia yang tak punya bukti apapun yang menguatkan posisinya berama anak-anaknya, harus rela pergi tanpa membawa apapun.

Untuk masalah itu, Winda meminta bantuan pada seorang pengacara yang pernah membantu perceraiannya beberapa tahun lalu. Titik terang sudah mulai terlihat, tetapi tanda tangan Mesya sangat di butuhkan agar surat pengajuan segera di setujui.

"Apa tidak ada cara lain, selain dengan tanda tangan Mesya?" Tanya Winda pada seorang pengacara.

Pengacara itu menggeleng. "Cara, yang pasti berhasil hanya dengan tanda tangan Mesya. Tapi, kamu tidak usah khawatir, aku akan mencari cara lain." Imbuhnya menenangkan Sang klien.

Winda mengangguk, ia menyerahkan semua urusan itu pada pengacaranya. Winda ingin secepatnya sudah mendapatkan surat pernikahannya.

***

"Sial! wanita murah an itu, tidak takut sama sekali!" Gumam Mesya, sesaat setelah menerima telepon dari orang kepercayaan yang ditugaskan mene ror Winda.

Jena menghela napas panjang. "Sabar kali, Mesya, masalah kaya gini tuh, nggak bisa di selesaikan buru-buru." Ia mengingatkan pada sahabatnya yang menurutnya terlalu terburu-buru mengambil tindakan.

"Kurang sabar gimana coba! Ini sudah berjalan hampir empat tahun." Mesya mengangkat empat jari tangannya ke atas. Menunjukkan berapa lama Detta, menghilangkannya pada Jena.

"Iya, tahu. Tapi apa nggak sebaiknya kamu pikirkan cara yang lebih dewasa? Menerutku yang kamu lakukan pada Winda, itu sangat kekanak-kanakan. Bukan Mesya banget tahu nggak!" Terang Jena mengingatkan.

"Menghadapi wanita seperti itu, memang harus dengan cara kekanakan." Mesya balas berargumen.

"Tapi, cara yang kamu lakukan tidak berpengaruh apapun kan?" Jena mengingatkan kembali apa yang di lakukan oleh Mesya. "Menurutku, justeru semakin merendahkan nama baik kamu di depan dia."

Mesya menatap Jena dengan mata menerawang. Dalam hati, ia membenarkan ucapan Jena. Apa, yang akan Winda pikirkan jika tahu semua kekacauan itu adalah ulahnya.

Setelah memikirkan ucapan Jena, Mesya berniat menemui dan meminta secara langsung pada Winda agar meninggalkan Detta.

Mesya turun dari mobil, kemudian melepas kacamata yang dikenakan. Saat ini berada di depan pagar rumah Winda. Ia menatap sekeliling rumah Winda, lalu tersenyum sinis.

"Maaf cari siapa Bu," Scurity rumah Winda menghampiri Mesya. Tatapi Scurity itu belum membukakan pintu. Semenjak te ror yang menimpa majikannya beberapa waktu kebelakangan ini, penjagaan rumah semakin di perketat.

"Winda ada?" Tanya Mesya santai.

"Ibu, ada. Maaf anda siapa?" Scurity menatap curiga pada Mesya.

Mesya langsung memberi tatapan tak suka pada Scurity itu. "Apa saya terlihat seperti penjahat?"

"Tidak, maaf." Scurity mengangguk sungkan. Kemudian membuka pagar agar Mesya bisa masuk.

Winda berjalan dengan tatapan mata menelisik setiap sudut rumah Winda. Sementara Mira, langsung berlari menghampiri Mesya yang semakin berjalan mendekat ke arah pintu.

"Maaf, Ibu, ada yang bisa saya bantu?"

Namun, Mesya tak menjawab. Kemudian mendorong pintu rumah dengan keras. Hingga menimbulkan suara gebrakan keras menghantam jendela kaca.

Winda, yang saat itu tengah menemani Zia bermain di depan televisi langsung menoleh kearah pintu. Ia langsung berdiri ketika melihat seorang wanita anggun yang berdiri di ambang pintu.

"Mesya," gumam Winda, dengan suara pelan tak terdengar. Ia tahu bahwa wanita yang berdiri itu adalah Mesya. Sebab Mesya pernah beberapa kali datang ke kantor.

Winda, masih terdiam dengan menatap Mesya terkejut. Sementara Mesya, berjalan masuk semakin dekat ke arah Winda.

"Kenapa? Kaget?" Seloroh Mesya saat melihat Winda menatapnya dengan seolah tak berkedip. Seperti orang yang sangat terkejut.

"Mesya? Kenapa ke sini?" Suara Winda terdengar agak bergetar.

Mesya tersenyum sinis."Kenapa?" Alisnya terangkat, kemudian mendesis. "Besar juga nyali, kamu!" Lalu berjalan mendekati Zia, yang masih asyik menyusun Lego.

