Melisa, seorang gadis yang selalu terlihat dingin dan angkuh, ia tak memiliki seorang teman pun, hingga suatu hari datanglah seorang Satria yang mencairkan dinding beku Melisa. Satria adalah matahari bagi Melisa yang selalu menghangatkannya.
Meski begitu, tak mudah bagi mereka untuk selalu bersama karna status sosial mereka yang berbeda. Akankah mereka bisa terus bersama? Atau akhirnya memilih untuk menyerah?
update setiap hari ❄️❄️❄️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ken Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel Baru
Saat jam istirahat tiba, murid-murid di kelas Melisa pergi meninggalkan kelas menuju kantin sekolah yang berada di lantai 1. Tidak dengan Melisa dan Satria, mereka masih duduk di bangkunya masing-masing.
Melisa memang sudah terbiasa tetap berada di kelas saat jam istirahat, dia tidak suka suasana kantin yang sangat ramai, dan segala macam bau bercampur di sana. Mulai dari bau makanan, minuman, parfum, bahkan juga bau keringat. Melisa seringkali membawa makanan kecil dari rumah.
Lain hal dengan Satria, ia yang bertekad ingin menabung untuk membeli ponsel baru, berusaha keras untuk menahan rasa laparnya. Ia harus bisa menyisihkan uang saku yang di dapat dari sekolah untuk bisa membeli sebuah ponsel sesegera mungkin. Untuk mengalihkan rasa laparnya, ia memilih membaca buku untuk pelajaran selanjutnya.
Melisa yang melihat Satria tak keluar kelas, dan tetap memilih membaca buku di tempatnya, menawarinya cemilan yang dibawanya.
"mau?" tanya Melisa sambil mengulurkan kotak berisi cemilan itu.
"terima kasih," Satria hanya melirik sesaat kemudian melanjutkan membaca.
Melisa berjalan menghampiri Satria, "kau tidak mau?" sambil memegang sepotong kue di tangannya.
"tida..." ucapannya terhenti saat Melisa memasukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya.
"makanlah, kau butuh tenaga untuk belajar," Melisa tersenyum pada Satria. Ia pun menggeser kursinya sehingga mereka duduk berdempetan. "tetaplah membaca, biar aku yang menyuapi mu, kau hanya tinggal membuka mulutmu."
Satria menatap Melisa tak suka, ia mengitari pandangan ke sekeliling kelas. Di sana tak ada siapapun kecuali dirinya dan Melisa. Satria kembali menatap Melisa. Namun kali ini tatapannya lebih lembut dari sebelumnya.
"ayolah, aku hanya ingin kau makan. Ini kan jam istirahat, harusnya kita pakai untuk mengisi kembali energi kita yang terbuang untuk belajar tadi, bukannya terus-terusan membuang energi dengan membaca lagi buku pelajaran yang memusingkan itu."
Satria tak menjawab ocehan panjang Melisa. Ia kembali memfokuskan diri pada bacaannya.
"a..." Melisa kembali mengulurkan potongan kue ke mulut Satria. Satria terdiam melihat potongan kue itu, kemudian menatap Melisa yang mengisyaratkan Satria untuk membuka mulutnya, "a... buka mulutmu."
Kali ini satria hanya menurut, ia memakan potongan kue itu dan kembali membaca. Melisa tetap menyuapi Satria makan, dan Satria hanya tinggal membuka mulut saat Melisa menyodorkan makanannya tanpa harus menghentikan bacaannya. Hingga tak terasa makanan dia kotak bekal Melisa pun habis.
"habis..." Melisa tersenyum senang, kemudian mengambil botol minum dalam tasnya dan memberikannya pada Satria. "minum dulu."
Satria mengambil botol minum itu, dan meminumnya. Ia baru menyadari beberapa teman sekelasnya sudah kembali, dan pastinya mata mereka tertuju pada mereka berdua. Satria melirik Melisa yang memandanginya dengan kagum. Selesai minum, Satria menyerahkan kembali botol minum milik Melisa itu. Ia pun bangkit dari duduknya.
Melisa yang melihat Satria pergi, segera bangkit mengikutinya.
