'Erlangga Saputra' atau yang biasa di panggil 'Rangga' adalah anak payah, bodoh, pemalas, dan sangat tidak berguna!
hingga suatu saat, ketika ia terbangun dari koma, dan perlahan-lahan menyadari keanehan dalam dirinya.
"sejak kapan aku bisa ini itu? sejak kapan aku bisa melakukan semua hal?"
"apakah kau terbangun dan menemukan sistem?"
"tidak!"
"apakah kau manusia dari dunia lain dan merasuki tubuh Rangga?"
"tentu saja ini adalah diriku sendiri, mana mungkin aku tidak mengenal diriku sendiri?!"
lalu mengapa tiba-tiba dia menjadi jenius dan serba bisa?
penasaran?
silahkan di baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airis28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
duel
Aku berdiri bersisian dengan William. Kenapa dia tidak duduk sih? Kalau dia tidak duduk, aku kan jadi tidak bisa duduk juga. Sebelum aku di hajar, setidaknya biarkan aku duduk dulu. Aku lelah!!!
Seorang pria paruh baya berdiri di depan jendela, memandang kejauhan. Rambutnya bewarna hitam, berbeda dengan rambut William yang bewarna pirang. Dia berbalik dan menoleh pada kami. Meski warna rambutnya lain, tapi bentuk wajah, mata, dan hidungnya sama persis dengan William. Terutama matanya tajam yang seperti elang itu. Ya. Dia adalah ayah William. Fathoni Hermantono.
Sudut bibir Fathoni melengkung ke atas. Dia berjalan dan duduk di kursinya. Menompang dagu dengan kedua tangannya. “jadi, kau yang bernama Erlangga Saputra?”
Aku mengangguk ragu. Ada apa ya? Aku masih penasaran kenapa aku di bawa kesini.
Dia kembali menyunggingkan senyum. “aku dengar kau menjadi pintar setelah bangun dari koma? Apakah itu benar?”
“......... iya”
“apakah setelah bangun dari koma, kau juga jadi bertambah kuat dan bisa beladiri?”
Ada apa ini? Kenapa aku malah di kasih pertanyaan seputar perubahan dalam diriku?
Aku berfikir sejenak. Apakah aku bertambah kuat? Aku sendiri juga tidak tau. Waktu di sandera, aku memakai otakku untuk melawan para penjahat itu. Sebenarnya ada sedikit pemikiran untuk mencoba melawan mereka dengan beladiri seperti William ataupun Siska, tapi tidak mungkin aku coba-coba saat keadaan genting seperti itu. Yang ada aku mati konyol!!
Aku bisa lari 5 km. Oh ayolah... itu hanya karna aku di kejar oleh banteng mengamuk seperti Siska, mana mungkin aku tidak berlari.
“aku tidak tau” aku menjawab jujur seadanya.
“hmm.... begitu ya?” Fathoni menyenderkan punggungnya di kursi. “sepertinya harus kita tes”
Ha? Tunggu... dia bilang apa barusan? Tes??
Fathoni melirik William. “William, lawan Erlangga dengan ilmu beladiri yang sudah kau pelajari. Ingat! Jangan setengah-setengah menggunakan kekuatamu.”
Tunggu-tunggu.... anda ingin aku bertarung dengan William yang jago beladiri? Apa anda gila? Yang ada aku bisa mati!! Meski ga mati, bisa-bisa aku patah tulang nanti!!!
“Aku khawatir dia tidak bisa beladiri dad, saat di tawan kemarin, dia sama sekali tidak menunjukan ilmu beladiri apapun”
“Bukankah kau bilang kalau lemparannya selalu tepat sasaran saat kalian di tawan?” Fathoni mencicingkan matanya. Menatap tajam William. Hei.... dia anakmu loh...
“tidak usah banyak alasan, kau lawan saja dia. Kita akan mengetahui kebenarannya nanti. Jika dia terluka, bawa saja kerumah sakit. Beres.” Matamu beres!!! Aku sama sekali tidak mau merasakan sakit..... pokoknya tidak mau!!!
Sepertinya dia memang dendam padaku karna melukai jari putranya. Tapi daripada menyuruh William atau siapapun untuk melawanku, lebih baik kau membawaku ke penjara saja!!!
William menatapku mencari jawaban. Dan aku balas menatapnya dengan pandangan ‘apa kau serius ingin mengikuti perkataan ayahmu itu??’
William meluruskan pandangannya. “ayo kita coba”
HA?? Rahangku jatuh ternganga. Yang benar saja! Ayah dan anak ini sama-sama tidak ada yang waras!!!
William berjalan 10 langkah kebelakang, dia berbalik lalu menunduk padaku, menunjukkan penghormatan dalam pertarungan.
“Tunggu... tunggu.... William... apa kau serius?” aku mencoba mencegahnya.
William tidak menjawab, dan mulai memasang kuda-kudanya. “kau dulu yang mulai, atau aku dulu?” dia menyipitkan matanya.
Ha? Dia benar-benar serius!!!