Seketika, wajah Winda berubah tegang. Ia khawatir jika Mesya melakukan sesuatu yang akan menyakiti Zia.

"Berhenti! Jangan dekati dia!" Winda membentangkan kedua tangannya menghadang langkah Mesya.

"Kenapa? Aku hanya ingin lihat, apa dia benar-benar anak Detta." Mesya mendorong Winda ke samping agar tidak menghalangi jalannya. Lalu berjongkok saat sudah berada di dekat Zia.

Sementara Zia, gadis berusia tiga tahunan itu masih terlihat asyik dengan mainannya. Seolah keributan Mesya dan Winda, sama sekali tak mengusiknya.

"Halo gadis kecil?" Mesya menyapa Zia, dengan suara lembut. Meski ia sangat membenci Winda dengan segala kelakuannya, tetapi ia tetaplah seorang ibu yang menyangi anaknya.

"Mesya, hentikan!" Winda menarik tangan Mesya yang memegang dagu Zia.

Membuat Mesya berdecak kesal. Kemudian berdiri dengan menatap marah pada Winda.

"Kamu boleh lakukan apapun padaku, tapi tidak pada Zia. Dia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini," kata Winda dengan nada memohon.

"Oh...jadi, namanya Zia. Pintar sekali kamu Detta, sampai inisial anak kau samakan." Mesya mendesis tak percaya. Seolah Detta telah merencanakan perselingkuhannya secara matang.

"Tulis berapapun yang kamu inginkan!" Mesya melempar selembar cek kosong yang sudah di tandatangani. "Pergi yang jauh, dan tinggalkan Detta."

Kini giliran Winda yang tertawa. "Kamu takut, perhatian Detta berpindah padaku?" Winda tersenyum mengejek.

Membuat wajah Mesya berubah merah padam.

"Pantas saja Detta, berpaling. Ternyata istri arogan," Winda tersenyum mengejek.

Sementara Mesya mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya kini telah sampai di ujung kepala dan siap meledak.

"Dasar! Wanita murah an! Apa sudah tidak ada laki-laki lajang yang mau menikah denganmu? Hingga kamu merebut suami orang lain!"

"Aku tidak pernah meminta Detta menikahiku. Detta sendiri yang datang padaku!" Winda menerangkan. Tetapi justru membuatnya Mesya semakin berapi-api.

"Jangan banyak bicara! Tinggalkan Detta, secepatnya jika ingin hidupmu dan anakmu damai." Mesya mengancam.

"Jangan pernah macam-macam pada anak-anakku. Aku juga bisa berbuat seperti yang kau lakukan pada mereka!" Winda mengangkat telunjuknya. Memberi ancaman balik pada Mesya.

Mesya tertawa. "Memang apa yang bisa kamu lakukan?" kata Mesya meremehkan. "Sebelum kesabaranku habis, cepat tinggalkan Detta." Lalu berbalik meninggalkan Winda. Namun, baru beberapa langkah Mesya kembali berbalik menghadap Winda. "Emmm, untuk Zia, kamu tidak usah khawatir. Aku akan menanggung semua biayanya, jika terbukti Zia, benar-benar anak Detta!"

......................

Baca juga cerita keren dari teman author ya🤗

1
Dwi Kusmarini
bgs
Anonim
kenapa dinovel2 selalu pelakor yg menang..istri sah wajar jahat krn perbuatan suaminya..ah .sdhlahh
Pisces97
kasian nasip Mesya akhirnya dia kalah dengan istri kedua.
dimana² menang 😂
Ratna js
sekrang aku sdang di posisi mu Winda... kehamilan ku baru menginjak 2 bulan tapi rasa nya begitu sesak ketika harus banyak bersabar dan ikhlas dg segala ketidak adilan. dan mas deta persis suami ku dia selalu menjaga perasaan istri pertamanya tanpa memikirkan perasaanku. baca novel ini seperti baca kisah hidup ku
Anonim: Memang mbaknya ngerti perasaan istri pertama ketika suami menikah lagi?
total 2 replies
Mega
haiss sbnrnya aku males komen kl masalah pelakor,yg intinya tidak akan ada yg mau terima di madu,,, tp di sini munafix bgt msh mau menerima walau pun udh kesakitan dan mau meniggl,pdhl awal udh benci bgt,tp mkn karna halu jg shi jg bisa menerima,dlm dunia nyata hanya 1 banding 1000 yg mau menerima,,,
Erlinda
Winda juga egois sebagai seorang ibu. ga mengerti klo karena ulah nya yg terus bertahan demi detta anak nya di bully dan disiksa ..mulai malas aq membacanya
Erlinda
ternyata detta pengecut
Enis Sudrajat
Semangat Mak!❤️🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!