NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Pembayaran ekspor masuk pada pagi hari kedua puluh lima.

Notifikasi rekening perusahaan berbunyi ketika Raka sedang berdiri di depan papan produksi. Angka itu cukup untuk membuat ruangan kantor kecil mendadak sunyi.

Bima mengangkat tangan sebelum Dimas sempat berteriak.

"Belum ada pembagian sebelum urutan kas selesai."

Ia menulis di papan.

Supplier kain Bandung.

Biaya truk malam.

Lembur dua sif.

Rework label.

Asuransi dan biaya dokumen.

Cadangan retur.

Baru setelah itu, bonus.

Beberapa pekerja yang berkumpul di depan pintu saling pandang. Mereka berharap uang. Itu wajar. Mereka sudah menempel label sampai dini hari, memeriksa batch, dan melihat kontainer pergi dengan mata merah.

Raka tidak ingin memadamkan harapan itu. Tetapi ia juga tidak ingin mengubah omzet menjadi pesta palsu.

"Hari ini kita bayar yang sudah menjadi hak," katanya. "Bukan membagi uang yang belum aman."

Hendra berdiri di baris depan. "Termasuk skill allowance yang bulan lalu ditahan?"

"Termasuk. Tapi lewat ujian."

Bima membagikan skema baru. Ujian keterampilan per level: sampling bahan, jahit kritis, K3 perekat, batch tracking, dan pengepakan ekspor. Yang lulus mendapat tambahan. Yang belum lulus mendapat pelatihan ulang.

Ia juga memisahkan bonus proyek dari gaji bulanan. Bonus dibayarkan karena ekspor pertama selesai dan pembayaran masuk; gaji tetap berjalan seperti biasa; skill allowance mengikuti ujian. Bima menulis tiga kotak berbeda agar tidak ada yang mengira satu kabar baik berarti semua angka naik selamanya.

Seorang pekerja muda mengangkat tangan. "Jadi bukan semua naik?"

"Bukan," jawab Raka. "Kalau semua naik tanpa kemampuan, nanti perusahaan terlihat baik selama dua bulan lalu mati. Saya tidak mau memberi kabar gembira yang berubah jadi PHK."

Hendra membaca daftar ujian lebih lama daripada yang lain. "Teknisi harus standar lebih tinggi."

"Pak Hendra keberatan?"

"Tidak." Ia melipat kertas. "Kalau saya guru, saya harus lulus lebih dulu."

Kalimat itu membuat beberapa pekerja tertawa, lalu menunduk lagi pada daftar masing-masing. Suasana yang sempat tegang menjadi lebih kokoh. Mereka tidak mendapat janji mudah. Mereka mendapat tangga.

Maya muncul lewat panggilan video pukul sebelas. Ia tidak memberi pidato. Ia menampilkan cuplikan izin dari property manager Port Klang: kamar kecil dengan satu kasur Lentera, komentar lima bintang, dan pertanyaan apakah batch tambahan bisa dibahas setelah trial selesai.

Naya sudah meminta izin kutip. Maka video itu diputar di layar besar pabrik.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Lalu seorang pekerja perempuan di bagian jahit menutup mulutnya. "Itu kasur yang saya jahit sisi pinggirnya."

Temannya mengangkat ponsel. "Saya kirim ke istri dulu. Biar dia lihat kenapa saya pulang bau lem waktu itu."

Dalam lima menit, keluarga pekerja mulai membalas. Ada yang mengirim doa. Ada yang bertanya Port Klang itu di mana. Ada yang hanya mengirim foto anak kecil menunjuk layar ponsel.

Raka menunggu sampai gelombang kecil itu lewat, lalu memberi isyarat kepada Bima.

Pembayaran bonus proyek masuk satu per satu. Tidak besar seperti cerita orang kaya mendadak. Tetapi cukup nyata untuk membuat ponsel di tangan pekerja bergetar bergantian.

Di sudut ruangan, seorang pekerja bagian potong menerima panggilan video dari istrinya. Ia semua orang bisa melihat wajah perempuan itu ketika ia menunjukkan tangkapan layar video Port Klang. Di belakangnya, seorang anak kecil menunjuk ponsel dan berkata sesuatu yang membuat pekerja itu memalingkan wajah.

