Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Arisan Kedua
Atau peringatan.
Keira baru memahami rasa kalimat Ethan itu pada minggu kesembilan, ketika arisan keluarga Ciu kembali digelar di aula utama.
Arisan pertama yang pernah ia lihat sudah cukup membuatnya mengerti bahwa perempuan-perempuan di keluarga ini tidak perlu mengangkat suara untuk saling melukai. Namun arisan kedua berbeda.
Kali ini, luka tidak disembunyikan di balik pertanyaan ringan.
Luka diletakkan di meja, di antara cangkir teh dan piring kue, lalu didorong perlahan ke hadapan orang yang dituju.
Sejak pagi, Bi Sari sudah memberi instruksi dua kali lebih panjang daripada biasanya.
"Suster Keira, ingat. Jangan berdiri terlalu dekat dengan salah satu Nyonya. Jangan menanggapi obrolan. Kalau diminta menuang teh, tuang. Kalau tidak diminta, diam. Dan kalau ada yang bertanya sesuatu yang bukan urusanmu, jawab seperlunya."
"Baik, Bi."
Bi Sari menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. "Hari ini lebih berat dari arisan yang dulu."
Keira tidak bertanya kenapa.
Ia tahu jawabannya akan datang sendiri.
Aula utama disiapkan dengan sempurna. Taplak putih, rangkaian anggrek, piring porselen tipis, nampan kue lapis legit, risoles kecil, pastel tutup, dan buah potong yang disusun seperti pajangan butik. Para perempuan keluarga datang dengan kebaya modern, gaun pastel, tas mahal, dan senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke mata.
Vivienne duduk di sisi utama.
Nyonya Besar tampak sama anggunnya seperti biasa. Rambutnya disanggul rendah, anting mutiaranya kecil, dan senyumnya lembut. Tetapi Keira, yang kini sudah cukup lama memperhatikan orang-orang di rumah ini, melihat detail yang tidak ia sadari dulu.
Jari Vivienne menekan sisi cangkir sedikit terlalu kuat.
Celeste duduk dua kursi dari Vivienne, mengenakan blus biru pucat. Wajahnya tenang, hampir kosong. Ia lebih sering menunduk pada tehnya daripada mengikuti percakapan. Keira tidak tahu apakah itu ketidaktertarikan atau strategi untuk tidak terseret.
Melissa datang paling akhir.
Nyonya Ketiga memakai gaun putih tulang dengan bros kecil di dada. Tidak mencolok, tetapi semua orang melihatnya. Senyumnya ringan, langkahnya pelan, dan cara ia meminta maaf karena terlambat terdengar begitu manis sampai sulit dipercaya bahwa keterlambatan itu bukan bagian dari perhitungan.
"Maaf, Ci Vivienne. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan dulu."
Vivienne tersenyum. "Tidak apa-apa. Kita baru mulai."
Keira berdiri di sisi belakang, membawa teko teh hangat. Ia menuang untuk Vivienne ketika cangkirnya tinggal setengah, lalu mundur. Setelah itu ia melakukan hal yang sama untuk Celeste, lalu Melissa. Urutannya mengikuti posisi duduk dan kebutuhan cangkir, bukan kedudukan.
Ia merasakan tiga pasang mata menyentuhnya pada waktu berbeda.
Vivienne melihat cara tangannya berhenti.
Celeste melihat cara ia menunduk.
Melissa melihat apakah ia akan ragu saat cangkir Nyonya Ketiga kosong lebih dulu.
Keira tidak memberi apa pun.
Ia hanya menuang teh.
Percakapan awal berjalan biasa. Anak siapa masuk sekolah internasional, butik mana yang terlalu lambat mengirim gaun, dokter kulit mana yang jadwalnya penuh sampai bulan depan. Semua terdengar ringan, tetapi setiap nama dan tempat menyimpan ukuran status.
Kemudian Melissa meletakkan cangkirnya.
"Aku dengar Ciu Group agak sibuk akhir-akhir ini."
Suara di aula menurun sedikit.
Vivienne masih tersenyum. "Perusahaan besar selalu sibuk."
"Tentu." Melissa tertawa kecil. "Apalagi kalau ada investasi yang hasilnya tidak sesuai harapan."
Salah satu tante yang duduk dekat jendela langsung menoleh ke temannya. Bisikan pendek melewati sisi meja seperti angin dingin.
Keira sedang menuang teh untuk seorang kerabat tua. Tangannya tetap stabil, tetapi telinganya menangkap perubahan itu.
Investasi gagal.
Informasi itu benar atau tidak, ia tidak tahu. Tetapi di ruangan ini, kebenaran bukan satu-satunya yang berbahaya. Sesuatu yang cukup dipercaya juga bisa menjadi senjata.
