elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Anak Kedua dan Kelelahan yang Menumpuk
Tangis Yi Chen membelah ketenangan kamar pada pagi pertama hidupnya.
Sekitar lima tahun sebelum malam jaga pada awal cerita, dua garis itu telah menjadi seorang bayi laki-laki yang sehat.
Ia lahir sehat. Tangisnya keras, pipinya bulat, dan jemarinya selalu mengepal ketika tidur. Yi Ming yang saat itu berusia hampir empat tahun berdiri di sisi ranjang sambil memandang adiknya dengan rasa ingin tahu.
“Kecil sekali,” katanya.
“Dulu kamu juga kecil,” jawab Nan Shin.
Yi Ming menggeleng dengan yakin. “Aku besar.”
Nan Shin tertawa. Saat itu, dengan dua putranya berada di dekatnya, ia sempat percaya rumah mereka akan terasa lebih penuh dan hangat.
Enam minggu kemudian, rumah memang penuh.
Penuh pakaian bayi yang belum dilipat. Botol yang harus disterilkan. Popok kain yang menunggu dicuci. Mainan Yi Ming yang tersebar. Piring sarapan yang belum masuk tempat cuci. Pesan dari rumah sakit tentang jadwal setelah cuti. Dan suara Ibu Kho yang selalu menemukan pekerjaan berikutnya sebelum Nan Shin menyelesaikan pekerjaan pertama.
Pukul lima pagi, Yi Chen menangis minta susu.
Pukul lima lewat dua puluh, Yi Ming terbangun karena suara adiknya dan meminta ditemani ke kamar mandi.
Pukul enam, Ibu Kho bertanya kenapa nasi belum matang.
Pukul enam lewat sepuluh, Cheng An sudah berangkat ke rumah sakit.
Setelah itu, Nan Shin tidak lagi melihat jam. Hari bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan lain.
“Ma, bisa pegang Yi Chen sebentar?” tanya Nan Shin sambil mengangkat keranjang pakaian.
Ibu Kho sedang duduk di ruang keluarga, memilah pakaian bayi berdasarkan warna. “Mama lagi pisahkan yang luntur. Taruh saja keranjangnya. Jangan angkat berat.”
“Kalau ditaruh, siapa yang jemur?”
“Nanti kamu. Tapi pelan-pelan.”
Jawaban itu disebut bantuan, meski pekerjaan tetap menunggu Nan Shin.
Ia meletakkan keranjang, mengangkat Yi Chen yang menangis, lalu berjalan ke dapur dengan bayi di satu lengan. Dengan tangan lain ia membuka tutup penanak nasi.
“Mama, rotiku mana?” Yi Ming muncul dengan rambut acak-acakan.
“Di meja, Sayang.”
“Mau dipotong kotak.”
“Tunggu sebentar.”
“Sekarang.”
Yi Chen menangis lebih keras. Nan Shin mengayun tubuhnya pelan sambil mengambil pisau roti.
Ibu Kho datang dan mengambil pisau dari tangannya. Nan Shin sempat lega.
Namun Mama hanya menunjuk roti. “Jangan dipotong sambil gendong bayi. Bahaya.”
Pisau itu diletakkan kembali di meja.
“Kalau begitu, tolong potong, Ma.”
“Mama mau mandi. Dari tadi belum sempat karena bantu urus pakaian.”
“Saya juga belum mandi, belum makan, dan belum duduk sejak Yi Chen bangun.”
Ibu Kho menarik ujung bajunya. “Jangan bicara seolah Mama tidak berbuat apa-apa.”
“Saya tidak bilang begitu. Saya meminta Mama memotong satu lembar roti.”
“Nada kamu yang membuatnya terdengar seperti perintah.”
Yi Ming memandang keduanya. “Aku bisa makan rotinya bulat.”
Nan Shin menyentuh kepalanya. “Kamu boleh memilih bentuknya, tapi kamu tidak perlu menyelesaikan pertengkaran orang dewasa.”
Ibu Kho mengambil pisau lagi. “Sudah, sini. Mama potong.”
“Terima kasih,” kata Nan Shin. “Itu yang saya minta dari awal.”
Ibu Kho pergi. Nan Shin memandang punggungnya, lalu pada dua anak yang menunggu.
Ia menaruh Yi Chen di boks, memotong roti secepat mungkin, kemudian mengangkat bayi itu lagi sebelum tangisnya berubah menjadi jeritan.
Sarapan selesai, tetapi lantai dapur kotor oleh remah. Ketika Nan Shin menyapu, Yi Ming menumpahkan susu. Saat ia membersihkan susu, Yi Chen buang air. Saat ia mengganti popok, mesin cuci berbunyi tanda selesai.
Tidak ada satu pekerjaan yang benar-benar berakhir.
Siang hari, Nan Shin mencoba tidur bersama Yi Chen. Ia baru memejamkan mata ketika Ibu Kho mengetuk pintu.
“Nan Shin, supnya belum dipanaskan.”
“Aku baru mau tidur, Ma.”
“Makan dulu. Kamu menyusui.”
“Nanti setelah bangun.”
“Kalau kamu sakit, yang repot semua orang.”
Nan Shin bangun.
Ia memanaskan sup, makan lima sendok sambil berdiri, lalu berhenti karena Yi Chen kembali menangis. Sup itu dibiarkan dingin di atas meja.
Malamnya, Cheng An pulang setelah kedua anak tertidur. Ia melihat tumpukan pakaian di sofa dan mainan di lantai.
