NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

022

Atmosfer kemewahan yang tenang membungkus setiap sudut kamar utama di lantai teratas Mansion Valerio-Desmon.

Pintu kayu mahoni berukir tebal menutup rapat, mengunci seluruh riuk-pikuk pesta pernikahan yang telah usai di bawah sana.

Udara di dalam kamar terasa hangat, dipenuhi aroma lembut bunga melati, mawar segar, dan esens vanila yang menenangkan. Ratusan kelopak mawar merah membentang indah di atas karpet tebal serta tempat tidur berukuran king-size yang diselimuti sprei sutra berwarna putih bersih.

Aurora berdiri di dekat jendela kaca setinggi langit-langit.

Gaun pengantinnya yang megah kini telah berganti dengan gaun malam sutra berwarna krem yang jatuh halus memeluk lekuk tubuhnya. Lembaran kain sutra itu membiaskan pendar cahaya rembulan yang masuk menembus kaca. Rambut hitam panjangnya terurai lepas di bahu, memancarkan keindahan murni seorang wanita yang telah sepenuhnya menemukan kedamaian jiwa.

Di sudut ruangan yang tak jauh dari tempat tidur, sebuah baby box berukir klasik bernuansa emas dan putih berdiri anggun.

Tiba-tiba, dari dalam kotak bayi tersebut, terdengar suara rengekan kecil. Suara itu melengking pelan, memecah keheningan kamar.

"Owekk... owekk..."

Darah ibu di dalam diri Aurora seketika berdesir. Sebelum Aurora sempat melangkah, sebuah lengan tegap berurat halus telah melingkar posesif di pinggangnya dari belakang, menahan pergerakannya dengan kehangatan yang mendebarkan.

"Biar aku saja, Sayang," bisik Braxley lembut di balik tengkuk Aurora.

Pria itu telah melepas jas dan dasi formalnya. Kini Braxley hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang kekar, serta celana bahan hitam yang santai. Aroma parfum kayu cendana bercampur feromon murni Braxley menguar begitu pekat, membuat jantung Aurora berdegup kencang secara spontan.

Braxley mengecup bahu terbuka Aurora secara sekilas sebelum melangkah pelan menuju kotak bayi. Pria tegap itu membungkuk, menatap Draco yang mulai merengek sembari menendang-nendangkan kaki kecilnya yang terbalut piyama katun lembut.

"Sshh...pangeran kecil Daddy..." bisik Braxley dengan suara bass-nya yang sangat dalam dan lembut.

Jemari tangan Braxley yang besar dan perkasa mengusap dada kecil Draco dengan kehati-hatian yang luar biasa—seolah-olah bayi itu adalah porselen paling berharga di dunia. Ia menepuk-nepuk pelan perut Draco, lalu membenarkan posisi selimut tipis berbordir inisial keluarga Desmon yang sempat tergeser.

Sentuhan hangat sang ayah bagaikan sihir yang bekerja seketika. Rengekan tangis Draco perlahan mereda. Bayi berusia dua bulan itu hanya menggeliat halus, merenggangkan kedua tangan mungilnya ke atas, sebelum akhirnya kembali memejamkan mata dan tertidur lelap dengan napas yang teratur.

Braxley menyunggingkan senyuman tipis yang sangat tampan—sebuah garis senyum penuh kebanggaan dari seorang ayah yang utuh. Ia memutar tubuhnya, menatap Aurora yang sedang berdiri sembari menyilangkan kedua tangan di dada, memperhatikan interaksi hangat itu dengan binar mata bahagia.

"Lihat, Sayang," ujar Braxley dengan nada menggoda yang kental, melangkah mendekati Aurora dengan tatapan mata yang kian menggelap oleh gairah dan pemujaan. "Dia sama sekali tidak terganggu aku merusak jam tidurnya malam ini."

Aurora menaikkan sebelah alisnya, terkekeh pelan sembari menahan senyum di bibir indahnya.

"Kau membual, Axley," balas Aurora renyah, menggelengkan kepalanya. "Dia menangis karena ingatan kecilnya tahu kalau ayahnya sedang tidak sabar."

"Aku memang tidak sabar," aku Braxley tanpa ragu sedikit pun.

Pria itu memangkas jarak di antara mereka dalam satu langkah panjang. Kedua tangan kekarnya langsung menyusup ke pinggang Aurora, menarik tubuh mungil wanita itu rapat tanpa celah ke dalam dekapannya. Napas hangat Braxley berhembus di atas permukaan kulit pipi Aurora yang merona merah.

"Bertahun-tahun aku hidup dalam neraka penyesalan, Aurora..." bisik Braxley, suaranya berubah menjadi sangat dalam, parau, dan sarat akan emosi yang menggetarkan jiwa. "Setiap malam aku terbangun dibayangi ketakutan bahwa aku akan kehilanganmu selamanya. Namun malam ini... kau berdiri di sini, sebagai istri sahku, ibu dari anakku, dan pemilik tunggal dari seluruh hidupku."

Aurora mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik Braxley. Tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada lagi jejak kecemasan psikosomatis yang dulu kerap menghantuinya saat berhadapan dengan dominasi pria. Di dalam mata Braxley, Aurora hanya melihat ketulusan murni, perlindungan mutlak, dan cinta yang rela mengorbankan segalanya.

Aurora mengulurkan kedua tangannya, merengkuh leher tegap Braxley, menempelkan dahinya ke dahi pria itu.

"Aku juga milikmu, Braxley..." tutur Aurora tulus, air mata keharuan menggenang tipis di pelupuk matanya. "Semua rasa sakit masa lalu telah terbayar tuntas. Malam ini, esok, dan selamanya, aku berjanji akan menjadi tempatmu pulang, mencintaimu tanpa batas, dan berdiri di sampingmu menjaga dinasti kita."

Braxley memejamkan mata sejenak, meresapi setiap kata janji suci yang keluar dari bibir istrinya. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa syukur yang tiada tara.

"Janji denganku, Aurora..." bisik Braxley serak, memegang rahang indah Aurora dengan kerapuhan yang luar biasa. "Jangan pernah meragukan cintaku lagi. Apapun badai yang mencoba menyentuh keluarga kita di masa depan, aku akan menjadi benteng pertama dan terakhir yang bertaruh nyawa untukmu dan Draco."

"Aku berjanji, Suamiku..." jawab Aurora mantap.

Tanpa menunggu lebih lama, Braxley merendahkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Aurora.

Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut, sebuah pagutan manis yang sarat akan rasa hormat dan kerinduan yang mendalam.

Braxley menyesap bibir lembut Aurora secara perlahan, seolah-olah sedang menikmati tegukan anggur termewah dalam hidupnya. Aurora membalas ciuman itu dengan kepatuhan dan kehangatan yang setimpal, meremas pelan rambut rapi Braxley di belakang lehernya.

Perlahan, ritme penyatuan itu berubah menjadi kian intens dan membakar.

Braxley menyusupkan jemarinya di antara helai rambut hitam Aurora, memperdalam ciuman mereka hingga napas Aurora memburu tertahan. Rasa hangat berdesir hebat menyapu seluruh pembuluh darah Aurora, membakar sisa-sisa dingin malam menjadi samudra gairah yang begitu suci.

Dengan kelembutan yang sangat protektif, Braxley mengangkat tubuh Aurora ke dalam garapan tangannya yang kokoh. Aurora melingkarkan kakinya secara alami di pinggang Braxley, membiarkan suaminya membimbing langkah menuju tempat tidur berhiaskan kelopak mawar.

Braxley merebahkan tubuh Aurora di atas sprei sutra yang halus dengan sangat hati-hati, seolah menata mahakarya paling berharga. Pria itu menyusul di atasnya, menopang berat tubuhnya dengan kedua lengan tegap agar tidak menghimpit Aurora.

Di bawah pendar redup lampu tidur dan keheningan malam yang sakral, Braxley menatap wajah cantik Aurora yang terengah manis di bawah kungkungannya.

"Kau adalah ratuku, Aurora Borealis Valerio-Desmon," desis Braxley penuh pengabdian abadi sebelum kembali menutup jarak di antara bibir mereka.

Malam penyatuan itu berlangsung dengan penuh cinta, kehangatan, dan bisikan janji-janji suci yang terpatri rapat di dalam jiwa mereka.

Di sudut ruangan, di dalam kotak bayinya, Draco kecil hanya menggeliat halus sekali lagi, menyunggingkan senyuman tipis dalam mimpi indahnya—menjadi saksi bisu terkecil atas kemuliaan cinta kedua orang tuanya yang kini telah menyatu secara utuh dan abadi.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!