Vivienne menaruh cangkirnya dengan suara hampir tidak terdengar.
"Melissa, urusan perusahaan bukan bahan arisan."
"Oh, aku tahu." Melissa menunduk sedikit, seolah baru sadar sudah kelewat batas. "Aku hanya khawatir. Om Hendrawan kelihatannya sedang banyak pikiran akhir-akhir ini."
Nama Om Hendrawan membuat beberapa perempuan langsung diam.
Di keluarga Ciu, menyebut nama itu sama seperti mengetuk meja hakim.
Celeste tetap menunduk pada tehnya.
Keira melihat tangan Celeste bergerak sangat pelan, mengaduk teh yang sebenarnya tidak diberi gula. Sendok kecil berputar tanpa suara. Perempuan itu ada di ruangan yang sama, tetapi seolah memilih berada di tempat lain.
Melissa belum selesai.
"Kemarin Om Hendrawan sempat menyerahkan beberapa urusan keluarga kepadaku. Sebenarnya aku juga kewalahan." Ia tertawa lembut. "Tapi kalau keluarga membutuhkan, masa aku menolak?"
Kali ini bisikan menjadi lebih jelas.
Beberapa mata bergerak ke Vivienne.
Jika Hendrawan memberi Melissa sebagian urusan keluarga, berarti posisi Nyonya Ketiga tidak lagi hanya di cabang ketiga. Itu bukan kabar kecil. Itu adalah langkah yang sengaja diumumkan di hadapan semua orang.
Vivienne mengangkat cangkir lagi.
"Bagus kalau kamu bisa membantu," katanya. "Rumah besar memang selalu butuh orang yang teliti."
Kata teliti terdengar seperti pujian.
Namun Keira melihat senyum Melissa menegang sedikit.
Vivienne tidak menyebut berwenang. Tidak menyebut dipercaya. Hanya membantu dan teliti. Dua kata yang membuat tugas besar terdengar seperti pekerjaan administratif.
Serangan itu halus, tetapi tepat.
Melissa menyentuh bros di dadanya. "Ci Vivienne selalu pandai memilih kata."
"Kita semua belajar dari pengalaman."
Keira berpindah ke sisi Celeste untuk menambah teh. Celeste mengangkat mata sekilas.
Tatapan Nyonya Kedua sangat tenang.
Terlalu tenang.
Di balik ketenangan itu, Keira merasa Celeste bukan tidak mengerti perang yang sedang terjadi. Ia hanya tidak punya keinginan untuk menyelamatkan siapa pun dari luka yang mereka buat sendiri.
"Terima kasih," kata Celeste pelan.
"Sama-sama, Nyonya Kedua."
Keira mundur.
Melissa memanggilnya sesaat kemudian.
"Keira."
Semua mata yang tadi bergerak di antara Vivienne dan Melissa kini jatuh pada Keira.
Keira mendekat dengan teko.
"Ya, Nyonya Ketiga."
"Tehnya boleh ditambah."
"Baik."
Keira menuang. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Cangkir Melissa terisi sampai batas yang sama seperti cangkir Vivienne tadi.
"Kamu sudah cukup lama di rumah ini, ya?" tanya Melissa.
Pertanyaan itu ringan.
Terlalu ringan.
"Beberapa minggu, Nyonya."
"Pasti sudah mulai tahu banyak hal."
Keira menurunkan teko ke nampan.
"Saya hanya tahu jadwal bayi Nyonya Stephanie dan kegiatan Adik Jay."
Beberapa perempuan tersenyum kecil. Jawaban itu polos di permukaan, tetapi cukup rapi untuk tidak bisa dipakai menyerang.
Vivienne menatap Keira sebentar.
Melissa juga.
Keira mundur satu langkah, kembali ke posisi staf.
Dalam arisan seperti ini, berdiri diam bukan berarti tidak bergerak. Kadang, justru itu satu-satunya cara agar tidak terseret papan permainan.
Percakapan berlanjut, tetapi udara sudah tidak kembali ringan.
Melissa menunggu.
Keira bisa merasakan itu. Perempuan itu tidak datang hanya untuk menyebut investasi dan Om Hendrawan. Serangan pertama adalah pembuka. Yang berikutnya pasti lebih pribadi.
Dan benar saja, ketika seorang kerabat baru saja memuji kue lapis legit, Melissa menaruh sendok kecilnya di piring dengan bunyi lembut.
Ia menoleh kepada Vivienne, tersenyum manis.
"Ngomong-ngomong, Ci Vivienne..."
Keira sedang mengangkat nampan teh.
Melissa melanjutkan, masih dengan senyum yang sama.
"Aku dengar Ko Ethan belakangan ini..."
Udara di aula tiba-tiba membeku.
Tangan Keira pada nampan nyaris terlepas.