"aku mau ke toilet," ucap Satria tanpa menoleh ke belakang.
"aku juga mau ke toilet," Melisa mengekor di belakang Satria menuju toilet.
Sesampainya di toilet, Satria langsung masuk menuju toilet pria, sedangkan Melisa hanya berdiri di depan pintu toilet wanita. Menunggu hingga beberapa saat, lalu pindah berdiri di depan toilet pria. Menunggu hingga Satria keluar.
Ada beberapa murid pria yang hendak masuk ke dalam toilet, namun mereka terpaksa menunggu karena Melisa menghalangi jalan masuk mereka. Mereka bahkan tak berani menegurnya, dan lebih memilih untuk menunggu hingga Melisa pergi.
Setelah beberapa menit, Satria keluar toilet dan terkejut dengan keberadaan Melisa yang berdiri di depan pintu toilet.
"ngapain?" tanya Satria menggeser tubuh Melisa agar murid lain yang ingin menggunakan toilet bisa masuk ke dalamnya.
"jagain kamu," Melisa menjawab dengan senyumnya yang memukau.
Satria menghela nafas dan berjalan kembali ke kelas. Melisa mengikuti Satria, kali ini ia berjalan sejajar dengan Satria.
"aku belum punya nomor ponselmu," Melisa menyodorkan ponselnya ke depan Satria membuat Satria menghentikan langkahnya. Satria mengamati ponsel milik Melisa itu.
"ini, masukkan nomormu." Pinta Melisa.
Satria mengambil ponsel Melisa, dan mengetik nomor ponselnya. Lalu menyerahkan kembali pada Melisa.
Melisa menatap layar ponselnya, ia tersenyum melihat nomor Satria di sana. Melisa langsung menyimpannya dengan nama 'fi**rst'.
Melisa langsung menelpon nomor itu. Satria yang merasakan ponselnya bergetar merogoh saku celananya. Satria melihat ada nomor baru tertera di layar ponselnya. Ragu-ragu untuk mengangkatnya.
"itu nomorku, di save y!" suara Melisa mengagetkan Satria, hingga ia pun menjatuhkan ponselnya.
prakkk...
Melisa yang melihat ponsel milik Satria terjatuh segera menghampiri Satria.
Satria mengambil ponselnya, layarnya yang semula sudah retak di bagian ujung, kini pecahnya merata ke seluruh bagian.
"haaahhh..." Melisa kaget, menutup mulut dengan tangan kanannya.
"kok bisa kamu jatuhin sih?" tanya Melisa khawatir melihat ponsel Satria yang hancur.
"ga papa, emang udah rusak juga." Satria seolah tak peduli ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana, dan beranjak masuk ke kelas.
"kamu jatuhin gara-gara kaget denger suara aku y?" Melisa mengejar Satria yang kini sudah duduk di tempatnya.
Satria tak menjawab. Memang benar, bahwa ia menjatuhkan ponselnya kaget karena mendengar suara Melisa. Hanya saja ia tak enak hati untuk mengatakannya. Lagi pula, memang sebelum terjatuh ponsel milik Satria sudah retak layarnya.
"maaf y," Melisa menyatukan kedua telapak tangannya, ia duduk menghadap Satria. Matanya memelas seolah meminta ampunan.
Satria jadi merasa sangat tak enak hati.
"ga papa Mel, lagian emang udah pecah dari tadinya," Satria menenangkan Melisa.
"tapi kan jadi makin parah," Melisa masih menampakkan wajah sedihnya.
"ga apa-apa Melisa, serius. Aku juga emang niat mau beli ponsel baru," jawab Satria.
"aku gantiin aja y," tawar Melisa.
"ga usah, aku lagi ngumpulin uang buat beli ponsel baru." Satria menatap lembut pada Melisa.
Melisa benar-benar merasa bersalah.
Selama jam pelajaran ia hanya memperlihatkan wajah murungnya.
...***...
Sepulang sekolah Melisa mengajak Satria untuk pulang bersama lagi, namun Satria menolaknya. Satria berjalan menuju halte bus meninggalkan Melisa di parkiran sekolah.
Melisa segera menaiki mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju Satria.
