Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Delapan Belas Tahun yang Lalu
"Karena dia mengusirku, aku bawa kamu sekalian."
Suara Dimas datang dari gelap.
Ning tidak bergerak.
Ruang ganti Maison Fevre sempit. Di kiri ada rak sepatu, di kanan bangku kayu panjang, di belakangnya cermin setinggi badan. Dalam gelap, semua benda kehilangan bentuk. Hanya napas Dimas yang terdengar, berat dan patah-patah.
"Dimas," kata Ning pelan, "letakkan pisaunya dulu."
Ada bunyi logam kecil.
Detik berikutnya, sesuatu yang dingin menyentuh lehernya.
Kulit Ning langsung menegang.
"Kamu selalu pintar bicara." Dimas berdiri di belakangnya. Bau keringat dan rokok menempel di kemejanya. "Sekarang bicara. Bilang ke aku, apa kurangku dibanding dia?"
Ning menelan ludah. Ujung pisau ikut bergerak di kulitnya. Rasa perih tipis muncul, hangat, lalu basah.
"Ini bukan soal kurang atau lebih."
"Bohong."
"Aku sudah menikah."
"Dia beli semua orang." Suara Dimas bergetar. "Dia beli kantor. Dia beli bunga. Dia beli kamu."
Ning memaksa tangannya tetap diam di sisi tubuh. Kalau ia panik, pisau itu bisa masuk lebih dalam.
"Kalau kamu sakiti aku, hidupmu selesai."
Dimas tertawa kecil. "Hidupku sudah selesai pagi tadi."
Di luar, langkah kaki mendekat.
"Ning?" suara Jia terdengar samar. "Kamu masih di dalam? Kopinya keburu dingin."
Ning menarik napas.
Pisau di lehernya menekan lebih kuat.
"Jawab normal," bisik Dimas.
Ning menutup mata sebentar. "Jia, aku... aku ganti baju dulu. Kamu turun saja."
Di luar, hening.
Jia mengenalnya terlalu baik untuk percaya pada kalimat setenang itu.
"Oke," jawab Jia setelah beberapa detik. "Aku taruh di meja, ya."
Langkahnya menjauh, tetapi tidak benar-benar pergi. Ning mendengar suara sangat pelan, seperti seseorang menahan sandal agar tidak berbunyi.
Jia masih di sana.
Ning harus memberi waktu.
"Dimas," ia berkata, kali ini lebih lembut. "Kalau kamu hanya ingin bicara, kita bicara. Tapi jangan di sini. Banyak CCTV. Banyak staf. Kamu akan rugi sendiri."
"Aku tidak peduli."
"Kamu peduli. Kalau tidak, kamu tidak akan datang diam-diam. Kamu tidak mau tertangkap. Kamu mau aku mendengar kamu."
Napas Dimas tersendat.
Di balik pintu, Jia menahan ponsel dengan kedua tangan. Layarnya sudah tersambung ke nomor darurat. Suaranya hampir tidak keluar saat ia berbisik pada operator, "Tolong. Ada orang bawa pisau di Maison Fevre, Kemang. Teman saya di ruang ganti."
Di dalam, Ning terus bicara.
"Kamu marah karena dipermalukan. Aku paham."
"Kamu tidak paham apa-apa."
"Kalau begitu jelaskan."
"Aku cuma mau kamu lihat aku!" Dimas mendadak membentak.
Pisau itu menggores kulit Ning. Rasa panas menyengat sampai bahunya kaku, tetapi ia tidak berteriak.
Jangan sekarang.
Jangan membuat dia panik.
Tiba-tiba, ada suara benda jatuh dari arah lorong belakang.
Dimas menoleh.
Dalam sepersekian detik itu, pintu ruang ganti terbuka paksa.
Seorang perempuan tua masuk sambil mengangkat sekop besi kecil dari ruang utilitas.
"Lepaskan dia!"
Dimas belum sempat berbalik penuh.
Sekop itu menghantam belakang kepalanya.
Bunyinya tumpul.
Dimas jatuh ke lantai, pisaunya terlepas dan meluncur ke bawah bangku.