Hendra pura-pura tidak melihat. Bima pura-pura sibuk dengan daftar transfer. Raka tidak pura-pura. Ia membiarkan momen itu terjadi tanpa pidato.

Hendra menerima notifikasi terakhir. Ia tidak tersenyum lebar. Ia hanya memegang ponsel lebih lama.

"Ini dari kerja yang hampir gagal," katanya.

"Dari kerja yang diperbaiki," jawab Raka.

Kalimat itu menyebar lebih pelan daripada bonus, tetapi tinggal lebih lama. Beberapa pekerja mengulangnya sambil melihat papan ujian keterampilan.

Panel SAT menyala.

[Reputasi lintas pasar meningkat.]

[Matriks kandidat masuk area observasi.]

Raka mengangkat kepala.

Di bagian depan kantor, seorang pria muda berdiri tanpa mengisi formulir. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Kemejanya sederhana, tasnya tipis, dan matanya bergerak cepat dari poster produk, halaman rekrutmen, sampai grafik pre-order di layar resepsionis.

Resepsionis sementara meminta ia menulis posisi yang dilamar.

Pria itu menjawab, "Belum ada posisi yang benar."

Bima yang baru keluar dari ruang kas langsung mengerut. "Kalau tidak ada posisi, kenapa datang?"

Pria itu menatap layar penjualan. "Karena perusahaan ini punya ledakan, tapi belum punya ingatan."

Dimas yang mendengar dari pintu langsung tersinggung. "Maksudnya?"

"Orang membeli karena drama, live, dan bukti krisis. Bagus. Tapi setelah kasur sampai, apa yang membuat mereka kembali mengingat Arunika selain tidur di atasnya?"

Ia lalu menunjuk poster standar Lentera. "Logo kalian muncul di invoice, bukan di kepala pelanggan. Mereka ingat Bang Reno, ingat tuduhan palsu, ingat kasur mahal. Itu semua bukan sistem memori. Itu rentetan kebakaran yang kebetulan kalian padamkan dengan bagus."

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk pertama kalinya, hinaan itu terdengar seperti diagnosis.

Raka berjalan mendekat. Panel SAT terbuka penuh.

[Nama: Reza Mahendra.]

[Potensi utama: strategi merek, model bisnis, ekonomi produk.]

[Karakteristik: Naluri Angka.]

[Peringkat: 5 bintang.]

[Catatan: potensi bukan jaminan moralitas, loyalitas, atau hasil.]

Lima bintang.

Raka tidak langsung tersenyum. Ia justru menutup Buku Kas Merah lebih rapat. Bima belum tahu apa yang ia lihat, dan memang tidak boleh tahu.

Reza membuka halaman retur di tablet resepsionis. "Produk kalian kuat. Dokumentasi kalian bagus. Tapi semua masih bertumpu pada satu kategori. Satu isu busa, satu pemasok berhenti, satu tren lewat, kalian kembali bertahan hidup."

Ia menggeser layar ke halaman rekrutmen. "Dan kalian masih merekrut seperti memadamkan api. Butuh konten, cari konten. Butuh compliance, cari compliance. Butuh ekspor, cari orang ekspor. Belum ada mesin yang membuat publik kembali bahkan saat tidak ada krisis."

Bima melipat tangan. "Anda datang untuk menghina atau melamar?"

"Saya datang untuk menulis pekerjaan yang belum kalian berani buat."

Nada itu membuat ruangan depan dingin.

Raka menahan Bima dengan satu gerakan kecil. "Masuk ruang rapat."

Reza mengangkat alis. "Tanpa formulir?"

"Formulirnya nanti. Tulis dulu kenapa Anda pantas dibayar."

Di ruang rapat, Reza mengambil spidol. Baris pertama yang ia tulis bukan kasur.

Bisnis kedua yang bisa direplikasi.

Bima menatap Raka seperti ingin berkata, orang ini akan merepotkan.

Raka tahu.

Justru karena itu ia duduk.

Orang yang merepotkan kadang merusak rapat. Orang yang tepat merepotkan angka malas sampai semua orang melihat lubangnya.

Ia juga tahu, beberapa pintu memang dibuka oleh orang yang tidak sopan mengetuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!