Tiiinnn...
Mobil sport merah itu berhenti tepat di depan Satria. Melisa menurunkan kaca mobilnya.
"naik!" pinta Melisa.
Satria tak menggubrisnya, ia melengos meninggalkan Melisa, berjalan menjauhi halte bus.
Melisa mengikutinya dari belakang, masih mengendarai mobilnya.
Tiiinnn...
Klakson mobil kembali terdengar. Namun Satria tetap mengabaikan.
Tiiinnn... Tiinnn.. . Tiiinnn...
Berkali-kali Melisa membunyikan klakson mobilnya.
Satria akhirnya menghentikan langkah kakinya. Dan membalikkan badan menghadap mobil Melisa.
"ayo naik!" pinta Melisa.
Satria masih diam tak bergeming.
"kalau kau tak naik, aku akan terus membunyikan klakson mobilku," ancam Melisa.
"kenapa aku harus naik mobilmu?" tanya Satria.
"aku mau mengganti ponselmu, ayo ikut denganku!" perintah Melisa lagi.
"tidak perlu, aku akan membelinya nanti." ucap Satria tegas.
"kau ngambek ya?" tanya Melisa.
Satria hanya menghela nafas panjang. Lagi-lagi meninggalkan Melisa di sana.
Tiiiiiiinnnnnnnn......
Klakson mobil terdengar lebih panjang kali ini. Membuat Satria kembali melangkahkan kakinya kembali ke mobil Melisa.
Melisa tersenyum melihat Satria kembali. Ia tak peduli pada banyak pasang mata yang sedang menyaksikan mereka.
"apa susahnya sih naik mobilku?" tanya Melisa saat Satria sudah berada di samping mobilnya.
"kau tak lihat? sekarang kita jadi bahan tontonan orang-orang." Satria terlihat marah.
"itu salahmu, kenapa kau tak naik saat aku memintamu baik-baik? kau ingin jual mahal padaku?" tanya Melisa menggoda.
Satria yang sudah terlanjur jadi bahan tontonan tidak tau harus berbuat apa. Ia akhirnya terpaksa menaiki mobil Melisa.
"dari tadi naik kan enak, ga usah jadi bahan tontonan," ledek Melisa.
Satria tak menjawab, dia hanya diam menatap ke depan. Tak menghiraukan Melisa yang terus meledeknya karena ia tak segera naik ke dalam mobil, sehingga menjadi bahan tontonan orang-orang di sekitar halte bus, yang mayoritas adalah murid-murid sekolah Puspa Tunggal.
Melisa pun melajukan mobilnya sangat kencang. Satria melotot ke arah Melisa. Namun kali ini Melisa yang mengacuhkannya. Hingga sampailah mereka di komplek perumahan elit dimana Melisa tinggal.
"kenapa ke sini?" tanya Satria kebingungan.
"sudah ku bilang kan, aku mau mengganti ponselmu," jawab Melisa.
Meski kebingungan, Satria hanya diam saja menuruti mau Melisa. Ia tak tau apa yang akan dilakukan Melisa jika ia menolaknya.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Melisa langsung menyiram tanaman. Satria hanya menunggu hingga Melisa selesai di samping mobil Melisa.
"yuk masuk," ajak Melisa saat selesai menyiram tanaman-tanaman di halaman rumahnya.
Satria berjalan mengikuti Melisa, dan berhenti saat Melisa menaiki tangga.
"ayo ikut naik," pinta Melisa.
Setelah menghela nafas panjang, Satria mengikuti Melisa ke lantai atas.
"kau kenapa diam saja? kau marah kan karena aku merusak ponselmu?" tanya Melisa yang tiba-tiba berhenti dan berbalik di ujung tangga.
"tidak," Satria menggelengkan kepalanya.
"lalu kenapa kau diam saja?" tanya Melisa lagi.
"karena aku tak tau harus bagaimana?" jawab Satria.
"hihihi..." Melisa terkekeh mendengar jawaban Satria. "kau hanya cukup menuruti ku," Melisa mendekatkan wajahnya ke wajah Satria yang berada di dua anak tangga di bawahnya.