“Hari ini ramai?” tanyanya.
Nan Shin sedang mencuci botol. “Seperti biasa.”
“Mama bantu, kan?”
Nan Shin mematikan keran. “Menurutmu bantuan itu seperti apa?”
Cheng An membuka tutup makanan. “Ya pegang anak, masak, atau mencuci.”
“Hari ini Mama memilah pakaian. Sisanya saya kerjakan sambil menggendong Yi Chen.”
“Mungkin Mama juga lelah.”
“Saya tidak bilang Mama tidak boleh lelah. Saya bilang saya butuh pembagian yang jelas.”
“Aku baru pulang.”
Nan Shin menunjuk botol yang belum dibilas. “Tolong selesaikan empat botol ini. Saya mau mandi sebelum Yi Chen bangun.”
Cheng An melihat jam. “Besok aku operasi pagi.”
“Saya melahirkan enam minggu lalu dan tetap bangun tiap malam.”
Ia akhirnya mendekati bak cuci. “Sabunnya yang mana?”
Nan Shin menggeser sikat botol. “Yang ini. Bilas sampai tidak ada busa.”
Air mengalir di antara jari Nan Shin. Ia menatap busa sabun yang memenuhi bak cuci.
“Iya,” jawabnya akhirnya.
Lebih mudah mengatakan iya daripada menjelaskan bentuk bantuan yang tetap membuat seluruh tubuhnya sakit.
Cheng An makan, mandi, lalu tidur karena esok ada operasi pagi. Nan Shin kembali bangun dua kali untuk menyusui. Menjelang subuh, ia sempat tertidur sambil duduk dengan kepala bersandar ke dinding.
Hari-hari seperti itu berubah menjadi minggu.
Nan Shin sebenarnya sudah memiliki jadwal kontrol pascapersalinan. Kartu janji temu ia tempel di sisi kulkas agar tidak lupa. Sehari sebelum jadwal itu, ia meminta Cheng An menjaga anak-anak selama dua jam.
“Besok aku ada operasi sejak pagi,” jawab suaminya sambil mengenakan jam tangan.
Nan Shin menoleh kepada Ibu Kho. “Ma, bisa temani Yi Ming dan Yi Chen?”
“Besok Mama ada acara keluarga. Sudah janji dari minggu lalu.”
“Kontrolnya juga sudah dijadwalkan.”
Ibu Kho mengambil kartu itu dan membaca tanggalnya. “Kamu kelihatan baik-baik saja. Bisa diundur, kan?”
Nan Shin menyentuh sisi perutnya yang masih sering terasa tidak nyaman. “Aku juga sering pusing.”
Cheng An berhenti sebentar di dekat pintu. “Kalau darurat, periksa hari ini. Kalau cuma kontrol rutin, jadwal ulang saja.”
Ia mengatakannya dengan logika seorang dokter, tetapi tidak mendekat untuk menanyakan seberapa sering pusing itu datang.
Nan Shin menelepon bagian pendaftaran dan memindahkan jadwal. Tanggal baru jatuh dua minggu kemudian. Kartu lama dilipat dan dimasukkan ke dalam laci.
Sebelum tanggal baru tiba, selalu ada kebutuhan lain yang terasa lebih mendesak.
Wajah Nan Shin semakin pucat. Rambutnya rontok lebih banyak setiap kali disisir. Kalau berdiri terlalu cepat, telinganya berdengung. Ia sering lupa apakah sudah makan siang atau hanya menyiapkan makan siang untuk orang lain.
Suatu sore, Bu Ratna mengirim pesan untuk menanyakan tanggal pasti ia kembali bekerja. Nan Shin membaca pesan itu sambil menggoyang botol susu.
Ibu Kho melihat dari belakang. “Jangan lama-lama cuti. Nanti tempatmu diambil orang.”
“Tubuhku belum pulih.”
“Semua ibu juga capek setelah melahirkan.”
“Aku bukan cuma capek, Ma. Aku sering pusing kalau berdiri.”
“Sudah bilang Cheng An?”
“Sudah. Aku perlu datang ke kontrol berikutnya.”
Ibu Kho merapikan kain di bahu Yi Chen. “Kalau begitu cari jadwal yang tidak bentrok. Mama juga punya urusan.”
Nan Shin tidak menjawab. Ia meneteskan sedikit susu ke pergelangan tangan untuk memeriksa suhu, lalu duduk di sofa.
Yi Ming bermain mobil-mobilan di lantai. Ibu Kho masuk ke kamar untuk menelepon kerabat. Televisi menyala cukup keras, menayangkan acara yang tidak ditonton siapa pun.
Nan Shin menyandarkan Yi Chen di lengannya dan mulai memberinya susu. Bayi itu minum dengan rakus, satu tangan kecil menempel pada dada ibunya.
Setengah botol habis ketika denging muncul di telinga Nan Shin.
Awalnya pelan.
Lalu suara televisi terdengar menjauh. Cahaya di ruang keluarga mengecil seperti ditarik ke satu titik. Nan Shin mengeratkan lengan di sekitar Yi Chen dan menekan punggung ke sofa.
“Mama?” Yi Ming memanggil tanpa mengalihkan mata dari mainannya.
Nan Shin ingin menjawab, tetapi lidahnya terasa berat.
Botol di tangannya miring. Ia buru-buru menegakkannya agar Yi Chen tidak tersedak.
Lalu pandangannya menghitam.
Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.