Lampu darurat menyala redup. Ning terhuyung, satu tangan menutup lehernya. Darah hanya sedikit, tetapi telapak tangannya langsung lembap.
"Bu Sri..."
Perempuan tua itu berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Seragam kebersihannya kusut, rambutnya sebagian keluar dari ikatan. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala terlalu terang.
Jia muncul di belakangnya, menangis lega. "Ning!"
"Jangan masuk!" bentak Bu Sri.
Jia membeku.
Ning juga membeku.
Nada itu bukan nada orang yang baru menyelamatkan seseorang.
Bu Sri menunduk, mengambil pisau Dimas dengan kain lap, lalu mengarahkannya ke Ning.
"Kamu ikut saya."
Dada Ning turun seperti dihantam benda berat.
"Bu Sri, apa maksudnya?"
"Jangan banyak tanya."
Di luar, Jia berteriak, "Bu, polisi sudah saya telepon!"
Bu Sri tersenyum. "Bagus. Kalau begitu, mereka akan sibuk dengan laki-laki ini dulu."
Ia mendorong Ning keluar lewat lorong belakang, bukan pintu utama. Ning sempat melihat Jia berlari mengejar, tetapi Bu Sri mengangkat pisau lebih dekat ke lehernya.
"Satu langkah lagi, saya gorok dia."
Jia berhenti dengan wajah putih.
Lift servis membawa mereka turun ke basement. Bau lembap dan oli memenuhi hidung Ning. Setiap langkah membuat lututnya lemas, tetapi ia memaksa matanya mengingat jalur: lift servis, koridor kiri, pintu parkir B2, mobil van abu-abu tua.
Begitu pintu mobil tertutup, Bu Sri mengunci dari dalam.
"Bu Sri," Ning berkata pelan, "kalau Ibu butuh uang, saya bisa bantu."
Tamparan itu datang cepat.
Pipi Ning terhempas ke samping.
"Uang?" Bu Sri tertawa. "Kalian keluarga Tju selalu pikir semua bisa dibayar."
Ning menahan pipinya. "Keluarga Tju?"
Van itu keluar dari basement melalui jalur servis. Di belakang, sirene samar mulai terdengar, tetapi mobil sudah masuk jalan kecil sebelum satpam sempat menutup palang.
Ning menekan napasnya, satu demi satu.
Pukul lima lewat sedikit. Kevin seharusnya sudah hampir tiba. Kalau ia bisa membuat Bu Sri bicara, kalau ia bisa meninggalkan jejak, kalau Jia cukup cepat memberi tahu lantai basement, mereka masih punya kesempatan.
Tangannya bergerak pelan ke saku blazer.
"Jangan coba-coba," kata Bu Sri tanpa menoleh.
Ning berhenti.
"Saya sudah tua, bukan bodoh. Saya pernah kerja membersihkan rumah orang kaya bertahun-tahun. Saya tahu perempuan seperti kamu selalu punya ponsel, selalu punya supir, selalu punya orang yang datang kalau dipanggil."
"Kalau begitu Ibu juga tahu, membawa saya pergi tidak akan membuat Ibu aman."
"Aman?" Bu Sri tertawa pendek. "Saya sudah hidup delapan belas tahun tanpa aman."
Di Maison Fevre, Jia berlari turun ke basement bersama satpam dan Boss Fendi. Tangannya masih gemetar saat menunjuk pintu jalur servis yang terbuka.
"Van abu-abu. Platnya saya cuma lihat belakangnya, mungkin 74. Dia bawa Ning lewat sini!"
Boss Fendi menelepon polisi lagi, suaranya pecah untuk pertama kali sejak Ning bekerja di sana. "Istri Pak Kevin dibawa orang. Cepat kirim lokasi CCTV basement sekarang!"
Bu Sri mengemudi dengan satu tangan. Tangan kirinya menunjuk kantong kain di kursi penumpang.
"Buka."
Ning tidak bergerak.
"Buka!"
Ia membuka kantong itu.
Di dalamnya ada buku catatan hitam.
Ning merasa darah di tubuhnya berhenti.
Buku itu.