Satria hanya mengangguk lemah. Membuat Melisa tersenyum senang.
"kau tunggu di situ ya, aku ambil dulu ponselnya," Melisa menunjuk ke arah sofa bed yang ada di ruang atas.
Sekali lagi Satria hanya mengangguk.
Melisa pun pergi ke dalam kamarnya, sedangkan Satria duduk di sofa bed sesuai perintah Melisa.
Tak lama Melisa keluar dari kamarnya, membawa 5 dus ponsel keluar kamarnya.
"ini, pilihlah mana yang kau mau," Melisa meletakkan dus-dus ponsel itu di atas meja.
Satria tercengang melihat banyaknya ponsel yang semuanya masih tersegel rapih. Semuanya adalah ponsel dengan merk-merk ternama dengan kualitas terbaik.
"kau beli ponsel sebanyak ini untuk apa?" tanya Satria sambil melihat-lihat setiap dus ponsel yang berjajar di depannya.
"aku tidak membelinya, ini semua hadiah ulang tahunku." jawab Melisa santai.
"hadiah?" Satria sangatlah terkejut dengan kata-kata Melisa. Sekaya apa orang-orang ini hingga memberikan ponsel sebagai hadiah, batin Satria.
"ayo pilih, mau yang mana?" Melisa ikut memilih mana ponsel dengan kualitas paling baik.
Satria terdiam sejenak. Ia nampak berpikir, lalu melihat ke arah Melisa.
"aku tidak bisa menerima ini secara cuma-cuma," ucap Satria.
"kenapa?" ini terlalu bagus untukku.
Melisa diam menatap mata Satria, "lalu, kau mau bagaimana?" tanya Melisa.
"bagaimana kalau aku bayar saja, kau yang menentukan harganya, tapi..." Satria terlihat ragu-ragu.
"tapi apa?" tanya Melisa.
"aku tidak bisa membayar secara cash, aku paling bisa membayarnya secara mencicil," Satria melihat Melisa malu-malu.
"baiklah," Melisa langsung setuju. "tapi aku yang menentukan harganya."
Satria mengangguk, sebenarnya ia merasa sangat gugup karna ia tak tau berapa Melisa akan memasang harga untuk ponsel-ponsel itu. Meski ia tau, semua ponsel di sana harganya sangatlah mahal, entah sampai kapan ia akan mempunyai cicilan ponsel pada Melisa.
"hmmm..." Melisa terlihat berpikir. "baiklah, setelah dikurangi ponsel lamamu yang rusak karena aku, aku menjualnya seharga satu juta."
Satria terkejut. Bukan karna harga yang mahal, justru karena harga yang di beri Melisa sangatlah murah. Setau Satria ponsel-ponsel itu harganya belasan juta.
"kau tak salah?" tanya Satria.
"kenapa? kan suka-suka aku, aku ingin menjualnya seharga satu juta," jawab Melisa enteng.
Satria tak bisa membantah Melisa, memang benar harga jual terserah yang menjual. Tapi Satria jadi merasa tak enak hati jika Melisa memberi harga terlalu murah.
"apa tak apa aku membelinya dengan harga segitu?" Satria bertanya ragu.
Melisa menganggukkan kepalanya yakin, "asal ponsel lama beserta isinya, kecuali kartu sim nya buat aku." pinta Melisa.
Satria tersenyum, ia menyetujuinya. Satria tak merasa keberatan Melisa mengambil ponsel lamanya yang sudah hancur, anggaplah itu tukar tambah. Walaupun di dalam ponsel itu ada banyak foto-foto lama Satria bersama teman-teman di sekolahnya yang dulu.
Satria pun mengambil ponsel dari sakunya, dan menyerahkan pada Melisa. Dan Melisa juga sudah memilihkan ponsel terbaik untuknya.
"yang ini tak masalah?" Melisa menyerahkan ponsel dengan kardus berwarna biru.
Satria mengangguk. Baginya tak masalah ponsel yang manapun, yang pasti jauh lebih baik dari ponselnya yang dulu.
mampir lagi ya thor ke penjahit cantik..
Jadi besok absen dulu ya, akan ada lagi tanggal 5 jam 00.01 ☺️