Aku mundur 2 langkah. Lebih baik aku tidak menjawab pertanyannya. Biar diam seperti ini saja terus.
“Ok, kalau begitu aku mulai duluan. Kau bersiap dan berhati-hatilah” hei... tunggu! Aku tidak menjawabnya sama sekali loh!!!
William berlari kearahku dengan mengepalkan tinjunya, hendak memukulku.
Aku pun reflek melompat kesamping, berusaha menghindari serangannya. “dasar gila!!!”
Mata William melebar, saat melihatku bisa menghindari serangannya dengan mudah, matanya berkilat penuh kesungguhan, dia jadi semakin berinisiatif untuk memukulku.
Aku terus menghindari serangan William. Berlari dan melompati kursi, meja, dan apapun yang ada disana hingga ruangan Fathoni mulai berantakan. Bodo amet, aku tidak peduli lagi, dia yang membuatku harus bertarung dengan William dan seperti tidak peduli keadaanku, jadi aku juga tidak peduli meski harus mengacak2 ruangannya!!
Fathoni hanya memperhatikan keduanya bertarung, dan sepertinya tidak terlalu memikirkan ruangannya yang menjadi berantakan akibat ulahku.
“kenapa kau terus menghindar? Serang aku!”
Mana mungkin aku mau nyoba-nyoba menyerangmu. Bagaimana kalau ternyata aku ini memang lemah, tidak bisa bertarung meski bangun dari koma, dan KO di tempat?
aku terus berlari mengindari serangan William, sampai pada akhirnya aku pun terpojok.
William mengarahkan tinjunya padaku, namun aku menepisnya. Alisnya bertaut, dia mencoba menyerangku lagi dengan tangan lainnya, aku yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya menangkap tangannya. Meletakan tangannya di belakang punggungnya, dan menguncinya di dinding supaya tidak menyerangku lagi.
Kau tau, aku lelah! Aku tidak ingin terus-terusan berlari lagi. Sudah cukup kemarin aku di buat berlari jauh oleh Siska, dan aku sekarang sudah benar-benar kelelahan!!!
William terus berusaha untuk lepas dari kuncianku, tapi aku terus menahannya dengan kuat. Kalau tidak, dia akan terlepas dan mulai mengejarku untuk memukulku lagi!
Aku menoleh kebelakang, dan menatap Fathoni tajam. “paman, jika kau memang marah dan dendam karna aku melukai jari putramu, lebih baik kau membawaku ke polisi, jangan menyuruhnya untuk membunuhku. Ok?!”
Fathoni menatapku kaget, lalu tertawa terbahak-bahak. William yang ada di tanganku diam, dia menatapku heran. “Omong kosong apa yang kau katakan?”
Aku menoleh padanya “jadi... untuk apa kau sangat berinisiatif melawanku?” aku melepas William yang berada dalam kuncianku.
“Bukankah kau sudah mendengarnya di awal saat daddy mengatakan untuk tes kemampuanmu?”
He? Masa sih Cuma untuk tes kemampuanku? Biar apa coba? Apa untungnya bagi dia? Atau jangan-jangan aku ingin di jadikan kelinci percobaan karna kondisiku yang aneh, yang tiba-tiba menjadi pintar saat terbangun dari koma. Eh... tunggu.... barusan aku juga berhasil menangkis serangan William, apa artinya aku benar-benar menjadi kuat setelah bangun dari koma?
Tapi apapun itu, aku mulai merinding memikirkan Fathoni yang ingin menjadikanku kelinci percobaan.
“Nak Erlangga, kau benar-benar menabjubkan, kau hebat sekali. Bukan hanya menjadi jenius, tapi kau juga menjadi kuat dan hebat!” mata Fathoni bersinar penuh ambisi.
“Emm.....” aku tidak tau harus mengatakan apa lagi. Aku pun mundur 2 langkah. Dan mulai berfikir. Jika aku memang ingin di jadikan kelinci percobaan, lebih baik aku kabur.
Aku melirik ke arah pintu.
Jika aku keluar dan berlari lewat pintu, ada begitu banyak pekerja dan pengawal dalam rumah ini, jadi mungkin aku akan tertangkap.
Aku melirik ke arah jendela.
Ini lantai 5, jika aku lompat dari jendela, sudah pasti aku akan mati. Tapi untungnya di luar ada pohon besar yang cukup lebat. Jika aku lompat kesana mungkin aku akan lecet-lecet. Dan lagi..... aku harus memecahkan kaca jendela ini agar bisa melompat ke pohon itu. Tapi supaya aku tidak kesakitan, labih baik aku mengambil guci yang ada di sebelahku ini, untuk memecahkan kaca! Kemudian melompat dari sini, dan melarikan diri sambil memikirkan langkah selanjutnya.
“Nak Erlangga” Fathoni memanggilku.
Aku menoleh padanya sambil perlahan-lahan mendekati guci di atas meja. Bersiap untuk kabur.
“Apakah kau mau menjadi anak angkatku?”
...
jeda sejenak
Haa????