Buku yang ia tulis di kamar Menteng, lalu ia sembunyikan di laci bawah karena terlalu takut pikirannya sendiri pecah kalau tidak ditaruh di atas kertas.
Halaman-halamannya sudah kusut. Ada bekas air di beberapa sudut.
"Saya sengaja masuk rumah itu," kata Bu Sri. "Saya lihat nama Tju di jadwal agency. Saya pikir mungkin cuma kebetulan. Tapi begitu sampai di Menteng, saya lihat foto-foto lama, lihat cara rumah itu menjaga nama yang sudah mati. Lalu saya menemukan laci bawahmu tidak terkunci."
Ning menggenggam buku itu sampai kuku menekan sampul.
"Ibu membaca?"
"Semuanya."
Jalanan berubah makin sepi. Gedung-gedung tinggi tertinggal, digantikan ruko tua, tanah kosong, lalu gudang-gudang dengan pagar berkarat.
"Kamu menulis tentang bangun lagi. Tentang suami yang kembali. Tentang anak yang masih hidup." Bu Sri tertawa kering. "Saya tidak peduli kamu waras atau tidak. Saya cuma peduli satu hal."
Ia menoleh. Matanya merah.
"Namamu Tju."
Ning menahan napas.
Delapan belas tahun lalu, nama Tju pernah memenuhi berita. Indra Tju, pemilik perusahaan tambang keluarga, dituduh lalai setelah kecelakaan tambang menewaskan sembilan orang. Media menulis angka itu setiap hari. Sembilan korban. Sembilan keluarga. Sembilan peti mati.
Ning masih ingat wajah Indra saat polisi membawa beliau pergi. Punggungnya tetap tegak, tetapi matanya kosong. Ia berkata pada Ning kecil, "Jaga Mama."
Lalu ia tidak pernah pulang.
Indra meninggal di penjara sebelum sempat membersihkan namanya.
Liana bertahan lebih sebentar. Setiap hari ada orang datang ke rumah. Ada yang menangis. Ada yang memaki. Ada yang melempar batu ke kaca depan. Suatu sore, seorang perempuan berteriak di halaman, "Suamiku mati karena kalian! Anakku mati karena kalian!"
Malam itu, Liana naik ke lantai atas.
Ning menemukan ibunya setelah suara tubuh jatuh memecah halaman belakang.
Kenangan itu datang seperti air hitam yang menutup hidungnya.
Ning memejamkan mata, tetapi suara Bu Sri tetap menembus.
"Suami saya mati di lubang itu. Anak saya baru dua puluh tahun. Baru mulai kerja, mau bantu bayar sekolah adiknya. Mereka pulang dalam kantong."
Van berhenti mendadak.
Di depan mereka, sebuah gudang tua berdiri di antara ilalang tinggi. Pintu besinya setengah karatan. Matahari sore masuk miring, membuat bayangan pagar seperti jeruji panjang di tanah.
Bu Sri menarik Ning turun.
"Saya tidak tahu kamu siapa dulu," katanya sambil mendorong Ning masuk ke gudang. "Saya tidak peduli catatan gilamu itu benar atau tidak. Yang saya tahu, Tuhan memberi saya kesempatan melihat anak Tju berdiri di depan saya."
"Indra tidak membunuh mereka," suara Ning pecah. "Beliau dijebak."
Bu Sri tertawa keras, pahit sampai seperti batuk.
"Semua orang kaya bilang begitu."
Di dalam gudang, bau debu dan besi tua menusuk. Ada kursi plastik patah, drum kosong, dan pipa-pipa bekas di sudut. Bu Sri mendorong Ning sampai ia jatuh berlutut.
Buku catatan hitam terlepas dari tangan Ning dan jatuh terbuka di lantai.
Di salah satu halaman, tulisan Ning terlihat jelas.
Kevin masih hidup. Kian masih hidup. Aku diberi kesempatan kedua.
Bu Sri mengambil sebatang pipa besi dari sudut gudang.
"Keluarga Tju berutang nyawa pada saya," katanya.
Ponsel Ning bergetar di saku blazer.
Layar menyala.
Kevin.
Bu Sri mengangkat pipa itu, matanya tertuju pada Ning.
"Sekarang kamu yang bayar."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya